
"Kamu mengusirku?" tanya Talitha.
"Ya. Selamanya jangan pernah menginjakkan kakimu dirumah ini jika sikapmu masih seperti ini!" jawab Ral.
Talitha menggigit bibirnya. Lalu menghentakkan kakinya persis seperti anak kecil yang merajuk. Menangis sudah pasti dan dia tidak memiliki muka lagi untuk tinggal lebih lama. Jadi dia pun memutuskan untuk pergi.
"Sial!" umpat Ral.
Pria itu sempat memukul angin sebelum duduk di pinggiran ranjang. Tampak kesal, tapi tidak menyesal meskipun tahu apa yang dia lakukan cukup kasar. Disisi lain Dzakiyya mengembalikan sisirnya ke laci lalu meminta Ral menyusul Talitha.
"Kejar dia!" pinta Dzakiyya.
"Tidak akan!" jawab Ral.
Bukannya pergi pria itu malah merebahkan dirinya ke ranjang. Tidak peduli bahkan seandainya ada orang yang akan melihatnya dan menuduhnya selingkuh lagi.
"Bukannya kamu ingin menikah dengannya?" tanya Dzakiyya.
"Sudah enam tahun. Bukankah aku punya banyak alasan untuk berubah pikiran?" jawab Ral.
"Apa kamu pikir aku percaya?" tanya Dzakiyya.
Dzakiyya tahu Ral menyukai Talitha. Ral bahkan sudah meminta restu pada Dzakiyya secara pribadi sejak enam tahun yang lalu. Hanya saja waktu itu Talitha terlalu muda dan Ral begitu abu-abu. Terlihat sangat brengsek dan tidak dapat diandalkan. Makanya Dzakiyya mengajukan beberapa syarat jika Ral ingin menikahi adik iparnya. Dua diantaranya adalah memintanya merubah kebiasaan buruknya dan tidak menolak saat Abidzar menariknya ke perusahaan.
"Dza, jangan memikirkan orang lain. Pikirkan dirimu sendiri!" ucap Ral.
Pria itu mengalihkan pembicaraan lalu bangkit dan berdiri di belakang Dzakiyya. Dari cermin yang ada di depannya, Dzakiyya tahu Ral sedang memperhatikannya.
"Kenapa melihatku begitu. Apa aku terlihat menyedihkan?" tanya Dzakiyya.
Pertanyaan konyol itu membuat Ral tertawa meskipun sesaat. Mata Dzakiyya begitu sembab bahkan nyaris tidak terbuka. Apa itu belum cukup menunjukkan betapa menyedihkannya dia. Tapi lupakan soal itu karena kedatangannya kali ini untuk meluruskan apa yang terjadi kemarin.
"Dza, soal kemarin aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu kenapa aku bisa tidur di kamarmu dengan,-"
"Ral, tolong jangan katakan apapun lagi soal kemarin. Aku tahu kamu tidak melakukannya," potong Dzakiyya.
Wanita itu berbalik arah. Melihat Ral yang jelas menunjukkan wajah penyesalan. Pria ini tidak mungkin seperti itu. Dzakiyya kenal betul bagaimana tabiat teman masa kecilnya ini. Dan jika ada orang yang harus Dzakiyya curigai bukan Ral orangnya. Melainkan dua maid-nya yang hilang entah kemana sejak peristiwa semalam.
Meski tidak tahu pasti alasannya, Dzakiyya yakin bahwa mama mertuanya pasti terlibat soal peristiwa kemarin. Tapi karena suaminya begitu keras kepala dan tidak menginginkannya lagi maka tidak ada yang perlu ditelusuri. Lebih baik begini. Bercerai dan membesarkan anaknya sendiri. Dengan begitu ibu mertuanya mungkin akan melepaskannya dan tidak akan mengganggunya lagi.
"Lalu, bagaimana sekarang?" tanya Ral.
__ADS_1
"Bercerai ya bercerai saja!" kata Dzakiyya.
Kata itu terlihat begitu mudah diucapkan. Tapi untuk mengatakannya Ral yakin Dzakiyya membutuhkan banyak keberanian.
"Jadi, haruskah aku bertanggungjawab setelah kalian bercerai?" tanya Ral.
Dzakiyya terpaku sejenak. Lelucon macam apa itu. Kenapa juga mereka harus menikah. Apa Dzakiyya terlihat seperti orang yang akan langsung menikah setelah diceraikan. Lagipula yang seharusnya menikah dengan Ral adalah Talitha bukan dirinya.
"Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal. Jika kamu ingin menikah, bukankah Talitha yang harus jadi pengantinnya?" kata Dzakiyya.
Ral menanggapi protes Dzakiyya dengan senyum kecut. Rencananya memang begitu. Tapi semakin kebelakang Ral semakin ragu. Terlebih mengingat bagaimana Diana memperlakukan Dzakiyya selama ini. Dan lagi, ada seseorang yang lebih membutuhkannya.
Kali ini Ral melirik perut Dzakiyya. Dia tidak sedang memikirkan dirinya sendiri tapi memikirkan nasib jabang bayi yang ada di dalam perut Dzakiyya itu.
"Anakmu membutuhkan seorang ayah," kata Ral sembari memegang kepala Dzakiyya.
Dzakiyya tersentuh dengan kalimat itu. Sekilas senyumnya tersungging. Kenapa Ral selalu begini. Meskipun terlihat seperti berandalan tapi dia tahu kapan berperan layaknya pria sungguhan. Tidak seperti suaminya yang selalu menurut bahkan tidak bisa melawan demi kata bakti untuk ibunya.
Baiklah, Dzakiyya memang tersentuh dengan ketulusan Ral. Tapi bukan berarti dia ingin dikasihani sampai harus mengorbankan kebahagiaan Ral sendiri.
"Memiliki seorang paman sepertimu. Itu adalah keberuntungan terbesar anakku," kata Dzakiyya.
"Dza?" panggil Ral.
Pria itu melihat Dzakiyya dengan tatapan yang berbeda. Ingin menjelaskan bahwa dia tidak keberatan seandainya Dzakiyya menginginkannya. Bagaimanapun juga Ral merasa bersalah atas kejadian kemarin. Untuk itulah dia mengatakan kesediannya untuk bertanggungjawab. Tapi sebelum Ral sempat mengatakannya, Dzakiyya sudah meminta hal lain sebagai gantinya.
"Ral, aku tidak apa-apa. Kalau kamu merasa bersalah, cukup sisihkan sedikit waktumu untuk anakku agar dia tidak kehilangan kasih sayang seorang ayah setelah dia lahir nanti," kata Dzakiyya.
Yah, hanya itu yang Dzakiyya harapkan. Berharap Ral berbaik hati untuk menyisihkan sedikit waktu untuk anaknya dan menggantikan peran ayah yang harusnya menjadi tanggungjawab Abidzar.
"Hanya seperti itu?" tanya Ral.
"Ya, hanya seperti itu," jawab Dzakiyya.
Ral tidak tahan lagi. Dengan sadar menarik Dzakiyya dan mencium kepalanya. Begitu baik begitu cantik tapi harus menderita karena ulah ibu mertuanya. Sungguh, Ral merasa ini sangat tidak adil untuk wanita setulus Dzakiyya.
"Kalau begitu ayo pulang ke rumahku. Aku akan menjagamu dengan baik," pinta Ral.
"Aku tidak mau!" tolak Dzakiyya
Disinilah tempatnya. Di rumah peninggalan orangtuanya yang memberikan banyak kenangan manis. Dzakiyya ingin menghabiskan waktunya bersama sisa kenangan itu.
__ADS_1
"Dzakiyya, kamu hamil. Kamu tidak bisa tinggal sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kalian?" tanya Ral.
Apa yang dikatakan Ral memang benar. Dzakiyya sendiri juga sedikit takut. Tapi dia terlalu sungkan dan tidak ingin merepotkan Ral lebih dari ini. Suasananya menjadi tenang karena dua-duanya tidak ada yang bicara. Tapi beberapa detik kemudian, suara gaduh terdengar di luar. Dzakiyya dan Ral pun keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Rafael, kenapa kamu masih berdiri disitu. Cepat bantu mama memindahkan barang!"
Teriakan itu berasal dari Bella, ibunda Ral yang beberapa tahun ini tinggal di luar negeri. Wanita itu tidak datang sendirian karena di belakangnya muncul sosok lain yang tak lain adalah ayah Ral.
"Sayang, Om Haris pulang!" kata pria yang biasa Dzakiyya panggil dengan sebutan Om Haris.
Dua manusia paruh baya itu setengah berlari. Lalu memeluk Dzakiyya dan menghujaninya dengan ciuman. Memperlakukan Dzakiyya seperti anak kandung dan menyisihkan Ral seperti anak tiri.
"Ma, Pa, kalian salah memeluk anak!" protes Ral.
Bukannya meladeni omongan Ral dengan memeluknya. Sepasang orangtua itu malah memberikan kejutan besar untuk Ral dengan menyerahkan sebuah cek.
"Apa ini?" tanya Ral. Sedikit terkejut mengingat orangtuanya terbiasa pelit. Dan itu membuat Ral curiga.
"Ambil saja. Itu uangmu!" jawab Haris.
"Sungguh?" tanya Ral.
Satu alisnya terangkat. Mana mungkin dia mendapatkan rejeki nomplok tanpa usaha. Melihat ekspresi yang ditunjukkan anaknya Bella pun mengatakan darimana asalnya uang itu.
"Itu uang hasil penjualan rumahmu!" kata Bella.
Bella tersenyum lebar sampai memperlihatkan kedelapan giginya. Tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun meskipun telah menjual rumah secara sepihak.
"L-lalu kita mau tinggal dimana?" tanya Ral.
"Di sana," jawab Haris sambil menunjuk rumah yang ada di sebelah rumah Dzakiyya.
Kemarin, Ral sudah menceritakan semuanya. Mereka tahu Ral berencana membawa Dzakiyya pulang. Tapi mereka juga itu tahu Dzakiyya pasti menolak. Makanya mereka rela menjual rumah dan pindah ke sebelah rumah Dzakiyya. Agar mereka bisa mengawasi dan menjaga Dzakiyya, anak mendiang sahabatnya tanpa meminta Dzakiyya pindah rumah.
"Sayang, jangan takut. Kamu nggak sendirian. Ada kami, juga ada anak berandal itu yang akan menjagamu!" kata Haris.
Pria itu memeluk Dzakiyya. Membiarkan Dzakiyya merasakan bagaimana rasanya pelukan seorang ayah yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Terimakasih!" kata Dzakiyya.
...***...
__ADS_1