
"Mengantuk sekali!" keluh Ral.
Pria itu memijit keningnya, lalu melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul sembilan malam. Rasanya aneh mengingat kebiasaannya yang selalu tidur menjelang dini hari.
"Aku harus segera pulang," kata Ral.
Ral pun bangkit. Mencari Dzakiyya yang tak kunjung kembali setelah hampir lima belas menit pergi ke kamar mandi. Niatnya sih untuk pamit.
"Dza?" panggil Ral.
Ral mengetuk pintu kamar beberapa kali. Karena tidak ada jawaban, Ral pun memberanikan diri untuk membuka pintu. Seulas senyum manis tersungging begitu melihat Dzakiyya tertidur pulas.
"Apa ini bawaan bayi?" tanya Ral.
Ral pun mendekat lalu menyelimuti Dzakiyya dan mengacak-acak rambutnya sebagai ucapan selamat malam.
"Oke, aku pulang ya!" pamit Ral.
Ral kembali ke ruang keluarga. Membereskan barang miliknya sambil terus menguap. Tapi tiba-tiba dia terhuyung karena kepalanya sakit.
"Sial, ada apa sih denganku!" gumam Ral.
Pria itu memegangi kepalanya yang sakit sembari duduk ke sofa. Dengan kondisi yang seperti ini tidak mungkin baginya untuk menyetir. Setelah berpikir sejenak akhirnya Ral memutuskan istirahat sejenak dan pulang setelah sakitnya reda. Sayangnya sakitnya malah semakin menjadi dari waktu ke waktu.
"Haruskah aku bermalam disini?" keluh Ral.
Akhirnya Ral merebahkan dirinya ke sofa. Mungkin dia sudah tidak kuat menahan kantuk karena tangan yang sebelumnya memijit kepalanya sudah tidak bergerak lagi. Dari nafasnya yang teratur, sepertinya Ral sudah menyusul Dzakiyya ke alam mimpi.
Tepat setelah itu sesosok pria muncul. Seorang pria yang sebenarnya sudah ada di rumah ini sejak tadi tapi memilih sembunyi. Yah, pria itu siapa lagi kalau bukan Joshua. Berdiri dengan senyum licik dan menendang Ral untuk memeriksa apakah pria itu benar-benar tidur.
"Nyonya, efek obatnya sudah bekerja. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Joshua.
Diana, wanita itu juga muncul dari tempat persembunyiannya. Tanpa ragu memerintahkan Joshua dan untuk memindahkan Ral ke kamar Dzakiyya. Tidak hanya itu, Diana juga melucuti pakaian keduanya seolah mereka telah melakukan perbuatan maksiat.
"Nyonya, kalau hanya seperti ini bukankah bayinya tidak mati?" tanya Joshua.
__ADS_1
Rencananya mereka akan mencelakai Dzakiyya agar wanita itu keguguran. Karena rencana itu berubah, Joshua butuh penjelasan untuk itu. Sementara Diana, wanita itu tersenyum semakin lebar. Membuat Dzakiyya kehilangan anaknya tidak membuatnya puas. Dia ingin sesuatu yang lebih menyakitkan lagi. Misalnya membuat Abidzar membenci Dzakiyya setelah melihat pemandangan yang dia rekayasa ini.
"Jangan banyak tanya. Yang terpenting saat ini adalah memanggil Abidzar kemari," kata Diana.
Ya, itulah rencana Diana. Menjebak menantunya sendiri seolah tidur dengan pria lain. Lalu suatu hari nanti ketika perut Dzakiyya sedikit lebih besar barulah dia akan membunuh bayi tak berdosa itu. Dengan begitu dia bisa melihat rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa dari Dzakiyya.
"Ayo!" ajak Diana.
Dengan sigap Joshua mendorong kursi roda milik Diana. Menemui dua maid yang melakukan tugas mereka dengan sempurna.
"Pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali lagi!" kata Diana sembari menyerahkan dua buah amplop berisikan cek dengan nominal yang cukup besar.
"Baik nyonya!" jawab maid bersamaan.
Maid itu pergi. Meninggalkan penyesalan karena mengkhianati majikannya. Tapi mereka tidak punya pilihan lain karena nyawa keluarganya yang jadi taruhannya.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Joshua begitu dua maid itu hilang dari pandangan.
Diana yang ditanya tidak langsung menjawab. Melainkan sibuk memainkan ponsel Dzakiyya yang sempat berdering karena mendapat telepon dari Abidzar. Jelas saja Diana tidak mengangkatnya agar Abidzar cemas. Lalu setelah Abidzar tidak lagi menelepon, giliran Diana yang menekan tombol dial tanpa mengatakan apa-apa.
"Apa begini sudah cukup. Apa Abidzar akan datang?" tanya Joshua.
"Abidzar pasti akan datang," jawab Diana.
.
.
.
Sementara itu di rumah sakit.
Sejak Dzakiyya pamit pulang, Abidzar belum sempat memegang ponselnya karena sibuk mendiskusikan perawatan yang tepat untuk bayinya yang cacat. Panggilan dari Dzakiyya terabaikan dan Abidzar baru melihatnya ketika keluar dari ruangan dokter. Meskipun sangat terlambat Abidzar segera menghubunginya saat itu juga.
"Apa dia sudah tidur?" gumam Abidzar ketika panggilannya terabaikan.
__ADS_1
Abidzar menggaruk pipinya yang tidak gatal. Lalu memberikan penjelasan melalui voice note agar Dzakiyya mengerti. Tapi belum sempat mengirim pesan itu Dzakiyya sudah lebih dulu memanggilnya.
"Hallo, sayang! Ada apa?" tanya Abidzar.
Meskipun lelah tapi suaranya tetap lembut. Sayangnya tidak ada jawaban dari Dzakiyya sebanyak apapun Abidzar memanggilnya.
"Dza?" panggil Abidzar lagi.
Karena masih tidak ada jawaban Abidzar pun memutuskan untuk pulang karena takut terjadi sesuatu pada istri kesayangannya.
Tanpa banyak berpikir pria itu turun ke parkiran. Mengendarai mobilnya dengan santai diiringi suara musik yang sengaja dia nyalakan untuk menenangkan dirinya yang lelah. Terkadang bibirnya yang tipis ikut bernyanyi terutama pada bagian lirik yang mendendangkan lagu cinta.
"Kenapa Dzakiyya menelpon. Mungkinkah dia sudah memutuskan untuk kembali ke rumah?" tanya Abidzar.
Abidzar tersenyum kecil. Mengira Dzakiyya menghubunginya untuk menyatakan kesediaannya kembali ke rumah. Tanpa tahu semua ini ulah ibu tirinya sendiri yang sudah menyiapkan kejutan besar untuknya.
Beberapa menit kemudian Abidzar sampai di rumah Dzakiyya. Alisnya terangkat begitu melihat mobil Ral terparkir di halaman rumah selarut ini. Tapi meskipun begitu Abidzar tidak menaruh kecurigaan sedikitpun. Mengira Ral hanya berkunjung seperti hari sebelumnya.
"Sayang!" panggil Abidzar.
Pria itu masuk dengan wajah sumringah meskipun disambut suasana aneh. Bukan karena cahaya lampu yang temaram, tapi karena tidak ada seorangpun yang menyambut kedatangannya. Maksud Abidzar adalah, kemana perginya Dzakiyya dan Ral. Kenapa mereka tidak ngobrol di ruang tamu.
"Apa brengsek itu numpang tidur lagi?" gumam Abidzar.
Meskipun sedikit bingung Abidzar masih tidak memiliki prasangka buruk. Dia pun memutuskan menyusul Dzakiyya. Berencana berisitirahat dengan memeluk istrinya barang sejenak. Tapi begitu membuka pintu dan masuk ke kamar Abidzar disambut dengan pemandangan yang menghancurkan hatinya.
Bagaimana tidak hancur. Karena diranjang yang harusnya hanya boleh dia naiki, terbujur sesosok pria yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Ral begitu mesra memeluk Dzakiyya sementara Dzakiyya terlihat nyaman menyembunyikan wajahnya di pelukan Ral. Bukankah itu semua miliknya tapi kenapa malam ini berbeda. Apa mereka sudah lama selingkuh seperti ini?
Wajah Abidzar merah padam. Tangannya mengepal sempurna dan urat lehernya menegang menahan marah. Tidak, Abidzar terlalu lelah. Lelah dengan semua hal yang membelenggunya selama ini. Banyak hal yang dia pikirkan. Pekerjaannya, adiknya, hubungan antara ibu dan istrinya, anaknya yang cacat dan masih banyak lagi.
Jadi kali ini setelah melihat pemandangan seperti ini dia tidak bisa menahan diri lagi. Amarahnya lebih dominan dari akal sehatnya sehingga dia melakukan hal yang akan dia sesali seumur hidup. Abidzar mengambil segelas air yang ada di meja lalu menyiramkannya pada Ral dan Dzakiyya.
"Kalian berdua cepat bangun!" teriak Abidzar.
...***...
__ADS_1