Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Mereka Perempuan


__ADS_3

5 bulan kemudian.


"Bagaimana, Dokter? Bayinya sehat kan?" tanya Ral.


Hari ini Ral mengantar Dzakiyya memeriksakan kandungannya yang sudah memasuki usia 7 bulan. Meskipun bukan istri dan anaknya tapi ekspresi bahagia jelas terpancar dari wajah Ral.


Pria itu bahkan lebih protektif, cerewet, dan semangat daripada Dzakiyya.


"Alhamdulillah, bayinya sehat!" jawab Dokter dengan senyum mengembang.


Dokter itu menunjukkan hasil pemeriksaannya. Lalu menjelaskannya lebih rinci. Tidak ada masalah apapun, semuanya sangat normal meskipun kandungan Dzakiyya sempat lemah di trimester pertama. Di akhir obrolan Dokter juga meminta Dzakiyya untuk memperhatikan kesehatannya.


"Jangan melakukan pekerjaan berat. Pastikan istirahat yang cukup. Jangan lupa olahraga ringan dan makan teratur dengan gizi seimbang," saran Dokter.


Dzakiyya tersenyum. Lalu mengucapkan terimakasih pada Dokter.


"Baik, Dok! Terimakasih!" kata Dzakiyya.


Dua orang itupun keluar. Lalu menuju apotek untuk menebus obat. Ral menuntun Dzakiyya ke ruang tunggu. Sementara dirinya menuju apotek yang lokasinya tidak jauh dari Dzakiyya.


"Kamu tunggu disini sebentar. Ingat jangan kemana-mana oke?" pamit Ral.


Pria itu pun segera pergi. Secepatnya mengambil obat agar Dzakiyya tidak menunggu terlalu lama. Dari tempatnya duduk Dzakiyya bisa melihat punggung Ral yang mulai berbincang dengan apoteker.


"Haus," keluh Dzakiyya.


Dia pun mengambil air minum dari dalam tasnya untuk melepaskan dahaganya. Tapi karena kurang berhati-hati botol itu jatuh ke lantai.


"Oops!" kata Dzakiyya.


Dzakiyya melihat botol yang sebenarnya hanya menggelinding satu langkah dari tempatnya duduk. Tapi dengan perut sebesar itu, sulit baginya untuk mengambil.


Dzakiyya menoleh ke kanan dan kiri. Berharap ada orang lewat yang akan membantunya. Sayangnya tidak ada siapapun yang lewat. Dan satu-satunya orang yang melihatnya sedang berdiri di sudut yang lain. Pria itu adalah Abidzar, suaminya sendiri yang kebetulan sedang menemani Nafisa memeriksakan anaknya.

__ADS_1


"Dia pasti haus," batin Abidzar.


Ini kali pertama Abidzar melihat Dzakiyya lagi setelah pertengkaran hebat waktu itu. Mendapati Dzakiyya kesusahan tentu saja Abidzar merasa iba. Secara spontan, kakinya melangkah. Ingin mengambil air itu dan memberikannya pada Dzakiyya.


Sayangnya Abidzar kalah cepat. Karena setelah beberapa langkah berjalan, Ral sudah mendahuluinya. Pria itu sudah kembali dari apotek. Tidak hanya membawakan obat untuk Dzakiyya. Tapi juga memungut botol air yang sempat menggelinding ke lantai.


"Lihatlah, kamu benar-benar tidak bisa hidup tanpa aku!" kata Ral.


Seperti biasa, pria itu selalu menyombongkan dirinya sendiri. Terdengar begitu arogan, tapi apa yang dia lakukan benar-benar keren. Bahkan Ral sudah membuka tutup botol itu sebelum menyerahkannya pada Dzakiyya.


"Terimakasih!" kata Dzakiyya.


Meskipun sudah terbiasa diperlakukan seperti ratu, tetap saja itu membuat Dzakiyya tersipu. Apalagi yang meratukan dirinya bukan suaminya. Karena tidak ingin diledek Ral karena wajahnya memerah, Dzakiyya pun segera meminum air yang tersisa separuh hingga tandas.


"Apa anakmu begitu berat. Kamu terlihat kelelahan!" goda Ral.


Pria itu mengeluarkan beberapa lembar tissue lalu mengelap keringat Dzakiyya. Tidak lupa meraih botol kosong dari tangan Dzakiyya dan membuangnya ke tempat sampah.


Abidzar yang melihat semua itu mulai mengepalkan tangan lalu menggertakkan giginya. Terlebih saat melihat adegan selanjutnya dimana Ral terlihat seperti suami sungguhan.


"Dza, lihat! Anakmu menendang tanganku!" seru Ral ketika meletakkan tangannya ke perut Dzakiyya.


Dzakiyya memukul Ral dengan pelan. Bayinya hanya bergerak bukannya menendang. Kenapa Ral selalu saja berlebihan. Tapi pukulan Dzakiyya tidak membuat Ral berhenti bicara.


"Dza, ngomong-ngomong kenapa anakmu suka sekali menendang. Apa dia ingin mengajakku main bola. Bukankah anak perempuan seharusnya main boneka?" tanya Ral.


Wajah Ral begitu polos. Berapa sebenarnya usianya. Apa diusianya sekarang ini dia masih berpikir bahwa anak perempuan tidak boleh main bola dan harus selalu main boneka?


"Mungkin dia tahu pamannya malas dan kurang gerak. Makanya dia ingin mengajakmu main bola," jawab Dzakiyya.


Jawaban itu begitu asal. Tapi sukses membuat Ral tertawa. Dia memang sedikit malas tapi itu dulu. Sekarang dia sudah kembali ke trek yang benar. Bekerja dengan serius sampai membuat orangtuanya nyaris tidak mengenali sifatnya lagi.


"Dza, jangan mengatai aku malas lagi. Aku sudah tidak seperti itu," protes Ral.

__ADS_1


Mau bagaimana lagi. Semenjak Dzakiyya hamil dan di bawah tekanan ayah ibunya yang super cerewet. Ral mengambil tanggung jawab penuh atas Dzakiyya. Bahkan memotong kuku Dzakiyya pun Ral yang melakukannya. Banyak hal yang Ral pelajari, dan dari situlah dia menyadari bahwa biaya membesarkan anak itu tidaklah murah.


Apalagi di dalam perut itu ada dua bayi. Perempuan pula. Jujur, hanya dengan membayangkan saja sudah membuat Ral frustasi. Terlebih mengingat bahwa perempuan sangat suka belanja. Hanya dengan melihat perut Dzakiyya, Ral bahkan sudah bisa membayangkan hari-hari kerenya di masa depan. Tapi itu tidak masalah. Setidaknya dia akan jadi paman yang keren nanti.


"Sudahlah, jangan membahas itu. Kamu pasti lelah. Ayo pulang!" ajak Ral.


Ral membantu Dzakiyya berdiri. Lalu memegangi Dzakiyya agar tidak jatuh. Mereka baru maju beberapa langkah tapi sudah berhenti karena Abidzar sudah berdiri di hadapan mereka.


Situasinya menjadi canggung. Abidzar melihat Dzakiyya dari atas ke bawah. Dzakiyya pun melihat Abidzar meskipun hanya sebentar. Sedangkan Ral, pria itu melihat keduanya secara bergiliran. Berharap keduanya melakukan reuni keluarga dengan pelukan. Sayangnya khayalannya terlalu tinggi karena setelah membuang nafas, Abidzar berlalu tanpa kata-kata.


"Dza, kamu duduk lagi ya. Aku ingin bicara dengannya!" pamit Ral.


"Jangan pergi!" kata Dzakiyya.


Dzakiyya menahan Ral. Tapi Ral tetap bersikeras menemui Abidzar.


"Jangan khawatir. Aku hanya ingin ngobrol sebentar karena sudah lama tidak bertemu dengannya," kata Ral.


Setelah membujuk Dzakiyya, akhirnya Ral pun menyusul Abidzar sebelum pria itu hilang dari pandangan matanya.


.


.


.


Di atap gedung itu, Abidzar berdiri sendirian. Sekilas terlihat begitu tenang meskipun sebenarnya tidak. Ada begitu banyak pertanyaan yang mengusik pikirannya sekarang. Apa dia telah salah paham selama ini. Apa benar tidak ada perselingkuhan antara Dzakiyya dan Ral. Tapi kenapa mereka bisa tidur bersama waktu itu?


"Apa aku terlalu gegabah?" gumam Abidzar.


Pria itu memijit kepalanya yang pusing. Melihat Dzakiyya barusan, ingin sekali bertanya berapa usia kandungannya. Apa dia baik-baik saja. Apa kandungannya normal mengingat ukuran perutnya yang lebih besar dari lainnya. Sayangnya Abidzar terlalu gengsi untuk mengatakannya. Dan bertindak pengecut dengan pergi tanpa mengatakan apapun juga.


"Mereka perempuan. Apa kamu punya rekomendasi nama yang cocok untuk mereka?" tanya Ral.

__ADS_1


Pria itu tidak hanya menyusul Abidzar dan berdiri di sampingnya. Tapi juga membocorkan jenis kelamin serta jumlah anaknya.


...***...


__ADS_2