Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Finally Happy Ending


__ADS_3

"Aku hamil?" gumam Dzakiyya.


Wanita itu membuka mulutnya lebar-lebar ketika melihat dua garis di testpack yang dia pegang. pikirannya langsung campur aduk mengingat suaminya akan pergi besok.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Dzakiyya.


Bayangan kehamilannya yang dulu kembali terlintas di pikiran Dzakiyya dan dia tidak ingin hamil tanpa ditemani suaminya seperti itu lagi. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Dzakiyya memutuskan untuk menurunkan egonya dan memilih damai. Demi anak-anak, demi calon anak, juga demi dirinya sendiri. Karena jauh di dalam hatinya, sebenarnya dia masih sangat mencintai suaminya.


"Papi, kapan papi akan pulang?" tanya Farah.


"Papi nggak lama kok!" jawab Abidzar.


"Kalau Fa Fa kangen gimana?" tanya Fauza.


Abdizar tertawa mendengar pertanyaan polos dari dua kembar yang duduk manis didepannya itu. Mungkin anak-anak itu masih mengira ayah mereka akan pergi ke Amerika dan pulang setahun sekali. Padahal Abdizar sudah memutuskan untuk tidak pergi. Sedangkan alasannya mengemas barang-barang, itu karena Abidzar ingin membawa Dzakiyya dan anak-anaknya liburan.


"Kalau kangen ya video call saja," jawab Abidzar.


Tentu saja jawaban itu hanyalah candaan. Abidzar tahu diam-diam Dzakiyya membeli testpack. Abidzar juga tahu Dzakiyya sedang menggunakan testpack itu sekarang. Jadi begitu melihat Dzakiyya keluar dari kamar mandi, Abidzar sengaja berbohong. Dia ingin melihat bagaimana reaksi istrinya itu. Apakah dia akan menahannya atau masih keras kepala seperti sebelumnya.


"Fa Fa, bisa keluar sebentar? Ada yang ingin mami bicarakan dengan papi!" kata Dzakiyya.


Farah dan Fauza melihat papinya sebentar. Dan begitu melihat papi menganggukkan kepalanya, merekapun langsung berdiri.


"Iya, mami!" kata Farah dan Fauza.


Dua anak itu pun pergi dan sekarang giliran Abidzar untuk bicara.


"Ada apa?" tanya Abdizar.


Pria itu masih sibuk mengemas barang-barangnya. Sementara Dzakiyya, wanita itu bukannya menjawab, tapi malah memberikan pertanyaan lain untuk Abidzar.


"Kamu mau pergi sungguhan?" tanya Dzakiyya.


Wanita itu sudah berdiri di belakang Abidzar sekarang. Menggenggam testpacknya erat-erat dan menyembunyikannya di belakang sana.


"Ya, aku akan pergi besok!"


Jawaban itu tidak salah. Yang salah adalah Abidzar tidak mengatakan bahwa dia akan membawanya dan anak-anak bersamanya.


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Dzakiyya.


Dalam posisi masih membelakangi Dzakiyya itu, Abidzar tersenyum tipis. Akhirnya kata itu keluar juga. Abidzar pun memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembalikan hubungan mereka yang tidak akur.


"Dza, aku sudah melakukan semuanya. Tapi kamu masih tidak mau memaafkan aku. Jadi, bukankah lebih baik aku pergi saja?" tanya Abidzar.


"Tapi aku hamil," jawab Dzakiyya sembari menyodorkan testpacknya kepada Abidzar.


Abidzar mengambil benda itu, melihatnya sebentar lalu meletakkannya begitu saja seolah tidak peduli.


"Lalu?" tanya Abidzar.


"Apa kamu mau lari dari tanggungjawabmu lagi. Meninggalkan aku sendiri lagi saat aku hamil anakmu?" tanya Dzakiyya.


"Aku tidak ingin lari. Aku ingin menemani kamu, melayani kamu dan melakukan semuanya. Tapi bagaimana caraku melakukan semua itu kalau kamu saja tidak mau ku dekati? Kamu bahkan selalu marah saat aku membantumu," jawab Abdizar.


Dzakiyya langsung membisu di tempatnya. Yang dikatakan suaminya memang benar. Dia masih sama seperti sebelumnya, tidak pernah membiarkan suaminya mendekat dan selalu marah. Bahkan, seandainya Abidzar tidak menidurinya dengan paksa beberapa minggu ini, mustahil terjadi hubungan suami istri diantara mereka dan dirinya pasti tidak akan hamil.


"Jadi bagaimana?" tanya Abidzar.


"Aku tidak akan seperti itu lagi. Jadi jangan pergi!" jawab Dzakiyya.

__ADS_1


"Sungguh?" tanya Abidzar.


Pria itu sudah berdiri di depan Dzakiyya. Menatapnya dalam-dalam dan memastikan Dzakiyya menepati kata-katanya. Dzakiyya pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, tapi itu masih belum cukup untuk Abidzar.


"Kamu memaafkan aku kan?" tanya Abdizar lagi.


Abdizar yang semakin dekat membuat Dzakiyya salah tingkah. Dia mendorong Abdizar meksipun dorongannya tidak merubah jarak diantara mereka.


"Ini yang terakhir. Kalau kamu menuduhku selingkuh lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu dan aku akan membawa anak-anak pergi," jawab Dzakiyya.


Dzakiyya melihat kearah lain. Sedikit malu mengatakannya, tapi saat ini jantungnya berdetak kencang sama seperti saat Abidzar menyatakan cinta untuknya untuk yang pertama kali.


"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi lagi. Aku akan membuktikannya. Tapi kenapa kamu tidak memelukku?" tanya Abidzar.


"Kenapa aku harus memelukmu?" tanya Dzakiyya.


"Sebagai perayaan atas hubungan kita yang kembali membaik," jawab Abidzar.


Karena Dzakiyya lambat bereaksi, Abdizar pun memutuskan untuk menarik Dzakiyya lebih dulu. Mencium keningnya dan mengucapkan terimakasih atas satu kesempatan yang dia berikan.


"Fa Fa, kemari!" panggil Abidzar.


Dua bocah itu kembali ke kamar. Langkah kakinya terhenti di depan pintu ketika melihat papi memeluk mami.


"Kenapa masih berdiri disana. Tidak mau mencium adik bayi yang ada di perut mami?" tanya Abidzar.


"Apa mami hamil?" tanya Farah.


"Fa Fa mau punya adik?" tanya Fauza.


"Ya, mami hamil. Adik kalian masih tidur di perut mami sekarang!" jawab Abidzar.


Dua bocah itupun langsung memeluk papi dan maminya. Sementara Abdizar, dia tampak mencium peri-peri kecil itu bergiliran sebelum mencium peri besarnya. Bersyukur karena kesabarannya selama enam tahun akhirnya terbayarkan.


.


.


.


Beberapa bulan kemudian,


"Lihat, kali ini anakmu sangat mirip seperti bapaknya!" komentar Ral begitu melihat anak ketiga Dzakiyya yang masih merah.


"Apa sih yang kamu bicarakan. Tentu saja mereka mirip, Mas Abid kan ayahnya!" protes Talitha.


Dzakiyya hanya menanggapinya dengan senyuman. Sementara Talitha memberikan anaknya kepada Ral karena ingin menggendong bayi berjenis kelamin laki-laki yang baru dilahirkan beberapa hari itu.


"Mbak, boleh Talitha gendong?" tanya Talitha.


"Tentu," jawab Dzakiyya.


Dzakiyya memberikan anaknya pada Talitha. Dua wanita itu pun kompak membicarakan bagian mana saja yang mirip dengan Abidzar. Sementara itu, disisi lain Ral tampak melihat sekeliling.


"Mana Farah dan Fauza. Bukannya mereka yang minta adik. Tapi kenapa malah tidak melihat adiknya sekarang?" tanya Ral.


"Mereka ngambek," jawab Dzakiyya.


"Ngambek kenapa?" tanya Ral dan Talitha bersamaan.


"Mereka mau punya dua adik laki-laki. Makanya mereka protes ke papinya sekarang," jawab Dzakiyya.

__ADS_1


Ral dan Talitha pun tertawa mendengar alasannya. Lalu meminta Dzakiyya turun tangan karena tahu Abidzar pasti sedang kewalahan.


"Pergilah! Dia pasti stress sekarang!" kata Ral.


Dzakiyya mengangguk. Lalu pergi ke kamar Farah dan Fauza dan mengintip apa yang mereka lakukan. Dzakiyya tertawa kecil begitu melihat Abidzar duduk manis di depan anak kembarnya yang terus melayangkan protes.


"Papi bohong!" teriak Farah.


"Fa Fa nggak mau ngomong sama papi lagi!" kata Fauza.


Dua gadis kecil itu membuang muka mereka. Masing-masing ke kiri dan kanan, membuat Abidzar pusing dibuatnya. Abidzar pun mencoba menjelaskan, meskipun Abidzar tidak yakin apa diusia mereka saat ini mengerti apa yang dia katakan.


"Sayang, papi maunya juga dua adik bayi. Tapi Tuhan hanya memberi satu, jadi gimana dong?" tanya Abidzar.


"Kalau begitu kenapa papi janji memberikan dua?" tanya Fauza.


"Kenapa papi bohong. Bukannya papi selalu bilang bohong itu dosa?" tanya Farah.


"Sayang, bukan seperti itu!" keluh Abidzar.


Sekarang ini, bukan hanya Farah dan Fauza yang menangis. Abidzar pun juga hampir menangis dibuatnya. Untung saja Dzakiyya segera masuk dan menyudahi drama pertengkaran antara ayah dan anak itu.


"Fa Fa, kemari sayang!" kata Dzakiyya.


Begitu mendengar mami memanggil, mereka pun langsung berlari dan memeluknya. Matanya masih menangis, tapi mulutnya sudah mengadu.


"Mami, papi jahat!" adu Farah.


"Papi bohong sama Fa Fa!" adu Fauza.


Dzakiyya melirik Abidzar yang kini memijit kepalanya. Lalu mencium anak-anak itu sebelum membujuk mereka. Bujukan itu tidak hanya sukses membuat mereka berhenti menangis, tapi juga sukses membuat Abdizar on fire.


"Sayang, papi nggak bohong. Papi memang mau ngasih dua adik buat kalian. Tapi papi kasihan sama mami kalau langsung melahirkan dua bayi sekaligus. Jadi, adik yang satunya ditunda dulu lahirnya," kata Dzakiyya.


"Jadi kapan adik yang satunya keluar?" tanya Fa Fa bersamaan.


"Mungkin tahun depan. Tapi itu tergantung papi. Dia kuat atau tidak," jawab Dzakiyya.


"Sungguh?" tanya anak-anak itu.


Dzakiyya mengangguk. Anak-anak itu pun kembali mengerubungi papinya yang sudah full senyum.


"Papi, semangat!"


"Papi harus kuat!"


"Papi kuat kok. Ngomong-ngomong, kamu nggak mau lihat adik kalian? Buruan lihat, takutnya adik kalian dicuri om Ral dan tante Talitha," kata Abdizar.


Dua anak itu pun menurut. Pergi menemui adik sebelum seseorang mencurinya. Sementara Abidzar langsung mengunci pintu karena ingin meminta tiket itu sekarang.


"Sayang, jadi kapan aku bisa naik lagi?" bisik Abidzar.


"Aku akan memberitahumu saat aku sudah sehat," jawab Dzakiyya.


"Oke, tolong segera beritahu aku saat itu tiba. Karena aku sangat menantikannya," kata Abidzar.


Tanpa komando, sepasang suami-istri itu pun berciuman. Dan begitu menyadari ada yang tegang, Dzakiyya tidak ragu memberikan servis tambahan dengan cara yang lain agar suaminya tidak jajan diluar.


"Sayang, kamu sangat nakal!" kata Abidzar.


Seperti protes, padahal sangat menikmati layanan khusus yang Dzakiyya berikan.

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2