Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Morning Sickness


__ADS_3

"Nona Dzakiyya, silahkan masuk!" panggil seorang suster.


"Baik!" sahut Dzakiyya.


Dzakiyya langsung berdiri ketika namanya dipanggil. Sudah satu minggu sejak dia memutuskan pulang ke rumahnya. Selama itu pula Dzakiyya sering pusing meskipun tidak sakit lagi. Anehnya dokter umum yang dia kunjungi sebelumnya malah memintanya menemui dokter yang lain.


Dan disinilah Dzakiyya sekarang. Duduk berhadapan dengan dokter kandungan yang memperlihatkan senyum ceria untuknya. Dokter itu menyambut dengan hangat tapi Dzakiyya masih tetap tegang. Maklum, meksipun sudah bertahun-tahun Dzakiyya belum bisa melupakan kenangan pahit atas vonis mandulnya. Jadi berhadapan dengan dokter kandungan seperti ini seolah mengorek luka lamanya itu.


"Tidak perlu tegang seperti itu, Bu Dzakiyya. Apa ini pertama kalinya Anda periksa?" tanya dokter dengan suara lembut.


Dzakiyya tersenyum, lalu menjawab pertanyaan itu dengan senyum canggung. "Tidak," jawab Dzakiyya.


"Baiklah, kalau begitu apa keluhan Bu Dzakiyya?" tanya dokter.


Dzakiyya pun menjelaskan keluhannya sedetail mungkin dan dokter menyimaknya dengan serius. Sesekali dokter itu mengangguk dengan menyunggingkan senyum karena sepertinya dia tahu apa penyebabnya.


"Kapan terakhir kali Ibu Dzakiyya datang bulan?" tanya dokter.


Dzakiyya berusaha mengingat kapan terakhir kali dia datang bulan. Tapi sekeras apapun dia mencoba, dia tidak bisa mengingatnya. Wajah Dzakiyya langsung memucat. Dia sudah mandul dan sekarang tidak datang bulan. Mungkinkah dia sudah menopause di usia ini.


"Ibu Dzakiyya?" panggil Dokter ketika Dzakiyya tak kunjung memberi jawaban.


"Dokter, saya lupa!" jawab Dzakiyya.


Dokter itu kembali tersenyum. Lalu berjalan ke arah ranjang yang ada diruangan itu. "Tidak masalah. Silahkan ibu berbaring di sebelah sini. Saya akan memeriksanya," kata Dokter.


Setelah melakukan sedikit persiapan, Dzakiyya dibantu suster berbaring ke ranjang untuk melakukan USG. Membiarkan dokter menyingkap bajunya dan mengoleskan gel khusus di perut dan di alat menyerupai mikrofon yang disebut transduser. Tidak ada perasaan khusus yang Dzakiyya rasakan ketika dokter mulai memeriksanya. Sampai dokter menjelaskan hasilnya, barulah Dzakiyya memberikan reaksi.


"Ibu Dzakiyya. Selamat, Anda positif hamil!" kata dokter.


"Apa?" tanya Dzakiyya dengan mata membesar.


Dzakiyya melihat layar monitor itu lebih jelas. Tidak yakin bahwa gambaran rahim yang ada di monitor itu adalah miliknya. Apa alat ini rusak, apa terjadi kesalahan. Dia kan mandul jadi bagaimana mungkin bisa hamil.

__ADS_1


Di sisi lain, Dokter tampak heran melihat reaksi yang ditunjukkan Dzakiyya. Jika itu orang lain, mereka pasti akan bahagia dan mengucapkan terimakasih. Tapi kenapa Dzakiyya berbeda. Apa mungkin dia kurang jelas mengatakannya.


"Ibu Dzakiyya. Selamat, Anda hamil!" ulang dokter sekali lagi.


"Dokter, tolong jangan bercanda. Saya ini mandul," kata Dzakiyya.


Bertahun-tahun kabar inilah yang selalu ingin dia dengar. Namun bertahun-tahun juga hatinya dipatahkan. Kali ini saat dia tidak memiliki keyakinan dan hampir menyerah, kenapa dia malah dinyatakan hamil. Mungkinkah dokter hanya bercanda untuk menghiburnya.


"Bu Dzakiyya, tapi ibu benar-benar hamil. Lihatlah, ini adalah calon bayinya. Usianya kurang lebih sekitar 8 minggu," kata dokter sembari menunjukkan posisi bayi agar Dzakiyya bisa melihatnya.


Setelah di rasa cukup. Dokter pun menyudahi USG nya. Lalu mengajak Dzakiyya duduk untuk membahas masalah yang terdeteksi setelah melakukan pemeriksaan.


"Bu Dzakiyya, kami menemukan ada yang salah dengan rahim ibu. Apa ibu meminum obat khusus secara rutin dalam jangka waktu yang lama?" tanya Dokter.


"Tidak, saya hanya minum beberapa vitamin juga semacam obat penyubur kandungan," jawab Dzakiyya.


Dokter itu mengangguk. Lalu meminta Dzakiyya membawa sampel semua obat yang dia minum dan menjelaskan alasannya.


"Bu, rahim orang normal tidak seperti ini. Takutnya ada obat yang mungkin tidak cocok dan malah memberikan dampak buruk untuk rahim ibu. Jadi saya menyarankan ibu membawa sampel obatnya untuk diperiksa," kata dokter.


Dzakiyya keluar dengan perasaan tak menentu. Tangannya tak berhenti gemetaran. Apa dia sedang bermimpi. Apa dia benar-benar hamil dengan usia kandungan 8 minggu seperti yang dokter katakan. Kenapa dia tidak percaya. Haruskah dia memberitahu Abidzar sekarang. Seharusnya suaminya akan senang mendengar kabar baik ini kan. Tapi bagaimana jika ini bohongan.


"Tidak, aku harus memeriksakan diri di tempat lain. Jika hasilnya masih sama, aku baru akan memberitahu Mas Abid," gumam Dzakiyya


Dzakiyya pun pulang ke rumah. Lalu mengumpulkan semua obat yang dia konsumsi selama ini. Tapi masih ada satu yang kurang. Yaitu obat penyubur kandungan yang dirampas suaminya setelah dia overdosis dulu. Meskipun sudah lama tidak dikonsumsi, tapi Dzakiyya merasa perlu memeriksanya juga. Karena enggan mengambilnya, Dzakiyya pun memilih suaminya mengantar obat itu.


"Halo, sayang!" jawab Abidzar dari seberang sana. Suaranya sedikit aneh tapi Dzakiyya tidak ingin tahu alasannya.


"Mas, bisa nggak besok pagi bawain obat yang Mas Abid simpan?" tanya Dzakiyya.


Di tempatnya saat ini, Abidzar yang sedang meringkuk di sofa akhirnya bangkit. Untuk apa Dzakiyya meminta obat itu. Apa Dzakiyya ingin mengonsumsinya lagi.


"Sayang, Mas Abid kan sudah bilang jangan minum itu lagi," kata Abidzar.

__ADS_1


"Bukan begitu, Mas!" jawab Dzakiyya.


"Lalu untuk apa?" tanya Abidzar.


Karena tidak ingin Abidzar curiga, Dzakiyya pun beralasan bahwa temannya mengkonsumsi obat yang sama. Karena obat miliknya masih banyak, Dzakiyya ingin memberikannya pada temannya tersebut. Untung saja Abidzar percaya.


"Oh, begitu. Nanti Mas Abid anterin ya?" janji Abidzar.


"Terimakasih!" kata Dzakiyya.


Setelah panggilan itu berakhir, Abidzar pun menghempaskan ponselnya dan kembali meringkuk di sofa. Ral yang sebenarnya menemani Abidzar sejak tadi hanya bisa menahan amarahnya agar tidak meledak.


"Bid, apa kamu mau mati? Kalau iya, aku akan menghubungi seseorang untuk menggali kuburan untukmu!" ucap Ral kesal.


Bagaimana tidak kesal. Abidzar sudah berkali-kali muntah. Dia bahkan sempat muntah dan mengotori jas mahal yang Ral kenakan.


"Brengsek, apa begini caramu merawat temanmu yang sakit?" umpat Abidzar.


Ral hanya geleng-geleng kepala. Lalu bangkit untuk membereskan barang-barang Abidzar.


"Ayo, aku akan mengantarmu pulang!" kata Ral.


Tanpa menunggu persetujuan Abidzar, Ral langsung menyeret Abidzar keluar. Lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi yang membuat Abidzar semakin ingin muntah.


"Huek!"


Akhirnya Abidzar muntah lagi. Hancur sudah kesabaran Ral yang setipis tissue.


"Bagus sekali, Bid! Tidak hanya jas milikku. Mobilku pun kau kotori juga. Ingat untuk membelikan aku mobil yang baru ketika kau sembuh nanti!" umpat Ral.


"Kenapa kau selalu perhitungan?" ucap Abidzar terbata-bata.


Sumpah ingin sekali Ral mencekik Abidzar agar mati sekalian. Tapi takut Abidzar akan menjadi hantu gentayangan. Jadi Ral memilih tidak mengatakan apa-apa lagi.

__ADS_1


"Ada apa sih denganmu. Anakmu sudah hampir lahir. Apa tidak terlalu terlambat untuk mewakili istrimu merasakan morning sickness?" batin Ral.


...***...


__ADS_2