
"Pak, apa Anda kenal dengan orang itu?" tanya manager restoran sembari menunjuk Joshua yang kebetulan sudah datang.
"Aku mengenalnya," jawab Abidzar.
Pria itu mulai gelisah begitu tahu siapa yang membuat janji dengan ibunya. Ternyata apa yang dia pikirkan siang tadi memang benar. Bahwa Joshua pasti memiliki hubungan khusus dengan ibunya.
Setelah Joshua masuk, Abidzar dan manager itu pun segera mengambil posisi yang nyaman untuk mendengarkan percakapan mereka. Abidzar tidak mengatakan apapun tapi gelagatnya sudah menjelaskan bahwa dia sangat gugup.
"Apa yang akan mereka katakan. Lalu apa yang mereka rencanakan?" batin Abidzar.
Sementara itu, di dalam ruangan sana Joshua langsung duduk dan menyapa wanita yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Selamat sore, Nyonya Diana! Lama tidak bertemu," kata Joshua.
Diana menanggapi sapaan Joshua dengan senyum tipis. Lalu memperhatikan Joshua lebih teliti. Pria itu tidak hanya sudah besar, tapi juga semakin tampan.
"Kenapa Nyonya melihatku seperti itu. Apa ada yang salah?" tanya Joshua.
Sebuah senyum tersungging di sudut bibir Joshua. Sementara Diana yang mendapatkan protes membalas Joshua dengan senyuman pula.
"Tidak ada," jawab Diana.
Diana mengambil botol wine yang tersaji dihadapannya dan menuangkannya ke dalam gelas. Hanya dengan saling menatap, Diana dan Joshua sudah tahu apa yang harus mereka lakukan. Yaitu bersulang dengan elegan sebelum menikmati wine itu
"Nyonya, Anda memanggilku kemari bukan hanya untuk membicarakan rencana itu kan?" tanya Joshua.
Pria itu masih begitu sopan, tapi sifatnya yang seperti itu malah membuat Diana tidak nyaman. Tidak ada siapapun di ruangan ini selain mereka berdua. Jadi kenapa Joshua tidak memanggilnya dengan sebutan yang lain saja.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan nyonya. Aku ini ibumu. Jadi panggil aku mama," ketus Diana.
Terlihat seperti membentak tapi sebenarnya tidak. Dan itu terlihat menyenangkan bagi Joshua. Tapi apa yang dikatakan ibunya memang benar. Kapan lagi dia bisa memanggil ibunya dengan sebutan mama.
"Jadi kenapa mama memanggilku?" tanya Joshua.
Sekarang pembicaraan mereka terdengar lebih santai. Sangat berbeda seperti sebelumnya yang begitu kaku.
__ADS_1
"Mama merindukan kamu," jawab Diana.
Diana bangkit lalu memeluk dan mencium putranya. Joshua yang diperlakukan seperti itu tentu saja merasa senang. Maklum, dia sudah terbiasa menjadi penonton saat ibunya menunjukkan sisi keibuannya pada Abidzar selama 20 tahun karena dipaksa menyembunyikan identitasnya oleh ibunya sendiri.
"Bersabarlah, sayang! Sebentar lagi kita bisa berkumpul lagi layaknya keluarga. Saat itu tiba, kamulah yang akan duduk di singgasana itu menggantikan Abidzar," kata Diana.
Joshua mengangguk. Tentu saja dia akan bersabar. Hari-harinya menjadi menjadi bawahan Abidzar akan segera berakhir. Dan saat itu tiba tidak hanya ibunya yang kembali tapi semua yang menjadi milik Abidzar akan jadi miliknya.
"Terimakasih, Ma!" kata Joshua sembari mencium ibunya.
Di dalam sana ibu dan anak itu tampak melepas kerinduan. Lalu melanjutkan dengan menikmati makan malam. Sementara disisi lain Abidzar tidak tahu lagi harus berekspresi seperti apa. Hari ini dia benar-benar remuk luar dan dalam. Bukan hanya satu orang yang kedoknya terbongkar. Tapi tiga orang sekaligus
"Pak Abidzar, apa Anda baik-baik saja?" tanya Manajer.
Pria itu tahu pertanyaannya salah. Siapa yang tidak hancur begitu tahu ibunya melakukan konspirasi sebesar itu. Tapi manager benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain itu.
"Pak, jangan bercanda. Wanita yang sudah ku anggap seperti ibuku sendiri menipuku. Bahkan dia akan membunuhku untuk menguasai harta peninggalan ayahku. Bagaimana mungkin aku baik-baik saja?" jawab Abidzar.
Seandainya hati Abidzar bukan ciptaan Tuhan, pasti saat ini hatinya sudah rusak dan tak berfungsi lagi. Beruntung hati itu ciptaan Tuhan, jadi sesakit apapun rasanya hati itu masih tetap berfungi.
Abidzar tidak langsung menjawab, melainkan mengambil ponselnya untuk menghubungi polisi. Tapi sebelum Abidzar sempat melakukannya, dia mendengar pembicaraan Diana dan Joshua yang membuatnya secara refleks membuang ponsel dan menghajar Joshua.
"Ma, tiga orang itu bisa kita bunuh. Tapi bisakah menyisakan Dzakiyya agar tetap hidup?" tanya Joshua.
Satu alis Diana terangkat. Dia tahu tiga orang yang Joshua maksud adalah Ral, Talitha dan Abidzar. Tapi dia tidak tahu kenapa Joshua ingin Dzakiyya hidup.
"Kenapa?" tanya Diana.
"Dia lumayan cantik. Ku pikir tidak buruk menjadikannya wanita penghangat ranjangku," jawab Joshua.
"Tidak bisa. Dia harus mati!" tolak Diana.
Wanita itu sedikit berubah. Tadi dia masih begitu lembut. Tapi setelah Joshua menyebut nama Dzakiyya, sidat keibuannya pelan-pelan mulai memudar.
"Kamu bisa menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi jika yang kamu inginkan adalah Dzakiyya meksipun hanya sebagai penghangat ranjangmu, mama tidak akan pernah mengijinkannya. Apa kamu mengerti, Joshua?" tanya Diana.
__ADS_1
Joshua sedikit merinding. Jujur saja, meskipun dia anak kandung Diana dia tidak tahu persis kenapa ibunya sampai memiliki dendam sampai tahap itu. Tapi melihat ibunya telah melakukan banyak hal untuknya, Joshua pun menurut.
"Ya, aku mengerti, Ma!" jawab Joshua.
Meskipun Joshua telah menyetujuinya, sepertinya itu tidak membuat Diana puas. Untuk memastikan Joshua serius dengan kata-katanya barusan, dia pun tidak ragu meminta Joshua membereskan Dzakiyya sekarang juga.
"Hubungi orangmu sekarang. Suruh mereka membunuh Dzakiyya hari ini juga!" perintah Diana.
"Sekarang? Tapi kenapa? Bukankah harusnya setelah membunuh tiga orang itu?" tanya Joshua.
Rencananya memang seperti itu. Diana ingin menghabisi orang-orang terdekat Dzakiyya terlebih dulu. Tapi karena Joshua menaruh ketertarikan pada Dzakiyya, Diana langsung merubah rencananya. Sebaiknya Dzakiyya segera dibunuh sebelum bibit-bibit cinta Joshua semakin tumbuh.
"Kita bisa membunuh mereka nanti. Sekarang segera hubungi orang-orangmu untuk membereskannya!" kata Diana.
"Baiklah!" kata Joshua.
Joshua membuang nafasnya dengan kasar. Merasa sayang wanita secantik itu harus dibunuh. Tapi dia tidak bisa menolak perintah ibunya kali ini.
Saat itu juga Joshua siap menelepon orang-orangnya. Tapi sebelum Joshua sempat melakukannya, seorang pria telah masuk dan merusak rencananya.
Pria itu adalah Abidzar. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan karena dia sudah tahu semuanya. Abidzar tidak hanya mencengkeram kerah Joshua. Tapi juga mendaratkan pukulan berkali-kali ke wajah Joshua.
"Kalian berdua memang sepasang ibu dan anak yang brengsek!" umpat Abidzar.
Abidzar masih bisa bersabar sebelumnya. Tapi begitu mendengar mereka akan melukai Dzakiyya dia tidak tahan lagi untuk memberikan Joshua pelajaran. Kemarahan Abidzar memuncak. Puluhan bogem mentah mendarat di wajah Joshua tapi itu tidak membuat Abidzar Puas.
"Bukan Dzakiyya yang akan mati. Tapi kamu dan setelah ini ibumu. Kalian berdua pergi saja ke neraka bersama-sama!" kata Abidzar.
Jika tadi Abidzar memukul dengan tinjuan. Maka sekarang Abidzar ingin membunuh Joshua dengan cara mencekik lehernya. Joshua yang kesulitan bernafas meraih apapun untuk melukai Abidzar. Sayangnya tidak ada benda apapun. Kejadian itu begitu cepat. Diana yang tidak mengira Abidzar berhasil membongkar kedok mereka begitu kaget sampai tidak tahu harus melakukan apa.
Yang dia lakukan hanyalah berdiri di sudut ruangan selama Joshua dihajar habis-habisan. Tapi begitu melihat anak kandungnya hampir mati dia tidak ragu mengambil pisau yang ada di meja dan menusuk Abidzar sebanyak dua kali.
"Berani melukai anakku, Aku tidak akan segan membunuhmu, Bid!" teriak Diana.
...***...
__ADS_1