
Sementara itu di rumah Dzakiyya.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?" teriak Dzakiyya.
Sebelumnya Dzakiyya melewati malam yang damai ditemani Haris dan Bella. Suasana itu begitu tenang sampai mertuanya datang. Dia tidak datang sendirian, tapi membawa empat pria tinggi besar yang langsung menghancurkan seisi rumah. Dua orang pria bahkan mulai menarik Dzakiyya.
"Kalian mau membawa Dzakiyya kemana?" tanya Haris.
Haris dan Bella mencoba menolong Dzakiyya dari pria itu tapi usahanya sia-sia karena dua pria lainnya sudah menghajar mereka.
"Oh Tuhan. Berhenti! Jangan lakukan itu!"
Dzakiyya histeris melihat om dan tantenya dipukuli dengan brutal. Tapi dia tidak bisa menolong karena dua pria tadi sudah menyeretnya.
"Lepas!" teriak Dzakiyya.
Wanita itu mencoba berontak tapi apalah arti kekuatannya yang tidak seberapa itu. Akhirnya Dzakiyya hanya bisa pasrah saat dua pria besar itu menyeretnya dan mendorongnya hingga tersungkur ke kaki-kaki Diana.
"Auch!" teriak Dzakiyya.
Calon ibu itu meringis sembari memegangi perutnya yang sakit. Tapi Diana sudah menambah penderitaannya dengan menginjak kepalanya.
"Kalian berdua keluar!" titah Diana.
"Baik!" jawab dua pria itu bersamaan.
Dua pria itu pun keluar seperti perintah majikannya. Sementara Dzakiyya menahan kaki Diana agar tidak semakin menggencet kepalanya.
"Kamu tidak lumpuh?" tanya Dzakiyya begitu sadar mertuanya tidak duduk di kursi roda.
"Kamu baru tahu sekarang. Apa tidak terlalu terlambat?" jawab Diana
Wanita itu tidak menutupi apapun. Lalu semakin menginjak kepala Dzakiyya lebih kuat. Tapi hanya seperti itu saja tidak membuatnya puas.
"Aku punya sesuatu yang lebih menarik. Apa kamu ingin mencobanya sekarang?" tanya Diana.
Diana mengambil cambuk yang sudah dia siapkan. Dan dengan sekuat tenaga memberikan cambukan pertamanya untuk Dzakiyya.
__ADS_1
"Akh!" teriak Dzakiyya.
Dzakiyya tersentak. Kulitnya panas seperti terbakar. Dan pemandangan menyedihkan itu membuat Diana semakin ketagihan dan mengayunkan cambuknya lagi dan lagi.
"Rasakan ini anak sialan!" teriak Diana.
Cambukan bertubi-tubi itu sukses membuat Dzakiyya berteriak. Teriakannya terdengar begitu memilukan di telinga Haris dan Bella. Tapi mereka tidak bisa menolong karena mereka sendiri sudah hampir pingsan.
"Sakit! Tolong hentikan!" teriak Dzakiyya.
Keringat membanjir di sekujur tubuhnya. Kulit yang mulus dan terawat kini penuh goresan dan luka. Pakaian yang dia kenakan tampak koyak disana-sini lengkap dengan bercak darah. Sulit menjelaskan bagaimana perasaan Dzakiyya saat ini. Tapi yang jelas dia bisa mati jika terus dipukul seperti ini.
"Kenapa. Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Dzakiyya.
Dzakiyya begitu penasaran. Dia sudah memutuskan hubungan dengan Abidzar. Tapi kenapa wanita gila itu masih tidak melepaskannya. Sementara itu, Diana yang kelelahan akhirnya membuang cambuknya lalu menjambak rambut Dzakiyya untuk mengatakan semua rahasianya selagi menantunya masih hidup.
"Karena aku membencimu. Ayahmu dan ibumu, aku juga membenci mereka. Apa kamu tahu kenapa mereka mati? Itu karena aku yang menginginkannya," jawab Diana.
DEG
Sekujur tubuh Dzakiyya memang sakit. Tapi hatinya jauh lebih sakit. Jadi, wanita yang menangis dan ikut menabur bunga di makam orangtuanya itu ternyata adalah pelakunya? Tapi kenapa. Kenapa mertuanya melakukan perbuatan keji seperti itu.
"Ya, aku yang membunuh mereka. Dan soal kamu yang mandul, aku juga yang melakukannya. Aku melakukannya karena aku membenci kalian sekeluarga. Seharusnya aku yang menikah dengan ayahmu bukan ibumu!" jawab Diana.
Air mata Dzakiyya mengalir semakin deras. Dia tahu wanita ini adalah orang dibalik vonis mandulnya. Tapi Dzakiyya tidak menyangka bahwa wanita ini juga ada hubungannya dengan kematian orangtuanya. Jadi kecelakaan ayahnya itu disebabkan oleh Diana? Dan orang berpakaian tertutup itu juga Diana?
"Kamu biadab! Kamu bukan manusia!" teriak Dzakiyya.
Dzakiyya sangat marah. Bukan hanya mengumpat, Dzakiyya juga berani meludahi ibu mertua yang selama ini dia hormati. Tentu saja tindakan Dzakiyya itu membuat Diana marah dan membuatnya mendorong Dzakiyya hingga terhempas ke lantai.
Kali ini sasaran kemarahannya bukan lagi Dzakiyya, tapi calon anak yang ada di perutnya. Dzakiyya mulai ketakutan terlebih melihat bagaimana cara mertuanya memandangi perutnya.
"Apa yang akan kamu lakukan. Jangan sakiti anakku!" teriak Dzakiyya.
Dzakiyya mundur sampai tidak bisa mundur lagi. Dan kesempatan itu digunakan Diana untuk melakukan hal paling keji pada menantunya sendiri. Menekan perut Dzakiyya sekuat tenaga agar anak-anak manis itu keluar sebelum waktunya.
"Akhhh!" teriak Dzakiyya.
__ADS_1
Sementara itu, Abidzar yang baru datang langsung masuk ke rumah. Dan dia disambut dengan pemandangan keempat pria yang masih menendang Haris dan Bella meskipun keduanya sudah pingsan. Abidzar begitu marah. Terlebih mendengar teriakkan istrinya yang memilukan beberapa detik setelahnya.
"Dza, tunggulah sebentar lagi. Aku pasti akan menolong kamu dan anak-anak kita!" batin Abidzar.
Seharusnya, Abidzar sudah sampai batasnya. Tapi nyatanya Abidzar masih bisa berdiri. Pria itu dengan keren mendekati keempat pria yang akhirnya sadar akan kedatangannya.
"Kebetulan kamu datang. Kamu bisa mendengar teriakkan istrimu sebelum mati," kata salah satu diantara orang itu.
Keempat orang itu masih santai. Tanpa tahu Abidzar sudah menyiapkan kejutan untuk mereka. Dulu sekali, Abidzar selalu menolak saat Ral memintanya membawa senjata untuk berjaga-jaga. Tapi karena pria itu terlalu cerewet, akhirnya Abidzar mengalah.
Alasan Abidzar tidak menggunakannya saat berhadapan dengan Joshua tadi, itu karena Abidzar meninggalkan senjatanya di mobil karena tidak menduga akan terjadi perkelahian hidup dan mati diantara mereka.
"Oh, sepertinya dia tidak takut mati!" kata salah satu penjahat itu.
Keempat orang itu mulai mendekat. Abidzar tahu keempat pria itu akan menghajarnya sekarang. Jadi sebelum mereka melakukan itu, Abidzar sudah mengambil pistolnya dan memberikan hadiah berupa timah panas untuk mereka.
"Jangan menghalangi jalanku!" kata Abidzar.
"Akh!"
"Akh!"
Keempat pria itu berteriak. Entah mati atau tidak Abidzar tidak peduli. Tapi yang jelas mereka semua telah tumbang berlumuran darah.
Abidzar bergegas menuju ke sumber suara. Marahnya naik di level yang berbeda setelah melihat apa yang terjadi. Tepat di depan matanya, Abidzar melihat perut istrinya ditekan oleh ibu tirinya sendiri. Dan wanita itu terlihat begitu menikmati saat Dzakiyya mengerang kesakitan.
"Hentikan!" teriak Abidzar.
Abidzar segera berlari. Lalu menarik Diana dan mendorongnya hingga kepalanya terbentur meja hingga pingsan. Tapi siapa yang peduli. Karena mulai hari ini tidak ada lagi hubungan anak dan orang tua diantara mereka. Bahkan Diana hidup atau mati Abidzar sudah tidak peduli lagi.
"Dza?" panggil Abidzar.
Pria itu meraih istrinya ke pelukannya. Pemandangan itu begitu membuatnya hancur. Wajah kesakitan itu, luka itu, darah yang mengalir disela kaki-kaki Dzakiyya itu, semuanya terlihat begitu menyesakkan dada.
"Mas Abid, t-tolong selamatkan anak-anakku. Aku sudah tidak kuat lagi," kata Dzakiyya terbata-bata.
"Jangan takut. Mas Abid akan membawa kamu ke rumah sakit sekarang. Jadi bertahanlah!" kata Abidzar.
__ADS_1
Sekilas, Abidzar terlihat begitu tenang. Tapi dia melakukan itu agar Dzakiyya tidak panik. Padahal, saat ini dialah yang paling takut. Takut kehilangan anak-anak yang bahkan belum pernah dia sentuh meskipun lewat perut ibunya. Dan jauh diatas itu semua, yang paling Abidzar takutkan adalah kehilangan mereka bertiga.
...***...