Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Mematik Api


__ADS_3

..."Bid, aku sudah mengantar Dzakiyya pulang dan menjelaskan situasinya. Saat kamu bertemu dengannya kamu hanya perlu minta maaf,"...


Pesan itu masuk ke ponsel Abidzar. Abidzar yang baru keluar dari ruangan dokter pun segera merogoh ponsel untuk memeriksanya. Selain membaca pesan dari Ral itu, Abidzar juga membaca pesan dari Dzakiyya yang dikirim satu jam yang lalu.


"Astagfirullah, ternyata sudah selarut ini?" gumam Abidzar begitu menyadari jam berapa sekarang.


Abidzar mulai panik. Tidak menyangka kesibukannya mengurus Nafisa akan memakan waktu selama ini. Tanpa membuang waktu, Abidzar pun menelepon Dzakiyya. Sayangnya tidak ada jawaban karena ponsel Dzakiyya sedang tidak aktif.


"Dia pasti marah!" sesal Abidzar.


Pria itu bergegas ke kamar tempat Nafisa dirawat. Lalu mengintip dari kaca yang ada di pintu. Di samping Nafisa yang tertidur, masih ada Talitha yang terpaksa menemaninya. Talitha yang menyadari kakaknya sudah berdiri di depan pintu pun segera keluar.


"Kenapa lama sekali sih, Mas?" tanya Talitha dengan suara pelan.


"Banyak sekali yang dokter bicarakan tadi," jawab Abidzar.


Abidzar memijit keningnya yang pusing. Lalu duduk di kursi untuk menenangkan dirinya. Ingin sekali Abidzar pulang dan meminta maaf pada Dzakiyya. Tapi dia tidak tega jika harus membiarkan Talitha menjaga Nafisa. Untungnya Talitha adalah adik yang pro. Karena saat itu juga, Talitha mendorong Abidzar menjauh dari pintu dan berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Mas Abid pulang dulu aja. Ngomong baik-baik sama Mbak Dzakiyya. Biar Talitha yang menjaga pasien itu," bisik Talitha sembari menunjuk Nafisa.


"Eh, dia itu kakak ipar kamu juga, Talitha!" kata Abidzar.


Tapi Talitha tidak peduli dengan peringatan Abidzar. Baginya, kakak iparnya hanyalah Dzakiyya. Jika bukan demi janin yang mereka kira milik Abidzar, Talitha bahkan tidak yakin akan membawa Nafisa ke rumah sakit meskipun Nafisa sedang sekarat.


"Iya, iya! Udah sana buruan," kata Talitha gemas.


Gadis itu rupanya masih marah. Marah dengan keadaan juga marah dengan dokter yang menangani Nafisa. Memangnya apa sih yang dia katakan sampai kakaknya gagal kencan di hari ulang tahun kakak ipar kesayangannya.


"Oke, terserah kamu saja. Mas Abid pulang sekarang," kata Abidzar.


Talitha mengangguk. Sementara Abidzar bergegas pulang. Jika ada kehidupan yang lain, sungguh Abidzar tidak memiliki keinginan untuk memiliki dua istri seperti ini.


"Benar-benar merepotkan!" gerutu Abidzar.


Abidzar mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perjalanan yang harusnya dia tempuh selama setengah jam, kini hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja. Wajah tampan itu terlihat kelelahan. Maklum, seharian ini dia berputar-putar terus layaknya gasing.

__ADS_1


Abidzar masuk ke rumah dengan membawa seikat bunga. Selain itu masih ada kotak kecil berisi perhiasan sebagai kado ulang tahun Dzakiyya yang sudah dia siapkan sejak seminggu yang lalu.


"Dza?" panggil Abidzar.


Pria itu sudah sampai di depan pintu kamar. Tapi Abidzar tidak bisa masuk karena pintunya dikunci. Dan meskipun Abidzar sudah mengetuk beberapa kali, masih tidak ada jawaban dari Dzakiyya. Abidzar yang khawatir akhirnya meletakkan bunga dan hadiahnya ke rak. Lalu pergi ke ruangan kerjanya untuk mengambil kunci cadangan.


Abidzar membuka pintu dengan pelan. Di dalam kamar yang temaram itu Dzakiyya tidur meringkuk dengan memeluk guling.


"Sayang, maaf!" bisik Abidzar.


Abidzar mencium kening Dzakiyya yang terlelap. Lalu menyingkap rambut yang menutupi wajahnya. Setelah itu duduk di sebelah Dzakiyya dan menepuk dadanya agar Dzakiyya semakin pulas. Entah apa yang dimimpikannya saat ini, tapi yang jelas sebuah senyuman manis terukir di sudut bibirnya.


"Apa yang kamu mimpikan. Kalau itu tidak ada kaitannya dengan Mas Abid, Mas Abid pasti akan sangat cemburu," gumam Abidzar.


Setelah dirasa cukup, Abidzar pun menulis permintaan maaf di secarik kertas dan meletakkannya di tempat yang pasti dilihat Dzakiyya. Lalu kembali ke rumah sakit untuk menggantikan Talitha agar anak itu istirahat di rumah.


Tidak ada yang salah dengan apa yang Abidzar lakukan. Hanya saja Abidzar lupa menyimpan bunga dan hadiahnya di tempat yang benar. Hadiah dan bunga itu masih tergeletak di sebuah rak kecil yang ada di depan kamar. Dan tetap disitu sampai Abidzar kembali ke rumah sakit tanpa disentuh Dzakiyya.


.


.


.


Dzakiyya bangun dengan tubuh lemah. Padahal dia hanya sedikit pusing kemarin. Dan tertidur pulas setelah minum obat. Entah kenapa pagi ini seluruh persendiannya terasa sakit. Bahkan suhu badannya juga ikut naik disertai batuk ringan.


"Aku harus ke dokter," gumam Dzakiyya.


Dzakiyya akhirnya memaksakan diri untuk bangun. Lalu keluar kamar untuk melihat-lihat. Tidak ada yang spesial pagi itu. Dzakiyya juga mengira Abidzar tidak pulang karena secarik kertas yang Abidzar tinggalkan untuknya sudah tidak ada.


"Sudah mandul, pemalas lagi!" kata Diana.


Suara itu begitu menggelegar. Membuat Dzakiyya terkejut dan menoleh. Dzakiyya melihat mertuanya sudah duduk manis di meja makan, tapi tanpa ada satupun sarapan yang tersaji di atasnya.


"Kenapa masih bengong disitu. Cepet masak!" bentak Diana.

__ADS_1


"Ma, biar maid yang masak buat mama ya. Dza lagi sakit," tolak Dzakiyya.


"Alasan! Mana ada orang sakit keluyuran semalaman!" omel Diana.


Dzakiyya menghela nafas panjang. Rasanya percuma menjelaskan pada mertuanya yang keras kepala. Jadi Dzakiyya memutuskan pergi setelah meminta maaf.


"Maaf, Ma! Dza beneran lagi sakit. Dza mau istirahat," kata Dzakiyya.


Dzakiyya pun menemui maid meskipun kepalanya semakin berat. Meminta mereka menyiapkan sarapan kesukaan mertuanya sedetail mungkin. Setelah memastikan maid mengerti, Dzakiyya pun kembali ke kamar dibantu seorang maid.


"Astagfirullah, panas sekali!" kata maid itu ketika tidak sengaja menyentuh kulit Dzakiyya.


"Tolong bilang ke sopir untuk mengantar Dza dokter ya?" pinta Dzakiyya.


Maid itu mengangguk. Lalu membantu Dzakiyya kembali rebahan. "Tapi sebelum itu Non Dzakiyya sarapan dulu ya. Biar saya buatkan bubur," kata maid itu sebelum pergi.


Untuk pertama kalinya, akhirnya Dzakiyya berani tidak mematuhi perintah mertuanya. Wanita itu kembali meringkuk di kasur menutup dirinya dengan selimut tebal. Tanpa tahu Abidzar sempat pulang dan menemaninya semalam. Bahkan membawakan kado untuknya meskipun terlambat.


.


.


.


"Ada apa, Ma? Kenapa pagi-pagi menelepon Abid?" tanya Abidzar.


"Lihat tuh istrimu, Bid! Kalau nggak ada kamu kerjanya malas-malasan. Dari kemarin juga nggak keluar kamar. Mama suruh bikinin sarapan juga nggak mau," lapor Diana.


Wajah Abidzar begitu lesu mendengar aduan ibunya. Dia nyaris tidak tidur semalam. Hari-hari sebelumnya juga sangat sibuk. Abidzar benar-benar lelah sekarang. Tapi kenapa semua orang selalu saja memberinya beban lagi dan lagi.


"Ma, Dzakiyya pasti masih ngambek. Biarin aja dulu," jawab Abidzar.


Tentu saja jawaban Abidzar bukanlah yang Diana inginkan. Jadi untuk mematik api kemarahan Abidzar, Diana pun memaksa Abidzar pulang agar Abidzar melihat apa saja yang telah dilakukan Dzakiyya.


"Tapi kali ini sudah keterlaluan, Bid! Mama nggak mau tahu pokoknya kamu pulang sekarang dan ajari istri kamu itu sopan santun!" paksa Diana.

__ADS_1


Diana langsung menutup teleponnya. Sementara Abidzar langsung memijit kepalanya yang semakin pusing. Memangnya apa sih yang dilakukan Dzakiyya sampai mamanya marah seperti itu.


...***...


__ADS_2