Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Akhir Joshua & Diana


__ADS_3

"Aku harus kabur!" batin Joshua.


Pria yang hendak dibawa menuju tempat persidangan itu tampak mengamati keadaan sekitar. Hanya ada satu polisi di sisi kanan dan kiri. Lalu ada beberapa lagi di depan dan belakang. Joshua yang sudah pulih dari cideranya yakin bisa kabur. Hanya saja dia tidak bisa membawa ibunya.


Joshua sempat menoleh kebelakang. Melihat ibunya yang berjalan tidak jauh di belakangnya dengan tangan di borgol. Pandangan mereka sempat bertemu sebelum polisi menegurnya.


"Lihat apa. Cepat jalan!" tegur polisi sembari menarik Joshua.


"Brengsek!" umpat Joshua.


Pria itu semakin kesal karena diperlakukan seperti itu. Mungkin dia terlalu banyak dosa sehingga keberuntungannya sangat buruk. Sudah rencananya gagal total. Lalu Abidzar, Dzakiyya ataupun anak-anaknya tidak ada yang mati. Malahan, sepertinya dia dan ibunya yang akan tamat karena terancam mendapatkan hukuman mati.


"Tidak boleh. Aku tidak ingin mati. Aku harus mencari kesempatan untuk kabur selagi masih bisa. Dan setelah aku berhasil kabur nanti aku pasti akan membunuh mereka semua!" geram Joshua.


Berbeda dengan Joshua yang sedang mencari kesempatan untuk melarikan diri, Diana malah sibuk memikirkan rencana agar terbebas dari hukuman. Belasan tahun dia merawat Abidzar, Diana tidak percaya Abidzar tidak akan memaafkannya kali ini. Dengan air mata buaya yang dia tunjukkan nanti, seharusnya sudah cukup untuk mengetuk hati Abdizar sehingga dia memaafkan kesalahannya kan?


"Aku pasti bebas," batin Diana.


Wanita itu begitu percaya meskipun menyadari betapa fatalnya kesalahan yang dia lakukan. Padahal, sudah tidak ada pintu maaf baik itu dari Dzakiyya maupun Abdizar.


"Abdizar, tunggu saja. Aku pasti akan membuatmu jadi budakku sekali lagi. Dan kali ini aku tidak akan gagal!" batin Diana.


Wanita itu tersenyum tipis. Sudah membayangkan hari kebebasannya yang sebenarnya tidak akan pernah jadi kenyataan. Tapi senyum itu pudar ketika Joshua secara terang-terangan memulai aksinya untuk melarikan diri. Tidak hanya menyerang polisi-polisi itu dengan membabi buta, Joshua bahkan langsung berlari tanpa memikirkan ibunya.


Polisi yang melihat tawanannya mencoba kabur pun segera mengejar Joshua. Lalu mengeluarkan tembakan ke udara sebagai peringatan agar Joshua menyerah. Sayangnya peringatan itu tidak digubris Joshua sehingga polisi menembakkan timah panas ke kaki Joshua.


DOR


"Akh!" teriak Joshua.


Pria itu sempat berguling-guling beberapa kali. Tapi masih bisa berdiri dan melanjutkan larinya. Karena hanya satu tembakan di kaki saja, Joshua masih bisa menahannya.


"Joshua, apa yang kamu lakukan. Jangan lari, anakku!" teriak Diana.


Diana mulai panik. Lalu memohon kepada polisi yang memeganginya untuk tidak menembak lagi. Tapi kata-kata Diana tidak di dengar oleh siapapun. Joshua semakin mempercepat larinya terlebih setelah melihat jalan besar di depannya. Sementara polisi tidak berhenti mengejarnya. Jumlah mereka bahkan terlihat semakin banyak.

__ADS_1


"Brengsek. Aku harus segera kabur. Aku tidak boleh tertangkap!" gumam Joshua.


Pria itu sempat menoleh ke belakang. Mendengar ibunya yang histeris memanggil namanya. Dia juga melihat polisi yang tidak mengejarnya lagi. Mereka tampak berhenti dengan menampilkan ekspresi wajah yang panik. Senjata yang sempat mereka acungkan bahkan sudah mereka simpan dan secara bersamaan memintanya berhenti dengan melambaikan tangannya.


Sedikit aneh, tapi Joshua tidak memikirkan banyak hal. Karena baginya, hanya sekarang inilah satu-satunya kesempatan untuk kabur. Joshua tampaknya tidak menyadari apa arti dari teriakan mereka. Dan begitu sadar, dia sudah sangat terlambat. Karena tepat saat itu, sebuah mobil box melaju dengan kecepatan tinggi dan menabraknya dengan keras.


"Tidaaakk!" teriak Diana ketika melihat tubuh Joshua terseret hingga belasan meter.


Wanita itu berlari sekuat tenaga. Mengejar tubuh anaknya yang tersangkut di bawah badan mobil. Setelah setengah abad dia hidup, akhirnya dia mengerti juga apa itu takut kehilangan.


"Anakku, Joshua! Cepat buka matamu. Jangan membuat mama takut. Ayo bangun. Mama disini!" kata Diana.


Wajahnya pucat pasi. Dengan tangan terborgol yang tak berhenti gemetaran, dia menyentuh wajah anaknya yang penuh darah. Berharap sentuhan tangannya bisa membangunkan anaknya. Tapi sekeras apapun Diana mencoba tidak akan ada respon dari Joshua.


"Mama bilang bangun, Nak!" teriak Diana.


Teriakan itu begitu memilukan dan tangisannya pecah setelah menyadari bahwa anaknya tidak akan bangun lagi. Bagiamana bisa bangun. Joshua yang sekarang sudah tidak seperti Joshua yang sebelumnya. Beberapa anggota tubuhnya patah. Bahkan beberapa bagian tubuhnya hancur dan tercecer disepanjang jalan. Iya, Joshua tidak bisa membuka matanya lagi karena dia benar-benar telah mati. Mati tepat di depan ibunya sendiri dengan cara yang mengenaskan dan tidak pernah terbayangkan oleh Diana.


"Tidakkkk!!!" teriak Diana.


.


.


.


Dzakiyya tampak duduk membelakangi Abidzar yang berdiri di belakangnya untuk menyampaikan berita meninggalnya Joshua. Dzakiyya memang sempat menoleh, namun masih enggan melihat Abidzar. Tapi meskipun sikap Dzakiyya masih acuh seperti itu Abidzar sama sekali tidak mempermasalahkannya.


"Ya, dia meninggal karena kecelakaan setelah mencoba kabur!" jawab Abidzar.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un," kata Dzakiyya.


Dzakiyya sedikit merinding. Tidak menyangka Joshua akan meninggal dengan cara seperti itu diusia yang masih muda. Meskipun Dzakiyya sangat membencinya, tapi jauh di lubuk hatinya masih ada perasaan iba untuknya. Dia pun berdoa untuk sejenak sebelum kembali diam dan mengacuhkan Abidzar.


Dan kesunyian itu baru pecah saat Abidzar mempertanyakan bagaimana status hubungan mereka. Joshua sudah mati, Diana akan menjalani hukuman mati. Sementara Nafisa sudah Abidzar ceraikan sejak Farah dan Fauza lahir. Jadi sekarang adalah saatnya untuk menyelesaikan satu-satunya masalah yang belum terselesaikan, yaitu kelanjutan hubungan mereka.

__ADS_1


"Dza, bagaimana dengan hubungan kita. Bisakah kamu memberikan aku kesempatan satu kali saja?" tanya Abidzar.


Suara itu begitu lesu. Karena harapan untuk kembali menjalin hubungan dengan Dzakiyya nyaris tidak ada. Tapi meksipun begitu Abidzar masih ingin memperjuangkannya.


"Maaf!" kata Dzakiyya.


Jawaban itu masih sama. Sama-sama menyiratkan bahwa yang Dzakiyya inginkan adalah perceraian. Tapi melihat Dzakiyya yang tidak berani melihatnya, Abidzar merasa kemungkinan itu masih ada walaupun sangat kecil.


"Kalau begitu tolong lihat aku, Dzakiyya! Tolong lihat aku dan katakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi!" kata Abidzar.


Pria itu akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Dzakiyya. Meraih tangannya dan menarik Dzakiyya sehingga pandangan mata mereka bertemu. Dzakiyya mencoba melepaskan diri. Tapi di tangan seorang Abidzar, tidak mungkin baginya untuk lepas dari kungkungannya. Dzakiyya bahkan tidak memiliki kesempatan untuk lari dari tatapan mata pria yang dia cintai selama sepuluh tahun ini.


"Aku membencimu, Mas Abid!" jawab Dzakiyya.


Akhirnya jawaban itu keluar. Tapi bukan itu jawaban seperti itu yang seharusnya Dzakiyya berikan.


"Dzakiyya, aku tahu kamu sangat membenciku. Untuk itulah aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu. Tapi bukan itu yang aku tanyakan. Aku ingin tahu apa kamu benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?" ulang Abidzar.


Pria itu menatap Dzakiyya dalam-dalam. Sementara Dzakiyya hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar. Bagaimana mungkin Dzakiyya tidak mencintai Abidzar.


Mulutnya memang mengatakan membenci Abidzar. Tapi saat Abdizar tidak kunjung bangun waktu itu, Dzakiyya lah yang paling khawatir. Hanya saja hatinya masih begitu sakit atas keraguan dan talak pertama Abidzar hari itu. Di tengah kebimbangan itu, akhirnya Dzakiyya terjerembab ke lantai karena tidak bisa menahan bobot tubuhnya. Lalu menutup wajahnya agar Abdizar tidak melihat tangisannya.


"Dza, please! Aku bersedia melakukan apapun asalkan kita tidak bercerai. Jadi tolong beri aku kesempatan satu kali saja!" mohon Abidzar.


Pria itu bersimpuh di depan Dzakiyya. Memohon dengan sangat agar Dzakiyya memberinya kesempatan itu. Dzakiyya pun tidak ragu lagi mengajukan satu permintaannya sebagai satu-satunya syarat jika Abidzar tidak ingin bercerai.


"Kalau begitu jangan muncul lagi di depanku. Aku tidak ingin melihatmu lagi selamanya," kata Dzakiyya.


Abidzar tertegun sebentar. Permintaan itu, apa bedanya dengan perceraian. Tapi Abdizar tidak ragu menyanggupinya.


"Oke, aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi. Tapi ijinkan aku menemui anak-anak meskipun hanya sebentar saja," kata Abidzar.


"Satu tahun. Aku mengijinkan kamu menemui mereka satu kali dalam tahun sekali," jawab Dzakiyya.


Itulah keputusan Dzakiyya. Karena Abidzar sudah menolongnya sehingga anak-anak mereka selamat, Dzakiyya memberikan kesempatan pada Abidzar untuk menemui Farah dan Fauza sekali dalam setahun.

__ADS_1


"Aku mengerti. Terimakasih!" kata Abidzar.


...***...


__ADS_2