
"Masih belum ditemukan?" gumam Abidzar.
Abidzar mengetukkan jarinya di meja. Satu bulan telah berlalu tapi anehnya keberadaan sosok itu masih abu-abu. Bahkan meski Abidzar sudah membentuk tim dan menunjuk Joshua sebagai ketuanya. Tapi meskipun sosok itu belum ditemukan, untungnya keadaan Dzakiyya sudah lebih baik. Itu adalah hal baik yang patut Abidzar syukuri.
Dan hal baik lainnya adalah Talitha bersedia tinggal dengan mereka dan membantunya di perusahaan. Dzakiyya juga tidak perlu mengerjakan tugas rumah seperti biasanya karena Abidzar sudah mempekerjakan beberapa maid baru. Yah, menurut Abidzar memang begitu. Tapi saat Abidzar tidak ada Dzakiyya tetap mengerjakan semuanya bersama maid-nya.
"Mas, sudah waktunya berangkat. Nafisa dan Talitha sudah menunggu di depan!" panggil Dzakiyya lembut.
Panggilan Dzakiyya membuyarkan lamunan Abidzar. Abidzar yang sempat lupa waktu segera bangkit dengan menenteng tas kerja miliknya.
"Sayang, Mas Abid berangkat. Baik-baik di rumah," pamit Abidzar dengan memberikan kecupan di kening Dzakiyya.
Dzakiyya mengangguk. Lalu menyodorkan bekal untuk dibawa Abidzar. "Hati-hati di jalan!" kata Dzakiyya.
Abidzar mencubit pipi Dzakiyya. Lalu menyambar bibirnya karena ciuman di kening saja rasanya tidak cukup. "Mau makan apa. Mas Abid akan membelikannya sepulang kerja," tanya Abidzar.
Dzakiyya menggeleng. Tidak ada yang dia inginkan. Asal suami dan adiknya kembali ke rumah dengan selamat dia sudah sangat senang. "Dza hanya ingin kalian pulang dengan aman," jawab Dzakiyya.
Abidzar tersenyum. Lalu mencium tangan istrinya. "Jangan khawatir. Kami pasti kembali dengan aman," kata Abidzar.
Setelah puas bercakap dengan istrinya, Abidzar pun pergi dengan percaya diri. Sementara Dzakiyya yang mengantar sampai pintu langsung masuk begitu bayangan mobil suaminya tak lagi terlihat.
Dzakiyya segera berbaur dengan maid-nya. Melakukan tugas hariannya tanpa mengeluh. Dzakiyya dan maid-nya juga terlihat akrab. Beberapa kali saling mengobrol dan melontarkan candaan ringan. Sayangnya suasana hangat itu berakhir begitu Diana muncul. Berdiri di ambang pintu dengan secangkir kopi panas di tangannya.
"Ma, ada yang bisa Dza bantu?" tanya Dzakiyya.
Dzakiyya segera menghampiri mertuanya. Mengira mertuanya akan memerintah seperti biasa. Sayangnya Diana sedang tidak butuh bantuan Dzakiyya.
"Puas kamu sekarang?" bentak Diana.
Dzakiyya terperanjat. Begitupun dengan beberapa maid yang ada disana. Diana yang tidak suka maid itu menonton langsung mengusir mereka. "Apa yang kalian lihat. Cepat pergi. Aku membayar kalian mahal bukan untuk bersantai!" hardik Diana.
Dzakiyya melirik ke arah maid. Memberikan sebuah kode agar mereka pergi. Dan setelah mereka pergi barulah Dzakiyya melanjutkan pembicaraannya. "Ma, apa maksud mama barusan?" tanya Dzakiyya.
"Masih nggak ngerti juga. Berapa kali mama harus bilang sama kamu, Dzakiyya? Berapa kali mama bilang jangan menggoda Abidzar, ha?" teriak Diana.
__ADS_1
"M-ma kapan Dza menggoda Mas Abid?" tanya Dzakiyya.
Dzakiyya masih berduka. Selain itu Abidzar sangat sibuk dan pulang malam hampir setiap hari. Jangankan menggoda, tidur berdua pun sudah tidak pernah karena Abidzar selalu tidur di kamar Nafisa.
"Kapan?" teriak Diana dengan nada tinggi.
Diana menarik rambut Dzakiyya. Membuat Dzakiyya terjatuh dan hanya pasrah mendapatkan perlakuan buruk mertuanya. "Ma, sakit!" keluh Dzakiyya sambil memegangi rambutnya.
Tapi keluhan Dzakiyya sepenuhnya terabaikan. Karena Diana semakin kuat menarik rambut menantunya. Saking kuatnya bahkan sampai ada yang terlepas dari kulit kepala Dzakiyya. Begitupun kopi panas yang oleng dan mengguyur beberapa bagian tubuh Dzakiyya.
"Setiap hari kerjanya mesra-mesraan begitu. Kamu pikir Abidzar akan begitu kalau kamu nggak menggodanya, ha? Apa sih gunanya kalian begitu. Kamu pikir kamu bisa mendapatkan anak. Ingat Dza, kamu itu mandul. Mandul. Kamu ngerti nggak?" hardik Diana.
DEG
Dzakiyya meringis menahan sakit. Matanya memerah atas kata-kata kasar mertua yang semakin semena-mena. Kenapa mertuanya tega bicara kasar seperti itu. Dzakiyya tahu dia mandul. Tapi bisakah tidak mengungkitnya. Karena jika boleh, Dzakiyya juga tidak mau mandul.
"Maaf, Ma!" lirih Dzakiyya.
Tapi permintaan maaf Dzakiyya membuat Diana semakin kesal. "Nangis lagi. Nangis terus. Memang nggak ada yang bisa kamu lakuin selain nangis?" bentak Diana.
Diana melepaskan rambut Dzakiyya yang berantakan. Menendangnya sekali sebelum menyeretnya dengan kasar. "Sini, kamu!"
Sesampainya di kamar. Diana menjorokkan Dzakiyya ke lantai. Mengambil baju Dzakiyya secara acak dan melemparnya ke wajah Dzakiyya.
"Ma, ini apa maksudnya?" tanya Dzakiyya.
"Pergi. Kamu hanya menghalangi Abidzar mendapatkan anak. Ingat, Dza. Kamu tidak diijinkan kembali sebelum Nafisa hamil. Ngerti?" jelas Diana.
"Dza mengerti, Ma!" sahut Dzakiyya.
Hari itu dengan berat hati Dzakiyya angkat kaki memenuhi permintaan Diana. Tidak hanya pergi tanpa membawa bekal yang cukup, Dzakiyya bahkan tidak membawa telepon genggam karena Diana merampasnya.
"Aku harus pergi kemana?" batin Dzakiyya. Ke rumah almarhum ibunya jelas tidak mungkin karena Abidzar pasti mencarinya kesana. Dan Diana akan semakin marah jika itu terjadi.
Akhirnya Dzakiyya yang ditelantarkan seperti anak kucing naik bus tanpa arah tujuan. Tak terhitung berapa kali Dzakiyya ganti bus. Sampai bus terakhir membawanya pergi ke sebuah kota kecil yang hijau. Dzakiyya turun disana. Lalu menjual sepasang anting untuk menyewa sebuah rumah kayu yang ada di pinggiran sungai. Rumah kecil tapi penuh bunga dan pepohonan. Sangat cocok untuk Dzakiyya yang sedang dilanda nestapa.
__ADS_1
.
.
.
Siang itu Nafisa pulang lebih awal dari biasanya. Setelah mengganti sepatu, dia langsung pergi menemui Diana. Nafisa tidak tahu apa yang akan Diana bicarakan tapi yang jelas hal itu sangat penting.
"Mama mencari Nafisa?" tanya Nafisa.
"Duduk!" titah Diana.
Nafisa mendekat. Duduk berhadapan dengan mertuanya yang telah memberikannya banyak celah atas hubungan Dzakiyya dan Abidzar. "Ada apa, Ma?" tanya Nafisa.
"Kapan kamu hamil?" tanya Diana ketus.
"I-itu,-"
Nafisa kelabakan. Pernikahannya dengan Abidzar berjalan kurang dari dua bulan. Meskipun Abidzar memperlakukannya dengan baik tapi Abidzar belum menyentuhnya. Bahkan saat mereka bulan madu sekalipun.
Diana menggelengkan kepalanya. Frustasi dengan menantu keduanya yang nyaris tak berguna juga. "Dengar, tugas utamamu adalah melahirkan anak. Jika kamu tidak bisa memberikannya, aku bisa mencari wanita lain untuk menggantikan dirimu," ancam Diana.
Nafisa menelan ludahnya. Dia sudah sangat nyaman menjadi Nyonya Abidzar. Tinggal di rumah mewah dan memiliki kekuasaan yang cukup. Nafisa juga tidak pernah kesulitan uang. Jadi mana mungkin Nafisa membiarkan wanita lain menggantikan posisi idaman ini.
"Ma, Nafisa juga mau melahirkan anak untuk Mas Abid. Tapi bagaimana kalau Mas Abid saja tidak pernah menyentuh Nafisa?" kata Nafisa.
"Itu salahmu. Menarik perhatiannya saja tidak becus. Bukankah setiap malam dia tidur di kamarmu?" bentak Diana.
Nafisa diam dengan mengepalkan tangannya. Dia ingin menarik perhatian Abidzar. Ingin memiliki Abidzar sepenuhnya. Tapi Abidzar selalu tertarik dengan Dzakiyya meskipun Dzakiyya tidak melakukan apa-apa. Jadi dia harus bagaimana?
"Sudahlah, wanita mandul itu sudah ku usir. Dia tidak akan kembali dalam waktu dekat. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya atau aku akan meminta Abidzar menceraikan kamu!" bentak Diana memberi peringatan.
"Baik, Ma!" jawab Nafisa.
"Ya sudah. Keluar sana, aku mau istirahat!" usir Diana.
__ADS_1
Wajah Nafisa berbunga mendengar penjelasan Diana. Ya, dia harus menggunakan kesempatan ini dengan baik. Apapun caranya dia harus melahirkan anak Abidzar. "Terimakasih, Ma!"
...***...