
Pertanyaan Dzakiyya membuat Diana tertawa layaknya orang gila. Apa yang dia inginkan katanya. Memangnya Dzakiyya sanggup memenuhi apa yang dia inginkan jika dia mengatakannya. Puas dengan tawanya yang menjijikkan Diana pun beralih melihat Dzakiyya dengan tatapan menyeringai.
"Aku mau kamu cerai. Lalu kamu mati menyusul ibumu yang sudah tinggal tulang belulang itu. Bagaimana, kamu bisa?" tanya Diana.
Dzakiyya mencerna dengan baik permintaan ibu mertuanya. Tanpa memperdulikan kata-kata yang terdengar semakin kasar dari hari ke hari. Permintaannya memang hanya dua. Tapi dua-duanya bukanlah apa yang biasanya diinginkan orang normal.
"Ma, tolong jangan bercanda. Dzakiyya sangat mencintai Mas Abid, jadi bagaimana mungkin Dzakiyya bercerai?" tanya Dzakiyya.
"Kalau begitu kamu mati saja. Toh kalian tetap akan cerai secara alami kalau kamu mati," jawab Diana.
Dzakiyya menunduk dengan tatapan sayu. Menyadari bahwa jalan keluar dari permasalahan pelik ini sepertinya tidak akan pernah ada. Di tengah pikirannya yang kacau, keinginan untuk menyerah itu muncul di benaknya. Tapi begitu mengingat Abidzar keinginan sesaat itu lenyap begitu saja. Karena untuk berpisah dengan Abidzar Dzakiyya tidak akan pernah sanggup.
Lagi-lagi suasana menjadi hening. Dua maid yang menunggu diluar mulai ragu dengan apa yang harus mereka lakukan. Untungnya Talitha datang disaat yang tepat. Gadis itu berteriak memanggil Dzakiyya, bukan Diana atau yang lainnya. Maklum, beberapa bulan terakhir selalu Dzakiyya yang menyambutnya. Jadi sudah menjadi semacam kebiasaan nama Dzakiyya yang selalu dia panggil.
"Mbak Dza, Talitha pulang!" panggil Talitha.
Karena tidak ada sambutan, akhirnya Talitha naik ke atas. Dan kedatangannya disambut dua maid yang masih belum beranjak.
"Mbak Dzakiyya kemana?" tanya Talitha.
"Ada di dalam," jawab maid bersamaan.
"Oh, terimakasih!" kata Talitha.
Sepertinya gadis itu sengaja pulang lebih awal untuk meringankan beban Dzakiyya. Dengan wajah sumringah serta membawa tentengan oleh-oleh, Talitha pun bergegas masuk ke kamar. Tapi ekspresi sumringah itu langsung sirna ketika melihat isi kamar mamanya yang berantakan.
"I-ini a-apa yang terjadi?" tanya Talitha.
Dua maid itu tidak berani menjawab. Talitha pun memberikan semua yang dia pegang kepada dua maid itu. Lalu mendekati kakak iparnya yang masih duduk diantara pecahan beling.
"Apa mama ngamuk lagi? Tapi kenapa sampai parah begini?" batin Talitha.
Jujur saja Talitha bingung mana yang harus dia dahulukan. Menenangkan mamanya yang melengos atau menghibur kakak iparnya yang menjadi sasaran amukan mamanya. Tapi yang pasti Talitha bisa melihat luka-luka yang ada pada Dzakiyya.
"Mbak Dza, Mbak Dza kenapa bisa begini?" tanya Talitha.
Melihat kakak iparnya tidak memberikan jawaban Talitha pun menoleh ke arah mamanya. "Ma, mama kenapa jadi begini sih, Ma?" protes Talitha.
Tapi lagi-lagi pertanyaan Talitha tidak mendapatkan jawaban. Dzakiyya yang sudah sedikit tenang akhirnya memegang tangan Talitha agar gadis itu tenang.
"Mama nggak mau makan. Coba kamu coba bujuk mama ya?" kata Dzakiyya.
Talitha mengangguk. Dia tahu soal dia yang harus membujuk mamanya. Tapi bagaimana dengan kakak iparnya yang berdarah-darah? Bukankah dia juga butuh perhatian?
"Mbak, i-ini pasti sakit. Biar pak satpam antar mbak ke rumah sakit ya? Atau Talitha telpon Mas Abid sekarang?" tanya Talitha.
__ADS_1
Dzakiyya tersenyum. Dia tahu adiknya cemas. Tapi luka yang seperti itu Dzakiyya masih bisa mengobatinya sendiri. Lalu soal Abidzar, belakangan ini suaminya itu sibuk. Bahkan beberapa kali Abidzar tidak membalas atau menjawab teleponnya. Jadi Dzakiyya tidak ingin mengganggunya hanya karena masalah sepele seperti ini.
"Nggak perlu. Mbak bisa sendiri," ucap Dzakiyya.
"T-tapi,-"
"Mbak nggak apa-apa. Ini cuma luka kecil. Ya sudah, Mbak Dza pergi dulu ya!"
Dzakiyya akhirnya bangkit. Membiarkan maid membereskan kekacauan itu lalu meminta koki mengantar makanan yang baru untuk mertuanya. Dan setelah Talitha berhasil membujuk Diana makan, Dzakiyya pun memutuskan untuk pergi. Pergi menemui Ral seperti janjinya kemarin.
.
.
.
"Ral?" panggil Dzakiyya ketika melihat Ral celingukan mencarinya.
Ral yang mendengar panggilan Dzakiyya menoleh ke sumber suara. Salah satu alisnya terangkat keatas begitu melihat bagaimana penampilan Dzakiyya dengan perban yang menghiasai dahinya.
"Mertuamu ngamuk lagi. Bukankah kali sudah kelewatan?" tanya Ral.
Pria itu meletakkan bokongnya dengan kasar. Lalu meminum segelas jus yang sudah Dzakiyya pesan tanpa permisi.
"Ral, bukan itu yang akan kita bahas kan?" tanya Dzakiyya.
Untuk sesaat, Ral tidak berkomentar. Pria itu hanya melihat Dzakiyya lebih teliti untuk memastikan separah apa luka itu. Tapi pandangannya teralihkan oleh kehadiran tiga sosok lain dibelakang sana. Tiga sosok yang tak lain adalah Abidzar, Nafisa juga Joshua.
"Dari sekian banyak tempat, kenapa harus bertemu mereka disini," umpat Abidzar.
Entah apa yang akan ketiga orang itu lakukan. Ral sama sekali tidak peduli. Tapi yang pasti Ral segera menarik Dzakiyya pergi. "Kita bicara di tempat lain saja," kata Ral.
"Ada apa. Kenapa tiba-tiba pergi?" protes Dzakiyya.
"Aku tidak suka tempat ini," jawab Ral singkat.
Ral berdiri di depan Dzakiyya. Sementara Dzakiyya yang berdiri di belakangnya tersenyum tipis. Ral adalah pembohong yang buruk. Dia bukan tipe orang yang memutuskan sesuatu secara tiba-tiba. Karena Ral sudah seperti itu maka sudah pasti ada yang dia sembunyikan.
"Apa ada sesuatu yang tidak boleh kulihat?" tanya Dzakiyya.
"Aku memang tidak bisa menipumu!" jawab Ral.
Ral berbalik arah. Kembali melihat Dzakiyya yang setia berdiri di tempatnya semula. "Aku melihat Abidzar dan dua orang menyebalkan itu. Jadi bagaimana kalau kita pergi saja?" tanya Ral.
"Tidak perlu. Seharusnya mereka tidak akan melihat kita," jawab Dzakiyya.
__ADS_1
"Tapi kamu akan melihatnya," kata Ral.
"Apa yang kamu khawatirkan. Aku sudah terbiasa," ucap Dzakiyya.
Dzakiyya kembali duduk ke tempatnya. Disusul Ral yang kembali duduk dan meminum jusnya. Sialan, padahal ada hal penting yang ingin Ral bicarakan. Tapi sepertinya waktunya kurang tepat.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Ral.
Ral sibuk dengan pikirannya sendiri. Di sisi lain Dzakiyya sebenarnya sedang menunggu Ral berbicara. Berhubung Ral tak kunjung membuka obrolan, Dzakiyya pun berinisiatif untuk memulainya.
"Ral, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Dzakiyya
Ral melihat Dzakiyya. Lalu melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka. "Aku menemukannya," jawab Ral.
"Menemukan apa?" tanya Dzakiyya.
"Menemukan bukti ketidakbersalahanmu," jawab Ral.
Ral mengeluarkan ponselnya. Lalu menunjukkan pada Dzakiyya bukti-bukti yang dia dapatkan. Dari bukti-bukti itu Dzakiyya akhirnya tahu bahwa ada seseorang yang secara sengaja membuat dirinya sebagai pelaku utama atas dua kasus besar waktu itu.
"Hanya ini yang kudapatkan. Aku belum tahu siapa dalang dibalik semua ini. Aku akan memberitahumu ketika aku tahu siapa orangnya," kata Ral.
Dzakiyya melihat Ral dengan senyum tipis. Dia berterimakasih atas kerja keras Ral yang membantunya tanpa pamrih. Tapi apa semua itu masih ada gunanya?
"Kenapa tertawa?" tanya Ral.
"Jika kamu bisa mengungkap siapa pelakunya. Apa setelah itu kamu ingin aku melakukan sesuatu?" tanya Dzakiyya.
Ral batuk pelan. Omong kosong macam apa itu. Tentu saja ada yang Ral inginkan. Yaitu membuat Dzakiyya kembali duduk di posisinya.
"Bukankah kamu sudah tahu apa yang ku inginkan. Apa kamu tidak ingin kembali, Dza?" tanya Ral.
Kini giliran Ral yang bertanya. Sementara Dzakiyya menghirup nafasnya dalam-dalam. Jujur saja dia sangat ingin kembali ke perusahaan. Tapi jika dia kembali, dia hanya akan menyakiti hatinya. Jadi daripada seperti itu bukankah sebaiknya Dzakiyya tidak usah kembali saja?
"Maaf, tapi aku tidak ingin kembali," jawab Dzakiyya.
"Apa karena mereka?" tanya Ral lagi.
"Aku tidak ingin melihat pemandangan yang sama sepanjang hari," jawab Dzakiyya.
Dzakiyya menoleh. Melihat tiga orang yang sibuk menyantap hidangan makan siang mereka. Tapi bukan hanya itu yang Dzakiyya lihat. Melainkan perut Nafisa yang sudah semakin membuncit. Hanya tinggal beberapa minggu saja anak itu pasti akan segera lahir.
"Pantas saja Mas Abid sering tidak membalas atau menjawab teleponku. Dia memang selalu sibuk dengan Nafisa," batin Dzakiyya.
Sementara Ral, dia mengingat waktu belakangan ini. Abidzar telah berubah. Prioritasnya bukan lagi Dzakiyya. Tapi Diana dan Nafisa serta anak yang ada di dalam perutnya itu.
__ADS_1
"Kalau itu maunya kamu, maka aku tidak akan memaksamu!" kata Ral menutup obrolan.
...***...