
Dua bulan telah berlalu. Dzakiyya yang sebelumnya harus istirahat total kini sudah pulih dan bisa beraktifitas seperti biasanya. Dua bayi kembarnya yang lahir prematur juga sudah sehat dan tumbuh normal seperti bayi-bayi pada umumnya.
Pagi itu, Dzakiyya tampak sibuk mengurus Farah dan Fauza di rumahnya. Seulas senyum terus terukir di wajahnya yang cantik. Tidak ada lagi gurat kesedihan, apalagi rasa takut karena Joshua dan Diana yang menjadi sumber masalahnya sudah ditahan pihak kepolisian untuk diadili. Jadi tidak ada yang perlu dia khawatirkan dan dia bisa menjalani hidup dengan tenang.
"Fa Fa, waktunya minum susu!" kata Dzakiyya.
Wanita yang baru menyandang status sebagai ibu itu menyentuh hidung Farah dan Fauza secara bergiliran. Dua bayi yang sebelumnya sudah rewel itu pun menangis bersamaan karena ulah ibunya.
"Sudah tahu mereka rewel. Kamu malah menggodanya!" omel Bella.
Wanita paruh baya itu mengambil Farah sementara Dzakiyya mengambil Fauza untuk diberikan susu. Fauza tampak berhenti menangis di pangkuan ibunya, tapi tidak dengan Farah. Sepertinya dia cemburu karena tidak mendapatkan pelukan ibunya seperti kembarannya.
"Farah, sama oma dulu, ya?" bujuk Bella.
Bukannya berhenti menangis, Farah malah membesarkan volume tangisannya dan itu membuat Fauza ikut-ikutan menangis. Mendengar dua anak itu menangis bersamaan mau tidak mau Bella merasa stress juga. Maklum ini bukan pertama kalinya Dzakiyya menjadi rebutan.
"Lihat, kamu tahu sendiri kan susahnya merawat anak kembar kalau mereka sama-sama rewel begini!" tegur Bella.
Dzakiyya yang mendapat omelan dari Bella hanya tersenyum lalu menenangkan Fauza yang ada di gendongannya. Dia tahu kok betapa repotnya kalau keduanya rewel. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga kembar.
"Tante, namanya juga kembar. Kalau satunya nangis, satunya pasti nangis juga karena ikatan batin mereka kuat," kata Dzakiyya.
Bella menggelengkan kepalanya. Dia tahu anak kembar memiliki ikatan yang kuat. Tapi bukan itu topik pembicaraannya. Wanita itu hanya ingin Dzakiyya menurunkan sedikit saja sifat keras kepalanya dan memberikan kesempatan pada Abidzar untuk ikut membesarkan anak-anak itu.
"Maksud tante, apa tidak sebaiknya membiarkan Abidzar mengurus mereka. Biar dia juga tahu bagaimana repotnya mengurus anak," kata Bella memberi alasan.
Dzakiyya menanggapi omelan Bella dengan senyuman. Apa yang Bella katakan mungkin benar. Tapi Dzakiyya belum lupa saat Abidzar menuduhnya selingkuh. Pria itu bahkan sempat meragukan buah hati mereka dan sempat mengatakan kata cerai. Wanita mana yang tidak sakit hati diperlakukan seperti itu.
"Tante, mereka hanya anak-anakku. Mereka tidak punya ayah. Mereka hanya punya paman," kata Dzakiyya.
Yah seperti itulah. Dzakiyya tetap teguh dengan pendiriannya. Bella pun akhirnya mengalah dan memilih diam sementara Dzakiyya lanjut merawat dua putrinya dengan tenang.
__ADS_1
"Terserah kamu saja," kata Bella.
Sementara di ruang tamu dua orang pria tampak stress dengan pikirannya masing-masing. Ral yang mulai pusing dengan tangisan bayi yang tak kunjung reda dan Abidzar yang sedang berpikir keras harus melakukan apa agar Dzakiyya memberinya kesempatan satu kali saja.
Sesekali matanya melihat ke kamar dimana Dzakiyya dan anak-anaknya berada. Sungguh, dia ingin masuk tapi Dzakiyya tidak pernah mengijinkannya. Bahkan selama dua bulan ini Abidzar hanya pernah melihat anaknya sekali itupun lewat kaca saat anak-anak itu masih di dalam inkubator.
"Hei, pria brengsek! Apa kamu tidak ingin menenangkan anakmu yang menangis itu?" tanya Ral.
Pria itu melemparkan majalah yang dia baca ke arah Abidzar. Sementara Abidzar hanya pasrah karena tahu Ral sedang mengejeknya karena tidak bisa menemui anaknya sendiri.
"Kalau begitu tolong bantu aku agar aku bisa melihat anakku!" kata Abidzar.
Sungguh pria itu tidak tahu harus melakukan apalagi. Jangankan menggendong, mengintip saja tidak boleh. Bahkan kalau boleh jujur, dia sendiri tidak tahu mana yang namanya Farah dan mana yang namanya Fauza.
"Pikirkan saja sendiri. Kamu kan bapaknya!" ketus Ral.
Pria itu tampak ogah-ogahan. Tapi untungnya omongan Ral itu memberikan pencerahan pada Abidzar. Ral benar, dia adalah ayahnya dan menenangkan Farah dan Fauza adalah bagian dari tanggungjawabnya. Jadi bahkan meskipun Dzakiyya akan mengusirnya lagi nanti, Abidzar akan tetap masuk dan tidak akan pergi dengan mudah.
Bella terkejut, lalu melirik Dzakiyya sekilas. Senyum Dzakiyya langsung hilang begitu melihat siapa yang datang. Tapi Bella berpura-pura tidak tahu dan menyambut Abidzar dengan ramah.
"Oh, Abidzar. Sini masuk!" sapa Bella.
Sementara Dzakiyya memasang wajah datar dan mulutnya sudah mengusir Abidzar bahkan sebelum pria itu melangkah lebih jauh.
"Bukannya aku sudah memintamu pergi tadi?" tanya Dzakiyya.
Sepasang suami istri itu sempat bertatap muka. Tapi dua detik kemudian Abidzar mengalihkan pandangannya pada Farah yang masih menangis di gendongan Bella.
"Yang ini namanya Farah!" kata Bella.
Pria itu akhirnya menyentuh salah satu anaknya untuk yang pertama kali. Begitu lucu dan menggemaskan sehingga membuat Abidzar tidak tahan untuk menciumnya. Farah sepertinya tahu bahwa Abidzar adalah ayahnya. Karena setelah Abidzar mencium dan menyentuh pipinya, Farah mulai tenang. Pun dengan Fauza yang sudah berhenti menangis.
__ADS_1
Dengan matanya yang jernih Farah melihat papinya. Tangannya yang mungil terus bergerak sebelum menggenggam jari telunjuk Abidzar. Sementara mulutnya yang kecil terus bergerak seolah meminta susu. Abidzar sungguh takjub dengan yang baru dia rasakan. Jadi seperti inikah rasanya jadi ayah?
"Farah mau papi yang ngasih susu ya?" tanya Bella.
Wanita itu pun berinisiatif memberikan Farah pada Abidzar. Tapi sebelum Bella menyerahkan anaknya pada Abidzar, Dzakiyya sudah lebih dulu bangkit dan menghalanginya.
"Mas, kamu keluar sekarang!" usir Dzakiyya.
Dzakiyya mendorong Abidzar keluar dan itu membuat dua anak kembar itu kembali menangis. Dzakiyya benci mengakui ini tapi sepertinya Farah dan Fauza sangat menyukai papinya. Abidzar yang tidak tega melihat anak itu terus menangis akhirnya memegang tangan Dzakiyya dan memohon sekali lagi
"Dza, aku tahu salah. Aku tahu kamu tidak akan pernah memaafkan kesalahanku. Tapi bisakah jangan melibatkan anak-anak dalam masalah kita. Maksudku, tolong biarkan aku membantumu merawatnya dan,-"
"Aku tidak akan pernah mengijinkan kamu melakukan itu, Mas!" potong Dzakiyya.
Sedikit keras kepala memang. Tapi Dzakiyya benar tidak rela. Kemana saja Abidzar pergi saat dirinya hamil. Apa yang Abidzar lakukan saat dirinya ingin makan sesuatu tengah malam. Pria itu bahkan pergi begitu saja saat melihat Ral mengantarnya memeriksakan kandungan. Jadi kenapa setelah anak itu lahir Abidzar baru bertingkah layaknya seorang ayah.
"Dza, please!" mohon Abidzar.
Pria itu memohon dengan tulus. Tapi Dzakiyya masih tetap pada pendiriannya. Ral yang kasihan pada Abidzar akhirnya mulai ikut campur. Pria itu tampak masuk ke kamar lalu membisikkan sesuatu ke telinga Dzakiyya yang sukses membuat Dzakiyya menurunkan egonya.
"Aku bisa menghajar Abidzar untukmu. Aku juga akan mematahkan kakinya agar kamu puas nanti. Tapi bisakah jangan keras kepala. Apa memisahkan anak-anak dari ayahnya bisa disebut dengan ibu yang baik?" bisik Ral.
Dzakiyya menggigit bibirnya. Lalu dengan berat hati memberikan kesempatan pada Abidzar. "Hanya satu jam. Aku hanya memberimu waktu satu jam untukmu," kata Dzakiyya.
"Terimakasih!" kata Abidzar.
Pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Langsung bergegas menemui dua anak yang terus melihatnya dan berbicara dengan bahasa bayi yang tidak Abidzar tahu apa artinya. Ral yang melihat Farah dan Fauza begitu senang melihat ayahnya pun ikut tersenyum.
"Gunakan waktu yang tidak banyak ini. Ingat, besok jangan terlambat hadir di sidang putusan ibu dan adik tirimu!" kata Ral sembari menepuk pundak Abidzar.
"Dia bukan ibuku. Bukan juga adik tiriku. Jadi berhenti mengatakan hal menjengkelkan seperti itu!" gerutu Abidzar.
__ADS_1
...***...