Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Tes DNA


__ADS_3

"Mereka?" tanya Abidzar.


Pria itu menoleh kearah Ral. Sifat yang dia tunjukkan tampak berbeda dengan pertemuan terakhirnya yang begitu acuh.


"Dzakiyya hamil anak kembar. Dua-duanya perempuan," jelas Ral.


Pria itu tidak pelit membagi informasi. Dia juga menyerahkan potret USG milik Dzakiyya. Dari foto itu Abidzar bisa melihat dua bayi sedang berbagi tempat di perut ibunya. Begitu cantik, sama persis seperti Dzakiyya.


Satu sudut bibir Abidzar terangkat. Memperlihatkan senyum tipis yang hilang di detik berikutnya. Selama ini dia selalu menginginkan anak perempuan. Tidak ada alasan khusus. Dia hanya ingin Dzakiyya iri oleh kecantikan anaknya sendiri. Dan sekarang Dzakiyya tidak hanya memberinya satu tapi dua anak sekaligus. Apa terlalu terlambat untuk menyesal sekarang?


"Hari itu. Apa kalian benar-benar tidak melakukan apapun?" tanya Abidzar.


Matanya berkaca-kaca. Abidzar benci mengakuinya tapi dia benar-benar menyesal sekarang. Jika tahu meninggalkan Dzakiyya rasanya sesakit ini. Dia pasti tidak akan marah dan mengatakan kata cerai hari itu.


"Tidak," jawab Ral.


Ral menjawab dengan mantap bahkan menjelaskan kembali kronologi kejadian malam itu. Ral juga menceritakan soal penyebab Dzakiyya yang tak kunjung hamil. Abidzar tampak merubah ekspresinya beberapa kali. Dia pernah mendengar cerita ini dari Talitha, tapi dia tidak mempercayainya karena terlanjur emosi. Tapi sekarang dia akhirnya mengerti dan sedikit banyak mulai meragukan ibunya sendiri.


"Dia tahu semua itu tapi kenapa tidak menceritakannya padaku?" tanya Abidzar.


"Karena dia tidak punya kesempatan untuk itu. Kamu selalu sibuk dengan mereka," jawab Ral.


Tanpa menyebutkan nama, Abidzar paham siapa yang Ral maksud. Sekarang Abidzar meremas besi pembatas yang ada di depannya. Menyadari betapa fatalnya kesalahannya kali ini.


"Apa yang sebenarnya sudah kulakukan. Dia pasti sangat kecewa," batin Abidzar.


Pria itu akhirnya memilih duduk dan menyandarkan dirinya ke dinding. Menyesali sifat egois dan keras kepalanya sehingga membuat Dzakiyya dan calon anaknya menderita.


"Dia baik-baik saja kan?" tanya Abidzar.


"Seperti yang kamu lihat. Dia sangat baik," jawab Ral.


Ral menyentuh pundak Abidzar. Lalu memberikan pencerahan pada Abidzar dengan beberapa patah kata.


"Bid, belum terlambat untuk minta maaf. Jadi pikirkanlah baik-baik!" kata Ral.


Abidzar tahu dia harus meminta maaf meskipun Dzakiyya tidak akan memaafkannya. Tapi setelah dia meragukan kesetiaan Dzakiyya dia tidak memiliki keberanian untuk muncul di hadapan Dzakiyya lagi.


"Ral, maukah kamu menikah dengannya?" tanya Abidzar.

__ADS_1


Sungguh Abidzar tidak ingin mengatakan ini. Tapi menyadari kesalahannya yang tak termaafkan, Abidzar akan berbesar hati menceraikan istrinya dan menyerahkannya pada Ral. Karena dia yakin Ral akan memberikan Dzakiyya kebahagiaan yang tidak bisa dia berikan.


"Kalau aku menikah dengannya lalu bagaimana denganmu?" tanya Ral.


Abidzar terdiam. Dia tanpa Dzakiyya layaknya sebuah layang-layang yang talinya putus. Masih bisa terbang, tapi tanpa arah dan tujuan sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Sementara Ral, dia menggaruk pipinya yang tidak gatal. Memikirkan nasibnya yang terus terseret dalam hubungan rumit diantara mereka.


"Maaf, Bid! Aku sudah bertanya padanya dan dia menolak," kata Ral.


Dzakiyya sudah menolaknya hari itu. Jadi haruskah dia mengemis pada Dzakiyya lagi. Tidak bisa, yang ada Dzakiyya akan menghajarnya setelah dia melahirkan nanti.


"Itu karena kamu tidak mengatakannya dengan serius. Kamu begitu baik dan bertanggungjawab. Tidak ada alasan untuk menolakmu kan?" tanya Abidzar.


Pria itu sudah menyerah. Tapi tidak dengan Ral. Dia tahu, meskipun Dzakiyya membenci Abidzar tapi masih ada cinta di dalam hatinya. Tapi untuk mendapatkan kembali cinta itu Abidzar membutuhkan usaha keras.


"Kamu benar-benar bodoh. Posisimu di hatinya tidak tergantikan. Makanya dia memilih hidup sendiri daripada harus menikah lagi. Kamu hanya perlu meyakinkannya dan menunjukkan dengan bukti," jawab Ral.


Abidzar sedikit mengangkat wajahnya. Seperti ada harapan, tapi juga tidak. Tapi jika memang masih ada kemungkinan. Meskipun kemungkinannya sangat kecil, Abidzar ingin memperjuangkannya.


"Tenangkan dirimu terlebih dulu, Bid! Masalah yang membelitmu terlalu rumit sekarang. Soal Dzakiyya, aku bisa membantumu membujuknya nanti," lanjut Ral.


Abidzar tersenyum tipis. Tidak menyangka Ral masih sebaik ini padanya meksipun dia sudah memperlakukannya dengan buruk.


Ral tersenyum tipis. Dia memang baik. Tapi hutang tetap harus dibayar. Karena malam itu Abidzar memukul wajahnya, maka sekarang dia ingin membalasnya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Abidzar ketika melihat Ral menyingsingkan bajunya.


"Memukulmu!" jawab Ral.


Satu pukulan mendarat di wajah Abidzar. Hanya sekali tapi meninggalkan bekas luka serta darah di sudut bibir Abidzar. Kali ini Abidzar tidak marah. Tapi menyunggingkan seulas senyum.


"Hutang kita lunas. Ingat apa yang kukatakan barusan. Satu lagi jangan sampai ibumu tahu. Karena jika ibumu tahu, mungkin dia akan mencelakai Dzakiyya lagi," kata Ral.


Setelah mengatakan itu, Ral memperbaiki tatanan bajunya. Lalu pergi meninggalkan Abidzar yang merenungi setiap kata yang Ral ucapkan.


.


.


.

__ADS_1


Abidzar memandangi bayi laki-laki yang ada di pangkuannya. Bayi itu sudah semakin besar. Anehnya, semakin besar semakin tidak ada kemiripan diantara mereka. Abidzar mengingat kembali malam itu. Dia sangat yakin tidak menyentuh Nafisa. Tapi kenapa dia bisa hamil.


"Apa kamu bukan anakku?" tanya Abidzar.


Sebenarnya dia sudah ragu dari dulu. Tapi menyimpannya di dalam hati karena tidak memiliki bukti. Dan setelah berbicara dengan Ral di atap gedung tempo hari Abidzar mulai meragukan orang-orang yang ada disekitarnya.


"Oke, aku harus melakukan tes DNA," batin Abidzar.


Dengan cekatan, Abidzar memotong rambut bayi itu sebagai sampel. Lalu segera menyimpannya sebelum Nafisa keluar dari kamar mandi.


Benar saja, tepat setelah Abidzar menyimpan sampel itu, Nafisa yang sebelumnya di kamar mandi keluar. Muncul hanya dengan memakai kimono transparan untuk menggoda Abidzar.


"Mas, apa ini cocok untukku?" tanya Nafisa.


Sepertinya Nafisa terlalu apes. Karena selama menikah bahkan sampai Dzakiyya dan Abidzar nyaris bercerai sekalipun Abidzar tidak pernah tertarik untuk menyentuhnya sekalipun.


"Kamu bisa masuk angin jika memakai baju seperti itu," jawab Abidzar.


Pria itu mengambil dompet dan pakaian luarnya lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Nafisa begitu melihat Abidzar dandan rapi.


Abidzar menoleh, lalu memberikan jawaban yang sekiranya pantas. Mana mungkin dia mengatakan akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.


"Barangku tertinggal di kantor. Aku harus mengambilnya," jawab Abidzar.


Nafisa sedikit heran. Apa barang itu begitu pentingnya sampai harus diambil sekarang juga.


"Kenapa tidak diambil besok saja?" tanya Nafisa.


Wanita itu sudah melingkar manja di lengan Abidzar. Tapi perilakunya malah membuat Abidzar jijik.


"Ada beberapa yang harus di cek kembali. Aku pergi dulu. Kamu istirahat duluan," pamit Abidzar.


Pria itupun pergi. Meninggalkan Nafisa yang lagi-lagi harus gigit jari karena Abidzar tidak menyambut umpannya.


"Pria di dunia ini bukan cuma kamu, Mas! Karena kamu tidak mau, aku bisa melakukannya dengan pria lain," batin Nafisa.


Setelah memastikan Abidzar pergi, Nafisa mengambil ponselnya. Lalu menghubungi satu nama yang tidak akan pernah menolak jika diajak bercinta.

__ADS_1


...***...


__ADS_2