
"Ya sudah. Kalau begitu biar mama saja yang turun!" dengus Diana kesal.
Wanita paruh baya itu pun turun dari mobil dan menutup pintu dengan kasar. Sementara Dzakiyya dan Abidzar hanya saling memandang melihat tingkah mamanya yang kekanakan.
"Mas, buruan panggil mama. Biar Dza aja yang naik taksi," kata Dzakiyya.
Setelah mengatakan itu Dzakiyya langsung turun dari mobil. Begitupun dengan Abidzar yang hendak memanggil ibunya sekalian memesan taksi untuk Dzakiyya. Tapi sesuatu yang mengejutkan menyambut mereka diluar. Karena ketika Diana akan menyeberang dengan teman-temannya, sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi.
"Ma, awas!" teriak Abidzar.
Abidzar meneriaki Diana, tapi sayangnya peringatan Abidzar terlambat. Mobil itu keburu menabrak ibunya hingga tubuhnya terpental.
"Ma?" teriak Abidzar lagi.
Abidzar berlari mendekati ibunya yang bersimbah darah. Sementara teman-teman sosialita Diana yang selamat segera mengerubungi Abidzar dan Diana.
"Ma, bangun!" panggil Abidzar sembari memangku kepala ibunya. Tapi tidak ada jawaban karena Diana sedang tidak sadarkan diri.
"Cepat bawa ke rumah sakit!" teriak salah satu orang yang berkumpul di tempat itu.
"Taksi!" teriak beberapa warga ketika melihat sebuah taksi melintas.
Dengan cekatan Abidzar mengangkat ibunya naik ke taksi. Karena terlalu panik, dia sampai melupakan mobil yang masih terparkir di halaman mall, juga melupakan Dzakiyya yang mulai jadi sasaran kemarahan teman-teman Diana.
"Oh, jadi kamu menantu yang ngelunjak itu?" tanya seorang wanita dengan pakaian dan riasan yang serba menor.
"Pantas saja Jeng Diana minta Abidzar nikah lagi. Memang kamu ini menantu nggak berbakti. Mertuanya mau pulang bareng aja nggak dibolehin. Dasar menantu nggak punya hati!" omel yang lainnya.
"Pantes aja kamu mandul. Itu karena kamu durhaka sama ibu mertuamu!" umpat yang lainnya lagi.
"Bukan seperti itu, Tante. Ini salah paham!" jelas Dzakiyya.
Suara itu terbata-bata. Tapi Dzakiyya bahkan tidak punya kesempatan untuk melanjutkan ucapannya. Sekelompok sosialita itu terlalu angkuh dan keras kepala. Sama persis seperti Diana. Dengan tuduhan yang mereka lontarkan, sekelompok warga pun tak segan memberikan cap menantu durhaka pada Dzakiyya.
"Kalau saya punya menantu seperti ini, pasti saya akan meminta anak saya cerai!" cemooh seorang warga.
"Percuma saja punya wajah cantik kalau hatinya busuk seperti itu. Sudah, ayo tinggalkan tempat ini. Semoga ibu tadi baik-baik saja," umpat yang lainnya.
Sekelompok manusia itu pun bubar setelah puas menghujat Dzakiyya. Meninggalkan Dzakiyya yang hanya bisa menunduk tanpa sempat memberikan pembelaan.
"Apa aku lagi yang salah?" gumam Dzakiyya dengan mata yang berkaca-kaca.
.
.
__ADS_1
.
"Mas Abid?" panggil Talitha.
Talitha berlari mendekati Abidzar yang mondar-mandir di depan ruang perawatan. Sementara Abidzar yang kenal betul siapa yang memanggilnya akhirnya menoleh.
"Talitha?" ucap Abidzar.
Abidzar menyambut Talitha dengan pelukan. Entah itu Abidzar atau Talitha keduanya sama-sama mencemaskan keadaan ibu sambungnya.
"Bagaimana keadaan mama, Mas Abid?" tanya Talita.
Wajahnya jelas khawatir. Abidzar pun menenangkan adiknya agar tenang meskipun dia sendiri juga tidak tenang. "Dokter masih melakukan tindakan di dalam. Mama pasti baik-baik saja," jawab Abidzar.
"Gimana ceritanya, Mas Abid? Bukannya mama pergi arisan?" tanya Talitha lagi.
Abidzar pun menceritakan kronologinya secara singkat. Dari pertemuan tak terduga mereka usai berbelanja sampai Diana yang marah dan memutuskan turun dari mobil sehingga terjadilah kecelakaan itu.
Talitha mengangguk tanda mengerti. Kemudian menoleh ke kanan dan kiri begitu menyadari kakak iparnya tidak terlihat. "Mas, Mbak Dza mana?" tanya Talitha.
Abidzar melihat Talitha dengan mata membesar. Merutuki kebodohannya yang meninggalkan istrinya di pinggir jalan. "Astagfirullah, Mbak Dza ketinggalan!" jawab Abidzar.
"Mas Abid gimana sih! Masa istri sendiri bisa ketinggalan. Buruan hubungi Mbak Dza sekarang, takutnya ada apa-apa!" omel Talitha.
Padahal, tanpa di perintah sekalipun Abidzar tahu apa yang harus dia lakukan. Abidzar merogoh kantongnya. Mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Dzakiyya.
"Dza sudah di parkiran rumah sakit, Mas. Mama gimana?" tanya Dzakiyya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Dzakiyya. Abidzar malah mematikan teleponnya setelah mengucapkan pesan terakhirnya. "Mas Abid kesana sekarang! Jemput kamu!" kata Abidzar.
Dzakiyya tersenyum tipis mendengar pesan Abidzar. Dia kan sudah di parkiran, apa masih perlu dijemput? Tapi meskipun begitu Dzakiyya memilih menunggu Abidzar.
"Dia pasti mau minta maaf," gumam Dzakiyya.
Beberapa menit kemudian Abidzar benar-benar muncul di parkiran. Wajah lelah itu, wajah menyesal itu Dzakiyya bisa melihat semuanya.
"Sayang, maaf! Mas Abid buru-buru tadi!" kata Abidzar sembari memeluk Dzakiyya.
"Nggak apa-apa. Dza ngerti kok," jawab Dzakiyya.
Dzakiyya membalas pelukan suaminya. Lalu mengambil sapu tangan untuk menghapus keringat yang membanjir di dahi Abidzar dengan penuh kasih sayang.
"Mama baik-baik saja kan?" tanya Dzakiyya.
Abidzar menggelengkan kepalanya. Sementara Dzakiyya menggenggam erat tangan suaminya. "Ayo kita masuk!" ajak Dzakiyya.
__ADS_1
Sepasang suami-istri itu pun kembali ke rumah sakit. Disambut Talitha yang langsung memeluk Dzakiyya setelah berbincang dengan dokter.
"Mbak?" panggil Talitha.
Dzakiyya membalas pelukan Talitha. Menepuk pundaknya beberapa kali agar Talitha tenang. "Apa kata dokter?" tanya Dzakiyya.
"Dokter bilang mama baik-baik saja. Sebentar lagi seharusnya mama siuman," jawab Talitha.
"Syukurlah kalau begitu," kata Abidzar dan Dzakiyya bersamaan.
Ketiganya sedikit lega mendengar kabar baik itu. Mereka pun memutuskan duduk di ruang tunggu selama Diana belum siuman.
.
.
.
"Ma, mama sudah bangun?" tanya Talitha.
Talitha berdiri tepat di sisi kanan. Sementara Abidzar berdiri di sisi kiri. Dan untuk Dzakiyya, dia hanya mengekor di belakang suaminya.
"Ma, ini Abidzar!" ucap Abidzar.
Diana yang baru siuman hanya meringis ketika merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Sesekali mengedipkan mata sembari mengingat kembali apa yang terjadi sehingga bisa terbaring di rumah sakit seperti ini.
"Aduh!" kata Diana sembari memegangi kepalanya yang di perban.
"Ma, jangan sembarangan gerak!" larang Dzakiyya.
Wanita yang khawatir dengan kondisi mertuanya itupun akhirnya buka suara. Tidak hanya itu saja, Dzakiyya juga menerobos Abidzar dan membantu mamanya duduk. Sayangnya niat baik Dzakiyya tidak membuat Diana senang.
"Ini semua gara-gara kamu. Dasar menantu pembawa sial!" umpat Diana.
Diana mulai kehilangan kendali. Tangannya yang diinfus terus memukul Dzakiyya. Beruntung Abidzar segera menarik Dzakiyya ke belakangnya dan menjadikan dirinya sebagai tameng.
Sementara Talitha tak tinggal diam. Sekuat tenaga mencegah mamanya memukul sembarangan. Sayangnya Diana terlepas dan memilih turun dari ranjang. Tapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Karena ketika kedua kakinya menyentuh lantai, Diana langsung tersungkur ke lantai.
"Ma?" teriak Talitha.
"Mas, cepat angkat mama ke ranjang!" kata Dzakiyya panik.
"Dza, tolong panggilkan dokter!" kata Abidzar.
Ketiga orang itu panik. Dzakiyya segera berlari memanggil dokter. Sementara Abidzar mengangkat Diana ke ranjang dan Talitha membantu mamanya berbaring. Tapi diantara mereka, Diana lah yang terlihat lebih panik.
__ADS_1
"Kakiku. Kakiku kenapa?" teriak Diana histeris.
...***...