Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Rencana Farah dan Fauza


__ADS_3

"Aku kemari bukan untukmu. Tapi demi anak-anak!" batin Dzakiyya begitu turun dari mobil.


Terakhir kali Dzakiyya menginjakkan kaki di tempat ini seharusnya saat Abidzar berbulan madu dengan Nafisa dulu. Tepatnya saat Joshua memfitnahnya sehingga dia 'dirumahkan' oleh Abidzar.


Setelah sekian lama, Dzakiyya pikir sudah tidak ada yang mengenalinya lagi. Tapi dugaannya salah karena begitu dia masuk, mereka yang berlalu lalang langsung menyapanya dan menggoda Farah dan Fauza yang menggemaskan.


"Selamat siang, Bu!"


"Halo! Farah dan Fauza, ya?"


"Pasti mau cari papa!"


Sambutan hangat itu terus berdatangan sampai membuat Dzakiyya salah tingkah. Dia tidak tahu Farah dan Fauza ternyata sepopuler itu di perusahaan padahal ini kali pertama kalinya mereka menginjakkan kakinya disini. Untungnya asisten Abidzar yang kebetulan melintas melihatnya. Pria itu tidak hanya meminta karyawan itu kembali bekerja, tapi juga mengantar Dzakiyya ke ruangan Abdizar.


"Nyonya Presdir, sudah lama Anda tidak datang!" kata sekretaris bernama Yusuf itu dengan ramah.


"Ah, aku sibuk akhir-akhir ini," jawab Dzakiyya.


Yusuf pun membantu Dzakiyya membawa barang bawaannya. Lalu mengalihkan pandangannya ke Farah dan Fauza, membuat dua bocah itu melambaikan tangan dan tersenyum sembari menunjukkan gigi-giginya yang putih.


"Om, Fa Fa ingin makan sama papi!" kata Farah dan Fauza sembari menunjukkan bekalnya.


"Wah, kebetulan papi kalian belum makan. Ayo, om antar keruangan papi ya?" ajak Yusuf.


Yusuf tampak senang. Maklum, sebelumnya dia sudah mengantar makan siang untuk Abidzar tapi tidak tersentuh dengan alasan sibuk. Abidzar bahkan mengusirnya karena menganggapnya terlalu cerewet.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" kata Abidzar.


Pria itu masih diposisi yang sama. Duduk menghadap laptop untuk menyelesaikan tumpukan pekerjaannya seperti yang Yusuf lihat terakhir kali. Tapi begitu melihat siapa yang datang Abidzar malah mengusirnya. Bahkan Abidzar mengatakan kata-kata yang membuat Yusuf mengeluarkan keringat dingin.


"Kamu lagi? Bukankah aku sudah bilang tidak ingin diganggu siapapun tadi?" tanya Abidzar.


Pria itu kembali sibuk dengan pekerjaannya. Tanpa tahu Dzakiyya dan peri-peri kecilnya berdiri beberapa langkah di belakang Yusuf. Mendengar kata Abidzar barusan, otomatis Yusuf mulai panik. Terlebih saat melihat kebelakang dan mendapati Farah dan Fauza memasang wajah cemberut.


"Bos, sepertinya pernikahanmu benar-benar tidak akan terselamatkan!" umpat Yusuf.

__ADS_1


Jika dihitung sejak Dzakiyya hamil, seharusnya Abdizar dan Dzakiyya sudah pisah rumah selama 7 tahun. Selama itu pula Yusuf selalu mendengar nyanyian rindu dan penyesalan dari Abidzar. Dan sekarang, setelah Dzakiyya berbaik hati membawa anak-anaknya kemari, siapa yang menyangka Abidzar malah mengatakan kalimat keramat seperti itu.


"P-Presdir t-tapi,-"


Yusuf belum menyelesaikan kalimatnya. Tapi Dzakiyya sudah lebih dulu bersuara dengan menghibur Farah dan Fauza sebelum mereka menangis.


"Sayang, tidak apa-apa. Papi hanya sedang sibuk. Jadi jangan menangis, oke?" kata Dzakiyya.


Suara itu begitu pelan. Tapi bisa di dengar Abidzar dan sukses membuat jantungnya nyaris lepas.


"Suara itu? Dz-Dzakiyya?" gumam Abidzar.


Pria itu langsung bangkit. Berlari ke arah pintu untuk memastikan siapa pemilik suara itu. Secara refleks Yusuf minggir teratur sehingga Abidzar bisa melihat Dzakiyya sedang berlutut untuk menenangkan dua anaknya yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Dza? I-itu kamu?" tanya Abdizar.


Dzakiyya menoleh. Setelah sekian lama, akhirnya mereka kembali bertatap muka. Jantung Abdizar berdetak kencang begitu melihat kembali sepasang mata yang menyerupai manik-manik itu. Perasaan ini mengingatkannya pada pertemuan pertamanya dengan Dzakiyya semasa kuliah dulu. Mata Dzakiyya masih begitu teduh, sayangnya menyiratkan kemarahan karena Abdizar membuat Farah dan Fauza sedih.


"Mereka ingin makan denganmu. Tapi apa yang kamu lakukan?" tanya Dzakiyya.


Abidzar mulai gelagapan. Maklum, dia terbiasa diacuhkan selama ini. Jadi begitu Dzakiyya menanggapi pertanyaannya, dia tidak tahu harus menjawab apa. Untung saja Yusuf masih ada disana. Jadi Abidzar bisa menggunakannya sebagai kambing hitam.


Abdizar menunjuk Yusuf yang hanya bisa protes melalui tatapan mata. Tapi demi kebahagiaan atasannya, Yusuf tak keberatan dan memilih diam. Setelah itu Abidzar segera meraih si kembar ke pelukannya untuk meminta maaf.


"Sayang, maaf! Papi tidak bermaksud mengusir kalian. Papi hanya sedikit kesal karena om itu menjengkelkan. Maafin papi yah?" kata Abidzar.


Farah dan Fauza tampak mengangguk. Lalu gelendotan di pelukan Abdizar sambil menyandarkan kepalanya di pundak papinya.


"Hari ini, kamu jaga mereka. Pastikan mengantar mereka sebelum jam tujuh malam," kata Dzakiyya.


Dzakiyya menyerahkan bekal makan siang yang sudah dia siapkan untuk tiga orang. Sementara Yusuf bergegas memasukkan satu tas berisikan barang-barang milik Farah dan Fauza ke ruangan Abidzar. Lalu pamit karena tidak ingin mengganggu mereka.


"Kamu tidak ingin tinggal?" tanya Abidzar.


"Tidak!" jawab Dzakiyya.


Dzakiyya berbalik arah. Berniat pulang dan membiarkan anak-anak itu menghabiskan waktunya dengan papinya. Tapi sebelum Dzakiyya melangkah lebih jauh Abdizar sudah membisikkan sesuatu kepada Farah dan Fauza. Meminta mereka untuk menghentikan maminya. Sudah 7 tahun Abidzar tidak menghabiskan waktu dengan Dzakiyya. Jadi meskipun caranya licik, dia tidak akan membiarkan Dzakiyya pergi dengan mudah.


"Mami, jangan pergi!" teriak Fauza.


"Farah mau makan ditemani mami sama papi!" kata Farah.

__ADS_1


Tidak hanya berteriak. Mereka juga berlari dan menarik tangan maminya.


"Kamu yang menyuruh mereka kan?" tanya Dzakiyya.


Abidzar sempat menunduk sebentar. Lalu tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Farah dan Fauza. Dan ketika dua bocah itu sudah ada di pelukannya, barulah Abdizar menjawab Dzakiyya.


"Ya, aku yang menyuruh mereka. Maaf, tapi aku tidak tahu harus memakai cara apa lagi agar kamu mau menghabiskan waktu bersamaku meksipun hanya sebentar," jawab Abidzar.


Abidzar tampak mendekati Dzakiyya. Sementara Dzakiyya sempat mundur beberapa langkah. Tapi Abidzar jauh lebih cepat. Karena sebelum Dzakiyya kabur, tangan kekar Abidzar sudah menarik tangan Dzakiyya dan memeluknya.


"Sayang, aku sangat merindukanmu! Jadi tolong kembalilah bersamaku!" bisik Abidzar.


Pria itu tampak begitu serius. Serius dengan ucapannya juga serius dengan dekapannya yang semakin erat. Hidungnya yang mancung bahkan berani mengendus aroma wangi yang dia rindukan setiap malam.


"Apa yang kamu lakukan. Farah dan Fauza melihatmu!" tegur Dzakiyya.


Dzakiyya berusaha melepaskan pelukan Abidzar. Tapi Abidzar tidak berencana melepaskan Dzakiyya. Sementara itu, Farah dan Fauza tampak terpaku di tempatnya. Untuk pertama kali akhirnya mereka melihat papi dan maminya berpelukan.


"Fauza, apa mami dan papi sudah baikan?" tanya Farah.


"Tidak tahu!" jawab Fauza.


Dua wanita kecil itu saling berpandangan. Lalu tersenyum cekikikan sebelum berbisik-bisik untuk saling mengingatkan tugas yang diberikan Om Ral kemarin.


Flashback On.


"Kalian beneran mau punya adik?" tanya Ral.


Farah dan Fauza mengangguk. Ral pun melihat sekeliling, memastikan tidak ada satupun yang mendengar percakapan mereka.


"Kalau begitu kalian harus membawa mami pergi ke rumah papi dan menginap disana. Atau memaksa papi menginap di rumah mami. Dengan begitu mungkin kalian bisa punya adik," bisik Ral.


"Hanya seperti itu?" tanya Farah dan Fauza.


"Iya hanya seperti itu. Kalian bisa kan?" tanya Ral.


"Bisa!" jawab Farah dan Fauza.


Flashback Off


...***...

__ADS_1


__ADS_2