
"Maaf, ya! Semalam Mas Abid membujuk mama agar nggak marah-marah lagi sama kamu. Terus bantu Nafisa beres-beres. Setelah itu mas lihat kamu sudah tidur, jadi Mas nggak masuk," kata Abidzar.
Pagi-pagi sekali Abidzar sudah muncul di kamar Dzakiyya. Memberikan penjelasan alasannya tidak kembali semalam. Dzakiyya yang dipeluk tidak menyahut, memilih melanjutkan memoles wajahnya yang sedikit pucat. Abidzar semakin sering mengingkari janjinya akhir-akhir ini. Jadi wajar kalau Dzakiyya kesal.
"Kamu marah?" tanya Abidzar.
Dzakiyya masih enggan menanggapi suaminya. Dan itu membuat Abidzar lebih cerewet. Menjelaskan lebih rinci apa saja yang dia lakukan kemarin. Menemani ibunya yang tidak ingin ditinggal lalu mendekor kamar untuk calon anaknya nanti.
"Kenapa nggak hari ini aja beres-beres kamarnya. Lagipula hanya kemarin aja Dza minta ditemani. Tapi Mas Abid malah gitu," gerutu Dzakiyya.
Dzakiyya tahu mertuanya butuh perhatian khusus. Dia juga paham Nafisa menjadi prioritas utama mereka saat ini. Tapi bukan berarti harus seperti ini. Masa iya nggak ada waktu hanya untuk menemaninya semalam saja.
Padahal Dzakiyya sering membiarkan Abidzar quality time dengan Nafisa. Tapi kenapa tidak ada quality time untuknya. Paling lama Abidzar hanya akan menemani Dzakiyya satu atau dua jam saja. Itupun tidak intens. Bahkan pernah nyaris hampir sebulan sekali.
"Sayang, Mas Abid minta maaf. Lain kali Mas nggak akan begitu lagi. Mas Abid bisa temenin kamu sekarang, oke?" bujuk Abidzar.
Setelah Dzakiyya sedikit melunak, Abidzar pun menyerahkan sesuatu untuk Dzakiyya.
"Ini apa?" tanya Dzakiyya.
"Minggu depan kamu ulang tahun. Mas Abid sudah menyewa satu tempat di restoran. Kita rayain bareng ya?" jawab Abidzar.
Dzakiyya memeriksa pemberian Abidzar. Sebuah paket makan malam romantis telah dipesan. Dzakiyya memang senang dengan pemberian Abidzar. Tapi terbersit kekhawatiran di hatinya. Takutnya Dzakiyya sudah terlanjur berekspektasi tinggi, tapi Abidzar mematahkan hatinya lagi.
"Kamu nggak suka?" tanya Abidzar.
"Kalau Mas Abid nggak datang. Dza pasti marah. Dza nggak mau ngomong sama Mas Abid lagi," ancam Dzakiyya.
Abidzar tersenyum simpul. Dia hanya punya jadwal meeting di siang hari di tanggal itu. Jadi mana mungkin Abidzar tidak datang.
"Mas Abid pasti datang!" janji Abidzar.
Abidzar meraih Dzakiyya yang sudah tidak cemberut lagi. Menatapnya lekat-lekat dan membisikkan sesuatu yang hanya boleh dikatakan oleh pasangan suami-istri. "Sayang, kamu masih sakit?" tanya Abidzar.
Dzakiyya mengangguk. Dahinya memang masih terasa nyut-nyutan. Sementara tangannya juga sedikit nyeri. Mendengar jawaban Dzakiyya membuat Abidzar loyo seketika.
"Kenapa?" tanya Dzakiyya.
__ADS_1
"Mas Abid mau olahraga bareng kamu. Tapi karena kamu masih sakit, minggu depan aja ya. Pas kamu ulang tahun. Sekalian di dobel," bisik Abidzar.
"Emang Mas Abid bisa. Nggak capek?" pancing Dzakiyya.
"Bisa lah. Kalo Mas Abid capek kan ada kamu," goda Abidzar dengan memberikan tiupan ringan yang membuat Dzakiyya mendorong Abidzar.
Disisi lain, Diana dan Nafisa sudah duduk di meja makan. Sesekali Nafisa menoleh. Berharap suaminya segera keluar dari kamar Dzakiyya. Tapi lima belas menit sudah berlalu dan Abidzar belum muncul juga.
Nafisa hanya ingin dirinya yang diperhatikan. Untuk itulah begitu melihat Abidzar menemui Dzakiyya sepagi ini dia sudah mulai emosi. Beberapa kali Nafisa menusuk sarapannya dengan garpu sekuat tenaga dan memasang wajah cemberut. Sementara Diana mulai memanasi Nafisa dengan mengomentari ketidakbecusan Nafisa menakhlukkan Abidzar.
"Kamu becus nggak sih mengambil hati Abidzar. Sudah hamil begitu masa nggak bisa membuat Abidzar nempel sama kamu. Liat tuh, masa kamu kalah sama wanita mandul itu," sindir Diana.
"Ma, bantu Nafisa dong!" pinta Nafisa.
Padahal semalam Nafisa sengaja membuat Abidzar sibuk agar tidak menemui Dzakiyya lagi. Tapi siapa yang menduga pagi-pagi sekali Abidzar langsung menemuinya. Bukannya melayaninya yang sedang hamil tua.
Diana berdecak pelan. Untungnya Talitha belum turun. Jadi mereka bisa tenang merencanakan sesuatu untuk Dzakiyya.
"Minggu depan wanita sialan itu ulang tahun. Setiap tahun Abidzar selalu merayakannya dengan makan malam romantis. Mama akan membuat Abidzar sibuk. Lalu tugasmu menahannya agar tidak pergi," kata Diana.
.
.
.
Maklum, tidak lama lagi Nafisa akan melahirkan. Abidzar pasti akan jauh lebih sibuk lagi. Jadi sekali saja Dzakiyya ingin berlama-lama dengan suaminya sebelum suaminya sibuk dengan rutinitasnya yang baru sebagai seorang ayah.
"Menurut kamu baju ini cocok nggak?" tanya Dzakiyya.
Talitha melihat tampilan kakak iparnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sebagai sesama wanita, jujur saja Talitha merasa iri. Untungnya Dzakiyya adalah kakak iparnya, karena kalau tidak bisa saja Dzakiyya menjadi saingan cintanya bukan?
"Sempurna!" puji Talitha.
"Mbak Dza berangkat ya?" pamit Dzakiyya.
"Hati-hati di jalan!" kata Talitha.
__ADS_1
Hari itu Dzakiyya tampil begitu cantik. Rambut hitam yang berkilau itu sengaja diurai. Lalu memakai sebuah penjepit rambut berbentuk ranting. Untuk gaunnya, Dzakiyya memakai gaun tanpa lengan berwarna terang yang senada dengan warna kulitnya yang putih.
Penampilannya disempurnakan dengan heels 7 cm yang menghiasi kakinya. Serta aksesoris penunjang lainnya yang tidak terlalu mencolok. Tentu saja kedatangannya di restoran itu cukup menyita perhatian publik. Untungnya Abidzar memilih private room sehingga tidak ada kumbang liar yang mencuri pandang kecantikan Dzakiyya.
"Silahkan, Nona!" sapa seorang pelayan ramah.
"Terimakasih!" kata Dzakiyya.
Dzakiyya masuk ke private room itu dengan hati berbunga-bunga. Menanti kedatangan Abidzar yang akan datang setelah menyelesaikan meeting dengan klien penting.
"Sayang, Mas Abid datang!" gumam Abidzar.
Abidzar berjalan setengah berlari. Sesekali melirik jam yang ada di tangannya untuk memastikan tidak terlambat. Sayangnya, sebelum Abidzar masuk ke mobil Joshua sudah mengejarnya.
"Presdir!" panggil Joshua.
Nafasnya terengah-engah. Entah apa yang terjadi. Tapi sepertinya sangat penting.
"Ada apa?" tanya Abidzar.
"Presdir, petinggi Antara Group ingin mengundang Anda makan malam hari ini," jawab Joshua.
"Kenapa begitu mendadak. Malam ini tidak bisa. Aku harus merayakan ulang tahun istriku," tolak Abidzar.
"Tapi Presdir, Antara Group adalah perusahaan nomor satu dalam negeri. Meksipun bukan Presdir mereka yang mengundang, ini kesempatan bagus untuk menjalin hubungan baik dengan mereka," bujuk Joshua.
Apa yang dikatakan Joshua memang benar. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Tapi dia tidak boleh mengecewakan Dzakiyya lagi. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Abidzar menemukan solusinya.
"Baiklah, katakan pada mereka kita menerima undangannya," jawab Abidzar.
Joshua menghela nafas lega. Untung dia berhasil menghalangi Abidzar sesuai perintah Diana. Kalau tidak, wanita itu pasti akan mengomelinya sepanjang waktu. Tapi kelegaan Joshua tidak berlangsung lama karena Abidzar mengatakan bukan dia yang akan pergi, melainkan orang lain.
"COO Rafael yang akan pergi. Dia yang akan menggantikan aku makan malam," kata Abidzar.
"COO Rafael? Bukankah dia belum kembali?" tanya Joshua.
"Dia sudah kembali. Dia yang akan mengurus semuanya untukku," jawab Abidzar.
__ADS_1
...***...