
"Dokter, A-anda serius?" tanya Abidzar.
"Kami sangat menyesal. Tapi itulah yang terjadi, Pak!" jawab Dokter.
Abidzar termangu sejenak. Melirik Dzakiyya sekilas sebelum melanjutkan obrolannya yang tertunda, "Dokter, kami segera kembali. Tolong rawat mama dengan baik," lanjut Abidzar.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," batin Abidzar.
Abidzar menutup panggilannya dan Dzakiyya langsung menodongnya dengan pertanyaan. "Kenapa mama nggak perlu minum obat. Apa dokter mengganti resepnya?" tanya Dzakiyya.
"Enggak," jawab Abidzar.
"Lalu maksud Mas Abid merawat mama barusan apa?" tanya Dzakiyya lagi.
Abidzar menepikan mobil. Mencari posisi tenang sebelum memberitahu Dzakiyya perihal ibunya. Begitu mobil terparkir sempurna barulah Abidzar menyentuh kepala Dzakiyya dan menciumnya dengan cinta.
"Sayang, mama sudah tidak sakit lagi," kata Abidzar.
"Maksudnya?" tanya Dzakiyya.
Jelas-jelas ibunya sakit. Terbaring dengan infus yang menempel di tangannya. Suaminya tidak amnesia kan?
"Sayang, mama kita sudah meninggal," bisik Abidzar.
Abidzar menarik Dzakiyya ke pelukannya. Mendekapnya erat seolah menahan Dzakiyya agar tidak meledak. Kalimat yang meluncur dari bibir Abidzar memang sangat lembut. Tapi sangat sukses memporak-porandakan perasaan Dzakiyya.
"M-meninggal?" ulang Dzakiyya.
"Iya, sayang! Barusan Dokter memberitahu Mas Abid," kata Abidzar.
Sialan. Dzakiyya tahu hidup dan mati seseorang sudah ditentukan. Tapi kenapa hatinya masih saja sakit. Ibunya baik-baik saja sebelumnya. Dzakiyya masih merawatnya tadi. Menyuapi makan, menyeka dan menemaninya sepanjang hari. Tapi kenapa tiba-tiba ada kabar seperti ini.
"Kamu bohong. Kamu bercanda kan, Mas?" tanya Dzakiyya.
"Mas nggak bohong, Sayang! Mas serius," jawab Abidzar.
"Nggak, nggak mungkin! Mama baik-baik saja tadi!" teriak Dzakiyya.
Tak terbayangkan bagaimana hancurnya Dzakiyya. Wanita itu menangis sembari memukuli dada suaminya. Sementara Abidzar menghapus air matanya sendiri. Tidak protes meskipun dijadikan karung tinju istrinya sendiri.
"Sayang, Mas mohon jangan begini!" bisik Abidzar.
"Mama nggak mungkin meninggal, Mas! Mama sehat tadi?" isak Dzakiyya.
Abidzar diam. Jika boleh mengatakan, dia juga tidak percaya mertuanya telah tiada. Tapi inilah kenyataan. Bukankah kenyataan selalu tak seperti yang kita harapkan. Bukankah orang yang sehat di pagi hari dan mati di siang hari adalah hal yang biasa?
__ADS_1
"Kenapa mama pergi, Mas. Kenapa? Dza sendirian sekarang!" ucap Dzakiyya di sela tangisannya.
"Sayang, kamu nggak sendirian. Ada Mas Abid disini. Mas nggak akan pergi ninggalin kamu, oke?" hibur Abidzar.
Abidzar memeluk Dzakiyya semakin erat. Memegang satu tangannya, menciumnya, menghiburnya dan melakukan apapun untuk menenangkannya. Barulah ketika Dzakiyya bisa sedikit mengontrol emosinya, Abidzar membawanya kembali ke rumah sakit.
"Sayang, jangan menangis lagi. Kita harus segera kembali ke rumah sakit. Merawat mama untuk yang terakhir kalinya," bujuk Abidzar.
Dzakiyya mengangguk. Akhirnya mobil yang sempat menepi kembali melaju. Mereka yang awalnya di jalan sudah sampai di rumah sakit. Di depan ruangan ibunya disemayamkan, Dzakiyya berdiri di papah suaminya. Dengan tangan yang masih memegang obat. Hanya saja sudah remuk tak berbentuk.
Perlahan Dzakiyya mendekati jenazah ibunya. Tangisnya kembali pecah. Dzakiyya menghambur ke pelukan ibunya yang masih hangat. Sangat hangat seperti pelukan terakhirnya sebelum mereka pergi. Jadi, inikah yang dimaksud Santi dengan tidak bisa merasakan pelukan Dzakiyya karena tidur terlalu pulas sebelum mereka pergi tadi?
Kehilangan orang terkasih jelas menjadi momok paling menakutkan. Dan jeritan Dzakiyya semakin keras meskipun Abidzar terus memintanya beristighfar. Beberapa detik kemudian barulah Dzakiyya diam. Ya, diam. Karena Dzakiyya telah kehilangan kesadaran dan terkulai lemas di pelukan Abidzar.
.
.
.
Keesokan harinya prosesi pemakaman selesai dilakukan. Para pelayat sudah bubar, termasuk Diana dan Nafisa yang sempat ikut menabur bunga. Pemakaman yang sempat ramai kembali sepi. Menyisakan dua orang berpakaian hitam sedang menunggu satu orang yang masih setia memegangi tanah makam.
Satu orang yang bersimpuh itu siapa lagi kalau bukan Dzakiyya. Dan dua orang yang berdiri dibelakangnya adalah suami dan adik iparnya. Abidzar menghela nafas panjang. Sementara Talitha melihat kearah kakaknya. Pandangan mereka bertemu, sebelum mengangguk bersamaan.
"Sayang, sudah waktunya pulang!" kata Abidzar sembari menyentuh pundak istrinya.
"Sayang, sudah lewat satu jam. Jangan memberatkan jalan mama. Mama pasti sedih melihat kamu begini," bujuk Abidzar.
Dzakiyya mengangkat kepalanya. Apa yang dikatakan suaminya benar. Bukan begini caranya menunjukkan cintanya tapi mengirim doa agar ibunya tenang disana.
Dengan susah payah Dzakiyya bangkit. Pulang ke rumah yang ditinggali Santi selama hidup. Di rumah itu beberapa kerabat dan tetangga sibuk menyiapkan acara tahlil. Sementara Abidzar membawa Dzakiyya istirahat di kamar. Tak berselang lama Abidzar pun keluar untuk menemui adiknya.
"Dek, jaga Mbak Dza ya?" pinta Abidzar yang sudah berganti pakaian.
"Mas Abid mau kemana?" tanya Talitha.
"Ke rumah sakit," jawab Abidzar.
"Mau membahas soal yang tadi?" tanya Talitha.
"Iya," jawab Abidzar.
Talitha mengangguk, lalu masuk ke kamar. Sementara Abidzar sempat berpamitan kepada beberapa kerabat sebelum bergegas ke rumah sakit.
Jadi sebelum jenazah mertuanya di makamkan, pihak rumah sakit sempat menghubungi Abidzar. Mereka bilang menemukan sosok mencurigakan sebelum Santi ditemukan meninggal. Untuk itulah mereka meminta Abidzar datang.
__ADS_1
"Mari, Pak! Silakan!" kata Manajer Rumah Sakit ketika melihat kedatangan Abidzar.
Manajer itu membawa Abidzar masuk ke sebuah ruangan CCTV. Di tempat itu Abidzar melihat seseorang dengan pakaian tertutup. Terlihat beberapa kali mengintip ke dalam. Lalu segera masuk setelah dirinya dan Dzakiyya pergi.
"Setelah kami cek lebih lanjut, almarhum dipastikan meninggal setelah orang ini masuk ke kamar pasien. Apa Anda kenal orang ini?" tanya Manajer.
"Tidak," jawab Abidzar. Dengan pakaian tertutup sempurna seperti itu bagaimana bisa Abidzar tahu bahwa orang itu adalah ibunya sendiri.
"Haruskah kita meminta pihak kepolisian untuk menyelidiki?" tanya Manajer.
Abidzar berpikir sejenak. Soal ini dia harus membicarakannya dengan Dzakiyya. Karena jika sudah menyangkut instansi kepolisian, makam mertuanya pasti di bongkar untuk di autopsi. Apa Dzakiyya mengijinkannya?
"Bagaimana, Pak?" tanya Manajer.
"Saya harus membicarakan masalah ini dengan istri saya. Dia lebih berhak memutuskan," jawab Abidzar.
"Baiklah, Pak! Kami sangat minta maaf karena ada kejadian seperti ini di rumah sakit," sesal Manajer.
Abidzar tersenyum pahit. Bukan pihak mereka yang salah tapi dirinya. Seandainya dia bersikeras pergi sendiri. Mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi terlepas dari semua itu, semuanya sudah terlambat. Mungkin inilah garis takdir yang sudah Tuhan tentukan.
"Kalau begitu saya pamit. Saya akan menghubungi Anda setelah berdiskusi dengan istri," pamit Abidzar.
"Baik, kami tunggu kabar dari Pak Abidzar!" kata Manajer.
Dua orang itu berjabat tangan. Abidzar segera undur diri dan pulang ke rumah. Setibanya di rumah, Abidzar langsung menemui Dzakiyya. Dengan sangat hati-hati mengatakan apa yang dia lihat dan menunggu keputusan Dzakiyya.
Mata sembab itu kembali berair. Mamanya tidak memiliki musuh, tapi kenapa ada orang yang tega mencelakainya. "Mas, mama sudah meninggal. Tidak bisakah kita membiarkan mama beristirahat dengan tenang?" tanya Dzakiyya.
Abidzar terdiam. Apa yang Dzakiyya katakan memang benar. Tapi bukankah sebaiknya menangkap penjahat itu? Berbeda dengan Abidzar yang memilih diam. Talitha justru memberikan pendapat yang berbeda.
"Mbak, jika sosok itu memang penyebab kematian Mama Santi. Bisa dibilang ini kejahatan serius," kata Talitha.
"Lalu. Apa gunanya itu. Apa mama bisa hidup lagi?" tanya Dzakiyya.
Talitha memeluk kakak iparnya. Dengan pelan menjawab, "Orang mati tidak bisa hidup. Tapi jika membiarkan orang jahat itu berkeliaran bagaimana kalau ada korban lainnya?"
"Bagaimana kalau polisi tidak bisa menangkapnya?" tanya Dzakiyya lagi.
"Maka biar Tuhan yang memberikan hukuman di pengadilannya kelak. Setidaknya kita sudah berusaha," jawab Abidzar.
Dzakiyya menggigit bibirnya. Bukannya tidak ingin melakukan itu. Tapi Dzakiyya takut. Takut jika pembunuh itu benar-benar ada. Takut jika pembunuh itu akan merenggut nyawa orang-orang terdekatnya lagi. Seperti Abidzar dan Talitha misalnya.
"Bagaimana, Mbak?" tanya Talitha.
"Lakukanlah!" jawab Dzakiyya.
__ADS_1
...***...