Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Ada Bayi di Perutku


__ADS_3

Sesekali Ral melihat kebelakang. Memang ada beberapa mobil yang melintas dibelakangnya tapi menurut Dzakiyya itu bukanlah mobil yang tadi mengikutinya. Bisa dibilang perjalanan pulang mereka aman tanpa kendala yang berarti.


"Sepertinya mereka sudah pergi. Apa karena aku datang?" batin Ral.


Ral tampak sedikit kecewa. Kalau boleh jujur, Ral ingin sekali menghajar penguntit itu untuk memenuhi kerinduannya akan berkelahi. Sebuah senapan bahkan sudah dia siapkan untuk berjaga-jaga. Sayangnya sepertinya senjata itu tidak berguna lagi sekarang.


"Apa kamu tahu kira-kira siapa yang melakukannya?" tanya Ral.


Pria itu menoleh ke arah Dzakiyya. Mencari jawaban dari tokoh utama yang lebih banyak diam di sampingnya. Dzakiyya yang ditanya pun menoleh. Dia tidak memiliki musuh. Dan setelah insiden obat yang mengikis kesehatan rahimnya tempo hari dia tidak bisa mencurigai orang lain selain mertuanya sendiri.


"Mungkin Mama Diana yang menyuruh mereka," jawab Dzakiyya.


Ekspresi yang dia tunjukkan begitu datar. Lalu kembali berpaling melihat ke langit luas yang menyajikan hamparan jutaan bintang. Sementara Ral berpikir sejenak sebelum kembali fokus menyetir. Dia tahu hubungan mertua dan menantu itu buruk. Tapi membuat Dzakiyya berani mencurigai ibu mertuanya sendiri sukses menarik perhatian Ral.


Maksud Ral adalah apa iya lampir itu benar-benar senekat itu. Kalau iya sebenarnya apa alasannya. Apa masih belum cukup membuat Dzakiyya menderita selama enam tahun ini sebagai menantunya.


"Tapi kenapa dia melakukannya?" tanya Ral.


Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Bisa dibilang Ral tidak sengaja mengucapkannya. Tapi jawaban yang keluar dari mulut Dzakiyya sangat tak terduga.


"Mungkin mama tidak ingin anakku lahir ke dunia," jawab Dzakiyya.


Wanita itu menundukkan kepalanya ke bawah. Tersenyum tipis ke arah perut seolah mengajak calon anaknya berbicara melalui pandangan mata. Sementara Ral kembali melirik Dzakiyya. Mencerna dengan baik kalimat yang Dzakiyya bicarakan barusan. Tidak ingin anaknya lahir katanya. Apa itu berarti Dzakiyya hamil?


"Dza, jangan bilang kamu,-"


Satu alis pria itu terangkat. Mulutnya yang kurang ajar sedikit terbuka karena tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya. Bukannya apa-apa. Ral hanya takut salah bicara sehingga membuat Dzakiyya sedih. Tapi Dzakiyya malah memberikan respon sebaliknya. Dengan senang hati memberi tahu Ral bahwa dia akan menjadi seorang ibu dan Ral akan jadi seorang paman.


"Ral, kamu akan jadi paman. Ingat untuk membelikan aku hadiah sebagai ucapan selamat," kata Dzakiyya.


Senyum itu begitu manis. Sangat berbeda dengan senyum yang dia tunjukkan sebelumnya.

__ADS_1


"Sungguh?" tanya Ral.


Ral tidak bisa menutupi keterkejutannya. Matanya yang bening membulat sempurna. Kali ini dia tidak tertarik melihat Dzakiyya lagi karena lebih tertarik dengan perut yang tempo hari terlihat chubby dimata Abidzar.


"Disitu ada bayi?" tanya Ral yang dijawab dengan anggukan oleh Dzakiyya.


"Abidzar pasti senang. Sudah enam tahun, akhirnya dia becus juga menanam kecebong," puji Ral diselingi tawa lebar.


Dzakiyya ikut tertawa menanggapi candaan Ral. Lalu membayangkan bagaimana ekspresi suaminya ketika dia tahu kabar bahagia ini. Apa dia juga akan tertawa sama seperti Ral. Ataukah akan menunjukkan ekspresi bodoh saking terkejutnya. Entahlah, tapi yang jelas hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Dzakiyya bahagia.


"Mas Abid belum tahu," lanjut Dzakiyya.


"Kamu belum memberitahunya?" tanya Ral.


Pria itu sedikit terkejut. Tidak menyangka dia mengetahui kabar bahagia ini lebih cepat daripada Abidzar. Disisi lain Dzakiyya menggelengkan kepalanya. Lalu menceritakan beberapa fakta yang dia simpan tanpa ragu. Tentang dirinya yang dinyatakan hamil sampai tentang obat yang memberikan efek buruk untuk rahimnya jika dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Dzakiyya menceritakannya sangat lengkap tanpa ada yang terlewat. Sementara Ral menanggapi pernyataan Dzakiyya dengan wajah serius. Dan ekspresinya langsung berubah ketika dia menghubungkan semua itu dengan mobil yang mengikuti Dzakiyya barusan.


"Dza, apa ibu mertuamu tahu kamu hamil?" tanya Ral.


Dzakiyya sangat yakin dengan jawabannya tapi tidak dengan Ral. Pria itu sedikit banyak menaruh kecurigaan. Tapi menunjukkan sikap biasa agar Dzakiyya tidak terbebani. Wanita hamil seharusnya dia tidak boleh terlalu banyak pikiran karena bisa mempengaruhi bayi di perutnya kan?


"Kalau begitu segera beritahu Abidzar. Beritahu dia semuanya. Biar dia yang memutuskan bagaimana baiknya," kata Ral.


"Eum," jawab Dzakiyya.


Obrolan mereka pun berakhir. Lebih tepatnya berakhir karena mereka telah sampai di rumah. Dzakiyya pun mempersilahkan Ral masuk. Sementara Ral, tanpa diminta pun dia sudah berencana masuk. Bukan apa-apa, dia belum sempat makan jadi ingin numpang makan sekalian.


Lagipula Ral sudah menganggap rumah Dzakiyya seperti rumahnya sendiri. Maklum, mereka adalah teman masa kecil. Masa lalunya lebih banyak dihabiskan ditempat ini bahkan memiliki kamar sendiri. Jujur saja, mendiang orangtua Dzakiyya tidak kaget seandainya Ral jadi menantunya mengingat kedekatan mereka. Tapi ternyata bukan Ral yang meminang Dzakiyya, melainkan Abidzar.


"Dza, aku lapar!" keluh Ral. Pria itu begitu santai melemparkan bokongnya ke sofa. Lalu memposisikan diri setengah rebahan sembari mencomot cemilan.


"Kamu belum makan?" tanya Dzakiyya.

__ADS_1


"Belum," jawab Ral singkat.


"Oh, oke. Aku akan memasak untukmu!"


Dzakiyya segera menuju dapur. Siap memakai celemek untuk membuatkan sesuatu untuk Ral. Tapi Ral melarang Dzakiyya.


"Ibu hamil tidak boleh capek!" kata Ral.


"Tapi kamu lapar. Apa mau pesan antar?" tanya Dzakiyya.


"Apa gunanya dua maid itu?" jawab Ral sembari menunjuk dua orang maid yang hanya berdiri setelah membuka pintu.


Ral tidak hanya melepaskan celemek yang Dzakiyya kenakan. Tapi juga memberikannya pada salah satu maid yang mengikutinya ke dapur untuk membuatkan makanan yang mudah dibuat.


"Buatkan aku dua porsi nasi goreng. Jangan lupa kuah hangatnya," perintah Ral.


"Baik, Tuan!" sahut maid.


Ral pun menarik Dzakiyya pergi. Selagi menunggu makanannya siap, Ral membawa Dzakiyya duduk di sofa. Lalu tanpa ragu menarik kakinya ke pangkuannya untuk dipijat.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dzakiyya.


"Ku dengar ibu hamil mudah lelah. Makanya aku memijit kakimu. Anggap saja sebagai bayaran atas seporsi nasi goreng itu," jawab Ral.


Pria itu memijit Dzakiyya dengan kekuatan, bukan dengan perasaan. Dzakiyya yang harusnya nyaman malah merasa kesakitan. Beberapa pukulan juga mendarat di tangan Ral sebagai pengingat agar memperhalus pijitannya. Dan adegan itu baru berhenti ketika makanan yang Ral tunggu sudah tersaji di meja makan.


"Makan yang banyak. Calon keponakanku butuh gizi yang cukup," kata Ral sembari memberikan telur mata sapinya untuk Dzakiyya. Tidak hanya itu, Ral juga mengambil dua potong mentimun milik Dzakiyya karena Ral suka timun.


"Terimakasih!" kata Dzakiyya.


Ral menanggapi dengan anggukan kepalanya. Lalu sibuk mengunyah makanan yang rasanya tidak seenak buatan Dzakiyya. Tapi meskipun begitu tidak ada satupun yang tersisa di piring saking laparnya dia.

__ADS_1


...***...


__ADS_2