Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Mengalah Lagi


__ADS_3

Nafisa meletakkan kembali gelas yang dia pegang. Lalu mundur beberapa langkah untuk memperlebar jarak dari Dzakiyya. Sementara Diana yang tidak menyangka Abidzar dan Talitha pulang lebih awal segera berdiri menyambutnya.


"Sudah pulang, Bid?" tanya Diana.


Tapi Abidzar tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Melainkan membantu Dzakiyya berdiri meskipun Dzakiyya sempat menolaknya.


"Nafisa, apa kamu selalu begini saat Mas Abid nggak ada?" tanya Abidzar.


"Mas, aku,-"


Nafisa gugup. Tidak tahu harus menjawab bagaimana. Tapi Diana membantunya bicara. "Sayang, nggak gitu. Nafisa itu sedang hamil. Wajar kalau kakinya pegel-pegel. Apa salahnya kalau Dzakiyya membantu memijat kakinya?" jawab Diana.


Dahi Abidzar mengkerut. Jelas-jelas dia mendengar semua pembicaraan mereka tadi. Dan mamanya masih mengelak. Tapi karena tidak ingin memperburuk suasana Abidzar memilih untuk menasehati mamanya secara halus.


"Tapi nggak di lantai juga, Ma. Lagipula ada banyak maid di rumah ini. Kenapa nggak meminta bantuan mereka saja?" tanya Abidzar.


Abidzar memang marah. Tapi masih bisa mengontrol emosinya dan berbicara lemah lembut. Tapi sikap Abidzar yang seperti itu justru meningkatkan emosi Diana.


"Abidzar, jadi kamu nyalahin mama?" tanya Diana.


"Bukan seperti itu, Ma!" jawab Abidzar.


"Sudahlah, mama capek. Urus saja istri yang selalu kamu manjakan sampai ngelunjak itu!" ketus Diana.


Diana melirik Dzakiyya yang sekarang ini digandeng Talitha. Lalu pergi begitu saja menuju kamarnya.


"Litha, tolong kamu bujuk mama ya?" pinta Abidzar.


"Oh, oke!" jawab Talitha.


Tanpa protes Talitha bergegas menyusul Diana. Sementara Abidzar langsung menasehati Nafisa saat itu juga.


"Kamu juga, Nafisa. Dzakiyya sudah berbaik hati bersedia memijat kakimu. Jadi jangan keterlaluan. Sekarang minta maaf ke Dzakiyya!" perintah Abidzar.


Nafisa menggigit ujung bibirnya. Dia yang hamil. Tapi kenapa selalu saja Dzakiyya yang di bela. Tapi karena situasi sedang berpihak pada Dzakiyya, Nafisa pun meminta maaf meski ogah-ogahan.


"Maaf, Mbak!" kata Nafisa.


Setelah mengucapkan dua patah kata itu Nafisa pun pergi. Menyisakan Dzakiyya dan Abidzar yang sama-sama diam. Dzakiyya diam karena sedang memikirkan pasti mertuanya semakin mempersulitnya lain kali. Sementara Abidzar diam karena bingung harus membujuk Dzakiyya dengan cara apa lagi.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?"


Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Abidzar. Dan Dzakiyya hanya merespon dengan menggelengkan kepalanya. Setelah itu Dzakiyya pun memutuskan pergi ke kamar sama seperti yang dilakukan mertuanya.


"Sayang, kamu marah?" tanya Abidzar.


Pria itu tidak hanya mengikuti Dzakiyya ke kamar. Dia juga mencoba memeluk istrinya. Sayangnya mendapatkan penolakan dari Dzakiyya.

__ADS_1


"Enggak kok!" jawab Dzakiyya.


"Kalau nggak marah, kenapa nggak mau dipeluk?" tanya Abidzar.


Dzakiyya yang awalnya ingin melepaskan pelukan Abidzar akhirnya berhenti melawan. Moodnya masih buruk. Jujur saja dia ingin sendirian untuk memperbaiki perasannya. Tapi karena suaminya sedang ingin bersamanya maka dia tidak bisa menolak. Takutnya dianggap sebagai istri yang tidak berbakti.


"Kenapa Mas Abid kesini?" tanya Dzakiyya.


Meskipun sudah meredam emosinya. Nyatanya Abidzar masih bisa melihat wajah cemberut yang sempat Dzakiyya sembunyikan.


"Nggak boleh?" tanya Abidzar.


"Nanti mama marah. Trus mama sakit lagi. Mas Abid nggak takut?" tanya Dzakiyya.


"Takut, tapi Mas Abid harus bagaimana. Mas Abid masih mau lihat Dzakiyya," goda Abidzar.


Wajah Dzakiyya memerah. Lalu berpaling kearah lain. Sementara Abidzar tersenyum tipis. Kemudian meraih dagu istrinya untuk mencubit hidungnya dan memeluknya lebih erat.


Mungkin ibunya akan memarahinya nanti. Tapi jika dia tidak memenangkan hati istrinya, bagaimana kalau istri tercintanya melakukan hal bodoh itu lagi. Kalau dia tidak memeluk istrinya disaat seperti ini, bagaimana jika pria lain bernama Ral itu datang dan mencuri pelukan yang harusnya hanya jadi miliknya lagi.


"Dza, jalan-jalan yuk!" ajak Abidzar.


"Kemana?" tanya Dzakiyya.


"Terserah kamu," jawab Abidzar


"Mas, besok kita pergi sekalian bawa Nafisa sekalian ya?" kata Dzakiyya.


"Nafisa?" tanya Abidzar.


"Iya," jawab Dzakiyya.


Abidzar menggenggam tangan Dzakiyya. Dia tahu tujuan Dzakiyya membawa Nafisa adalah agar tidak ada kecemburuan diantara mereka. Tapi sepertinya keinginan Dzakiyya harus gagal karena Nafisa memiliki acara di luar kota besok.


"Dia ada acara besok," kata Abidzar.


"Jadi?" tanya Dzakiyya.


"Kita hanya akan pergi berdua," jawab Abidzar.


.


.


.


Keesokan harinya.

__ADS_1


"Sayang, ayo berangkat!" teriak Abidzar.


Pria itu begitu bersemangat. Istri keduanya sudah dia antar ke bandara. Ibunya juga sudah dia antar ke tempat pertemuan dengan teman-teman sosialitanya. Jadi sudah saatnya untuk menghabiskan waktu dengan Dzakiyya.


"Mama sama Nafisa sudah diantar?" tanya Dzakiyya.


"Sudah," jawab Abidzar.


Abidzar menggandeng Dzakiyya. Tidak lama kemudian mobil itu pun melaju. Sepasang suami istri itu pergi ke taman, jalan-jalan, makan siang romantis dan menghabiskan quality time mereka dengan sempurna.


Sayangnya quality time mereka tidak ditutup dengan sempurna. Karena ketika Abidzar dan Dzakiyya pulang berbelanja, mereka bertemu dengan Diana yang juga baru selesai berbelanja.


"Abidzar?" panggil Diana.


Abidzar dan Dzakiyya menoleh ke sumber suara. Mendapati Diana membawa begitu banyak tentengan di tangannya.


"Mama?" tanya Abidzar dan Dzakiyya bersamaan.


"Dza, tolong bantuin mama bawa belanjaan ya?" pinta Diana.


Tanpa menunggu jawaban Dzakiyya, Diana sudah menyerahkan semua belanjaannya. Bahkan beberapa diantaranya ada yang jatuh saking banyaknya. Beruntung Abidzar bertindak cepat dan mengambil sebagian besar belanjaan itu.


"Sini, biar Mas Abid yang bawa," kata Abidzar.


"Bid, ayo cepat. Temen mama sudah nunggu di parkiran!" teriak Diana yang berjalan mendahului mereka.


"Iya, Ma!" jawab Abidzar.


Sepasang suami-istri itu pun bergegas sebelum ibunya marah. Setelah beberapa menit berjalan akhirnya mereka sampai di parkiran. Abidzar segera memasukkan barang-barang ke mobil. Lalu meminta Dzakiyya dan Diana masuk.


"Tunggu, Bid!" kata Diana.


"Ada apa, Ma?" tanya Abidzar.


"Itu teman-teman mama. Kita berikan tumpangan yuk?" pinta Diana.


Abidzar melihat kearah teman-teman ibunya. Mereka berjumlah tiga orang dan barang yang mereka bawa cukup banyak. Mobil mereka otomatis tidak muat ditumpangi mereka.


"Ma, mereka biar naik taksi. Mobil Abid nggak muat," tolak Abidzar.


"Bid, apa kata mereka nanti kalau kita nggak memberikan tumpangan?" tanya Diana.


"Tapi tempat duduknya kurang, Ma! Bagaimana kalau Abidzar pesankan taksi untuk mereka saja?" tawar Abidzar.


Diana memasang wajah jutek. Lalu memberikan jawaban sekenanya. "Dzakiyya kan bisa turun!"


"Ma, Abidzar yang bawa Dzakiyya pergi. Abidzar juga yang harus bawa Dzakiyya pulang. Masa Dzakiyya mau Abid tinggalin disini?" tanya Abidzar.

__ADS_1


...***...


__ADS_2