Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Kontraksi


__ADS_3

"Sekarang?" tanya Abidzar.


Pria itu masih di kamar ibunya. Menjawab telepon Dzakiyya pun juga di hadapan ibunya.


"Iya sekarang," jawab Dzakiyya.


"Oke, kamu tunggu ya. Mas Abid akan kesana sekarang. Mas Abid ada kejutan untuk kamu," kata Abidzar.


Abidzar melirik Diana yang bersandar di ranjang. Soal kejutan yang ingin Abidzar berikan, sebenarnya wanita itulah kejutannya.


"Dza juga punya kejutan untuk Mas Abid," jawab Dzakiyya.


"Oke!" kata Abidzar.


Kehamilan adalah kejutan yang Dzakiyya maksud. Tapi begitu mengingat soal obat, Dzakiyya justru bingung bagaimana mengatakannya pada suaminya nanti. Abidzar sangat berbakti pada ibunya. Jika Dzakiyya mengatakan kecurigaannya terhadap ibu mertuanya, bisa saja Abidzar tidak mempercayainya kan.


"Oke, lupakan dulu soal itu. Yang terpenting adalah memberitahu Mas Abid bahwa aku hamil," gumam Dzakiyya.


Telepon terputus. Abidzar segera meminta maid untuk membantu ibunya bersiap-siap. Sementara dirinya pergi melihat Nafisa yang saat ini sedang senam ibu hamil dengan seorang instruktur. Melihat Abidzar menemuinya, Nafisa pun menghentikan aktifitasnya.


"Mas?" panggil Nafisa.


Senyum itu merekah. Siapa yang tidak senang suami yang dia cintai menghampirinya. Terlebih Dzakiyya, saingan cintanya itu pergi meninggalkan rumah dan Abidzar jauh lebih perhatian padanya setelah insiden pendarahan. Kedatangan Abidzar kali ini tidak dengan tangan kosong, melainkan dengan membawa segelas susu ditangannya.


"Belum selesai?" tanya Abidzar.


"Belum," jawab Nafisa.


Pria itu meletakkan susunya di meja. Lalu menyentuh perut dan mencium kening Nafisa. Meskipun tidak memiliki perasaan apa-apa. Tapi Abidzar masih menunjukkan perhatian dan sikap yang manis. Mau bagaimana lagi mereka adalah suami istri dan Nafisa sedang hamil. Jadi perhatian untuk Nafisa tidak pernah kurang. Jika saja Abidzar tahu anak itu bukan anaknya jelas ceritanya akan berbeda.


"Mas Abid mau kemana. Kok rapi?" tanya Nafisa.


Abidzar belum menjawab pertanyaan Nafisa. Tapi Diana yang tiba-tiba masuk menjawab pertanyaan itu menggantikan Abidzar. Karena jika Abidzar yang menjawab, dia pasti akan mengatakan bahwa mereka akan pergi ke rumah Dzakiyya.


"Abidzar mau mengantar mama jalan-jalan. Mama bosan dirumah," jawab Diana.


"Nafisa nggak diajak?" tanya Nafisa.


"Kamu sudah hampir melahirkan. Kalau bosan, jalan-jalan disekitar rumah saja. Nanti setelah melahirkan baru kalian jalan-jalan bertiga dengan anak kalian," jawab Diana.


Jawaban Diana membuat Nafisa tersipu. Wajah yang sebelumnya sedikit cemberut sudah kembali sumringah. Jujur saja Nafisa tidak sabar menyambut kelahiran anaknya. Karena dengan kelahiran anak itu dia akan memiliki alat untuk merampas semua perhatian Abidzar. Lalu pelan-pelan membuat Abidzar melupakan Dzakiyya dan hanya melihatnya seorang.


"Kalau begitu hati-hati!" kata Nafisa tanpa curiga.


Abidzar yang tahu ibunya berbohong diam saja. Toh sebenarnya Abidzar juga ingin membawa Diana dan Dzakiyya jalan-jalan nanti.


"Bid, mobilnya sudah siap?" tanya Diana.


"Abid siapin dulu ya, Ma!" jawab Abidzar.


Abidzar pun pergi menyiapkan mobil sementara Diana tetap tinggal. Melihat segelas susu yang belum tersentuh, Diana pun segera menambahkan sesuatu ke dalamnya selagi Nafisa sibuk melihat punggung Abidzar.

__ADS_1


"Naf, nanti susunya jangan lupa diminum ya! Mama pergi dulu," kata Diana.


Sedikitpun Nafisa tidak curiga. Karena selama ini mertuanya selalu membantunya untuk mendapatkan perhatian Abidzar. Bahkan secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Dzakiyya dan lebih memperhatikannya.


"Iya, Ma!" jawab Nafisa.


Setelah berpamitan Diana pun pergi. Menyunggingkan senyum tipis yang semakin melebar ketika kursi rodanya di dorong keluar oleh seorang maid di belakangnya.


.


.


.


Ting


Tong


Bel rumah Dzakiyya berbunyi. Seorang maid yang tengah menyiapkan makanan nampak bergegas membuka pintu.


"Itu pasti Mas Abid," ujar Dzakiyya.


Dzakiyya yang saat itu sedang berada di kamar bergegas keluar.


Senyum cerah menghiasi bibirnya yang merah alami. Dan begitu melihat siapa yang datang, senyumnya berangsur menghilang.


Di hadapannya, telah duduk sosok mertua yang menyambutnya dengan senyum lebar. Dan suaminya tampak berdiri di belakangnya dengan memegangi kursi roda ibunya.


Dzakiyya menjadi gagu seketika. Dan disaat Dzakiyya belum siap harus memberikan reaksi seperti apa, Abidzar sudah mendekatinya dan mengatakan maksud dan tujuannya membawa ibunya kemari.


"Sayang, kedatangan mas abid dan mama kemari untuk menjemput kamu pulang!"


Deg


Dzakiyya seolah tersambar petir. Apa ini kejutan yang disiapkan suaminya. Jika iya, Dzakiyya lebih memilih untuk tidak diberikan kejutan apapun. Secara otomatis Dzakiyya mundur beberapa langkah. Terlebih ketika Abidzar mendorong kursi roda ibunya lebih dekat kearahnya.


Tapi Dzakiyya tidak bisa mundur lagi karena langkahnya terhenti oleh sebuah guci yang ada di belakangnya. Beberapa saat kemudian, dengan mata kepalanya sendiri Dzakiyya melihat mertuanya tidak hanya minta maaf, tapi juga memegang tangannya lengkap dengan ekspresi yang menyedihkan.


"Sayang, maafin mama ya. Selama ini mama kasar sama kamu, jahat sana kamu. Mama benar-benar menyesal. Maafin mama ya? Kamu ikut mama pulang ya sekarang?" kata Diana.


Wajah itu penuh air mata tapi tidak sanggup membuat Dzakiyya berbelas kasih. Jujur saja deraian air mata itu malah membuat Dzakiyya semakin takut. Terlebih saat ibu mertuanya memeluknya, Dzakiyya seolah dipeluk monster yang bisa membunuhnya kapan pun begitu Dzakiyya lengah.


"Pulang sama mama, ya!" pinta Diana sekali lagi.


"I-itu,-"


Dzakiyya ingin menjawab tidak. Tapi tidak bisa mengatakannya secara langsung. Dzakiyya pun melirik Abidzar. Memberikan isyarat lewat tatapan mata agar Abidzar menjelaskan apa maksud semua ini dan mencari solusi. Tapi Abidzar tidak menangkap dengan baik sinyal yang diberikan Dzakiyya.


"Sayang, mama benar-benar menyesal. Mama juga sudah minta maaf. Sekarang kita pulang kerumah dan kumpul sama-sama lagi ya. Please!" mohon Abidzar.


"Mas, beri Dzakiyya waktu ya. Dza masih ingin tinggal disini beberapa hari lagi," jawab Dzakiyya.

__ADS_1


Sebenarnya itu hanyalah alasan yang sengaja Dzakiyya buat. Dzakiyya hanya ingin mengulur waktu untuk memberitahu Abidzar sebelum Abidzar memboyongnya ke rumah. Tapi yang ada Abidzar malah sedikit kecewa dibuatnya.


"Kenapa. Kamu nggak percaya kalau mama mau berubah?" tanya Abidzar.


Suara Abidzar begitu lembut. Tapi membuat Dzakiyya kelabakan. "Bukan begitu, Mas. Dza hanya,-"


Sudahlah. Dzakiyya tidak tahu harus menjawab bagaimana. Tapi Diana menengahi kebuntuan itu.


"Bid, beri istrimu waktu. Bagaimanapun juga ini rumahnya. Dia lahir dan besar disini. Nggak papa kan kalau dia ingin tinggal beberapa hari lagi?" kata Diana.


Abidzar tampak meresapi nasehat ibunya. Yang dikatakan ibunya benar. Tidak ada salahnya memberi Dzakiyya waktu beberapa hari lagi. Toh setidaknya Dzakiyya sudah tahu itikad baik ibunya.


"Oke. Mas Abid beri kamu waktu. Beri tahu Mas Abid kapanpun kamu siap," kata Abidzar.


Dzakiyya mengangguk, lalu membalas pelukan suaminya tanpa berkata-kata. Melihat ibu mertua bersikap manis sudah membuatnya aneh. Dan ketika ibu mertuanya membelanya itu malah membuat Dzakiyya curiga. Apa tujuan ibu mertuanya sebenarnya. Apa ini sungguhan. Bagaimana kalau semua ini hanyalah tipuan. Bagaimana jika Dzakiyya kembali bukan hanya dirinya yang disakiti tapi anaknya juga.


"Mas, ada yang mau Dza omongin sama Mas Abid!" bisik Dzakiyya.


"Apa?" tanya Abidzar.


Untungnya mereka masih berpelukan sehingga Diana tidak menaruh kecurigaan.


"Nanti kita bicarakan di kamar ya?" kata Dzakiyya.


"Oke!" jawab Abidzar.


Dzakiyya cukup lega setelah Abidzar mengiyakan permintaannya. Tapi kelegaan itu tidak bertahan lama karena sekarang ini ponsel Abidzar berdering membawakan sebuah kabar mengejutkan.


"Hallo!" jawab Abidzar.


Di seberang sana seorang maid yang ditugaskan menjaga Nafisa begitu panik. Lalu menjelaskan bagaimana situasinya saat ini.


"Pak, Non Nafisa tiba-tiba mengeluh sakit. Sakitnya nggak normal seperti orang mau melahirkan," kata seorang maid.


Abidzar melirik Dzakiyya dan Diana sebentar. Soal melahirkan dan sebagainya Abidzar tidak terlalu mengerti. Jadi lebih baik membawa Nafisa ke rumah sakit demi keamanannya.


"Minta sopir mengantar Nafisa ke rumah sakit. Kita ketemu di rumah sakit!" perintah Abidzar.


"Baik, Pak!" jawab maid.


Abidzar segera menutup teleponnya. Seharusnya belum waktunya bagi Nafisa melahirkan. Lalu apa maksudnya dengan sakit yang tidak normal. Apa ini baik-baik saja. Apa terjadi sesuatu dengan bayinya mengingat Nafisa pernah pendarahan waktu itu.


"Nafisa kenapa, Mas?" tanya Dzakiyya.


"Dia sudah mau melahirkan?" tanya Diana.


"Nggak tahu. Maid bilang Nafisa mengeluh sakit," jawab Abidzar.


"Kalau begitu ayo kerumah sakit sekarang!" kata Dzakiyya.


Sepasang suami-istri itu tampak panik. Tapi tidak dengan Diana. Karena apa yang dialami Nafisa adalah bagian dari rencananya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2