
"Akh!" teriak Abidzar.
Tekanan pada leher Joshua sedikit melonggar setelah Abidzar mendapatkan tusukan dari Diana. Dan Joshua memanfaatkan kesempatan itu untuk menendang Abidzar.
"Bedebah!" umpat Joshua.
Pria itu mengambil nafas sebanyak mungkin. Lalu meminta ibunya pergi meninggalkan tempat itu.
"Ma, cepat pergi dan urus Dzakiyya. Biar aku yang mengurus pria ini!" kata Joshua.
Sudah terlanjur ketahuan. Maka tidak perlu berakting lagi. Lebih baik segera menghabisi mereka semua meskipun tahu polisi akan menangkap mereka nanti.
"Tidak, mama nggak mau ninggalin kamu. Kita pergi sama-sama!" tolak Diana.
Wanita itu enggan pergi. Tapi Joshua tidak memiliki kesabaran sebanyak itu, dia pun membentak ibunya agar segera pergi.
"Aku bilang cepat pergi. Aku akan menyusul nanti!" teriak Joshua.
Diana pun pergi meskipun berat. Tapi apa yang dikatakan Joshua memang benar. Biar Joshua yang mengurus Abidzar sementara dirinya mengurus Dzakiyya.
"Dzakiyya, tunggulah sebentar lagi. Aku akan segera datang untuk mengambil nyawamu!" umpat Diana.
Setelah sempat menjadi bulan-bulanan Abidzar, akhirnya Joshua memiliki kesempatan untuk membalas. Kali ini Joshua bangkit. Tidak hanya memukul dan menendang Abidzar. Dia juga mencabut pisau yang masih bersarang di punggung Abidzar dan kembali menusuk Abidzar beberapa kali hingga pria itu mengeluarkan banyak darah.
"Mati kamu, Bid!" kata Joshua.
Joshua menarik kembali pisau itu. Lalu mendorong Abidzar hingga jatuh ke lantai. Abidzar batuk darah dan sekujur tubuhnya pun terasa sakit. Dan dalam pandangan yang mulai kabur dia masih sempat melihat Joshua yang tersenyum menjijikan padanya.
"Sepertinya kamu sudah hampir mati. Kalau begitu cepat mati saja. Tunggu istrimu di neraka dan jadilah pasangan yang serasi disana," kata Joshua.
Pria itu menepuk pipi Abidzar beberapa kali sebelum Abidzar terkulai lemas dan bernafas pun terasa susah.
Disisi lain, setelah melihat Abidzar menerobos masuk dan menghajar Joshua tadi, manager restoran bergerak cepat dengan menghubungi polisi. Tapi polisi tidak mungkin datang dalam kurun waktu secepat itu. Setidaknya mereka akan datang dalam waktu sepuluh menit.
"Ayolah, cepat datang sebelum ada korban!" kata manager mulai panik.
Manajer pun membawa beberapa orang untuk menghentikan perkelahian mereka. Tapi kejadiannya begitu singkat dan mereka terlambat. Karena saat itu Joshua yang mengira Abidzar sekarat sudah keluar dari ruangan untuk menyusul ibunya.
__ADS_1
"Cari mati!" umpat Joshua begitu melihat beberapa orang pria menghadangnya.
Sempat terjadi adu jotos, tapi dengan pisau yang ada ditangannya tidak sulit bagi Joshua untuk membuat mereka kocar-kacir.
Suasana dalam restoran semakin ricuh. Tidak ada lagi yang berani mendekat meskipun sekelompok orang sudah membentuk kerumunan di kejauhan. Terlebih melihat manager dan teman-temannya juga menjadi korban.
Tapi Abidzar tidak akan membiarkan Joshua kabur semudah itu. Nyawa istrinya sedang dalam bahaya, jadi bagaimana mungkin Abidzar menyerah sekarang. Abidzar yang nyaris pingsan itu batuk pelan. Entah kekuatan dari mana, tapi sepertinya itu adalah kekuatan cinta. Karena tidak lama setelah dia muntah darah dia kembali berdiri.
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari tempat ini!" kata Abidzar.
Abidzar melirik ke meja. Memang sudah tidak ada pisau disana. Tapi masih ada botol wine yang bisa dia gunakan sebagai senjata. Tanpa keraguan sedikitpun, Abidzar meraih botol itu lalu mengejar Joshua sebelum menghantamkan botol itu ke kepala Joshua sekuat tenaga.
Prang!
"Akh!" teriak Joshua.
Botol itu tepat mengenai sasaran. Sangat keras sampai membuat Joshua mengeluarkan banyak darah. Joshua menyeringai, ingin membalas dengan cara menikam Abidzar. Sayangnya Joshua tidak sempat melakukannya karena keburu kehilangan kesadaran.
Mati?
Tentu saja tidak. Umurnya memang tidak lama lagi. Tapi hari ini masih belum waktunya untuk itu. Bagaimana bisa penjahat seperti Joshua mati sementara Diana tidak melihatnya. Bukankah kematiannya yang tragis dan disaksikan oleh ibunya sendiri baru membuat pembaca merasa puas?
Suasana di dalam restoran begitu mencekam. Terlebih saat melihat Abidzar membuat Joshua terkapar. Namun begitu tahu Joshua tak bergerak, akhirnya beberapa diantaranya memberanikan diri untuk memeriksa Joshua.
Manager yang juga mendapatkan luka ringan langsung menghampiri Abidzar untuk memberikan pertolongan. Tapi Abidzar tidak punya waktu untuk itu karena dia harus mengejar Diana.
"Aku tidak apa-apa. Tolong hubungi polisi!" kata Abidzar sembari mengikat lukanya secara sembarangan menggunakan celemek seorang pelayan agar darahnya tidak terus keluar.
"Saya sudah menghubungi polisi. Seharusnya mereka akan datang sebentar lagi," kata Pak Manager.
Meksipun panik pria itu masih sempat memberikan ponsel Abidzar. Sementara Abidzar, dia langsung menerima ponselnya dan berlari ke mobil sembari mencoba menghubungi Dzakiyya.
"Dza, kumohon angkatlah!" batin Abidzar.
Sayangnya tidak ada jawaban dan itu membuat Abidzar semakin mempercepat laju mobilnya.
"Sial!" umpat Abidzar.
__ADS_1
Pria itu meringis. Satu tangannya tampak memegangi luka di perutnya. Tapi meskipun keadaannya begitu memprihatinkan, dia masih sempat memikirkan keselamatan Ral dan Talitha juga.
"Mereka baik-baik saja kan. Bajingan itu belum bertindak kan?" gumam Abidzar.
Mulutnya tampak mengoceh. Sementara tangannya dengan gesit menghubungi adiknya. Beruntung Talitha langsung mengangkat telepon itu.
"Kamu dimana?" tanya Abidzar begitu panggilannya tersambung.
"Talitha lagi di jalan. Barusan makan malam dengan klien. Kenapa, Mas?" jawab Talitha.
Gadis itu masih tenang karena belum mengetahui apa yang terjadi. Abidzar bersyukur adiknya baik-baik saja. Tapi itu belum cukup membuatnya tenang.
"Dek, jangan pulang. Kamu pergi ke kantor polisi sekarang dan jangan kemana-mana. Kamu akan aman disana. Jangan menemui mama apapun alasannya. Mama bukan orang baik. Mengerti?" tanya Abidzar.
"Apa yang terjadi, Mas?" tanya Talitha.
Talitha mulai bingung. Tapi Abidzar tidak punya waktu untuk menjelaskannya.
"Nanti mas abid jelasin semuanya. Sekarang kamu pergi ke kantor polisi!" kata Abidzar.
Abdizar menutup teleponnya. Karena adiknya sudah kini giliran Ral. Tapi sebanyak apapun Abidzar menghubunginya, Ral tidak menjawab teleponnya.
"Ral, sebenarnya apa yang kamu lakukan?" gumam Abidzar.
Pria itu melempar ponselnya ke dashboard. Berharap Ral tidak mengangkat teleponnya karena sibuk melayani Dzakiyya. Tapi sayangnya harapan itu tidak terjadi. Karena saat ini Dzakiyya sudah di rumah. Sedangkan Ral, pria itu bukannya tidak mendengar ponselnya berbunyi. Dia hanya tidak sempat mengangkat karena sibuk berurusan dengan sekelompok cecunguk yang menyerangnya.
Bugh!
Setelah berkali-kali melawan, akhirnya bogem mentah mendarat di wajah Ral. Pria itu meringis. Sakit sudah pasti, tapi level kemarahannya lebih besar daripada level sakitnya.
"Brengsek! Dari sekian banyak tempat kenapa harus wajahku yang kamu pukul!" umpat Ral.
Pria itu sempat terhuyung dan terjerembab ke tanah. Meskipun Ral termasuk jagoan tapi Ral kalah jumlah. Melihat Ral kehilangan keseimbangan, sekelompok orang itu pun tidak ragu menghajar Ral habis-habisan.
"Siapa sebenarnya mereka?" batin Ral.
Pria itu masih menjadi bulan-bulanan sekelompok orang itu. Sama seperti Abidzar, kini tubuhnya juga penuh dengan darah dan luka. Sampai dia melihat balok kayu yang tidak jauh dari jangkauannya. Ral mengambilnya lalu memukul mundur mereka semua dan melarikan diri.
__ADS_1
...***...