Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Penguntit


__ADS_3

"Mas antar pulang ya?" tanya Abidzar.


Malam belum terlalu larut tapi tetap saja Abidzar khawatir jika harus membiarkan istrinya pulang sendirian. Makanya dia menawarkan diri untuk mengantar meskipun dia sendiri keteteran.


"Nggak usah. Dza bisa pulang sendiri," jawab Dzakiyya.


Dzakiyya tahu banyak hal yang harus Abidzar lakukan. Bahkan sebenarnya Abidzar belum sempat meletakkan pantatnya semenjak Nafisa selesai operasi. Jadi Dzakiyya tidak ingin menambah beban suaminya lagi. Selain itu Dzakiyya tahu mana yang harus Abidzar prioritaskan.


"Nggak boleh. Kalau kamu takut ngerepotin Mas Abid, kalian pulang sama-sama. Biar sopir anterin kamu dulu sebelum anterin mama sama Talitha," pinta Abidzar.


Pria itu masih kukuh dengan pendiriannya. Sementara Dzakiyya juga kukuh menolaknya. Yang ditakutkan Dzakiyya adalah Talitha akan membawanya pulang dengan paksa jika mereka menumpang di mobil yang sama.


"Mama sama Talitha pasti capek. Jadi biar mereka langsung pulang dan istirahat," kata Dzakiyya.


Wanita itu memegang tangan Abidzar lalu menolak sekali lagi dengan halus. Dan karena Dzakiyya tidak bisa dibujuk akhirnya Abidzar mengalah juga. Sementara Dzakiyya, dia sempat menoleh ke kanan dan kiri sebelum mengatakan sesuatu pada Abidzar.


"Mas, apa Mas Abid masih ingat dengan kejutan yang Dza bilang tadi?" tanya Dzakiyya.


Karena tidak ada orang, Dzakiyya pun sedikit gelendotan di sisi Abidzar. Sementara Abidzar yang melihat tingkah manja istrinya hanya menyentil dahinya.


"Masih. Jadi apa kejutannya?" tanya Abidzar.


Dzakiyya tersenyum manis. Manis sekali. Bibirnya yang tipis siap mengatakan 'mas aku hamil' tapi sosok mertua yang sejak tadi mengawasi akhirnya menunjukkan eksistensinya seperti alur cerita dalam sinetron. Lalu yang selanjutnya sudah bisa ditebak, Dzakiyya gagal lagi memberitahu Abidzar seputar kehamilannya. Dan yang dibuat gemas dengan adegan ini tentu saja para pembaca.


"Dzakiyya belum pulang?" tanya Diana.


Sosok itu muncul di belakang Abidzar. Dzakiyya yang sempat gelendotan ke Abidzar pun melepaskan pelukannya dan memilih menunda untuk memberitahu Abidzar kabar baik itu. Bagaimanapun juga Dzakiyya sedang mencurigai ibu mertuanya soal obat yang dia konsumsi selama ini. Jadi bagaimana mungkin Dzakiyya mengatakan di hadapan ibu mertuanya kalau dia hamil.


"Ini mau pulang kok, Ma!" jawab Dzakiyya.


Dzakiyya bersiap pergi. Tapi Abidzar menahannya karena Dzakiyya belum mengatakan apa kejutannya.


"Dza, kamu belum mengatakan apa kejutannya. Kamu nggak mau ngasih tau Mas Abid sebelum pergi?" tanya Abidzar.


"Nanti, ya?" jawab Dzakiyya.


Setelah berpamitan Dzakiyya pun keluar dari rumah sakit. Lalu memesan taksi untuk mengantarnya sampai rumah. Taksi itu meluncur membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Terus melaju tanpa menaruh curiga pada sebuah mobil yang mulai mengikutinya dari belakang.


Untungnya sopir yang berusia sepantaran dengan Abidzar itu menyadarinya beberapa saat kemudian. Lebih tepatnya ketika mobil itu terus mengikuti meskipun mereka sudah menempuh perjalanan cukup jauh. Bahkan mengatur kecepatannya di jarak aman.


"Mbak, sepertinya ada yang mengikuti," kata sopir seraya melirik kearah spion.


Dzakiyya pun menoleh. Melihat mobil yang dimaksud sopir taksi. Firasat buruk langsung menyeruak ke benak Dzakiyya begitu melihat mobil berwarna gelap di belakangnya.

__ADS_1


"Sejak kapan mobil itu mengikuti, Pak?" tanya Dzakiyya.


"Kurang tahu, Mbak! Tapi sebelum mbak naik nggak ada yang mengikuti," jawab sopir.


Dzakiyya semakin takut. Untungnya jalur yang mereka lalui saat ini cukup ramai sehingga orang suruhan Diana itu belum memiliki kesempatan untuk beraksi. Demi keamanan mereka pun sepakat berhenti di sebuah pusat perbelanjaan.


Meskipun begitu, itu tidak membuat Dzakiyya merasa aman. Dzakiyya pun segera menghubungi Abidzar. Sayangnya Abidzar tidak menjawab panggilannya.


"Dia pasti sibuk," batin Dzakiyya.


Dzakiyya tidak kehabisan akal. Karena suami yang membuatnya merasa aman tidak mengangkat teleponnya, Dzakiyya pun menghubungi Ral saat itu juga.


"Halo, kenapa malam-malam begini meneleponku. Merindukan temanmu ini?" jawab Ral dari seberang sana.


Pria yang hanya berbalutkan handuk itu melontarkan candaan diselingi sebuah senyum yang tak bisa Dzakiyya lihat. Tapi candaannya tidak dipedulikan Dzakiyya karena situasi yang tidak memungkinkan.


"Ral, jangan bercanda. Tolong jemput aku sekarang!" kata Dzakiyya.


Ral menaikkan satu alisnya. Tumben Dzakiyya minta dijemput biasanya Dzakiyya tidak seperti itu. Dan kenapa suaranya berbeda. Mungkinkah terjadi sesuatu?


"Kamu dimana. Apa ada masalah?" tanya Ral.


Pria itu menghentikan aktivitasnya yang sedang mengeringkan rambut. Lalu berjalan kearah lemari pakaian untuk mengambil baju ganti.


"Sebuah mobil mengikuti taksi yang ku tumpangi. Sekarang kami berhenti di pusat perbelanjaan. Mas Abid tidak mengangkat teleponku makanya aku meneleponmu," jawab Dzakiyya.


"Oke, kamu jangan kemana-mana. Aku jemput kamu sekarang!" kata Ral.


Ral menutup panggilannya lalu memakai pakaiannya dan menyambar kunci mobil beserta tas yang ada di meja. Setelah itu bergegas menuju pusat perbelanjaan yang Dzakiyya maksud. Hanya kurang dari dua puluh menit pria itu pun sudah sampai di tempat tujuannya.


Dengan wajah rupawan serta potongan rambut model two block haircut berwarna terang sukses merebut perhatian gadis yang berpapasan dengannya. Ditambah dengan kacamata hitam dengan outfit kekinian, Ral hampir dikira anak boyband yang tersesat. Tapi Ral tidak peduli dengan tatapan mereka, karena saat ini hanya Dzakiyya seorang yang dia pedulikan.


"Ral, kamu akhirnya datang?" kata Dzakiyya.


Dzakiyya segera menghampiri Ral. Sementara Ral mengusap kepalanya sembari mengumbar senyum. Setelah mendengarkan penjelasan sopir taksi mengenai kronologinya, Ral pun menyalami sopir taksi itu dan memberikan tips sebagai ucapan terimakasih.


"Terimakasih sudah menjaga Dzakiyya. Tolong diterima semoga bermanfaat," ucap Ral.


"Tidak perlu. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan," tolak sopir taksi.


Tapi Ral tidak menerima penolakan. Meskipun sopir itu menolak, Ral tetap memaksanya menerima uang yang sudah dia bungkus dengan amplop.


"Tolong jangan menolak!" kata Ral.

__ADS_1


Karena tidak bisa menolak, akhirnya sopir taksi itu menerimanya. Lalu segera pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Kalau begitu terimakasih. Karena Mas Ral sudah datang menjemput, saya permisi!" kaya sopir.


"Hati-hati di jalan. Terimakasih atas bantuannya sebelumnya!" kata Dzakiyya.


Setelah saling berjabat tangan mereka pun berpisah disana. Sopir taksi itu pergi dan sekarang giliran Ral serta Dzakiyya yang harus pergi.


"Ayo!" ajak Ral dengan membawa Dzakiyya masuk ke mobil.


Dzakiyya menurut. Tidak menolak saat Ral menarik tangannya untuk mengikutinya. Dan setelah memastikan mobil mencurigakan itu tidak ada, Ral pun mulai mengemudikan mobilnya.


.


.


.


Beberapa saat yang lalu.


Karena ponselnya terus bergetar, Diana yang saat itu baru akan pulang akhirnya menjauh dari Talitha untuk memeriksa siapa yang meneleponnya.


"Ada apa. Apa sudah berhasil?" tanya Diana begitu mengangkat telepon yang ternyata dari Joshua.


"Gagal," jawab Joshua.


Diana berdecak pelan. Hanya mengurus satu wanita hamil saja kenapa Joshua bisa gagal.


"Kenapa bisa. Bukankah dia sendirian?" tanya Diana.


"Sepertinya mereka curiga karena mobil kita membuntutinya. Makanya dia masuk ke pusat perbelanjaan. Sepertinya mereka sengaja. Mungkinkah Dzakiyya memanggil suaminya?" jawab Joshua.


Diana berpikir sejenak. Abidzar tidak mungkin datang karena sekarang ini sangat sibuk. Dan satu-satunya orang yang terpikirkan adalah Ral karena hanya pria itulah yang selalu membantu Dzakiyya.


"Tidak. Orang yang akan datang pasti bukan Abidzar tapi Ral," sanggah Diana.


Joshua membuang nafasnya dengan kasar. Membenci karena apa yang dia lakukan selalu saja ada kaitannya dengan Ral.


"Lalu apa yang harus saya lakukan. Menculiknya sekarang selagi Ral belum datang?" tanya Joshua.


"Tidak perlu. Kita memang gagal mencelakainya. Tapi kalau menjebaknya kita masih bisa," jawab Diana.


"Bagaimana caranya?" tanya Joshua.

__ADS_1


"Kamu harus tiba lebih awal. Telepon aku saat kamu sudah ada disana. Aku akan memberitahu bagaimana caranya nanti," jawab Diana.


...***...


__ADS_2