Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Lumpuh


__ADS_3

"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Abidzar.


Pria itu menunggu jawaban dengan cemas. Begitu juga dengan Talitha dan Dzakiyya yang berdiri di belakang Abidzar. Sementara Dokter tampak serius memeriksa hasil lab milik Diana. Melihat ekspresi yang dokter perlihatkan, mereka cukup paham ada sesuatu yang salah dengan ibu mereka.


"Pak Abidzar, seharusnya tidak ada masalah dengan kaki ibu Anda. Hasil pemeriksaan menunjukkan semuanya normal," jawab Dokter.


Dokter itu meletakkan hasil lab milik Diana. Lalu memperbaiki letak kacamatanya dan menjelaskan lebih detail tentang kondisi Diana saat ini.


"Tapi kenapa mama saya tidak bisa berjalan, Dokter?" tanya Talitha.


"Sementara ini kami belum berani mengambil kesimpulan. Harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh guna mendapatkan penyebab pasti Ibu Diana mengalami kelumpuhan," jawab Dokter.


Dokter itu menghela nafas. Jujur saja merasa aneh dengan kondisi pasiennya. Tapi begitulah kondisi yang dialami Diana. Sementara Abidzar, Talitha dan Dzakiyya hanya mengangguk tanda mengerti. Abidzar bahkan mencoba mengingat kembali proses kecelakaan tadi. Apa mamanya terjatuh dalam posisi yang salah sehingga membuatnya lumpuh. Tapi Abidzar tidak bisa mengingat dengan jelas karena kejadiannya memang sangat cepat.


"Jadi kapan ibu kami akan diperiksa lagi, Dokter?"


Kali ini giliran Dzakiyya yang bertanya. Karena semakin cepat mendapatkan penanganan semakin bagus. Itulah yang Dzakiyya pikirkan.


"Kami akan merujuk pasien ke rumah sakit yang lebih besar dengan fasilitas yang lebih lengkap. Jika kondisinya memungkinkan pasien akan segera menjalani pemeriksaan ulang," jawab Dokter.


"Baik, Dokter! Tolong lakukan yang terbaik untuk mama kami?" kata Abidzar.


"Itu sudah menjadi kewajiban kami, Pak! Kami pasti akan melakukan yang terbaik," jawab Dokter.


Ketiganya pun keluar dari ruangan dengan wajah lesu. Kembali menemani Diana yang tertidur pulas setelah diberi obat penenang oleh suster. Mungkin ketiganya terlalu sedih, bisa juga terlalu lelah. Tapi yang pasti tidak ada lagi kata yang mereka bicarakan. Ketiganya hanya melihat Diana dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Ketiganya memang sama kacaunya. Tapi diantara mereka bertiga, yang paling kacau jelas Dzakiyya. Dalam hatinya tidak berhenti menyesali perbuatannya. Seandainya saja dia mengalah dan turun lebih awal, pasti mamanya tidak akan marah dan kecelakaan itu tidak perlu terjadi.


Dzakiyya mendekap erat tubuhnya sendiri. Cuaca sedang tidak dingin tapi Dzakiyya merasa dingin dan merinding. Terlebih setelah mengingat semua peristiwa pahit yang terjadi dalam hidupnya selama ini.


Dzakiyya ingat betul bagaimana hari gelap itu dimulai. Hujan turun dengan lebatnya. Ayahnya bersikeras menjemput karena mengkhawatirkan Dzakiyya. Sayangnya ayah yang Dzakiyya tunggu tidak akan pernah datang lagi karena sang ayah meninggal dunia setelah mengalami luka parah akibat kecelakaan.


Itu adalah pengalaman pahit pertama Dzakiyya. Pengalaman pahit lainnya datang setelah dia menikah dengan Abidzar. Karena beberapa bulan setelah dia resmi menjadi Nyonya Abidzar, dia mendapatkan vonis mandul dari dokter.

__ADS_1


Itu hanya dua diantara hal buruk yang Dzakiyya alami. Masih ada banyak hal buruk lainnya. Kasus penipuan hari itu, peristiwa kebakaran hingga merenggut banyak korban jiwa itu. Lalu kematian ibunya karena kelalaiannya hari itu. Dan yang terakhir adalah kecelakaan yang menimpa Diana. Dzakiyya tidak ingin mengatakannya tapi Dzakiyya merasa itu semua adalah kesalahannya.


"Mungkin mama benar. Bahwa aku ini anak pembawa sial," batin Dzakiyya.


Dzakiyya merasakan sakit di hatinya. Tapi kakinya melangkah mendekati Abidzar yang duduk dengan menyangga kepala. Talitha yang duduk di samping Abidzar menoleh. Tidak tahu apa yang akan kakak iparnya lakukan. Tapi yang pasti Dzakiyya berlutut di depan suaminya.


"Mas Abid. Maaf, ini semua salah Dzakiyya!" kata Dzakiyya.


Wajah Dzakiyya begitu teduh dan polos. Dia sedang tersenyum, tapi sorot matanya menyiratkan kesedihan. Bahkan meskipun dia tidak mengatakan apapun, orang akan tahu kalau dia sedang menderita.


"Mbak, Mbak Dza ngomong apa sih. Ini bukan salahnya Mbak Dza," kata Talitha.


Talitha segera membantu Dzakiyya berdiri. Tapi Dzakiyya menolak. "Talitha, kamu nggak tahu apa yang terjadi sebelum mama kecelakaan," ucap Dzakiyya.


"Talitha tahu, Mbak! Mas Abid sudah menceritakan semuanya. Jadi tolong jangan begini, Mbak!" pinta Talitha.


Abidzar yang sebelumnya diam akhirnya mulai bereaksi. Jika Dzakiyya merasa pantas disalahkan karena hal itu, maka bukankah Abidzar lebih pantas disalahkan lagi. Karena jika Abidzar tidak mengajak Dzakiyya pergi, tidak mungkin ada pertemuan itu. Juga tidak mungkin ada pertengkaran kecil diantara mereka sehingga mamanya marah dan turun dari mobil.


"Sayang, bukan kamu yang salah. Tapi Mas Abid," hibur Abidzar.


"Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan mama. Jadi jangan terlalu cemas," hibur Abidzar.


Yah, itulah harapan mereka. Berharap Diana akan sembuh dan bisa berjalan seperti sedia kala setelah mendapatkan pertolongan medis. Sayangnya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Karena meskipun Diana sudah menjalani pengobatan berkali-kali kakinya tidak bisa kembali normal. Diana benar-benar lumpuh. Bahkan meskipun sudah berobat ke rumah sakit terbaik dengan dokter terbaik pula.


Berbulan-bulan sudah Diana menghabiskan hari-harinya yang membosankan. Waktunya lebih banyak dihabiskan dengan duduk di kursi roda atau berbaring di ranjang. Tentu saja hal ini membuat Diana frustasi. Dan sasaran Diana untuk melampiaskan amarahnya siapa lagi kalau bukan Dzakiyya. Karena Dzakiyya lah yang lebih sering ada di rumah untuk merawatnya.


"Ma, waktunya makan siang!" kata Dzakiyya.


Dzakiyya datang dengan membawa nampan berisikan makanan. Dengan sopan meletakkannya ke hadapan Diana. Belum juga memberikan sendok dan garpu, Diana sudah mengambil salah satu mangkuk itu dan menghantamkannya ke wajah Dzakiyya.


"Ah!"


Dzakiyya berteriak. Karena hantaman itu tepat mengenai keningnya. Antara kaget dan sakit bercampur jadi satu.

__ADS_1


"Puas kamu Dza? Puas kamu membuat mama cacat begini ha?" bentak Diana.


Diana mulai mengamuk. Melemparkan apapun yang ada di hadapannya termasuk makan siangnya sendiri. Dzakiyya pun mencoba menenangkan dengan memeluk mertuanya. Melupakan rasa sakit di dahinya yang memar dan mengeluarkan darah. Tapi pelukan kasih sayang dari seorang menantu itu semakin membuat Diana marah besar.


Melihat sebuah garpu yang terlempar tidak jauh dari jangkauannya, Diana pun mengambilnya. Lalu tanpa ragu menggunakannya untuk menyerang Dzakiyya.


"Mati kamu. Mati saja kamu dasar anak pembawa sial!" umpat Diana.


Diana memegangi tangan Dzakiyya dan menusukkan garpu itu berkali-kali ke arahnya. Tentu saja Dzakiyya berusaha menepis serangan itu tapi Diana yang terlanjur kalap semakin brutal.


"Ma, tolong jangan begini!" bujuk Dzakiyya.


Dzakiyya masih sabar menghadapi ibunya. Bersabar meskipun tangannya mulai kebas. Tapi kesabaran dan ketulusan yang Dzakiyya berikan membuat Diana semakin murka. Sekarang Diana tidak hanya mengarahkan garpu itu ke tangan Dzakiyya tapi juga ke wajahnya.


SRAT


Sebuah sabetan akhirnya mendarat di wajah Dzakiyya. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening. Diana berhenti bergerak karena kelelahan. Sementara Dzakiyya memegangi pipinya yang mulai berdarah.


"Astagfirullah, apa yang terjadi?" teriak dua orang maid yang datang setelah mendengar suara barang pecah.


Dua orang itu ingin masuk memberikan pertolongan, tapi Dzakiyya melarang mereka mendekat. "Pergi. Ada yang ingin ku bicarakan dengan mama!" usir Dzakiyya.


"Tapi Anda berdarah!" kata salah seorang maid.


"Aku tidak apa-apa. Kalian pergilah!" pinta Dzakiyya.


Dua orang maid itu akhirnya pergi. Tapi tidak benar-benar pergi karena mereka memilih menunggu di depan pintu. Berjaga-jaga seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan di dalam.


Sementara di dalam sana, tangan Dzakiyya bergetar hebat. Sakit sudah pasti. Tapi kalau boleh jujur ingin sekali Dzakiyya membalas perlakuan ibunya. Tapi untuk menyakiti seorang ibu yang merawat suaminya, Dzakiyya tidak bisa.


Dzakiyya mulai lelah terus diperlakukan seperti ini. Dan akhirnya Dzakiyya memberanikan diri melihat Diana. Lalu mengajukan satu pertanyaan yang sudah lama dia simpan di dalam hatinya.


"Ma, sebenarnya apa yang harus Dzakiyya lakukan agar mama tidak marah dan terus membenci Dzakiyya?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2