
"Dua tahun berteman. Dua tahun pacaran. Lalu enam tahun menikah. Apa semuanya berakhir seperti ini?" gumam Abidzar.
Pria itu berjalan kearah dinding kaca. Melihat pemandangan luar dari ketinggian yang dia pijak. Satu tangannya menengadah seolah ingin menyentuh sinar matahari yang menerpa kulitnya. Sayangnya Abidzar tidak bisa merasakan hangatnya sentuhan itu karena hati dan jiwanya mati rasa.
"Kenapa kamu melakukan ini, Dza?" gumam Abidzar.
Abidzar berdecak pelan lalu kembali duduk ke kursinya. Mengenang masa lalunya bersama Dzakiyya yang jadi primadona kampus. Cantik, baik, penurut, sopan dan rentetan nilai positif lainnya yang membuatnya jatuh cinta. Tapi begitu mengingat apa yang dia lihat semalam, Abidzar tidak bisa untuk tidak membencinya.
"Maaf, meskipun aku sangat mencintaimu tapi aku juga sangat membencimu!" batin Abidzar.
Abidzar mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu bersandar ke sandaran kursi untuk menikmati dua rasa antara benci dan cinta yang mengeruk goresan luka di hatinya. Cukup lama Abidzar termenung sampai dia mendengar suara pintu dibuka. Dari parfum yang aromanya terbawa angin, Abidzar tahu pelakunya adalah Ral.
"Kamu masih berani datang?" tanya Abidzar.
Pria itu begitu dingin. Bahkan enggan memutar kursinya untuk menyambut Ral. Sementara dibelakang sana, Ral tidak menggubris pertanyaan itu karena tujuannya kemari bukan untuk membahas masalah itu.
"Bid, aku mengundurkan diri!" kata Ral.
Pria itu meletakkan surat pengunduran dirinya di meja. Biasanya Ral selalu bercanda soal pengunduran dirinya. Tapi kali ini Ral tidak main-main, dia serius. Barang-barangnya juga sudah dia bereskan sebelum pergi menemui Abidzar.
"Terserah!" jawab Abidzar.
Sikapnya begitu acuh. Bahkan Abidzar mengatakannya tanpa berpikir. Ral yang diperlukan seperti itu tersenyum sinis lalu memutuskan pergi saat itu juga.
"Kalau begitu aku pergi sekarang!" pamit Ral.
Hanya dengan mendengar suara sol sepatu yang Ral kenakan, Abidzar tahu Ral sudah menuju pintu keluar. Tapi tepat sebelum membuka pintu Ral berhenti. Mengingatkan Abidzar untuk yang terakhir kali sebagai seorang teman.
"Bid, kamu akan menyesal jika menceraikan Dzakiyya!" kata Ral.
Perceraian antara Dzakiyya dan Abidzar belum di proses. Untuk itulah Ral memperingatkan Abidzar selagi masih ada kesempatan rujuk. Sayangnya Abidzar tidak tertarik untuk itu. Ral pun menyerah lalu pergi setelah mengatakan satu kalimat terakhirnya.
"Hati-hati dengan Joshua. Dia bukan orang baik!" kata Ral.
Akhirnya Ral meninggalkan perusahaan tanpa beban. Mengendarai mobilnya dan memilih rumah Dzakiyya sebagai tujuannya. Diceraikan saat sedang hamil, sungguh Ral tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Dzakiyya saat ini. Beberapa menit kemudian Ral sampai juga di tempat tujuannya. Tapi Ral tidak melihat Dzakiyya di kamar.
__ADS_1
"Apa dia pergi?" batin Ral.
Pria itu mulai mencari. Tapi tidak menemukannya sampai sayup-sayup terdengar suara dari kamar mendiang orangtua Dzakiyya.
"Dengan siapa dia bicara?" gumam Ral.
Ral pun mendekat. Melihat dengan jelas Dzakiyya sedang meringkuk dan memeluk foto orangtuanya. Dzakiyya tidak sendirian, karena beberapa langkah dari ranjang berdiri satu sosok yang tak lain adalah Talitha.
"Apa itu benar?" tanya Talitha.
Sudah lama Talitha berdiri di sisi ranjang. Tak terhitung pula dia bertanya. Tapi Dzakiyya masih enggan membuka mulut.
"Ayo jawab. Apa yang dikatakan Mas Abid itu benar?" tanya Talitha lagi.
Suara itu lebih keras. Sepertinya kata membentak lebih cocok daripada disebut dengan mengajukan pertanyaan. Tapi Dzakiyya masih tak bergeming. Apalagi yang harus dia katakan. Toh meskipun dia menjawab tidak, tidak akan ada yang mempercayainya.
"Apa kamu bisu?" tanya Talitha.
Gadis itu akhirnya kehilangan kesabaran. Bukan hanya ucapannya yang kasar tapi apa yang dia lakukan lebih kasar lagi. Talitha merampas foto yang Dzakiyya pegang sebelum membantingnya ke lantai.
Dzakiyya tidak marah. Yang dia lakukan hanyalah menatap foto yang bingkainya hancur berantakan. Sangat berbeda dengan Ral. Pria yang menjadi penonton itu akhirnya ikut campur begitu melihat kelakuan Talitha yang dia anggap kelewatan.
Talitha menoleh. Melihat pria yang dia cintai mengambil foto yang dia banting dan memberikannya pada kakak iparnya. Apa yang dilakukan Ral sangat biasa tapi dimata Talitha itu terlihat sangat romantis.
"Apa kamu melakukan hal itu dengan dia?" tanya Talitha.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari Dzakiyya. Talitha pun memberanikan diri bertanya pada Ral. Gadis itu tidak hanya berdiri di hadapan Ral. Dia juga menunjuk Dzakiyya dan mengganti panggilannya dari kata 'mbak' menjadi kata 'dia'.
"Ya, kami melakukannya. Aku yang memaksanya. Apa kamu puas sekarang?" jawab Ral.
Talitha membeku. Tidak menyangka Ral akan menjawab seperti itu. Bukankah seharusnya dia menyangkalnya. Apa itu berarti mereka benar-benar selingkuh.
"K-kamu kamu benar-benar melakukannya. Kenapa?" tanya Talitha.
"Karena dia cantik dan aku menyukainya," jawab Ral.
__ADS_1
Sungguh Talitha begitu cemburu mendengarnya. Dari sekian banyak pria kenapa harus Ral. Talitha tidak terima itu. Dari jawaban itu Talitha mengerti bukan Dzakiyya yang pantas dia salahkan. Tapi Talitha tetap menyalahkannya sebagai bentuk pelampiasan sakit hatinya.
"Apa yang kurang dari Mas Abid! Kenapa kamu tega melakukan ini padanya, ha?" tanya Talitha.
Gadis itu berdiri tepat di hadapan Dzakiyya sekarang. Protes keras karena Dzakiyya tega mengkhianati kakaknya.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Dzakiyya.
Kali ini Dzakiyya tidak hanya diam saja. Wanita itu bangkit, lalu berjalan ke meja rias untuk menyisir rambutnya. Talitha yang tidak suka diperlakukan seperti itu ingin menyusulnya tapi langkahnya terhenti oleh pertanyaan yang Ral lontarkan untuknya.
"Apa Abidzar begitu sempurna di matamu?" tanya Ral.
Nadanya begitu datar sementara wajahnya tanpa ekspresi. Hanya dengan melihatnya saja Talitha tahu Ral sedang marah.
"Kakakku baik, tampan, mapan dan bertanggungjawab. Bukankah itu sempurna?" jawab Talitha.
Dimata Talitha, tentu saja Abidzar sangat sempurna. Tapi tidak dimata Ral.
"Omong kosong. Bukan itu penentu kesempurnaan," sanggah Ral.
Tidak hanya menyangkal pendapat Talitha. Ral juga mulai mendekati Talitha sehingga membuatnya mundur beberapa langkah.
"Tidak mendengarkan penjelasan teman dan istrinya. Meragukan anaknya sendiri dan membuat istrinya hidup seperti di neraka. Itukah yang kamu sebut dengan sempurna?" cecar Ral.
"Mas Abid memperlakukannya dengan baik. Jadi kenapa kamu mengatakan hal seperti itu. Jika pernikahan kedua Mas Abid membuat hidupnya seolah di neraka, maka salahkan dirinya kenapa tak kunjung hamil!" teriak Talitha.
"Cukup!" bentak Ral.
Pria itu benar-benar marah sekarang. Kaget dan sakit hati itulah yang Talitha rasakan. Dan itu membuatnya diam seribu bahasa.
"Dengar, kalau kamu ingin menyalahkan seseorang maka salahkan ibumu. Dialah yang membuat Dzakiyya tidak kunjung hamil!" lanjut Ral.
"Itu tidak mungkin!" sangkal Talitha.
Ral menyeringai. Dia tahu reaksi seperti itulah yang akan Talitha berikan. Tapi Ral sudah tidak peduli karena tidak ada gunanya membuatnya mempercayai kata-katanya.
__ADS_1
"Terserah kamu percaya atau tidak. Aku tidak peduli. Karena kamu sudah tahu semuanya sebaiknya kamu pergi sekarang!" usir Ral.
...***...