Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Peri Diantara Bunga


__ADS_3

Satu bulan berlalu. Ral sudah kembali bekerja dengan posisi lebih rendah dari Joshua. Tepatnya bekerja di tim yang sama dan Joshua menjabat sebagai ketua divisinya. Selama periode itu Ral menyempatkan diri melakukan penyelidikan diam-diam soal kasus Dzakiyya.


Ral tahu Dzakiyya bukan orang yang ceroboh. Hanya saja terlalu baik, sama persis seperti Abidzar. Tidak tahu mana orang baik atau orang yang hanya berpura-pura baik. Untungnya Ral sudah berhasil mencium bau-bau konspirasi. Tapi memilih diam sampai menemukan buktinya.


"Mereka benar-benar jodoh. Sama-sama baik. Tapi juga sama-sama bodoh. Apa kalian pikir semua orang sama baiknya dengan kalian?" gumam Ral.


Sepertinya Ral terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Sampai tidak menyadari seorang rekan sedang memperhatikannya.


"Ral, apa tugasmu sudah selesai?" tanya rekan yang duduk di sebelah Ral.


"Akan segera ku selesaikan," jawab Ral.


Rekan itu menggelengkan kepalanya menyadari bagaimana kecepatan Ral. Sangat heran karena satu tugas saja memakan waktu setengah hari untuk menyelesaikannya. "Cepat selesaikan atau Pak Joshua akan marah!" tegur rekan itu.


"Oke," jawab Ral.


Beberapa menit kemudian Ral meringkas berkas yang baru dia kerjakan. Lalu membawanya langsung ke ruangan Abidzar. Dengan kemampuan yang dia miliki Ral bisa saja menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Tapi Ral tidak ingin terlihat menonjol dimata Joshua, makanya sengaja memperlambat cara kerjanya. Masa bodoh dengan Abidzar yang selalu membandingkannya dengan Joshua dan mengancam memecatnya.


"Bid, jangan bercanda. Kamu nggak akan berani memecat ku," batin Ral dengan senyum kemenangan.


Yah, Ral memang hanya pekerja yang masuk melalui jalur orang dalam. Tapi bagaimana jika orang dalamnya adalah Abidzar itu sendiri. Selain itu Ral punya kemampuan kok. Jika dia mau dia bisa saja menjadi Presdir di perusahaan keluarganya. Tapi Ral adalah penyuka kebebasan. Jabatan Presdir bukanlah tujuannya. Jika bukan untuk menepati janjinya pada Dzakiyya, dia pasti ogah menerima posisi COO di perusahaan besar ini.


PUK


Begitu masuk, Ral tidak tahan untuk memukul kepala Abidzar dengan berkas yang dia gulung. "Bid, kamu belum mati kan?" tanya Ral dengan satu alis yang terangkat.


Abidzar yang tertunduk lesu menoleh sebentar. Lalu kembali meletakkan kepalanya ke meja. Sontak saja sikapnya membuat Ral menggeleng kepala. Apa Abidzar segitu frustasinya karena terpisah dengan Dzakiyya. Keadaan Abidzar yang terlihat seperti tanaman kurang pupuk membuat Ral kasihan juga.


"Sudahlah, biarkan pria bodoh ini menjemput Dzakiyya. Jika terus begini takutnya dia mati. Kalau dia mati Dzakiyya pasti sedih dan aku lagi yang akan repot," batin Ral.


Ral mengeluarkan secarik kertas bertuliskan alamat. Lalu menyodorkannya ke Abidzar. Abidzar melihat sekilas alamat itu tapi tidak langsung menerimanya. "Apa ini?" tanya Abidzar.


"Dza ada disana," jawab Ral.


"Jadi kamu tahu Dza ada dimana?" tanya Abidzar.


Abidzar bangkit. Menarik kerah Ral karena emosi. Jika Ral tahu, kenapa tidak memberitahunya lebih awal. Bukankah Ral tahu bagaimana dirinya mencari Dzakiyya seperti orang gila.

__ADS_1


"Lepas!" kata Ral.


Ral mendorong Abidzar. Memperbaiki letak dasi yang miring dan berbalik arah. Pria itu diam sejenak beberapa saat, sebelum berjalan ke arah kaca dan mulai membakar rokoknya.


"Bid, aku ingin memberitahumu lebih awal. Tapi Dza mencegahku. Kau sendiri seharusnya tahu kenapa dia melakukan itu kan. Jika ingin marah, marah saja pada ibumu yang selalu menyulitkan Dza," ucap Ral.


Kata-kata Ral masuk di benak Abidzar. Yang dikatakan sahabatnya itu memang benar. Bukan Ral yang seharusnya menjadi sasaran kemarahannya. Lalu soal alasan Dzakiyya enggan pulang, Abidzar juga tahu itu. Abidzar pun sudah melakukan berbagai cara agar ibunya tidak menyulitkan Dzakiyya. Tapi selalu gagal. Abidzar bahkan mulai pesimis bisa menemukan solusi agar ibu dan istrinya akur.


"Sial!" umpat Abidzar.


Ral melirik Abidzar yang semakin frustasi. Ral mengerti bagaimana susahnya Abidzar menghadapi situasi seperti ini. Tapi apa yang bisa dia katakan. Karena diantara Dzakiyya dan Diana memang seharusnya tidak tinggal di bawah atap yang sama.


"Sudahlah, lebih baik kamu segera pergi menemui Dza. Dia pasti merindukanmu. Ingat, jangan sakiti dia. Aku bisa mematahkan kakimu kapan saja kalau kamu melakukannya," ancam Ral.


"Maaf atas sikapku barusan. Dan terimakasih sudah memberitahuku dimana dia tinggal," kata Abidzar.


"Bukan masalah. Bid, kamu berutang padaku sekali lagi. Ingat untuk membalasnya suatu hari nanti," kata Ral sambil berlalu.


.


.


.


"Apa ini rumahnya?" gumam Abidzar sesampainya di depan rumah kayu yang bentuknya persis seperti arahan warga.


Abidzar turun dengan gugup karena takut salah alamat. Tapi gugup itu tidak berlangsung lama karena matanya sudah menangkap sosok Dzakiyya. Berdiri mengenakan gaun putih yang terlihat seperti peri diantara bunga-bunga yang baru ia siram.


"Sayang, aku menemukanmu!" kata Abidzar sembari memeluk istri yang dia rindukan sampai hampir gila.


Dzakiyya terkejut dengan pelukan yang datangnya tiba-tiba. Tapi setelah dia sadar siapa pelakunya, dia berbalik arah. "Mas Abid, kamu datang?"


Dzakiyya menyembunyikan wajahnya di dada Abidzar. Mencium harum tubuh suami yang dia rindukan siang dan malam. Sementara Abidzar, pria itu tak kalah dramatis. Setelah mencium istrinya berkali-kali dia menatap Dzakiyya lekat-lekat dan meminta agar tidak pergi lagi.


"Sayang, jangan pergi lagi. Mas Abid nggak bisa hidup tanpa kamu," pinta Abidzar.


Dzakiyya mengangguk. Lalu membawa suaminya masuk ke rumah. Sesampainya di dalam Abidzar tidak melepaskan pelukannya. Tidak membiarkan Dzakiyya pergi meskipun hanya untuk membuat secangkir teh sekalipun.

__ADS_1


"Tetap seperti ini. Jangan pergi!" kata Abidzar.


Suasana seperti itu berlangsung cukup lama. Dzakiyya menurut, sementara Abidzar melihat isi rumah yang minim perabotan. Tapi pandangannya tertuju pada tumpukan lilin dan lampu emergency yang Dzakiyya simpan di meja. Tiga lilin diantaranya bahkan sudah menyala.


"Kenapa menyalakan lilin?" tanya Abidzar.


"Disini suka mati lampu saat malam," jawab Dzakiyya.


"Oh," jawab Abidzar.


Dzakiyya takut gelap. Jadi Dzakiyya mengantisipasinya dengan menyalakan lilin lebih awal.


"Mas Abid pasti belum makan. Dza siapin dulu ya. Takutnya lampunya,-"


Apa yang Dzakiyya takutkan terjadi. Lampu sudah mati sebelum dia menyiapkan makan untuk Abidzar. Kalau sudah begini memasak akan susah.


"M-mas?" panggil Dzakiyya.


"Nggak papa. Mas Abid bisa makan yang lainnya," kata Abidzar.


"Mas Abid mau makan mie instan?" tanya Dzakiyya.


"Enggak," jawab Abidzar.


"Lalu?" tanya Dzakiyya.


Bukannya menjawab, Abidzar hanya tersenyum. Tersenyum karena datang juga kesempatan untuk memakan Dzakiyya. Abidzar meniup dua dari tiga lilin yang menyala. Tentu saja pencahayaan yang minim itu membuat Dzakiyya panik.


"Kok ditiup sih, Mas?" protes Dzakiyya.


"Nggak usah takut. Kan ada Mas Abid," kata Abidzar sembari menarik Dzakiyya ke pelukannya.


Yah, awalnya Abidzar hanya memeluk Dzakiyya. Dari pelukan menjadi ciuman disertai rabaan lalu diikuti tangan nakal Abidzar yang meloloskan gaun istrinya. Dzakiyya yang mengerti kearah mana tujuan Abidzar langsung berhenti.


"Mas Abid?"


"Dza, jangan menolak! Ayo, layani suamimu!" kata Abidzar.

__ADS_1


...***...


__ADS_2