Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Korban Malpraktek


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Joshua, Ral menuju ruangan Abidzar. Sayangnya Ral tidak menemukannya, tapi malah berjumpa dengan Talitha yang baru saja meletakkan berkas penting.


"Abidzar tidak datang?" tanya Ral dingin.


Pria itu berdiri tepat di depan Talitha dengan meletakkan satu tangannya di saku. Melihat Talitha dengan ekspresi datar seolah tak pernah kenal. Padahal mereka sering bertemu bahkan pernah beberapa kali liburan bareng bersama Abidzar dan Dzakiyya.


"Tidak," jawab Talitha.


Sedikit canggung. Terlebih saat mengingat Abidzar mengatainya bau di hadapan Ral kemarin. Di depan pria yang dia taksir, bagaimana bisa kakaknya mengatakan hal memalukan seperti itu. Menurunkan pamornya saja.


Gadis itu berpaling muka. Tidak sanggup jika harus melihat pria berambut gondrong itu terlalu lama. Sementara Ral masih menunjukkan ekspresi yang sama. Soal Talitha yang menyukainya, dia tahu itu. Tapi karena Talitha tidak mengatakan apa-apa maka tidak ada yang perlu dia katakan. Tapi hari pengecualian. Karena Ral membutuhkan bantuannya.


"Aku akan membiarkanmu berkencan satu kali denganku asal kamu mau membantuku," kata Ral.


Tawaran itu terlalu tiba-tiba. Tapi sukses membuat mata Talitha membesar karena berkencan dengan Ral adalah mimpinya. Tapi dengan cepat Talitha merubah ekspresinya agar tidak ketahuan.


"Apa?" tanya Talitha.


Ral membisikkan permintaannya. Ingin Talitha membantunya mengawasi Joshua dan menjelaskan alasannya. Beberapa kali mimik wajah Talitha berubah karena tidak menyangka ada seseorang yang Ral curigai dibalik mundurnya sang kakak ipar.


"Apa kamu mengerti?" tanya Ral.


"Itu mudah," jawab Talitha.


"Ingat, jangan beritahu siapapun. Ini rahasia," kata Ral mengingatkan.


Pria itu berlalu setelah memberikan peringatan untuk Talitha. Sementara Talitha mengatakan sesuatu sebelum Ral pergi. "Aku melakukannya bukan untuk kencan denganmu. Aku melakukannya untuk Mbak Dza," kata Talitha.


"Terserah!" sahut Ral.


Talitha hampir melemparkan heelsnya pada Ral. Tidak menyangka Ral masih begitu dingin padanya. Kalau dipikir-pikir, Talitha mulai iri dengan Dzakiyya yang selalu mendapatkan prioritas dari Ral.


"Mbak Dza, bagaimana caramu mendapatkan simpati manusia kulkas itu?" batin Talitha.


Sementara itu di tempat yang lain, Diana termenung di kamarnya. Dengan pengalaman hidupnya yang lebih dari 50 tahun, tentu saja tingkah Abidzar belakangan ini mengusik pikirannya. Selalu muntah dan indera penciumannya bermasalah. Itu adalah beberapa kasus yang biasanya dialami ibu hamil.


"Apa mungkin Dzakiyya itu hamil?" batin Diana.


Kecurigaan Diana jelas mengarah kesana. Nafisa hampir melahirkan, jadi tidak mungkin Abidzar mengalami morning sickness di usia kehamilan seperti itu. Hanya saja yang mengganggunya adalah, kenapa Dzakiyya bisa hamil. Bukankah seharusnya rahimnya sudah rusak?

__ADS_1


"Tidak, aku harus memastikannya," batin Diana.


Diana pun segera menghubungi Joshua. Memintanya untuk mencari tahu tentang kebenaran itu. Selain itu juga memintanya menyelidiki apa saja yang dilakukan Dzakiyya akhir-akhir ini. Setelah memastikan Joshua mengerti, Diana pun menyudahi panggilannya. Dan tidak lama setelah Diana menutup panggilannya Abidzar muncul dengan membawakannya sepiring buah segar.


"Ma, makan buah ya?" kata Abidzar.


Diana tersenyum manis. Menunjukkan sifatnya yang keibuan di hadapan Abidzar. "Iya, sayang!" sahut Diana.


Diana meraih sepiring buah yang Abidzar berikan. Lalu memakannya beberapa potong sebelum mulai mengorek informasi dari Abidzar.


"Masih mual?" tanya Diana.


Tangan itu begitu lembut menyentuh wajah Abidzar. Abidzar yang merasa diperhatikan ibunya hanya tersenyum. Lalu menggenggam tangan itu sembari membayangkannya betapa bahagianya jika Dzakiyya juga mendapatkan perhatian seperti ini.


"Sudah baikan, Ma!" jawab Abidzar.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Diana ketika melihat Abidzar sedikit aneh.


"Nggak kenapa-napa," jawab Abidzar.


Diana tidak marah satu minggu ini. Takutnya kalau Abidzar menyebut nama Dzakiyya mamanya akan kumat lagi.


"Dza kan istri Abid, Ma! Wajar kalau Abid memikirkannya kan?" jawab Abidzar.


Abidzar berbicara selembut mungkin agar tidak menyinggung ibunya. Tapi reaksi Diana sungguh diluar perkiraan Abidzar.


"Kalau begitu minta dia pulang," jawab Diana.


Diana melepaskan genggaman tangan Abidzar. Lalu memutar kursi rodanya dan melihat ke arah jendela.


"Mama tahu Dzakiyya pergi karena mama. Mama menyesal, Bid. Tolong bilang sama Dzakiyya mama minta maaf ya. Nggak seharusnya mama bersikap seperti itu. Mama janji akan memperlakukannya dengan baik dan menganggapnya sebagai anak mama sendiri di masa depan. Jadi tolong jemput dia ya, Bid?" kata Diana.


"M-ma, mama serius mengatakan ini, Ma?" tanya Abidzar.


Sedikitpun, Abidzar tidak curiga. Entah terlalu baik atau terlalu bodoh. Tapi akting yang diperlihatkan Diana benar-benar sempurna. Dengan sesenggukan dia mengakui kesalahannya yang kasar dan sering memaki Dzakiyya. Menunjukkan penyesalan yang tulus bahkan sampai menjatuhkan diri dari kursi roda untuk menunjukkan keseriusannya.


"Bawa Dza pulang ya, Bid! Mama kangen. Mama menyesal," kata Diana.


"Ma, jangan begini! Mama tenangin diri mama dulu," kata Abidzar.

__ADS_1


Abidzar segera mengangkat mamanya ke ranjang. Lalu merebahkannya agar wanita itu istirahat. Abidzar terlihat sangat senang. Bahkan menciumi tangan Ibunya berkali-kali saking bahagianya. 'Mama kangen Dza' itu adalah kalimat biasa, tapi untuk menunggu kalimat itu keluar dari mulut Ibunya Abidzar sudah menunggu sangat lama.


"Bid, nanti kita jemput Dza sama-sama ya?" pinta Diana yang mendapatkan anggukan dari Abidzar.


.


.


.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Dzakiyya.


Hari itu Dzakiyya pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan obatnya. Wanita itu masih tenang. Tidak yakin obat yang dia konsumsi bermasalah karena semua obat itu adalah obat legal dan sebagian besar direkomendasikan oleh dokter. Tapi jawaban dari dokter sangat berbeda dengan apa yang ada dia pikirkan.


"Bu Dzakiyya, tidak ada masalah dengan vitamin dan beberapa suplemen. Tapi obat penyubur kandungan ibu sangat bermasalah," jawab Dokter.


"Maksud Dokter?" tanya Dzakiyya.


"Obat ini memang penyubur kandungan terbaik. Tapi jika itu asli. Sayangnya yang Anda konsumsi ini palsu," jawab Dokter dengan raut serius.


"Palsu?" tanya Dzakiyya.


"Iya, ini palsu. Saya ingin bertanya darimana Bu Dzakiyya mendapatkan obat ini. Obat ini tidak memiliki fungsi menyuburkan kandungan. Malah sebaliknya, dia mengikis kesuburan rahim orang yang mengkonsumsinya. Penggunaan dalam jangka panjang bahkan bisa menyebabkan kemandulan. Jadi, tolong kerjasamanya agar kami bisa melapor ke pihak berwajib atas peredaran obat terlarang ini," jelas dokter.


Dzakiyya tidak bisa berkata-kata lagi. Dia pun menjelaskan apapun yang dia tahu. Berharap tidak ada lagi wanita yang menjadi korban atas beredarnya obat terlarang itu.


Setelah menjelaskannya, Dzakiyya pun keluar dari ruangan dokter dengan kaki gemetaran. Jelas-jelas dia mendapatkan obat itu dari dokter. Jadi bagaimana bisa begini.


Dzakiyya merasa ngeri. Untung suaminya merampas obat itu dan melarangnya mengkonsumsinya hari itu. Jika tidak pasti Dzakiyya masih terus meminumnya dan benar-benar mandul seutuhnya. Tapi bagaimana bisa seorang dokter memberikan obat yang seperti itu.


Dzakiyya menundukkan kepalanya. Masih tidak percaya dia menjadi korban malpraktek dokter seperti yang ada di Tv. Tapi beberapa saat kemudian kecurigaannya mengarah pada ibu mertuanya. Diana yang merekomendasikan dokter itu. Diana juga yang memaksa Dzakiyya untuk memeriksakan rahimnya dengan dalih ingin segera punya cucu. Jadi mereka harus memastikan bahwa rahimnya sehat. Tapi dokter itu malah memberikan vonis mandul dan menyarankan satu obat sebagai ikhtiarnya untuk memiliki anak.


"Ma, apa mama sengaja?" gumam Dzakiyya.


Saat itu juga Dzakiyya mengambil ponselnya untuk menghubungi Abidzar. Dzakiyya ingin bertemu dengannya sekarang juga untuk mengatakan semuanya. Hamilnya, obatnya juga kecurigaannya.


"Mas, Mas Abid bisa kerumah?"


...***...

__ADS_1


__ADS_2