Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Mamaku Tidak Lumpuh


__ADS_3

"Jadi, orang itu ternyata mama?" tanya Abidzar.


Mata Abidzar membulat sempurna begitu melihat rekaman CCTV yang sudah polisi atur urutannya. Mulai dari kedatangan Diana ke rumah sakit sampai Diana meninggalkan rumah sakit lagi.


Lalu dilanjutkan dengan adegan dimana Diana memasuki pusat perbelanjaan untuk mengganti pakaian sebelum membuangnya ke tempat sampah. Semuanya terekam begitu jelas dan itu memberikan pukulan telak untuk Abidzar.


"Ya Tuhan. Kenapa kamu melakukan ini, Ma? Bukankah mama bilang menyesal karena tidak sempat menjenguk Mama Santi sebelum meninggal. Jadi semua itu bohong?" tanya Abidzar.


Abidzar mengusap wajahnya dengan kasar. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Beberapa kali Abidzar mengacak-acak rambutnya. Baginya sangat sulit untuk mempercayai ini, tapi itulah kenyataannya.


"Pak Abidzar, meskipun ternyata wanita itu ibu Anda sendiri. Tapi belum bisa dipastikan apakah beliau ada hubungannya dengan kematian mertua Anda. Kami harus melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan menginterogasi beliau," lanjut kepala penyelidik.


Abidzar mengangguk tanda mengerti. Dia tahu tidak bisa langsung menuduh ibunya hanya karena video itu. Bagaimanapun juga, apa yang terjadi di dalam kamar pasien saat itu hanya ibu dan mertuanya saja yang tahu.


Tapi meskipun begitu Abidzar memiliki keyakinan besar bahwa ibunya pasti ada kaitannya dengan kematian mertuanya. Bayangkan saja, kalau memang ingin menjenguk kenapa harus menunggu dia dan Dzakiyya pergi. Lalu kenapa juga harus memakai pakaian seperti itu dan membuangnya. Bukankah tujuannya sudah sangat jelas bahwa dia ingin membuang barang bukti kejahatannya?


"Bagaimana, Pak Abidzar. Apa kita akan melanjutkan penyelidikan ini?" tanya petugas sekali lagi.


Abidzar melihat beberapa polisi yang menunggu jawabannya. Tentu saja penyelidikannya harus dilanjutkan. Jika memang tidak bersalah maka Abidzar akan bersyukur. Tapi jika memang Diana melakukan sesuatu hingga mertuanya wafat, bukankah dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan menjalani hukumannya?


"Silakan, Pak! Silahkan melanjutkan proses selanjutnya!" kata Abidzar.


Sangat berat mengatakan itu. Tapi demi Dzakiyya dan mendiang mertuanya, Abidzar harus melakukannya. Karena bagaimanapun juga menghilangkan nyawa seseorang adalah sebuah kejahatan tak termaafkan.


"Baiklah, tapi kami masih harus menyiapkan surat penangkapan dan lainnya. Kami akan segera menjemput ibu Anda setelah semuanya siap," kata Polisi.


"Baik, Pak! Terimakasih!" kata Abidzar.


Abidzar meninggalkan kantor polisi seolah tanpa nyawa. Lalu segera masuk ke mobil sebelum kaki-kakinya semakin lemas. Di dalam mobil itu Abidzar menertawakan kebodohannya sendiri. Bodoh karena tidak mempercayai istri dan sahabatnya. Bodoh karena menyangkal tuduhan Ral saat pria itu mengatakan ibunya sengaja membuat Dzakiyya mandul.


"Sial! Sial! Sial!" umpat Abidzar.

__ADS_1


Pria itu memukul kemudi beberapa kali. Abidzar selalu menganggap ibunya orang yang baik, lembut dan penyayang. Jadi bagaimana orang yang memiliki sifat seperti itu melakukan kejahatan seperti yang Ral tuduhkan. Sejauh yang Abidzar tahu, satu-satunya kekurangan ibunya hanyalah tidak memiliki kecocokan dengan Dzakiyya. Dan itulah yang membuat mereka sering salah paham dan bertengkar.


Yah Abidzar selalu beranggapan seperti itu selama ini. Tapi setelah melihat rekaman CCTV barusan, Abidzar sudah kehilangan semua kepercayaan dan rasa hormatnya untuk ibunya. Bahkan meskipun polisi mengatakan belum tentu ibunya melakukan kejahatan, tapi jauh di dalam lubuk hatinya Abidzar sudah percaya bahwa ibunya pastilah pembunuh mertuanya.


"Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang. Bagaimana caraku mengatakan ini semua pada Dzakiyya?" gumam Abidzar.


Masih jelas bagaimana hancurnya Dzakiyya saat ibunya meninggal. Abidzar yakin luka itu tidak akan sembuh seumur hidup Dzakiyya. Dan nanti seandainya Dzakiyya tahu mertuanya sendirilah yang menghabisi ibunya, perasaan hancur seperti apa yang akan dia rasakan.


"Tuhan, kenapa cobaan ini begitu berat?" keluh Abidzar.


Abidzar semakin tenggelam dalam kepedihan. Kenapa semua orang seolah mempermainkannya. Kenapa ibunya tega melakukan ini padanya. Apa salahnya. Kalau memang dia bersalah, kenapa tidak menghukumnya seorang. Kenapa istrinya juga harus dikorbankan.


"Dza, maaf! Maaf karena membuatmu merasakan penderitaan luar biasa seperti ini," sesal Abidzar.


Bagi sebagian besar pria, menangis adalah hal yang tabu. Begitupun dengan Abidzar. Tapi kali ini hal itu tidak berlaku untuk Abidzar. Karena saat ini dia benar-benar menangis.


.


.


.


Wanita itu terlihat sibuk mengurus Dzakiyya. Sementara Haris sibuk membantu sopir untuk memindahkan beberapa barang ke mobil karena sore ini mereka akan piknik sembari menikmati matahari terbenam.


"Hati-hati!" kata Haris saat Dzakiyya hendak naik ke mobil.


Pria itu bahkan melindungi kepala Dzakiyya dengan tangannya agar tidak terbentur bodi mobil. Dzakiyya yang diperlukan seperti itu pun tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya.


"Om, Dzakiyya bukan anak kecil!" kata Dzakiyya.


Calon ibu itu tersenyum begitu manis sampai membuat Haris ingin mengambil karung untuk mengarunginya. Sayangnya Dzakiyya bukan anak kucing jadi Haris tidak bisa melakukannya.

__ADS_1


"Dimata om, selamanya kamu tetap akan jadi anak kecil," kata Haris.


Pria itu mencium ubun-ubun Dzakiyya. Lalu mencubit pipinya yang chubby. Sementara Bella, setelah melahirkan Ral lebih dari 28 tahun, dia baru menyesal kenapa tidak melahirkan anak perempuan seperti Dzakiyya agar bisa melihat pemandangan indah seperti ini setiap hari.


"Sudah! Ayo cepat berangkat. Keburu mataharinya tenggelam!" kata Bella.


Merekapun langsung naik ke mobil. Lalu berangkat ke tempat tujuannya. Mereka sepertinya terlalu fokus dengan obrolan mereka tadi, sampai tidak menyadari seseorang sedang mengintipnya. Dia adalah Abidzar yang sengaja datang untuk melihat Dzakiyya dari kejauhan.


"Maafkan aku, Dza!" kata Abidzar.


Abidzar berbalik arah setelah mobil yang mereka tumpangi sudah tak terlihat. Abidzar senang melihat Dzakiyya bahagia. Dia senang melihat orangtua Ral memperlakukan Dzakiyya sangat baik. Tapi sayangnya, cepat atau lambat senyum manis itu akan hilang karena ulah ibunya.


Setelah melihat Dzakiyya, Abidzar memutuskan pulang kerumah. Begitu banyak hal yang terjadi hari ini dan itu membuat Abidzar lelah. Dia ingin istirahat meskipun hanya sebentar.


Dan kamar pilihannya adalah kamar milik Dzakiyya yang selalu dia datangi saat dia merindukannya. Tapi langkahnya terhenti saat melihat kursi roda ibunya berada di tempat yang bukan seharusnya.


"Mama pasti kebingungan sekarang!" batin Abidzar.


Enggan memang. Tapi Abidzar tetaplah anak yang baik. Meskipun dia membenci ibunya sekalipun dia masih mau mengantarkan kursi roda itu ke kamar Diana.


"Kenapa pintunya terbuka. Apa ada tamu di dalam?" gumam Abidzar.


Entah apa yang terjadi. Tapi anehnya, hanya dengan berdiri di depan pintu itu sudah membuat Abidzar merasa tertekan dan sesak. Abidzar pun memutuskan untuk mengatur nafasnya beberapa saat. Tapi dari pintu yang terbuka sedikit itu Abidzar melihat pemandangan yang membuatnya kehilangan kata-kata.


"T-tunggu, apa aku sedang berhalusinasi?" batin Abidzar.


Pria itu mengucek matanya beberapa kali. Lalu menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak menimbulkan suara. Dan sepasang mata itu membulat sempurna ketika melihat ibunya berdiri dengan tegak di depan meja rias. Tidak, dia tidak hanya berdiri. Tapi juga berjalan sembari berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


"S-sejak k-kapan mama bisa berjalan. Atau jangan-jangan selama ini dia hanya pura-pura lumpuh?" batin Abidzar.


...***...

__ADS_1


__ADS_2