Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Salah Paham


__ADS_3

"Bukan seperti itu, Dza!" jawab Abidzar.


Abidzar hanya takut kejadian seperti hari ini terulang lagi. Untuk itulah dia melarang Dzakiyya meminum obatnya. Tapi Abidzar tidak tahu kalau hal itu malah membuat Dzakiyya kecewa.


"Lalu?" tanya Dzakiyya.


"Mas Abid akan mengganti obatnya dengan obat lain. Jadi tolong jangan salah paham," jawab Abidzar.


Pria itu mengalah. Memberikan alasan yang tepat agar tidak menyinggung perasaan Dzakiyya. Setelah mendengar penjelasan itu Dzakiyya tidak mengatakan apa-apa lagi sementara Abidzar hanya membelai rambut istrinya. Suasana menjadi hening beberapa saat. Sampai ponsel Abidzar berdering dengan menunjukkan nama 'mama Diana' di layarnya.


Dzakiyya melirik suaminya sekilas. Lalu menutup matanya dan berpura-pura tidur. "Mama pasti memintamu pulang. Pergi saja. Dza sudah biasa diperlakukan seperti ini," batin Dzakiyya.


Sementara Abidzar, dia ragu untuk mengangkat telepon dari mamanya. Terlebih ketika melihat Dzakiyya sempat melirik dan langsung berpura-pura tidur. Tapi panggilan dari Diana kembali berulang hingga membuat Abidzar cemas. Bagaimana kalau terjadi sesuatu di rumah. Setelah memikirkan sejenak akhirnya Abidzar pun memutuskan untuk mengangkatnya.


"Hallo, Ma! Ada apa?" tanya Abidzar.


"Bid, cepat pulang! Nafisa mengeluh perutnya sakit. Takutnya terjadi apa-apa sama janinnya!" jawab Diana dari seberang sana.


Abidzar langsung memijit keningnya yang pusing. Kenapa dia bisa selalu terjebak dalam situasi seperti ini. "Ma, bukankah ada satpam. Minta mereka mengantar Nafisa ke rumah sakit yang sama dengan Dzakiyya. Abidzar akan mengurusnya sesampainya di rumah sakit," kata Abidzar.


Untuk pertama kalinya Abidzar menutup panggilan telepon meski mamanya belum selesai bicara. Abidzar sudah lelah. Benar-benar lelah dengan adanya dua istri yang sama-sama sedang membutuhkan perhatian ekstra.


Bagaimanapun juga Abidzar hanyalah manusia biasa. Ada kalanya ingin marah dan melepaskan amarahnya. Jadi sebelum itu terjadi dan Dzakiyya menjadi sasaran kemarahannya Abidzar memutuskan untuk pergi. Menghirup udara di luar di temani sebatang rokok yang lagi-lagi dia bakar.


Abidzar baru beberapa detik duduk di bangku taman. Kepulan asap rokok baru dia hembuskan sekali tapi seseorang sudah berjalan mendekatinya.


"Baru kemarin aku memintamu untuk tidak menyakiti Dzakiyya. Tapi apa yang terjadi hari ini. Haruskah aku mematahkan kakimu sekarang?" tanya Ral yang sudah berdiri di belakang Abidzar dengan komentar buruknya.


Abidzar yang mendengarnya tersenyum kecut. Entah itu suara atau kata-kata yang keluar dari mulut Ral, semuanya terdengar sangat menyebalkan.


"Mana aku tahu akan ada hal semacam ini," sahut Abidzar kesal.


Ral bersandar di pagar pembatas. Melihat dengan seksama bentuk Abidzar yang jauh lebih buruk dari kemarin. Dengan situasi yang rumit seperti ini, Ral semakin pesimis. Sepertinya tidak ada masa depan yang cerah untuk Abidzar dan Dzakiyya kedepannya.


"Hubunganmu dengan Dzakiyya sepertinya sudah tidak tertolong!" ucap Ral lagi.


"Apa maksudmu?" tanya Abidzar.


"Bukankah sudah sangat jelas. Haruskah aku mengatakannya?" tanya Ral.


Abidzar tersenyum sinis. Dia tidak butuh Ral mengatakannya karena dia tahu apa yang sedang dibicarakan Ral.


"Dengar, Ral. Tidak akan ada perpisahan antara aku dan Dzakiyya. Jadi jangan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal," kata Abidzar.


"Jangan terlalu egois. Kalau kamu tidak bisa membahagiakannya, bukankah lebih baik kamu melepaskannya?" kata Ral tak mau kalah.

__ADS_1


"Ral, kalau hanya itu yang ingin kamu katakan. Lebih baik kamu pergi!" usir Abidzar.


"Dengan senang hati. Karena tujuanku kemari bukan untuk melihatmu," kata Ral.


Ral berbalik arah. Meninggalkan Abidzar sendirian karena tujuannya kemari adalah menemui Dzakiyya. Sementara Abidzar dia akhirnya melepaskan puntung rokok yang dia hisap dan menginjaknya sampai mati.


Disisi lain, Ral akhirnya sampai di depan pintu ruangan Dzakiyya. Ral sempat mengintip ke dalam untuk melihat apa yang dilakukan Dzakiyya. Wanita itu sudah tidak berbaring di ranjang lagi. Melainkan duduk di kursi roda melihat Abidzar dari balik kaca. Ral menghela nafas panjang, memperbaiki moodnya sebelum masuk ke dalam.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Dzakiyya begitu mendengar langkah kaki.


Ral tidak langsung menjawab. Tapi berdiri di belakang Dzakiyya dan melihat Abidzar dari sisi yang sama.


"Jadi, apa kau sudah memutuskannya?" tanya Ral.


Dzakiyya menoleh. Memperlihatkan wajah sendu yang tidak mampu dia tutupi dengan senyuman. "Memutuskan apa?" tanya Dzakiyya.


"Perceraian kalian," jawab Ral.


Ral menarik sebuah kursi. Lalu mengubah posisinya dengan duduk di samping Dzakiyya yang masih setia melihat Abidzar.


"Kenapa aku harus bercerai. Aku sangat mencintainya," kata Dzakiyya.


"Dia juga sangat mencintaimu. Aku tahu itu. Tapi apa yang kau dapatkan dengan mencintainya. Apa kamu benar-benar bahagia?" tanya Ral.


Dzakiyya menggigit bibirnya. Tentu saja Dzakiyya bahagia. Tapi itu dulu. Sebelum mertuanya semakin keras. Sebelum Abidzar menikah lagi dan sebelum istri keduanya dinyatakan hamil.


Dua tetes air mata jatuh dan Dzakiyya mengangkat wajahnya agar air mata itu tidak semakin tumpah.


"Jika itu kamu. Apa yang akan kamu lakukan jika ibumu memintamu menikah lagi?" tanya Dzakiyya.


"Tentu saja aku menolaknya," jawab Ral.


"Meksipun itu permintaan ibumu yang sedang kritis?" tanya Dzakiyya.


"Hidupku bukan candaan. Meskipun dia ibuku aku tidak akan membiarkannya ikut campur urusan pribadiku," jawab Ral.


"Lalu bagaimana jika istrimu mandul?" tanya Dzakiyya lagi.


"Jika istriku mandul dan ibuku meminta cucu aku bisa mengambil seorang anak dari panti asuhan," jawab Ral santai.


Ral mendekat. Memegang tangan Dzakiyya dan menatapnya dengan tajam. "Dzakiyya, hanya karena kamu tidak bisa hamil bukan berarti kamu tidak bisa menjadi seorang ibu. Jangan hanya karena tidak ada janin yang tumbuh di rahimmu lalu kamu mengabaikan keberadaan bayi-bayi lainnya," lanjut Ral.


Ral semakin kesal dengan apa yang dialami Dzakiyya. Menikah lagi bukanlah satu-satunya cara untuk punya anak. Masih ada banyak jalan lainnya. Jadi kenapa Abidzar harus menikah lagi jika hanya akan menyakiti keduanya. Tidak bisakah melawan ibunya sedikit saja.


Sementara itu, Dzakiyya meresapi ocehan Ral dengan cermat. Sebenarnya cara itu pernah terlintas di benak mereka. Abidzar juga sudah menyampaikannya pada Talitha dan Diana tapi Diana menolak mentah-mentah ide itu.

__ADS_1


"Bercerai sajalah. Apa gunanya menikah jika ini yang kamu dapatkan!" kata Ral mulai emosi.


"Aku mencintai Mas Abid, Ral!" lirih Dzakiyya.


"Lalu bisakah dia mengubah ibunya agar tidak begini padamu. Sampai kapan kamu jadi bodoh begini, Dza?" tanya Ral.


Dzakiyya terdiam. Yah, dia memang bodoh. Tapi untuk meninggalkan Abidzar, Dzakiyya benar-benar tidak bisa.


"Sudahlah. Lupakan apa yang baru saja ku katakan. Tapi jika rumah Abidzar tidak lagi nyaman untukmu ingatlah masih ada rumahku yang terbuka lebar untukmu," kata Ral sembari memeluk Dzakiyya.


Dzakiyya menghapus air mata yang lagi-lagi merembes. Tidak menyangka masih ada orang sebaik Ral yang masih menghargainya meskipun dia mandul dan dipandang sebelah mata.


"Ral, sepertinya calon istrimu sangat beruntung!" puji Dzakiyya diselingi sebuah senyuman.


"Jadi bagaimana kalau kamu jadi istriku saja?" tanya Ral. Menghibur Dzakiyya dengan candaannya.


"Jangan bercanda. Kita sudah sepakat sebelumnya," tolak Dzakiyya.


Karena Dzakiyya sedikit baikan, Ral pun mengeluarkan sebuah map. Lalu memberikannya pada Dzakiyya.


"Apa ini?" tanya Dzakiyya.


"Joshua itu mencurigakan. Itu adalah track record miliknya selama menjadi tangan kananmu. Baca itu setelah kau baikan," jawab Ral.


"Eum," jawab Dzakiyya dengan menganggukkan kepalanya.


"Ngomong-ngomong, sekarang sudah larut malam. Karena brengsek itu sibuk mengurus istrinya yang lain, haruskah aku yang mengurusmu malam ini?" tawar Ral.


Dzakiyya akhirnya tertawa kecil. Dia hanya akan pergi tidur. Dia tidak butuh seseorang untuk merawatnya. Lagipula dia sudah baikan.


"Kenapa tertawa?" tanya Ral.


"Aku sudah sehat. Lebih baik kamu pulang," jawab Dzakiyya.


"Oke," kata Ral.


"A-apa yang mau kamu lakukan?" tanya Dzakiyya.


Kali ini Ral tidak hanya berdiri. Dia juga memeluk Dzakiyya sangat erat.


"Hei, lepaskan aku! Orang akan salah paham jika melihat kita seperti ini!" kata Dzakiyya panik.


Ral hanya tertawa. Sebelum Dzakiyya kenal dan menikah dengan Abidzar, dialah yang selalu menjaga Dzakiyya. Jadi jika ada yang salah paham hanya karena pelukan seperti ini, maka orang itu harus dihajar.


"Tenanglah, tidak akan ada hal yang seperti itu, oke?" kata Ral sembari mendaratkan sebuah ciuman di pucuk rambut Dzakiyya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2