
"Lelah sekali," gumam Abidzar.
Pria itu akhirnya kembali ke ruangannya. Lalu melepas jas serta melonggarkan dasi yang mengekangnya lebih dari setengah hari. Baru juga maju beberapa langkah, perhatian Abidzar langsung tertuju pada kursinya yang bergoyang.
"Apa itu Ral?" batin Abidzar.
Abidzar mendekat ke kursi dan mendapati Ral sedang duduk disana seperti biasa. Entah tidur atau tidak, tapi yang jelas Ral sedang menutup matanya rapat-rapat.
"Ral?" panggil Abidzar.
Abidzar menyentuh pundak Ral yang setengah bermimpi. Sontak saja tindakan Abidzar membuat Ral mengumpat saking terkejutnya.
"Sialan!" umpat Ral.
Pria itu akhirnya terbangun. Sementara Abidzar menanggapinya dengan menyunggingkan senyum.
"Ada apa? Tumben kamu kemari," tanya Abidzar.
Abidzar duduk di sofa. Merenggangkan tubuhnya yang lelah tanpa ada niat mengusir Ral dari tempat duduknya.
Disisi lain Ral tersenyum sinis. Benar kata Abidzar. Dia sudah lama dia tidak masuk ke ruangan Abidzar. Terakhir kali Ral melipir ke ruangan ini seharusnya saat dia memberikan alamat Dzakiyya waktu itu.
"Belakangan ini kamu terlihat sibuk," kata Ral basa-basi.
"Begitulah," jawab Abidzar.
Ral menghela nafas panjang. Lalu bangkit dari kursinya sembari mengambil kalender yang terpajang di sudut meja. Kalender itu penuh dengan coretan menggunakan tinta dan kode yang berbeda. Tapi dari sekian banyak coretan, ada dua yang menarik perhatiannya.
"Ini apa?" tanya Ral penasaran.
"Jadwal kontrol rutin mama," jawab Abidzar.
"Lalu yang ini?" tanya Ral lagi
"Itu jadwal pemeriksaan kehamilan Nafisa," jawab Abidzar.
Ral mengangguk tanda mengerti. Tapi ada satu hal yang menggangu Ral. Karena dari sekian banyak pengingat, tidak satupun yang ada hubungannya dengan Dzakiyya. Bahkan tanggal ulang tahun Dzakiyya pun bersih tanpa coretan apapun.
"Apa pria brengsek ini lupa ulang tahun Dzakiyya?" batin Ral
"Kenapa melihatku begitu?" tanya Abidzar begitu melihat ekspresi yang Ral tunjukkan.
"Tanggal ini kamu senggang?" tanya Ral dengan menunjuk kalender di tangannya.
__ADS_1
Abidzar melihat kalender itu, lalu menjawab tanpa mengingat hari penting yang sebelumnya tidak pernah dia lupakan. "Aku senggang. Ada apa. Kamu mau ngopi bareng?" tanya Abidzar.
Ral menggelengkan kepalanya. Tapi dengan cekatan menambahkan satu jadwal untuk Abidzar. Bukan hanya itu saja, Ral juga merampas ponsel Abidzar dan menambahkan pengingat cadangan agar Abidzar tidak lupa.
"Pastikan untuk tidak melupakannya!" kata Ral mengingatkan.
Ral mengembalikan ponsel Abidzar. Begitupun dengan kalender yang kembali ke posisi semula. Mata Abidzar sempat mengekor. Di sana tertulis jelas kata 'Dzakiyya's birthday' meskipun tulisan Ral sangat acak-acakan.
"Ah, kenapa aku bisa lupa hari ulang tahun Dzakiyya?" ucap Abidzar.
"Tidak masalah. Masih ada waktu satu minggu. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?" tanya Ral.
"Aku tahu. Terimakasih, Ral!" jawab Abidzar.
Setelah memastikan Abidzar mengerti apa tujuannya kemari, Ral pun angkat kaki. Tentu saja dengan meninggalkan beberapa patah kata agar Abidzar segera pulang dan melihat apa yang terjadi.
"Pulanglah lebih awal. Seseorang sedang membutuhkanmu," kata Ral.
Pria itu akhirnya melenggang keluar. Tidak peduli dengan Abidzar yang mulai bertanya-tanya apa yang terjadi di rumah sampai Dzakiyya membutuhkannya. Karena bagaimanapun juga Ral sadar posisinya. Dia hanyalah orang luar. Dia tidak bisa ikut campur sesuka hatinya meskipun sangat menginginkannya.
"Ini yang terakhir, Bid! Sekali lagi aku melihat Dzakiyya terluka. Atau sekali saja kamu mengabaikannya lagi. Aku tidak akan segan menghajarmu!" gumam Ral.
.
.
.
Sekarang ini Abidzar sudah berada di depan rumahnya. Tapi terlalu malas untuk turun dari mobil. Entah apa yang terjadi, tapi yang jelas Abidzar tidak memiliki tenaga bahkan untuk berjalan. Kaki-kakinya yang sehat seolah lemas tanpa tulang dan terkadang kepalanya sedikit pusing.
"Aku harus segera minum obat dan istirahat," batin Abidzar.
Setelah mengumpulkan kekuatannya, Abidzar pun turun. Baru juga masuk, Talitha sudah menyambutnya dengan wajah tidak bersahabat.
"Ada apa?" tanya Abidzar.
Meksipun sedang sakit, rupanya Abidzar masih memperhatikan adiknya.
"Mama ngamuk lagi," jawab Talitha.
"Mama marahin Mbak Dza lagi?" tanya Abidzar.
Talitha mengangguk. Lalu menceritakan secara singkat apa yang terjadi. Setelah itu barulah dia meminta kakaknya menemui kakak iparnya. "Mas Abid lihat Mbak Dza gih. Dia pasti sedih," kata Talitha.
__ADS_1
Kini giliran Abidzar yang mengangguk. Pantas saja Ral memintanya cepat pulang. Ternyata ada hal semacam itu di rumah.
Abidzar pun bergegas menuju kamar Dzakiyya. Sialnya tubuh Abidzar sedang tidak berkompromi. Karena sebelum Abidzar berhasil meraih gagang pintu, dia merasakan mual yang luar biasa.
"Mas Abid kenapa?" tanya Talitha.
Abidzar tidak menjawab. Tapi memegangi mulutnya rapat-rapat. Abidzar nyaris muntah. Untungnya kamar Dzakiyya tidak dikunci. Jadi Abidzar bisa berlari dan memuntahkan semua isi perutnya di kamar mandi.
Suara ribut-ribut antara Abidzar dan Talitha akhirnya membangunkan Dzakiyya yang sedang tidur. Dengan malas Dzakiyya beranjak ke kamar mandi. Disana dia disambut oleh pemandangan Talitha yang sibuk memijit tengkuk Abidzar.
"Mas, kamu sakit?" tanya Dzakiyya.
"Mbak Dza?" kata Talitha.
Abidzar menoleh. Matanya yang sayu langsung membesar begitu melihat Dzakiyya yang diperban. Rasa sakitnya pun langsung hilang untuk sementara.
"Sayang, k-kamu? Kenapa kamu begini?" tanya Abidzar.
Abidzar menarik Dzakiyya. Memeriksa dengan teliti kondisi Dzakiyya yang muncul beberapa memar di tangannya.
"Kenapa kamu nggak bilang sama Mas Abid?" tanya Abidzar.
Dzakiyya hanya menatap wajah suaminya tanpa berkata-kata. Tapi dalam hatinya membatin dengan keras. "Aku mau bilang, Mas. Tapi kamu nggak menjawab teleponku."
Sementara itu, Talitha yang tahu posisi segera menyingkir. Dia keluar dari kamar Dzakiyya dan memilih menemani ibunya.
"Lain kali kalau ada apa-apa kamu bilang sama Mas Abid. Ngerti?" tanya Abidzar.
Abidzar menarik Dzakiyya ke pelukannya. Merasa bersalah karena ketidaktahuannya. Ingin sekali menghibur Dzakiyya dengan jalan-jalan atau hal lainnya. Sayangnya kondisi Abidzar sedang tidak memungkinkan. Karena sekarang ini dia sudah mulai mual lagi.
"Huek!"
"Kamu masuk angin. Dza kerokin ya?" tawar Dzakiyya.
Abidzar mengangguk. Lalu pasrah saat Dzakiyya membawanya ke ranjang dan mempreteli bajunya sebelum mulai melukis di punggungnya yang bersih. Abidzar tidak terlalu ingat bagaimana prosesnya. Tapi yang jelas tidak lama setelah Dzakiyya membantu memakai pakaiannya kembali, Abidzar langsung tertidur.
Abidzar bahkan melewatkan jam makan malamnya. Dan terbangun ketika hari sudah gelap. Tepatnya saat mendengar suara ketukan pintu. Abidzar menggeliat. Ingin bertanya siapa yang mengetuk pintu. Tapi Dzakiyya memberikan reaksi yang sedikit berlebihan.
Dzakiyya memegang erat tangan Abidzar. Lalu menyembunyikan wajahnya ke dadanya. "Bisa nggak nemenin Dza malam ini?" tanya Dzakiyya.
"Mas Abid lihat mama dulu ya?" jawab Abidzar.
Abidzar yang merasa baikan akhirnya keluar. Memeriksa mamanya dan Nafisa bergiliran. Entah apa yang Abidzar lakukan setelahnya. Tapi yang pasti dia tidak menepati janjinya untuk menemani Dzakiyya malam itu.
__ADS_1
...***...