Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Rencana Selanjutnya


__ADS_3

"Bagaimana, apa kamu sudah menyelesaikan tugasmu dengan benar?" tanya Diana.


Wanita itu begitu asyik ngobrol sampai menurunkan kewaspadaannya. Tidak menyadari bahwa Abidzar sedang mendengarkan percakapannya dari balik pintu.


"Semuanya sudah beres. Tapi aku gagal membunuh Abidzar hari ini," jawab lawan bicara Diana yang tak lain adalah Joshua.


Wanita yang sedang menghapus make up itu langsung menghentikan aktifitasnya. Mereka sudah merencanakan pembunuhan dengan sempurna. Memangnya apa yang terjadi sampai Joshua gagal membunuh Abidzar.


"Kenapa bisa gagal?" tanya Diana.


Hari itu Joshua sudah gagal mencelakai Dzakiyya dan sekarang Joshua gagal lagi membunuh Abidzar. Sedikit tidak puas, tapi Diana benar-benar tidak bisa marah padanya.


"Anakmu itu membatalkan rapat secara sepihak. Makanya gagal," jawab Joshua.


"Ck, kamu ini begitu saja tidak becus!" kata Diana.


Joshua tidak menanggapi makian itu. Siapa yang tahu akan begini. Dia sudah merencanakan semuanya dengan matang. Meminta seseorang untuk menyelinap dan membuat mobil yang akan ditumpang Abidzar dan rombongannya mengalami kecelakaan.


Untuk itulah dia pura-pura sakit agar tidak ikut pergi. Siapa yang menyangka Abidzar akan membatalkan rapat di menit-menit terakhir.


"Sudahlah, kita bisa melakukannya nanti. Ngomong-ngomong bagaimana dengan rencana satunya. Jangan bilang itu juga gagal," kata Diana.


Mereka sudah gagal membunuh Abidzar. Mereka tidak bisa gagal lagi membunuh Talitha.


"Gadis itu sudah ku tangkap. Aku mengurungnya di gudang," jawab Joshua


Kali ini, Diana begitu puas sampai membuatnya tertawa keras. Hanya tinggal selangkah lagi akhirnya dia menguasai seluruh harta dua anak tirinya.


"Jangan tertawa terlalu keras. Tidak takut Abidzar melihatmu?" tegur Joshua.


"Tidak ada siapapun di rumah ini. Jadi takut apa. Bahkan meskipun anak sialan itu melihatku, aku bisa membodohinya lagi kan?" kata Diana.


Kini giliran Joshua yang tertawa. Abidzar memang terlalu baik sampai begitu mudah dibodohi. Bahkan membodohinya rasanya lebih mudah daripada membalikkan telapak tangan.


"Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Aku sudah lama tidak melihatmu. Ayo bertemu di tempat biasa. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu terkait rencana selanjutnya," kata Diana.

__ADS_1


"Baik!" jawab Joshua.


Diana pun menyudahi panggilannya. Lalu bangkit untuk membersihkan dirinya terlebih dulu. Tapi kaki-kakinya membawanya melangkah keluar kamar. Dia ingat harus menyimpan kursi rodanya di tempat yang benar sebelum anak dan menantunya pulang.


Disisi lain, Abidzar segera mengembalikan kursi rodanya ke tempat semula. Lalu bersembunyi sampai Diana masuk ke kamarnya lagi.


"Ternyata begini wajah aslimu, Ma? Siapa yang kamu ajak bicara barusan. Lalu apa yang kalian rencanakan?" gumam Abidzar.


Setelah dirasa aman, Abidzar pun keluar dari tempat persembunyiannya. Pria itu sudah tidak ingin tidur lagi sekarang. Tapi pergi menyiapkan mobilnya untuk mengikuti ibunya.


Di dalam mobil yang sengaja dia parkir di bahu jalan, Abidzar membakar rokoknya untuk mengurangi stres. Melihat cara ibunya berbicara barusan, Abidzar yakin pasti wanita itu tidak hanya sekedar berkunjung ke kamar mertuanya waktu itu.


"Jadi, hukuman apa yang cocok untukmu, Ma? Hanya membuat mama mendekam di penjara saja rasanya tidak cukup kan?" batin Abidzar.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Diana muncul juga. Tampil dengan dandanan necis yang harga outfitnya mencapai milyaran rupiah. Tentu saja yang paling mahal adalah tas branded yang ada dia tenteng dengan bangga dan beberapa perhiasan yang menghiasi seluruh tubuhnya.


Abidzar pun segera menyalakan mobil untuk mengikutinya. Karena kali ini dia tidak boleh kecolongan lagi.


.


.


.


Pria itu melihat sekeliling. Memperhatikan sebuah rumah makan yang akan menjadi saksi rusaknya hubungan ibu dan anak antara Diana dan Abidzar. Sayangnya Diana memilih ruangan private tanpa CCTV. Jadi meskipun Abidzar tahu siapa orang yang ditemui ibunya dia tidak akan tahu apa yang mereka bicarakan.


Abidzar memutar otaknya. Bagaimanapun caranya dia harus tahu apa yang mereka bicarakan dan rencanakan. Tepat saat itu seorang pelayan melintas di depan Abidzar. Abidzar pun tak segan menahannya.


"Maaf, apa manager kalian ada?" tanya Abidzar pada pelayan itu.


Pelayan itu menoleh. Tapi tidak langsung menjawab pertanyaan Abidzar. Pelayan biasa tidak boleh bicara sembarangan. Jadi dia bertanya pada Abidzar kenapa dia mencari managernya. Kalau hanya masalah sepele, tidak perlu sampai memanggil manajer.


"Maaf sebelumnya. Apa ada masalah, Pak?" tanya pelayan itu tanpa mengurangi sopan santunnya.


Abidzar tersenyum melihat sifat pelayan itu. Dari caranya bicara, Abidzar tahu pelayan ini bisa diandalkan. Abidzar pun tidak ragu mengatakan alasannya sampai dia ingin bertemu dengan manager mereka.

__ADS_1


"Ibuku ada di ruangan itu. Dia ingin bertemu dengan seseorang. Aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Jadi bisakah bertanya pada manajer apa beliau bisa membantu?" tanya Abidzar.


Pelayan itu menunjukkan ekspresi canggung. Karena wanita itu adalah ibunya, kenapa tidak langsung masuk saja. Kenapa mempersulit dirinya sendiri dengan sembunyi-sembunyi seperti ini. Lagipula, menguping pembicaraan seseorang kan bisa disebut dengan pelanggaran privasi.


Tapi karena tidak ingin pusing, dia pun memilih menyampaikan pesan Abidzar pada atasannya agar atasannya yang memberi keputusan.


"Oh, seperti itu. Kalau begitu saya akan menyampaikannya pada atasan. Saya akan menemui bapak nanti," kata pelayan itu.


Pelayan itu pun undur diri. Lalu menemui atasannya dan menyampaikan apa yang dikatakan Abidzar barusan. Manager itu tampak berpikir. Bisa saja dia membantu Abidzar tapi dia membutuhkan alasan yang tepat untuk itu.


"Bawa pelanggan itu kemari!" kata manager.


Pelayan itu pun menemui Abidzar lagi. Lalu membawanya menemui manager di ruangannya. Setelah pembicaraan singkat, akhirnya manager itu mengerti alasan Abidzar menginginkan itu. Bahkan Abidzar sempat menunjukkan rekaman CCTV yang dia dapat dari kepolisian untuk meyakinkan manager itu.


"Baiklah, Pak Abidzar! Kami akan bekerjasama. Saya akan mengatur sesuai permintaan bapak," kata Manager.


"Terimakasih!" kata Abidzar.


Abidzar menjabat tangan manajer itu. Lalu memeluknya sebagai ucapan terimakasih. Abidzar juga melakukan hal sama pada pelayan yang membantunya.


"Baiklah, kita harus cepat sebelum orang yang ditunggu ibu Anda datang. Takutnya kita melewatkan pembicaraan mereka," lanjut manager.


Sebuah siasat diatur. Dua orang pelayan masuk ke ruangan yang dipesan Diana. Mereka masuk membawa menu baru untuk diberikan secara cuma-cuma sebagai percobaan.


"Aku tidak memesan ini," kata Diana begitu salah seorang pelayan menyodorkan makanan itu.


"Ini menu terbaru restoran kami. Semua pelanggan bisa mendapatkannya secara gratis. Silahkan dicoba!" kata pelayan.


Diana pun tidak sungkan mencicipinya. Lalu menggeser wadahnya dan sebagai isyarat bahwa dia sudah tidak ingin makan lagi.


"Maaf, Nyonya! Apa kami sudah boleh menyajikan makanan pesanan Anda?" tanya salah satu pelayan.


Dua pelayan itu begitu profesional. Terlihat sedang melayani pelanggan dengan elegan, padahal kedatangannya kemari untuk meletakkan sebuah alat perekam suara sesuai perintah atasannya.


"Tidak, tunggu sampai kenalanku datang!" jawab Diana.

__ADS_1


"Baik, kalau begitu kami permisi! Kami akan menyajikannya saat kenalan nyonya sudah datang!" kata pelayan itu sebelum undur diri.


...***...


__ADS_2