Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Kita Masih Lanjut


__ADS_3

"Oke, Dza minta maaf sekarang!" kata Dzakiyya.


Dzakiyya bangkit dengan air mata yang sudah menganak sungai di pelupuk mata. Lalu segera pergi ke kamar mertuanya untuk meminta maaf. Dengan kondisinya yang demam parah, seharusnya tidak mungkin untuk berlari. Tapi Dzakiyya benar-benar berlari, mungkin itu adalah kekuatan yang dia dapatkan setelah mendapat tamparan dari suaminya.


Sementara Abidzar. Dia mulai menyesali perbuatannya yang kasar. Terlebih ketika melihat bekas memerah di pipi Dzakiyya. Itu pasti sakit, dan hati Dzakiyya pasti jauh lebih sakit.


"Abidzar, apa sih yang kamu lakukan!" umpat Abidzar pada dirinya sendiri.


Pria itu nampak frustasi. Sama seperti yang dilakukan Dzakiyya, Abidzar pun bergegas ke kamar ibunya. Sayup-sayup Abidzar mendengar suara Dzakiyya yang meminta maaf. Entah jawaban seperti apa yang ibunya berikan, tapi yang jelas Dzakiyya sudah keluar dari kamar itu beberapa detik kemudian.


"Dza, tunggu!" tahan Abidzar.


Abidzar sangat menyesal. Tapi itu tidak membuat Dzakiyya melunak. Dzakiyya yang marah berubah layaknya belut yang licin sehingga Abidzar gagal menahannya. Dzakiyya terus berjalan, masuk ke kamar dan duduk bersandar di balik pintu. Tangis yang sempat dia tahan akhirnya pecah. Memang tanpa suara tapi sakitnya sungguh tak terkira.


Disela tangis itu Dzakiyya memegang dadanya yang sesak. Berulang kali dia bertahan dari gempuran rasa sakit dan penderitaan yang diberikan ibu mertuanya. Sejauh ini dia bisa bertahan karena Abidzar selalu memihaknya. Tapi jika satu-satunya pelindung itu tidak lagi memberikan rasa aman untuknya, mampukah Dzakiyya bertahan?


Dzakiyya tersenyum getir. Sungguh dia tidak ingin bercerai. Tapi jalan untuknya dan Abidzar benar-benar tidak ada.


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Dzakiyya.


Dzakiyya menutup wajahnya rapat-rapat. Memikirkan nasibnya yang semakin menyedihkan dari hari ke hari. Dia sudah kehilangan ayahnya, sudah kehilangan ibunya. Apakah sekarang dia juga akan kehilangan cinta dari suaminya. Kenapa mencintai Abidzar rasanya sesakit ini.


..."Apa yang kamu dapatkan dengan mencintainya. Apa kamu benar-benar bahagia? Jika rumah Abidzar tak lagi nyaman untukmu, masih ada rumahku yang terbuka lebar untukmu,"...


Sepenggal kalimat yang Ral katakan tempo hari kembali terlintas di benak Dzakiyya. Sekilas, kalimat itu seolah menyatakan keinginan Ral yang bersedia menggantikan posisi Abidzar di hati Dzakiyya. Tapi ungkapan Ral lebih bermakna dari itu.


Itu bukanlah tawaran pernikahan. Juga bukan permintaan agar Dzakiyya meninggalkan Abidzar. Melainkan bantuan dari seorang teman yang bersedia menyambut Dzakiyya dengan tangan terbuka dan memberikan kehidupan yang nyaman dan hangat layaknya keluarga yang tidak bisa keluarga Abidzar berikan untuknya.


Ral memang pernah pernah meminta Dzakiyya dan Abidzar bercerai. Tapi itu hanyalah caranya menegur keduanya agar mereka memperbaiki masalah dalam rumah tangga mereka.


Dzakiyya menengadahkan kepalanya ke langit-langit kamar. Menimang kembali apa yang harus dia lakukan. Dan ketika dia sudah mengambil keputusan, dia pun bangkit untuk mulai melakukannya.


.

__ADS_1


.


.


Tok


Tok


Tok


"Dza?" panggil Abidzar.


Dzakiyya yang duduk di depan meja rias menoleh. Melihat Abidzar sudah berdiri di depan pintu dengan membawa bubur yang gagal maid antar karena tuan dan nyonya mereka bertengkar.


Abidzar meletakkan bubur itu di meja. Lalu menghampiri Dzakiyya dan memegang beberapa bagian tubuh Dzakiyya untuk memeriksa suhu tubuhnya.


"Maaf, Mas Abid nggak tahu kamu sakit!" kata Abidzar.


"Sayang, Mas Abid yang salah. Mas Abid minta maaf!" kata Abidzar.


Abidzar sudah kembali lembut. Memeluk Dzakiyya dengan erat sembari meniup pipinya yang sempat dia pukul.


"Sakit?" tanya Abidzar.


Dzakiyya mengangguk dan itu membuat wajah Abidzar berubah menjadi kusut. Jujur saja Dzakiyya tidak tega melihat Abidzar yang seperti ini. Ingin sekali mengatakan dia baik-baik saja seperti hari-hari sebelumnya. Tapi kali ini Dzakiyya benar-benar tidak bisa. Karena Dzakiyya sudah memutuskan untuk pergi. Bukan ke rumah Ral, tapi kerumahnya sendiri.


"Kamu bisa pukul Mas Abid sepuas hati kamu nanti. Sekarang kamu makan dulu ya. Habis itu Mas Abid antar kamu ke dokter," kata Abidzar.


Abidzar mulai menuntun Dzakiyya duduk di ranjang. Tapi pandangannya tertuju pada satu koper yang sudah siap Dzakiyya bawa pulang.


"Apa ini, Dza?" tanya Abidzar.


Perasaan Abidzar tidak enak. Jantungnya berdetak tak karuan saking takutnya. Sebelumnya, Abidzar tidak langsung masuk karena memilih menenangkan diri terlebih dulu agar tidak kembali emosi. Dan ketika Abidzar sudah menguasai emosinya, dia malah melihat pemandangan seperti ini.

__ADS_1


"Dza mau pulang," jawab Dzakiyya. Akhirnya Dzakiyya mulai berbicara meskipun irit. Dan jawaban itu membuat Abidzar patah hati.


"Sayang, tolong jangan pergi. Mas Abid tahu salah. Kamu bisa melakukan apapun ke Mas Abid tapi tolong jangan pergi. Mas Abid nggak bisa hidup tanpa kamu. Mas Abid sayang sama kamu, Dza!" mohon Abidzar.


"Tapi kenapa Mas Abid nggak percaya sama Dza?" tanya Dzakiyya.


Abidzar membeku. Kata-kata yang keluar dari mulut Dzakiyya memberikan pukulan telak untuknya. Tapi mau bagaimana lagi, memang dia yang salah. Salah karena telah berburuk sangka tanpa mencari tahu kebenarannya. Salah karena tidak mempercayai istrinya dan tidak memberikan kesempatan untuk menjelaskan.


"Mas, Dzakiyya cuma punya kamu. Tapi kalau kamu nggak percaya lagi sama Dzakiyya, Dzakiyya bisa apa. Selain itu mama juga nggak suka sama Dzakiyya. Dzakiyya mandul dan sebentar lagi Nafisa melahirkan. Jadi Dzakiyya pikir nggak ada gunanya kita lanjut."


Dzakiyya begitu hati-hati mengatakan kalimat itu. Berharap suaminya bisa memahami apa yang dia rasakan. Sementara Abidzar, sejauh ini dia hanya diam karena tidak ingin memotong pembicaraan istrinya.


"Jadi, menurut Mas Abid bagaimana kalau kita ber-"


Dzakiyya belum menyelesaikan kalimatnya. Tapi Abidzar sudah membungkamnya dengan ciuman agar Dzakiyya berhenti bicara. Bagi abidzar, tidak ada yang perlu dibicarakan jika itu soal perceraian. Karena sampai mati pun Abidzar tidak akan pernah memiliki niat untuk menceraikan Dzakiyya.


Abidzar menggigit bibir Dzakiyya dengan lembut. Memainkannya sesuka hati tanpa menghiraukan dorongan Dzakiyya yang memintanya berhenti. Tangannya yang kekar bahkan menarik Dzakiyya agar lebih dekat dengannya seolah tak ingin di lepaskan.


"Sayang, tolong jangan mengucapkan kata itu. Mas Abid nggak suka. Kamu bilang mau pulang kan? Oke, Mas Abid bisa antar kamu pulang sekarang juga. Mas Abid juga akan usahain datang kesana setiap hari sebelum pulang kesini sepulang kerja. Tapi tolong jangan mengucapkan kata itu lagi oke?" pinta Abidzar.


Sepasang suami-istri itu saling berpandangan. Rasa itu masih ada. Bahkan lebih besar dari sebelumnya. Tapi ujian cinta mereka terlalu berat.


"Kamu cinta kan sama Mas Abid? Jawab, Dza!" kata Abidzar.


Dzakiyya menjawab pertanyaan itu dengan tangisan. Tentu saja dia cinta. Bahkan seandainya bisa, Dzakiyya rela menukar semua yang dia punya asalkan dia bisa terus bersama dengan Abidzar.


"Oke, jangan menangis lagi. Mas Abid tahu apa yang kamu rasakan," kata Abidzar.


Abidzar menghapus air mata itu dengan lembut. Lalu mendekap Dzakiyya lebih erat. Setelah mereka kembali berbaikan, Abidzar pun menyuapi dan memastikan Dzakiyya minum obat. Baru setelah itu Abidzar mengantar Dzakiyya pulang ke rumahnya dan meninggalkan dua maid beserta satu sopir dan satpam untuk menemani Dzakiyya disana.


"Kamu istirahat baik-baik disini. Jangan capek dan jangan sakit lagi. Mas Abid mau kamu tetap sehat sampai kita menua."


...***...

__ADS_1


__ADS_2