
"Sayang, mana obatnya?" tanya Abidzar ketika melihat Dzakiyya kembali tanpa membawa obat.
"Stok obat mama di apotik rumah sakit kosong, Mas. Dza mau mengambil di apotik lain," jawab Dzakiyya.
Dzakiyya mengambil tas dan memakai mantelnya. Sementara Abidzar mengecek jam tangannya. "Biar Mas aja yang pergi. Kamu disini jaga mama," kata Abidzar.
"Mas, Dza aja. Kamu pasti capek!" larang Dzakiyya.
"Demi kamu, Mas nggak akan bakal capek," kukuh Abidzar.
Abidzar tersenyum, meminta resep obat yang harus dia tebus. Sementara Dzakiyya dengan enggan memberikannya. Padahal, untuk hal-hal sepele seperti ini dia bisa melakukannya sendiri. Di sisi yang lain, Santi yang melihat anak dan menantunya berdebat akhirnya berinisiatif mengambil keputusan.
"Kalian pergi berdua saja," kata Santi. Berdua lebih aman. Berdua lebih baik, itulah yang Santi pikirkan.
"Kalau kami pergi, lalu siapa yang menjaga mama?" tanya Abidzar dan Dzakiyya bersamaan.
"Memangnya apa yang akan terjadi. Bukankah Dokter bilang mama sehat. Mama hanya butuh istirahat dan banyak makan. Lagian mama juga sudah ingin tidur," jawab Santi.
Setelah perdebatan singkat dan meyakinkan bahwa dia hanya akan tidur dan tidak kemana-mana, akhirnya Dzakiyya dan Abidzar menyetujui permintaan Santi.
"Baiklah. Kalau begitu kami pergi dulu, Ma!" pamit Abidzar.
"Tunggu!" tahan Santi.
"Ada apa, Ma?" tanya Dzakiyya.
"Sini, peluk mama dulu!" pinta Santi.
"Mama aneh," komentar Abidzar.
"Mama takut ketiduran dan tidak sempat memeluk kalian," jawab Santi.
"Meskipun mama ketiduran Abid dan Dza kan tetap memeluk mama, kok!" kata Abidzar. Sedikit protes. Tapi tangannya menarik Dzakiyya dan memeluk Santi bersama-sama.
"Tapi kalau mama tidur terlalu pulas, mama kan nggak bisa ngerasain," kilah Santi.
Santi mengangkat kedua tangannya. Memeluk anak dan menantu seolah tidak ada hari esok. Diiringi lantunan doa yang dia panjatkan dalam hatinya. Tentu saja doa terbaiknya adalah hadirnya buah hati diantara Abidzar dan Dzakiyya. "Mungkin tidak sekarang. Tapi suatu hari nanti," batin Santi.
Setelah puas berpelukan, Santi beranjak tidur. Dzakiyya dan Abidzar pun segera pergi. Begitu mereka menjauh, seorang tamu tak di undang muncul. Dia adalah Diana. Orang yang datang sejak tadi, tapi menunggu kesempatan sampai situasi aman. Diana masuk dengan baju tertutup. Mendekati ranjang Santi tanpa menghiraukan suara sepatunya yang memecah keheningan.
"Dza, ada yang ketinggalan?" tanya Santi tanpa membuka mata.
"Ada," jawab Diana.
Spontan Santi membuka mata. Suara itu terasa asing tapi sedikit familiar. Dan dia tidak bisa mengenali wajah Diana karena saat ini hanya matanya saja yang terlihat.
__ADS_1
"Maaf, Anda siapa?" tanya Santi.
"Baru beberapa bulan tidak bertemu. Apa kau sudah melupakanku?" jawab Diana dengan menarik kain yang menutupi wajahnya.
Santi menyipitkan matanya. Mengira-ngira apa yang sedang dilakukan besannya dengan pakaian tertutup seperti ini. Diana yang mendapat tatapan seperti itu tersenyum sinis. Mendekati Santi dan melihat dengan tatapan benci. "Menurutmu bagaimana hubungan anakku dan anakmu?" tanya Diana.
"Jeng, apa yang kamu bicarakan. Tentu saja hubungan mereka baik," jawab Santi tanpa menaruh rasa curiga.
"Seperti apa Abidzar di matamu?" tanya Diana.
Santi diam sebentar. Meresapi maksud dari pertanyaan besannya. "Dia pria yang baik dan bertanggungjawab. Aku bersyukur memiliki menantu seperti dia," jawab Santi.
"Lalu, bagaimana dengan anakmu. Apa menurutmu dia bahagia?" tanya Diana.
"Memiliki suami sebaik Abidzar tentu saja dia bahagia. Jeng, kamu lebih sering menghabiskan waktu dengan mereka. Bukankah seharusnya Jeng Diana lebih tahu bagaimana manisnya hubungan mereka?" jawab Santi.
Diana tertawa cukup keras. Membuat Santi kebingungan dengan ekspresi yang Diana tunjukkan. Apa besannya ini masih waras?
"Jeng, kamu baik-baik saja?" tanya Santi.
Tapi pertanyaan Santi berhembus seperti angin lalu. Karena Diana tidak menghiraukan pertanyaannya. Dan dengan sengaja mulai membeberkan rahasia yang anak dan menantunya simpan. "Abidzar sudah menikah lagi. Apa kau tahu?" tanya Diana.
DEG
"Kalau tidak percaya lihat saja buktinya," kata Diana dengan melempar foto pernikahan kedua Abidzar.
Tangan Santi bergetar. Hatinya sesak dan jantung yang baru dioperasi tiba-tiba sakit. Bagaimana mungkin ada hal semacam ini. Kenapa dia tidak tahu. Kenapa?
"Kamu merestui pernikahan ini, Jeng?" tanya Santi.
"Ya, karena aku yang memintanya," jawab Diana.
"Apa karena anakku mandul?" tanya Santi. Suaranya melemah. Hanya itulah yang terpikirkan olehnya. Karena satu-satunya kekurangan Dzakiyya adalah itu.
"Tidak!" jawab Diana.
"Lalu kenapa?" tanya Santi. Nada bicaranya sedikit meninggi. Kenapa meminta Abidzar menikah lagi jika mandul bukan alasannya. Apa anaknya tidak cukup berbakti. Apa anaknya tidak cukup baik. Jika iya, Santi bersedia menegur Dzakiyya untuk memperbaiki dirinya lagi.
"Karena aku membencinya. Membencimu juga membenci suamimu," jawab Diana.
"Apa maksudmu?" tanya Santi.
Dengan tenang Diana duduk di pinggiran ranjang. Menceritakan semua kisah yang dia pendam selama ini. Dendamnya pada ayah Dzakiyya, kebenciannya dan caranya mempersulit Dzakiyya selama jadi menantunya. Diana terus bercerita meskipun Santi mengatakan 'cukup'.
"Kau sangat kejam," rutuk Santi dengan memegangi dadanya yang sakit. Nafasnya juga mulai terengah-engah.
__ADS_1
"Ya aku memang kejam. Dan aku masih bisa lebih kejam. Apa kau ingin tahu bagaimana caraku menghancurkannya?" tanya Diana.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Santi.
Santi begitu khawatir. Takut terjadi sesuatu pada Dzakiyya selama perjalanan. Takut Diana melakukan hal buruk pada putrinya. Tapi tebakan Santi salah karena cara Diana menghancurkan Dzakiyya adalah membunuh Santi itu sendiri.
"Membunuhmu," jawab Diana.
Tanpa ragu Diana menarik selang oksigen Santi. Dia juga menahan tangan Santi agar tidak memencet tombol untuk memanggil suster. Meskipun kondisinya baik, tapi Santi belum sepenuhnya pulih. Diana menyerangnya dengan begitu banyak kabar mengejutkan. Itu sudah membuat kondisinya memburuk. Dan sekarang setelah Diana menarik oksigennya, satu-satunya jalan yang bisa Santi lihat hanyalah kematian.
"Apa aku akan mati hari ini?" batin Santi.
Santi mulai kehabisan nafas. Ajalnya sudah dekat. Tapi di ujung hidupnya dia masih mengkhawatirkan Dzakiyya dan Abidzar. Santi tidak marah mereka merahasiakan pernikahan karena tahu itu semua demi menjaga kesehatannya. Santi hanya tidak terima karena anak sebaik Abidzar dan Dzakiyya di perlakukan seperti ini oleh Diana. Ingin sekali membongkar kedok Diana. Sayangnya Santi tidak memiliki kesempatan untuk itu.
"Anak-anakku. Mama ingin tetap hidup. Tapi sepertinya mama tidak bisa. Mama sudah tidak kuat. Mama serahkan kalian kepada Tuhan sebaik-baiknya penjaga. Semoga kalian bahagia dan segera terbebas dari wanita jahat seperti Diana."
Air mata menetes dari pelupuk mata Santi. Setelah memanjatkan doa-doa terbaiknya dia pun mengucapkan kalimat la ilaha illallah dengan susah payah. Lalu terkulai lemas bersama dengan hembusan nafas terakhirnya.
.
.
.
"Mana yang sakit?" tanya Abidzar.
Abidzar membantu Dzakiyya berdiri. Tidak ada benda apapun yang menghalangi jalan istrinya. Tapi kenapa tiba-tiba dia jatuh. Bulu kuduk Abidzar sedikit meremang. Bayangan keanehan mertuanya kembali terngiang. Tapi Abidzar menepis pikiran buruk itu dan meminta istrinya segera bergegas.
"Sayang, ayo cepat!" ajak Abidzar.
"Mas, mama nggak apa-apa kan?" tanya Dzakiyya. Sama seperti Abidzar, Dzakiyya juga merasa ada yang aneh. Hatinya tiba-tiba sakit tanpa sebab. Dan perasaan yang dia rasakan saat ini sama persis seperti saat ayahnya meninggal beberapa tahun silam.
"Mama kan tidur. Dia pasti baik-baik saja," jawab Abidzar. Padahal jawaban itu bukan hanya dia tujukan untuk memenangkan Dzakiyya tapi juga untuk dirinya sendiri.
Abidzar mempersilahkan Dzakiyya naik ke mobil. Lalu segera mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Mobil mereka baru keluar dari parkiran dan ponsel Abidzar sudah berdering. Sebuah panggilan masuk. Itu adalah Dokter yang sempat memberikan resep obat untuk di tebus.
"Halo, Dokter! Saya baru mengambil obatnya. Sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit," jawab Abidzar.
"Pak Abidzar, Ibu Santi sudah tidak perlu minum obat lagi," kata Dokter dengan suara lesu.
"Tidak perlu minum obat. Tapi kenapa, Dok?" tanya Abidzar.
"Karena Ibu Santi sudah meninggal, Pak Abidzar!" jawab Dokter.
...***...
__ADS_1