
Abidzar membunyikan klaksonnya sekali. Lalu tersenyum seraya melambaikan tangannya pada Joshua. Joshua yang tahu rencananya gagal pun segera mengirimkan pesan pada Diana agar wanita itu bersiap dengan rencana selanjutnya.
Sementara Abidzar, untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, dia meminta Talitha menemani mamanya baik-baik. Lalu secara khusus meminta maid untuk menjaga Nafisa. Pokoknya Abidzar tidak ingin ada kata gagal malam ini atau Dzakiyya akan benar-benar marah.
"Kamu bisa kan?" tanya Abidzar setelah menjelaskan tugas yang dia berikan pada Talitha.
"Bisa. Mama lumayan anteng hari ini. Mbak Naf juga baik-baik saja di kamar," jawab Talitha dari seberang sana.
"Baguslah kalau begitu," kata Abidzar.
Abidzar menarik nafas lega karena sejauh ini rencananya berjalan lancar. Tapi lima belas menit kemudian, saat Abidzar sudah sampai di parkiran Talitha kembali menelepon.
"Ada apa. Mama nggak meminta Mas Abid pulang secepat ini kan?" tanya Abidzar mulai frustasi.
"Bukan, Mas!" jawab Talitha dengan suara panik.
"Lalu?" tanya Abidzar. Dia kenal betul perangai Talitha. Jika Talitha yang acuh itu sudah panik seperti ini, berarti hal buruk telah terjadi.
"Mbak Naf tiba-tiba pendarahan. Sekarang sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit," jawab Talitha.
"P-pendarahan?" tanya Abidzar.
Abidzar sepertinya tidak butuh jawaban dari Talitha lagi. Karena saat itu juga Abidzar langsung menutup panggilannya. Pandangannya beralih ke restoran. Lalu melihat sebuah foto yang diambil secara diam-diam oleh pelayan atas permintaannya sendiri. Dzakiyya sudah duduk di dalam. Dandan sangat cantik hanya untuk menunggu kedatangannya. Tapi nyawa anaknya sedang terancam.
"Sial, kenapa selalu saja begini," umpat Abidzar.
Abidzar mengatur nafasnya. Lalu menghubungi Dzakiyya saat itu juga. Abidzar tidak ingin mengecewakan Dzakiyya lagi, tapi dia tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai calon ayah.
"Hallo, Mas Abid! Kamu sudah datang?" tanya Dzakiyya.
Suara Dzakiyya begitu renyah. Hanya dengan mendengarnya, Abidzar tahu pasti istrinya sedang memasang senyum di wajahnya yang ayu.
"Sayang, Mas Abid sudah di jalan. Tapi ada urusan mendadak. Bisakah kamu menunggu satu jam lagi. Mas Abid akan datang dalam waktu satu jam," pinta Abidzar.
Abidzar tidak ingin senyum Dzakiyya hilang. Jadi terpaksa dia berbohong. Sementara itu, di dalam sana Dzakiyya berpikir sejenak. Saat ini jam menunjukkan pukul 6 sore. Baginya tidak masalah menunggu Abidzar selama satu jam lagi.
"Bisa," jawab Dzakiyya.
__ADS_1
"Tunggu Mas Abid ya. Mas Abid pasti datang!" janji Abidzar.
"Baiklah," kata Dzakiyya.
Setelah percakapan singkat itu Abidzar pun mengemudikan mobilnya. Pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Nafisa. Tentu saja Abidzar berharap ibu dan anak itu baik-baik saja agar dia bisa kembali menemui Dzakiyya secepat yang dia bisa.
"Ya Tuhan, jangan sampai terjadi apa-apa dengan mereka," gumam Abidzar.
Di sisi lain, Dzakiyya menunggu Abidzar dengan tenang. Duduk dengan anggun menikmati indahnya ruangan yang sengaja di dekor dengan ornamen romantis. Jika saja Abidzar ada, pasti momen spesial hari ini akan jadi sempurna.
Senyuman indah masih menghiasi wajah Dzakiyya. Tidak sabar menyambut kedatangan suaminya yang pasti akan membawa seikat bunga. Tapi senyum itu semakin hilang seiring berjalannya waktu.
"Nona, jam berapa kami bisa menyajikan makanannya?" tanya seorang pelayan dengan ramah.
"Maaf! Tunggu sebentar lagi, ya?" kata Dzakiyya.
Hanya kalimat itu yang Dzakiyya berikan ketika pelayan menemuinya lagi dan lagi. Suaminya belum datang, makanannya akan dingin jika disajikan lebih awal bukan?
Untuk membunuh waktu, Dzakiyya mengambil bunga segar yang ada di hadapannya dan memetik mahkotanya satu persatu. Tapi sampai mahkota bunga itu berserakan memenuhi lantai yang Dzakiyya pijak, Abidzar masih belum datang juga.
Dzakiyya akhirnya memberanikan diri untuk melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Janji satu jam telah terlewati. Restoran yang sebelumnya ramai pun terlihat semakin sepi.
..."Apa Mas Abid masih sibuk? Kalau iya kita batalkan saja makan malamnya. Restorannya sudah hampir tutup,"...
Setelah mengirimkan pesan itu Dzakiyya pun memanggil pelayan. Meminta pelayan menyajikan makanan yang telah Abidzar pesan jauh-jauh hari meskipun hanya sedikit yang bisa Dzakiyya makan.
.
.
.
Malam semakin larut, cuaca semakin dingin. Angin yang berembus pun terasa menusuk kulit. Dzakiyya tampak keluar dari restoran dengan wajah tertunduk layaknya bunga yang layu. Rambutnya yang terurai berkibar-kibar ditiup angin. Dengan pakaian yang Dzakiyya kenakan, sudah pasti dia merasa kedinginan.
"Kamu kecewa?"
Suara itu memecah kesunyian. Dzakiyya menoleh, melihat Ral tengah duduk tidak jauh dari pintu keluar. Pria itu segera berdiri. Melepaskan mantel yang dia kenakan dan memakaikannya pada Dzakiyya.
__ADS_1
"Aku hampir menghajar Abidzar karena tidak menemanimu hari ini. Tapi begitu tahu alasannya, aku mengurungkan niatku," kata Ral membuka obrolan.
"Memangnya apa yang Mas Abid lakukan sekarang?" tanya Dzakiyya.
Wajah itu sedikit kusut. Dzakiyya sudah siap jika jawabannya adalah suaminya sibuk menemani mertuanya. Tapi Ral yang paham betul bagaimana perasaan Dzakiyya memberikan jawaban yang membuat Abidzar terlihat sangat baik. Ral juga memberikan pengertian agar Dzakiyya tidak salah paham.
"Kamu tahu, sebenarnya dia sudah kemari. Tapi ondel-ondel itu pendarahan. Alasan Abidzar memintamu menunggu, dia hanya tidak ingin mengingkari janjinya untukmu. Dza, meskipun aku tidak menyukai wanita itu, tapi anak itu tetaplah anak Abidzar. Jadi jangan marah kali ini," kata Ral menenangkan.
Dzakiyya tersenyum tipis. Sebenarnya dia tidak marah meskipun sedikit kecewa. Dan alasan dibalik wajahnya yang lesu, itu karena Dzakiyya kurang sehat.
"Apa Nafisa baik-baik saja?" tanya Dzakiyya.
"Entahlah, sepertinya sedikit serius. Kamu mau melihatnya?" tanya Ral.
Dzakiyya menggelengkan kepalanya. Dia saja kurang sehat jadi lebih baik istirahat. Daripada memaksakan diri dan malah membuat Abidzar repot nantinya.
"Dza, kamu kenapa?" tanya Ral ketika melihat Dzakiyya sedikit oleng.
"Hanya sedikit pusing," jawab Dzakiyya.
Ral menghela nafas panjang. Lalu tanpa ragu menggendong Dzakiyya sama seperti saat mereka anak-anak dulu.
"Lihatlah, kamu sudah menikah tapi aku yang selalu repot. Untung saja kamu cantik, jadi aku tidak keberatan mengantarmu pulang!" canda Ral.
"Kalau begitu aku harus berterima kasih dengan wajahku yang cantik ini," kata Dzakiyya tak mau kalah.
Ral hanya tertawa. Sementara Dzakiyya tidak menolak bantuan Ral yang mengangkatnya sampai ke mobil. Keduanya juga sangat akrab. Sampai-sampai keakraban mereka dicurigai oleh Joshua yang diam-diam mengikuti Ral sejak dia keluar dari jamuan makan.
"Bagus sekali. Menyembunyikan identitasmu yang sesungguhnya di perusahaan lalu berduaan dengan Dzakiyya. Apa sebenarnya tujuanmu?" batin Joshua sembari melihat hasil foto yang dia jepret dengan kamera ponsel.
Di sisi lain, Dzakiyya sudah duduk di mobil. Ral juga sudah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Dza, kamu gendutan," komentar Ral saat menyadari bobot Dzakiyya lebih berat.
"Jadi, haruskah aku diet?" tanya Dzakiyya.
Lagi-lagi Ral tertawa. Di mata seorang wanita, apakah gendut itu sesuatu yang sangat menakutkan?
__ADS_1
"Tidak perlu. Abidzar masih cukup kuat mengangkatmu meskipun bobot tubuhmu dua kali lipat dari ini," jawab Ral sekenanya.
...***...