Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Menemui Papi


__ADS_3

"Serius kamu ingin pergi ke luar negeri?" tanya Ral.


Pria itu sepertinya masih tidak percaya dengan pengakuan Abidzar yang mengatakan bahwa dia berencana pergi ke Amerika dalam waktu dekat.


"Tentu saja serius," jawab Abidzar.


Abidzar yang tengah sibuk memakaikan kaos kaki Farah dan Fauza tampak santai. Lalu meminta bantuan Ral untuk memindahkan Farah dan Fauza ke mobil untuk dikembalikan pada ibunya.


"Kalau kamu pergi, lalu bagaimana dengan mereka?" tanya Ral.


Abidzar tersenyum kecut. Dzakiyya hanya mengijinkannya melihat Farah dan Fauza satu kali dalam setahun. Jadi seharusnya tidak ada perbedaan berarti meskipun dia pergi.


"Aku bisa pulang satu tahun sekali untuk menemui mereka," jawab Abidzar.


Ral mengangguk tanda mengerti. Meskipun selama ini Abidzar dan Dzakiyya tinggal di kota yang sama tapi nyatanya Abidzar tidak memiliki kebebasan untuk menemui Farah dan Fauza. Sedangkan untuk Dzakiyya, terakhir kali Abidzar menemuinya seharusnya enam tahun yang lalu.


Selebihnya Abidzar hanya bisa melihat dari kejauhan. Menjaga istri dan anak-anaknya melalui tangan-tangan yang lain. Bahkan dibalik berkembang-pesatnya bisnis resto yang dirintis Dzakiyya juga ada campur tangan Abidzar juga. Hanya saja Dzakiyya tidak mengetahuinya


"Kalau itu sudah menjadi keputusanmu maka aku akan mendukungmu. Ngomong-ngomong, apa kamu berencana menikah lagi sesampainya disana?" tanya Ral.


Bukannya menjawab, Abidzar malah menendang kaki Ral yang berjalan di depannya. Omong kosong macam apa itu. Abidzar pernah memiliki dua istri dan itu sangat merepotkan. Dan Abidzar sudah bersumpah untuk tidak menikah lagi apapun alasannya.


"Jaga bicaramu. Kalau Farah dan Fauza mendengarnya, dia bisa mengadu pada ibunya!" omel Abidzar.


Pria itu tampak kesal. Takut hubungannya yang sudah rumit menjadi semakin rumit. Tapi teguran itu tidak Ral hiraukan. Bahkan Ral membalasnya dengan candaan.


"Memangnya kenapa kalau mereka mengadu. Toh pernikahan kalian sudah hancur begitu. Bid, sebenarnya ibumu dulu ngidam apa sampai kamu harus menjalani pernikahan yang mengenaskan seperti ini?" canda Ral.


Pria itu akhirnya tertawa bersama. Menertawakan nasib rumah tangga Abidzar yang lebih buruk dari perceraian. Pembicaraan mereka pun terhenti karena Ral harus segera bergegas mengembalikan anak-anak itu sebelum hari semakin gelap.


"Jangan ngebut!" kata Abdizar.


"Aku tahu!" jawab Ral.


"Terimakasih!" kata Abidzar lagi.


Ral menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Menertawakan Abdizar yang masih saja sungkan atas bantuan kecil yang dia berikan. Dua pria itu pun berpisah. Abidzar kembali kerumah untuk menemani adiknya sampai Ral datang. Sementara Ral segera mengantar Farah dan Fauza pulang sebelum ibunya marah besar.


Dugaan Ral tidak pernah salah. Karena sesampainya di rumah Dzakiyya, wanita itu langsung memperingatkan berapa banyak dia terlambat.


"Ral, kamu terlambat setengah jam!" kata Dzakiyya.

__ADS_1


Wanita itu tidak hanya menegur Ral tapi segera mengambil Fauza yang masih terbuai dalam mimpi. Sementara Ral, pria itu baru merespon teguran Dzakiyya setelah dia menggendong Farah dan menutup pintu mobil.


"Jangan terlalu perhitungan!" tukas Ral.


Ral pun bergegas menyusul Dzakiyya dengan berjalan di belakangnya. Tapi langkah Dzakiyya terhenti ketika dia mencium aroma parfum yang sangat dia kenal.


"Ral, apa kamu membawa mereka menemui ayahnya?" tanya Dzakiyya.


Wanita itu menoleh. Melihat Ral yang langsung memanfaatkan kepergian Abidzar sebagai alasan.


"Ya, aku sengaja. Aku ingin Fa Fa menghabiskan waktu dengan ayahnya sebelum dia pergi!" jawab Ral.


"Pergi?" tanya Dzakiyya.


"Ya, dia akan pergi. Tidak perlu kaget begitu. Itu kan yang kamu mau?" sindir Ral.


Sindiran itu cukup kasar. Ral bahkan mengatakan itu tanpa melihat Dzakiyya yang mulai menyadari betapa keras kepalanya dia.


"Dza, dia sudah melakukan yang terbaik untuk menebus kesalahannya. Tapi kalau kamu terus begini dia pasti lelah dan menyerah juga. Apa kamu tidak menyesal jika dia benar-benar pergi. Lalu apa kamu ingin Farah dan Fauza hidup tanpa di dampingi ayahnya untuk selamanya? Jadi pikirkanlah baik-baik!" kata Ral.


Pria itu pun bergegas pergi setelah mengatakan nasehat terakhirnya. Sementara Dzakiyya tampak terduduk di pinggiran ranjang sembari melihat wajah anak-anaknya. Sebenarnya Dzakiyya juga tidak ingin hidup seperti ini. Tapi Dzakiyya terlalu penakut. Takut Abidzar menghancurkan perasannya lagi dan membuatnya patah hati seperti sebelumnya.


"Tuhan, apa yang harus kulakukan?" batin Dzakiyya.


"Apa mami terlalu keras pada kalian? Kalau iya, mami minta maaf!" gumam Dzakiyya.


Dzakiyya pun bangkit. Mencium dan memeluk mereka dengan mesra sebelum pergi ke kamarnya sendiri untuk memikirkan biduk rumah tangganya dengan Abidzar.


.


.


.


Keesokan harinya.


"Sayang, kenapa tidak dimakan?" tanya Dzakiyya begitu melihat anak kembarnya tidak menyentuh makanannya.


Farah dan Fauza melihat maminya dengan wajah takut. Takut maminya marah karena mereka tidak memakan makanannya. Tapi mereka takut kalau mereka tidak selera makan karena ingin bertemu papi lagi.


"Kalian sakit?" tanya Dzakiyya lagi.

__ADS_1


Dengan cekatan Dzakiyya memeriksa kedua anaknya secara bergiliran. Tapi mereka tidak sedang demam ataupun pilek. Awalnya Dzakiyya sedikit bingung, tapi begitu mengingat kata-kata Ral kemarin dia tahu apa yang membuat anaknya tidak selera makan.


"Kalian ingin bertemu papi, kan?" tanya Dzakiyya.


Dua bocah itu tidak berani menjawab. Malah hampir menangis dan itu membuat Dzakiyya semakin merasa bersalah.


"Kalau kalian mau ketemu papi, mami bisa anterin kalian ke kantor papi!" lanjut Dzakiyya.


"Mami nggak marah kalau Fa Fa mau ketemu papi?" tanya Farah.


"Nggak," jawab Dzakiyya.


"Janji?" tanya Farah lagi.


Gadis kecil itu tampak menyodorkan jari kelingkingnya. Dzakiyya pun membalasnya. Bahkan memberikan seulas senyum untuk meyakinkan bahwa dia tidak marah.


"Janji!" kata Dzakiyya.


Setelah Farah memastikan ibunya tidak marah, kini giliran Fauza yang beraksi. Karena bocah kecil yang awalnya tidak bertenaga itu sudah melompat dan menarik ibunya untuk menyiapkan bekal yang akan mereka bawa untuk dimakan dengan papinya.


"Mami, Fa Fa mau makan bareng sama papi. Mami bikinkan bekal untuk papi ya?" pinta Fauza.


"A-apa?" tanya Dzakiyya.


Dzakiyya sedikit grogi. Sudah lama dia tidak melakukan itu. Lagipula dia hanya ingin mengantar mereka menemui Abidzar. Bukan untuk mengiriminya makan siang. Kenapa tujuannya bisa berubah?


"Sayang, tapi ini sudah lewat jam makan siang. Papi pasti sudah makan," kata Dzakiyya mencari alasan.


Tapi alasan itu tidak berguna lagi karena Farah dan Fauza bersikukuh meminta bekal tambahan untuk papinya.


"Tidak, papi pasti belum makan!" kata Fauza.


"Sayang, papi sudah makan!" kata Dzakiyya.


"Mami, papi belum makan. Pasti papi lapar sekarang. Ayo cepat!" iba Farah.


Dua anak itu terus merajuk. Dzakiyya pun akhirnya mengalah meskipun jauh di lubuk hatinya gengsi untuk melakukannya.


"Oke, mami akan menyiapkannya sekarang. Kalian masuk kamar dan siap-siap!" kata Dzakiyya.


"Iya, mami!" sahut mereka.

__ADS_1


Dua anak itupun berlarian ke kamar. Tidak hanya memakai sepatunya, mereka bahkan memilah mainan mana yang ingin dia mainkan dengan papinya nanti.


...***...


__ADS_2