Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Oke, Kita Cerai!


__ADS_3

Ral dan Dzakiyya akhirnya bangun setelah mendapatkan siraman air dari Abidzar. Tapi meskipun begitu mereka belum menyadari apa yang terjadi karena masih dibawah pengaruh obat. Dzakiyya hanya duduk sembari memegangi kepalanya yang sakit sementara Abidzar langsung menarik Ral dan memberikan bogem mentah sehingga pria itu tersungkur ke lantai.


"Kau brengsek!" umpat Abidzar.


Ral tidak sempat menghindari pukulan Abidzar. Bukan karena tidak bisa tapi karena kesadarannya belum kembali sepenuhnya.


"Kenapa kamu memukulku, Bid?" teriak Ral begitu sadar siapa yang memukulnya sambil memegangi bagian yang sakit.


"Apa aku tidak boleh memukulmu setelah apa yang kalian lakukan?" tanya Abidzar.


"Memangnya apa yang kulakukan. Aku hanya istirahat karena kepalaku sakit. Kenapa kamu begitu marah?" protes Ral.


Sepertinya Ral benar-benar belum mengerti situasinya. Dan protesnya kali ini membuat Abidzar semakin marah. Abidzar tersenyum kecut lalu mengambil beberapa lembar pakaian yang berserakan di lantai dan melemparkannya ke arah Ral.


"Inikah yang kamu bilang dengan istirahat. Tidur seranjang dan memeluk istriku tanpa memakai pakaian seperti ini?" teriak Abidzar.


"Tunggu! Bid, sebenarnya apa yang kamu bicarakan?" tanya Ral.


Karena masih belum mengerti juga akhirnya Abidzar memukul Ral sekali lagi. Lebih keras dari sebelumnya sampai membuat ujung bibir Ral berdarah.


"Lihat apa yang kalian lakukan!" teriak Abidzar.


Ral akhirnya melihat sekeliling. Ral yakin dia istirahat di sofa. Tapi kenapa bisa berada di dalam kamar. Lalu kenapa semua bajunya terlepas dan hanya menyisakan celana pendeknya saja.


Situasi ini sudah cukup membuat Ral frustasi. Lebih frustasi lagi begitu melihat ke arah ranjang. Pantas saja Abidzar marah. Karena di atas ranjang sana Dzakiyya menutupi tubuhnya dengan selimut karena bajunya juga berhamburan di lantai.


Sama seperti Ral, Dzakiyya juga memperlihatkan ekspresi kebingungan. Dia hanya pamit ke kamar mandi lalu kepalanya sakit dan dia tidak tahu apa yang terjadi sampai Abidzar menyiramnya dengan segelas air.


"Bid, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami tidak melakukan apapun!" kata Ral.


Pria itu segera memakai pakaiannya kembali. Lalu mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Tapi Abidzar tidak memberikan kesempatan untuk itu.


"Aku sudah melihat semuanya dan kamu masih berani mengelak?" tanya Abidzar.


"Ini semua tidak benar, Bid!" kilah Ral.


Tapi Abidzar sudah tidak ingin menanggapi Ral karena yang dia inginkan adalah penjelasan dari istrinya sendiri. Pria itu berbalik arah lalu berjalan mendekati Dzakiyya.


"Apa yang kamu lakukan, Dza?" tanya Abidzar.

__ADS_1


Sekarang tidak hanya wajahnya yang memerah tapi matanya juga. Bahkan dua bulir air mata sudah jatuh meskipun Abidzar sempat menahannya. Sementara itu Dzakiyya tidak hanya mematung begitu saja. Dia segera bangkit, lalu berlutut di kaki Abidzar. Memegangi kaki suaminya yang sedang marah besar atas kesalahan yang tidak dia lakukan.


"Mas Abid, ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" kata Dzakiyya.


Sama seperti Abidzar. Dzakiyya juga tidak bisa menahan air matanya. Yang keluar dari matanya bahkan lebih banyak daripada Abidzar. Disisi lain Abidzar menekuk lututnya. Tangan kekar yang dulu dia gunakan untuk membelai Dzakiyya dengan mesra kini telah berubah.


"Kamu pergi dari rumah dan menolak untuk pulang meskipun aku meminta. Apa karena ingin bebas selingkuh dengannya?" tanya Abidzar.


Tangannya begitu kuat menekan rahang Dzakiyya. Membuat Dzakiyya kesusahan meskipun hanya menjawab satu kalimat saja.


"Kamu salah paham, Mas!" jawab Dzakiyya.


"Lalu bagaimana kamu menjelaskan ini?" tanya Abidzar.


Abidzar melepaskan dagu Dzakiyya dengan kasar. Lalu memperbaiki selimut yang nyaris melorot dan memperlihatkan aurat Dzakiyya. Sungguh, Abidzar masih tidak menyangka melihat istrinya melakukan hal memalukan seperti ini. Kecewa, patah hati, marah semuanya bercampur jadi satu. Bagaimana bisa sahabatnya berada di ranjang yang sama dengan istrinya tanpa sehelai benangpun.


Sementara itu Dzakiyya tidak tahu harus menjawab seperti apa selain meminta suaminya percaya.


"Mas, Dza nggak tahu kenapa bisa begini. Sungguh! Dza nggak bohong jadi tolong percaya sama Dza!" kata Dzakiyya


Sekali lagi Dzakiyya memegangi kaki suaminya. Memohon dengan tulus agar suaminya mempercayainya. Sayangnya Abidzar yang terlanjur dibutakan kemarahan sudah memutuskan untuk membebaskan Dzakiyya.


"Apa maksud kamu, Mas?" tanya Dzakiyya.


Wajahnya mendongak. Melihat Abidzar seolah meminta penjelasan atas kalimatnya yang ambigu. Abidzar yang dilihat tidak langsung menjawab pertanyaan itu, melainkan melepaskan kakinya dari jeratan tangan Dzakiyya.


"Kita bercerai saja!" jawab Abidzar.


Pria itu berbalik arah lalu berjalan meninggalkan kamar. Tapi langkahnya terhenti di ambang pintu ketika Dzakiyya meneriakinya.


"Dza nggak mau cerai, Mas!" teriak Dzakiyya.


Siapa juga yang mau diceraikan dalam keadaan hamil. Terlebih Dzakiyya tidak merasa melakukan kesalahan. Ini semua tidak benar. Pasti ada seseorang yang menjebaknya.


"Kamu bahkan sudah tidur dengan Ral. Kenapa tidak ingin bercerai dariku agar kamu bisa menikah dengannya?" tanya Abidzar.


"Kami tidak melakukan apapun, Mas! Ini fitnah. Selain itu kita nggak bisa bercerai!" jawab Dzakiyya.


"Kenapa tidak bisa?" tanya Abidzar.

__ADS_1


"Karena aku hamil anak kita, Mas!" jawab Dzakiyya.


Abidzar membeku. Genangan air kembali muncul di pelupuk matanya. Kalimat itu sangat dia impikan selama enam tahun terakhir. Tapi setelah apa yang dia lihat barusan, sulit baginya untuk mempercayainya.


Pria itu akhirnya kembali mendekati Dzakiyya tanpa menyembunyikan air matanya yang jatuh. Yah, Abidzar menangis. Menangis tanpa suara sembari membisikkan satu kalimat tepat d telinga Dzakiyya.


"Apa itu benar anakku. Bagaimana jika anak itu adalah anak hasil hubungan gelapmu dengan pria brengsek itu?" tanya Abidzar.


DEG


Hancur sudah pertahanan terakhir yang dimiliki Dzakiyya. Antara cinta, kepercayaan, harapan, semuanya hilang dalam sekejap. Tergantikan oleh rasa sakit yang tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata. Hanya karena dia dan Ral tidur tanpa selembar pakaian, suaminya sudah menuduhnya selingkuh. Mengabaikan penjelasan Ral, tidak mempercayainya bahkan meragukan anak mereka sendiri.


Dzakiyya tersenyum dan menangis di saat yang sama. Menikmati sakitnya keraguan suaminya atas dirinya. Sementara Ral, pria yang sejak tadi berdiri di sudut kamar itu akhirnya mendekat dan mencengkeram kerah Abidzar.


"Apa kamu tidak mau mengakui anakmu sendiri, Bid?" tanya Ral.


"Bagaimana kalau itu anakmu?" jawab Abidzar.


"Kalau begitu mari kita melakukan test DNA nanti. Sumpah Bid, tidak ada perselingkuhan diantara aku dan Dzakiyya. Dan anak yang ada di perut Dzakiyya itu pasti anakmu!" kata Ral.


Akhirnya hanya kata itulah yang keluar dari mulut Ral. Terlalu susah menjelaskan pada Abidzar yang otaknya sudah dicuci oleh ibunya sendiri.


"Kamu pikir aku akan percaya. Ral, setelah apa yang terjadi malam ini bukankah seharusnya kamu bertanggungjawab?" tanya Abidzar.


"Kau benar-benar bajingan!" umpat Ral.


Ral mengepalkan tangannya. Siap menonjok Abidzar sekuat tenaganya agar pria itu sadar. Tapi Dzakiyya yang masih bersimpuh di belakangnya meraih ujung baju yang dia kenakan.


"Cukup, hentikan!" kata Dzakiyya.


Wanita itu tersenyum. Memperlihatkan ekspresi yang berbanding terbalik dengan apa yang hatinya rasakan. Sementara dua pria yang siap adu jotos itu akhirnya berhenti berdebat. Melihat Dzakiyya tanpa ragu melepas cincin nikah yang tersemat di jarinya dan mengembalikannya pada Abidzar.


"Oke, kita cerai!" kata Dzakiyya.


Suaranya hampir tidak terdengar. Tapi sukses membuat dua pria itu terdiam seolah menghadapi dewa kematian. Ral tidak menyangka Dzakiyya bersedia diceraikan. Sementara Abidzar pria itu semakin jauh salah paham. Karena menganggap persetujuan Dzakiyya adalah bentuk pengakuannya atas hubungan gelapnya dengan Ral.


"Pergi! Aku tidak ingin melihat kalian lagi!" usir Dzakiyya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2