Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Apa Dzakiyya Masih Waras?


__ADS_3

"Tuhan, tolong selamatkan nyawa istri dan anak-anakku. Tolong!" batin Abidzar.


Pria itu begitu kacau. Terlihat jelas dari tangannya yang tak berhenti gemetar dan terus mondar-mandir di depan ruangan dimana Dzakiyya dirawat.


"Kenapa lama sekali?" tanya Abidzar.


Padahal baru satu menit setelah Dzakiyya dibawa masuk. Tapi bagi Abidzar, itu berlalu begitu lama. Sementara itu, Talitha yang menyadari kekhawatiran kakaknya langsung meraih tangannya. Yah, gadis itu sudah di rumah sakit sekarang. Ral pun juga sama. Hanya saja sedang sibuk mengurus ayah dan ibunya di ruangan terpisah.


"Mas Abid?" panggil Talitha.


Awalnya Talitha ingin meminta kakaknya tenang. Tapi kata itu tersangkut di tenggorokannya. Bagaimana bisa dia meminta kakaknya tenang sementara dia sendiri juga merasakan hal yang sama.


"Mas Abid juga harus segera mendapatkan perawatan!" ucap Talitha.


Akhirnya malah kata itu yang keluar. Gadis itu memang mengkhawatirkan kakak iparnya. Tapi dia juga mengkhawatirkan kondisi kakaknya. Dokter bahkan sudah memperingatkan Abidzar untuk mendapatkan perawatan tapi pria itu menolak dengan alasan nanti saja.


"Mas Abid nggak apa apa. Jadi jangan cemas!" sahut Abidzar.


Tepat saat itu dokter yang menangani Dzakiyya keluar dari ruangan. Wajah dokter terlihat buruk dan itu membuat Abidzar semakin panik.


"Pak Abidzar, Ibu Dzakiyya harus operasi caesar sekarang juga!" kata Dokter.


"Kalau begitu tolong lakukan!" sahut Abidzar.


Abidzar kira dokter akan segera pergi setelah dia menyetujuinya. Tapi nyatanya dia salah. Karena dokter membutuhkan ijin Abidzar jika terjadi sesuatu selama proses operasi.


"Pak Abidzar, jika terjadi hal yang tidak diinginkan selama operasi siapa yang harus kami selamatkan?" tanya Dokter.


"D-dokter, apa yang Anda katakan. Apa maksudnya dengan siapa yang harus diselamatkan?" tanya Abidzar.


Mata Abidzar membulat sempurna. Pun dengan Talitha yang menunggu jawaban dokter dengan harap-harap cemas. Mereka sangat berharap dokter hanya salah bicara. Sayangnya, dokter tidak sedang melakukan kesalahan.


"Pak Abidzar, situasinya sangat rumit. Kami tim dokter pasti akan melakukan yang terbaik. Saya hanya mengatakan seandainya. Seandainya kami dihadapkan pada pilihan untuk menyelamatkan salah satunya saja, siapa yang harus kami selamatkan. Siapa yang Anda inginkan tetap hidup?" tanya Dokter.


Hancur sudah. Talitha menutup mulutnya rapat-rapat agar suara tangisnya tidak meledak. Sementara Abidzar, pria itu serasa tidak bisa bernafas. Kenapa dia harus memilih salah satunya sementara dia menginginkan ketiganya.


"Pak Abidzar, waktu kita tidak banyak. Jadi siapa yang harus kami selamatkan?" ulang Dokter.


"Selamatkan ibunya," jawab Abidzar.


Seandainya bisa, Abidzar bersedia menukar nyawanya asal Dzakiyya dan anak-anak mereka tetap hidup. Sayangnya tidak ada pilihan seperti itu. Meskipun berat, meskipun tahu Dzakiyya lebih memilih mati demi anak-anaknya, tapi Abidzar sudah memutuskan untuk memilih Dzakiyya.

__ADS_1


"Meskipun Ibu Dzakiyya tidak akan pernah hamil lagi untuk selamanya?" tanya Dokter.


"Iya, selamatkan ibunya!" jawab Abidzar.


Setelah mengatakan itu, Abidzar memeluk adiknya dan tanpa dikomando menangis bersama. Dokter yang yang melihat pemandangan itu sempat menitikkan air mata. Dia tahu betul bagaimana perasaan Abidzar saat ini.


Tapi beginilah hidup, terkadang kamu akan dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Bahkan terkadang kamu harus memilih pilihan paling sulit diantara yang tersulit. Akhirnya dokter itu pun pergi, tentu saja dengan merapalkan doa agar operasi berjalan lancar dan ketiganya bisa bertahan sehingga mereka bisa berkumpul layaknya keluarga.


"Maafkan papa, Nak! Maaf karena papa memisahkan kalian dari mama. Maaf karena membuat kalian menderita. Maaf karena tidak memberikan kesempatan pada kalian untuk merasakan hangatnya pelukan mama," batin Abidzar.


Untaian kata maaf terus keluar dari mulut Abidzar karena merasa gagal sebagai seorang suami dan ayah. Bahkan juga merasa gagal sebagai seorang kakak dan teman. Hari ini pria itu remuk luar dalam. Terlalu banyak yang terjadi dan dia sudah mencapai batasnya. Saat ini pandangannya mulai kabur dan matanya semakin berat. Dan beberapa detik kemudian akhirnya Abidzar lolos di pelukan adiknya karena kehilangan kesadaran.


.


.


.


"Akhirnya kamu bangun juga!" kata Ral.


Pria itu mendekati Abidzar yang baru diperiksa dokter setelah siuman. Mendengar ocehan Ral, Abidzar hanya meringis, lalu memegangi perutnya yang sakit. Sementara Ral, dia hanya berdiri sembari memperhatikan tubuh Abidzar yang penuh balutan perban menyerupai mumi.


"Inilah akibatnya kalau kamu keras kepala. Untung kamu tidak mati!" omel Ral lagi.


"Apa yang kamu lakukan. Kamu mau kemana?" tanya Ral begitu menyadari apa yang Abidzar lakukan.


"Ral, aku ingin menunggu Dzakiyya operasi. Tolong bantu aku," jawab Abidzar.


Wajah itu begitu lesu, persis seperti bunga layu tanpa warna. Ral yang mendengar keinginan konyol itu tidak bisa menahan tawanya.


"Kamu masih bisa tertawa disaat seperti ini?" tanya Abidzar.


Abidzar sangat kesal. Nyawa Dzakiyya sedang dipertaruhkan dan nyawa anak-anaknya mungkin tidak akan tertolong, jadi bagaimana bisa Ral menunjukkan ekspresi bahagia seperti itu.


"Kenapa tidak?" jawab Ral.


Pria itu menjawab pertanyaan Abidzar dengan santai. Bahkan secara terang-terangan menunjukkan senyum yang lebih manis. Tapi sebelum Abidzar mati karena kesal, dia segera menjelaskan situasinya.


"Apa kamu pernah mendengar ada operasi caesar yang dilakukan selama tiga hari tiga malam?" tanya Ral.


"T-tiga hari?" tanya Abidzar.

__ADS_1


Abidzar memasang ekspresi kebingungan. Dan setelah menyadari berapa lama dia pingsan Abidzar tidak bisa menutupi keterkejutannya.


"Jadi aku tidak sadar selama tiga hari?" tanya Abidzar dengan mata membesar dan menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, kamu pingsan selama tiga hari. Kamu paham sekarang?" jawab Ral.


Abidzar membuka mulutnya lebar-lebar. Menyadari berapa banyak hal penting yang dia lewatkan selama itu. Termasuk pemakaman anak-anaknya.


"Jadi, apa aku bahkan tidak memiliki kesempatan melihat dan mencium anakku sebelum dimakamkan?" tanya Abidzar.


Sementara Ral, pria itu tidak mengatakan apapun. Enggan memberitahu Abidzar bahwa dia sudah resmi jadi seorang ayah dan dirinya sudah resmi menjadi seorang paman. Yah, kondisi Dzakiyya dan bayinya memang rumit waktu itu. Tapi dengan kerja keras dokter dan ijin Tuhan, mereka semua selamat.


Ral sengaja tidak memberitahu Abidzar karena ingin memberinya pelajaran. Biarkan pria itu sedih dan menangis dulu. Siapa suruh dia begitu bodoh. Tapi karena dia melakukan hal yang benar di saat-saat kritis, Ral berbaik hati mengambil kursi roda untuk membawanya menemui Dzakiyya sebelum mengatakan semuanya.


"Ayo, aku akan membawamu menemui Dzakiyya!" kata Ral.


Pria bodoh yang mengira anak-anaknya mati itu hanya menurut. Tidak ada lagi yang dia katakan sampai matanya melihat Dzakiyya yang sibuk merajut sepatu bayi. Talitha juga tampak menemaninya dengan memegang beberapa benang ditangannya.


"Ral, menurutmu apa Dzakiyya masih bisa sembuh?" tanya Abidzar.


Ral yang tahu kemana arah pikiran Abidzar langsung memberikan satu pukulan di kepala Abidzar karena hanya bagian itu yang bisa dia pukul.


"Apa kamu pikir Dzakiyya sudah tidak waras?" tanya Ral.


Abidzar meringis kesakitan. Dia tidak tahu anak-anaknya yang cantik dan lucu sedang tertidur di dalam inkubator. Dan begitu melihat Dzakiyya merajut sepatu, Abidzar sudah mengira Dzakiyya mengalami depresi berat.


"Kenapa kamu memukulku?" protes Abidzar.


"Aku akan membunuhmu jika kamu bicara sembarangan," kata Ral.


Sekarang pria itu memutar kursi roda Abidzar. Lalu mendorongnya ke tempat lain. Dan itu membuat Abidzar kembali protes.


"Kamu mau membawaku kemana. Aku belum menjelaskan semuanya pada Dzakiyya," protes Abidzar.


"Apa kamu tidak mau melihat anak-anakmu?" tanya Ral.


Sebelumnya, Abidzar seperti mayat hidup dengan wajah nelangsa. Tapi begitu mendengar pertanyaan Ral, energinya langsung pulih.


"Mereka selamat?" tanya Abidzar.


"Ya, mereka selamat!" jawab Ral.

__ADS_1


...***...


__ADS_2