Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Ketahuan


__ADS_3

"Mas, kamu kenapa?" tanya Dzakiyya begitu melihat penampilan suaminya yang semrawut ketika dipapah Ral.


Abidzar tersenyum tipis tapi tidak mengatakan apa-apa. Apa lagi yang harus dia katakan sementara untuk berdiri saja dia membutuhkan bantuan Ral. Sepertinya calon anak mereka sangat nakal. Tidak hanya membuat ayahnya hampir mati karena mual. Tapi juga merepotkan pamannya untuk mengurus ayahnya.


"Ambil suamimu. Aku lelah mengurusnya," protes Ral.


"Maaf!" kata Dzakiyya.


Dzakiyya tersenyum canggung, lalu meraih Abidzar ke pelukannya. Dzakiyya nyaris oleng karena tidak bisa menahan bobot tubuh suaminya. Untungnya Ral tidak sejahat itu. Meskipun jengkel, tapi dia masih bersedia memapah Abidzar dan melemparkannya ke ranjang.


Dengan tenaganya yang minim Abidzar meraih istrinya. Entah anjing mana yang merasukinya. Tapi yang jelas Abidzar mulai mengendus beberapa bagian tubuh Dzakiyya terutama ceruk lehernya.


"Mas, k-kamu ngapain sih?" tanya Dzakiyya mulai panik.


Sementara Ral, begitu melihat pemandangan tidak senonoh yang ditunjukkan Abidzar secara live, dia pun mendepak Abidzar agar menjauh dari Dzakiyya.


"Kalau kamu mau membuat anak setidaknya tunggu aku pergi dulu brengsek!" umpat Ral.


Abidzar yang terlempar hanya tertawa meskipun tanpa suara. Siapa juga yang mau membuat anak dengan kondisi seperti itu. Dia hanya mencium aroma harum yang membuatnya nyaman. Makanya dia ingin mencari dimana sumbernya.


"Kenapa otakmu mesum sekali?" tanya Abidzar dengan suara lemah


Pria itu akhirnya duduk. Lalu kembali memeluk Dzakiyya. "Sayang, bau apa ini. Kenapa kamu wangi sekali. Tidak seperti mereka. Tidak seperti orang itu juga," kata Abidzar.


"Apa maksudmu, Bid? Apa kamu baru saja bilang aku juga bau?" tanya Ral.


Hari ini kesabaran Ral benar-benar diuji. Dia sudah cukup sabar ketika jas dan mobilnya terkena muntahan Abidzar. Lalu setelah mengantar Abidzar pulang, Abidzar malah mengeluh bahwa ibu, adik serta istri keduanya bau dan membuat Abidzar muntah hebat.


Dalam keadaannya yang memprihatinkan, Abidzar meminta Ral mengantarnya menemui Dzakiyya dan Ral memenuhi permintaannya. Tapi inikah balasan Abidzar setelah apa yang dilakukan Ral?


"Maaf, mungkin hidungku sedang rusak. Tapi saat ini kamu benar-benar bau," jawab Abidzar.


"Bid, kamu cari mati!" umpat Ral.


Emosi itu sampai juga di ubun-ubun. Kenapa Abidzar tidak mengatai Ral bau lebih awal. Dengan begitu Ral tidak perlu repot-repot menjadi sopir pribadi Abidzar. Tapi ya sudahlah, sebelum Ral kehilangan kendali dan menjadi gila seperti Abidzar, dia pun memutuskan pulang.


"Akhir-akhir ini suamimu aneh. Rawat dia baik-baik," kata Ral pada Dzakiyya.


"Tunggu, apa kamu tidak mengantar Mas Abid pulang ke rumah?" tanya Dzakiyya.


"Sudah, tapi dia mengatai semua orang bau. Makanya aku membawanya kemari," jawab Ral sembari berlalu.

__ADS_1


"Oh," kata Dzakiyya.


Selepas kepulangan Ral, Dzakiyya pun segera mengurus suaminya. Badan yang lengket sudah Dzakiyya seka. Baju yang kotor juga sudah Dzakiyya ganti. Dan ketika Dzakiyya akan pergi meringkas pakaian kotor, Abidzar menahannya.


"Jangan pergi!" kata Abidzar.


Abidzar tidak hanya menahan Dzakiyya tapi juga memeluknya dari belakang menggunakan kekuatan sehingga Dzakiyya sedikit tergencet.


"Bukannya Mas Abid sakit?" tanya Dzakiyya yang heran dengan kekuatan suaminya.


"Mas Abid sakit tadi. Tapi setelah melihat kamu sudah agak baikan," jawab Abidzar.


Abidzar menyandarkan kepalanya ke pundak Dzakiyya. Lalu kembali mengendus leher Dzakiyya yang membuatnya nyaman.


"Apa Mas Abid jadi begini karena aku hamil?" batin Dzakiyya.


Dzakiyya pernah mendengar bahwa seorang suami bisa mewakili istrinya ngidam, mual atau semacamnya. Jadi melihat Abidzar yang seperti ini Dzakiyya tidak kaget. Malahan ingin tertawa karena sepertinya calon anaknya tidak ingin membuatnya menderita.


"Sayang, apa kamu tertawa?" protes Abidzar.


"Enggak," jawab Dzakiyya.


"Sayang, kamu nakal. Suamimu sakit tapi kamu malah menertawakannya. Ayo, sini. Sepertinya kamu mau dihukum," kata Abidzar.


Abidzar menarik Dzakiyya hingga terlentang. Lalu menahan dua tangannya dengan satu tangannya yang kekar. Abidzar memang sakit. Tapi untuk mengerjai Dzakiyya dia masih sanggup. Abidzar tidak berhenti sampai disitu. Disaat bibirnya menggapai bibir Dzakiyya, tangannya yang lain mulai bergerilya dan mempreteli pakaian istrinya hingga tidak ada satupun yang tersisa. Selanjutnya membuka pakaiannya sendiri dan membuangnya ke sembarang arah.


"Mas, k-kamu mau ngapain?" tanya Dzakiyya begitu ciumannya dilepas.


Dzakiyya dilanda panik mendapati mereka begitu original. Dia hamil muda dan kata dokter kandungannya cukup lemah. Bagaimana kalau Abidzar yang belum tahu dirinya sedang hamil meminta jatahnya dan bergerak ekstrim.


"Dza nggak mau?" goda Abidzar.


"Nggak sekarang, ya?" tolak Dzakiyya sembari merapatkan kakinya.


Abidzar tersenyum. Dia sedang tidak ingin meminta jatahnya kok. Dia hanya ingin melakukan skin to skin sama seperti bayi yang lahir. Makanya dia menanggalkan pakaian yang mereka kenakan. Tapi begitu memeluk Dzakiyya ada satu pemandangan yang membuatnya terganggu.


"Mas kamu lihat apa?" tanya Dzakiyya risih.


"Sayang, apa cuma perasaan Mas Abid. Perut kamu agak berisi ya?" komentar Abidzar sembari menyentuh perut Dzakiyya.


"Mas Abid nggak suka kalau perut Dza begitu?" tanya Dzakiyya

__ADS_1


"Suka. Begini juga lucu," jawab Abidzar.


Lagi-lagi Abidzar tersenyum. Jika tadi Abidzar tertarik dengan ceruk leher Dzakiyya. Maka sekarang Abidzar tertarik untuk mencium perut itu seolah ada yang memanggilnya.


.


.


.


Keesokan harinya.


Ral pergi ke kantor seperti biasanya. Sepanjang jalan dia menyapa beberapa rekan kerjanya. Tak terkecuali Joshua yang tidak sengaja bertemu dengannya di dalam lift.


"Selamat pagi, Joshua!" sapa Ral.


Joshua menoleh. Lalu melihat Ral dari atas hingga bawah. Jujur saja Joshua sedikit kagum dengan Ral yang berakting dengan sangat baik.


"Bukan kamu yang harusnya menyapa duluan. Tapi aku," protes Joshua.


Kata yang keluar dari mulut Joshua berhasil menarik perhatian Ral. "Maksud kamu?" tanya Ral.


"Jelas-jelas seorang COO. Tapi kamu malah menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya dan menjadi karyawan biasa di departemenku. Sebenarnya apa tujuanmu, COO Rafael?" tanya Joshua.


Ral langsung menoleh, tidak menyangka Joshua akan mengetahui identitasnya secepat ini. "Aku tidak punya tujuan apapun. Aku hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian dengan posisi itu," jawab Ral.


"Benarkah?" tanya Joshua.


"Tentu saja benar," jawab Ral.


"Bagus kalau memang seperti itu. Aku hampir mengira kamu sengaja melakukannya untuk memata-matai ku," kata Joshua.


Kalimat itu jelas berupa sindiran. Untungnya, meskipun Ral mengerti sindiran itu ditujukan untuknya, dia masih menunjukkan ketenangannya.


"Kamu berpikir terlalu jauh, Joshua. Aku tidak senganggur itu," kata Ral sembari menepuk pundak Joshua.


Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Ral pun keluar terlebih dulu tanpa meninggalkan pesan apapun untuk Joshua.


"Sial, aku sudah ketahuan. Aku harus hati-hati lain kali," batin Ral


...***...

__ADS_1


__ADS_2