Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Ditindas Mertua & Madu


__ADS_3

...Hanya karena tidak ada janin yang tumbuh di rahimmu, jangan sampai membuatmu mengabaikan bayi-bayi lain yang ada di sekitarmu....


Kalimat yang dikatakan Ral tempo hari sangat membekas di benak Dzakiyya. Selama ini dirinya terlalu fokus dengan vonis mandul dan berbagai macam ikhtiarnya. Sampai lupa bahwa diluar sana begitu banyak bayi yang membutuhkan uluran tangan darinya.


Beruntung Ral mengingatkan Dzakiyya hari itu. Jika tidak, mungkin Dzakiyya masih terjebak dalam kesedihan. Tidak tahu kapan bisa keluar dari lingkaran keputusasaan yang membuatnya terpuruk begitu dalam. Dan disinilah Dzakiyya hari ini. Berdiri diantara box bayi dengan senyum mengembang.


Kedatangannya ke panti asuhan bukan hanya untuk melihat anak-anak kurang beruntung itu. Tapi juga memberikan sumbangan dan menyerahkan beberapa kebutuhan untuk mereka.


"Siapa nama bayi ini. Cantik sekali!" puji Dzakiyya ketika melihat seorang bayi cantik yang masih merah. Sepertinya bayi itu berumur kurang dari satu minggu.


"Namanya Amira. Ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ibunya terpaksa menitipkannya disini karena masih ada dua anaknya yang lain," jawab seorang penjaga.


Dzakiyya mengangguk, kemudian menyentuh dagu Amira dengan jarinya. Amira masih terlalu kecil, respon yang dia berikan hanyalah menggerakkan kepala dan memonyongkan bibir seolah minta susu.


Dzakiyya melanjutkan langkahnya. Melihat bayi lain yang juga lucu. Dzakiyya merasa iba dan ingin rasanya membawa pulang salah satu diantaranya. Tapi niat itu Dzakiyya simpan karena keadaannya tidak memungkinkan. Bukan soal uang, melainkan soal mertuanya. Mertuanya pasti tidak senang jika Dzakiyya mengadopsi seorang bayi. Terlebih Nafisa sudah hamil yang mereka kira anak Abidzar.


Dzakiyya menghela nafasnya, lalu melihat bayi lain yang usianya lebih besar. Dari box yang lain, seorang bayi berparas tampan yang sedang belajar duduk melihat Dzakiyya. Bayi itu begitu lincah. Tersenyum lebar sembari menggerakkan kaki dan tangannya seolah minta di gendong.


"Sepertinya Yusuf minta di gendong. Apa Bu Dzakiyya tidak keberatan?" tanya penjaga dengan ramah.


"Tentu saja tidak. Biarkan saya menggendongnya," jawab Dzakiyya.


Dzakiyya menggendong Yusuf dengan hati-hati. Yusuf semakin kegirangan. Bukan hanya menggerakkan kaki dan tangannya. Yusuf juga mengajak Dzakiyya bicara dengan bahasa bayi yang sulit dipahami.


"Yusuf, apa yang kamu katakan. Apa kamu suka di gendong begini?" tanya Dzakiyya.


Yusuf tertawa semakin lebar. Memperlihatkan gusinya yang masih belum ditumbuhi gigi. Dengan antusias Dzakiyya membawa Yusuf dan mengajaknya bermain. Maklum, Dzakiyya selalu ingin punya anak laki-laki. Sementara Abidzar ingin punya anak perempuan. Mereka pernah berdebat soal ini saat keduanya masih berpacaran. Sayangnya entah baik laki-laki atau perempuan, mereka belum mendapat kepercayaan untuk itu. Dan mungkin selamanya tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk itu.


Hari itu Dzakiyya tidak hanya menggendong Yusuf. Tapi juga menggendong bayi-bayi lainnya. Benar apa yang dikatakan Ral. Mereka membutuhkan sentuhan seorang ibu. Karena saat Dzakiyya menggendongnya, mereka akan tertidur beberapa waktu kemudian. Mungkin mereka pikir Dzakiyya adalah ibunya.


Setelah dirasa cukup Dzakiyya pun kembali ke rumah dengan rona bahagia. Senyuman terus mengembang. Membuat Diana yang melihatnya mengira Dzakiyya gila. Sementara Dzakiyya yang melihat wajah mertuanya kurang bersahabat langsung mendekat.


"Ma, maaf Dza baru pulang!" kata Dzakiyya.


"Bagus sekali. Kamu lihat nggak sekarang jam berapa?" tanya Diana.


Dzakiyya melirik ke arah jam dinding. Jam masih menunjukkan pukul dua siang. Tapi kenapa mertuanya memarahinya seolah dirinya pulang larut malam.


"Ini masih jam dua siang, Ma!" jawab Dzakiyya.


"Masih jam dua kamu bilang. Kamu tahu nggak seharusnya mertuamu ini dan Nafisa itu makan jam berapa?" tanya Diana dengan menggebrak meja.

__ADS_1


"Mama belum makan?" tanya Dzakiyya.


Semenjak Nafisa hamil, Abidzar sudah menambah lagi jumlah maid di rumah ini. Lalu melarang keras Dzakiyya melakukan pekerjaan rumah. Seorang koki juga Abidzar sediakan. Jadi kenapa mereka belum makan. Tapi Dzakiyya enggan berdebat. Toh hanya memasak saja.


"Dza siapin makan untuk mama sekarang, ya?" kata Dzakiyya.


Dzakiyya undur diri lalu segera pergi ke dapur untuk memasak dibantu oleh koki dan beberapa maid. Sementara Diana yang melihat Dzakiyya masih tersenyum semakin jengkel dibuatnya.


"Bagus sekali. Samimu menikah lagi dan ibumu mati. Tapi kamu masih bahagia begitu. Sepertinya pelajaran dariku masih kurang," batin Diana.


Empat puluh menit kemudian, berbagai hidangan mulai disajikan. Dzakiyya pun segera memanggil mertua dan madunya makan sebelum hidangannya menjadi dingin.


"Sayang, ayo makan ini. Ini bagus untuk kesehatan janin!" kata Diana dengan meletakkan sepotong ikan di piring Nafisa.


"Terimakasih, Ma!" kata Nafisa.


Diana menyuapi Nafisa dengan manis. Beberapa kali tampak memilih dan mengambilkan makanan mana yang harus Nafisa makan.


"Bagaimana?" tanya Diana.


Nafisa melirik Dzakiyya yang menyajikan sup. Sebenarnya sangat enak. Tapi tidak mungkin Nafisa memuji masakan Dzakiyya kan.


Diana pun mencicipi makanan itu. Tidak ada yang aneh. Tapi dia harus tetap menyalahkan Dzakiyya meskipun Dzakiyya benar sekalipun. "Kamu pasti sengaja kan?" bentak Diana.


Dzakiyya yang tidak mengerti dimana letak kesalahannya hanya diam saja. Bahkan bisa dikatakan lambat bereaksi. "Apa ada yang salah, Ma?" tanya Dzakiyya.


"Kamu lihat ngga sih. Nafisa nggak suka sama makanan yang kamu buat tahu?" bentak Diana sembari meletakkan sendok dengan kasar.


Dzakiyya mengkerut. Lalu memikirkan cara agar mertuanya tidak marah. "Dza akan memasak hidangan yang lain, Ma!" kata Dzakiyya.


"Kelamaan!" dengus Nafisa kesal.


"Ini ngga akan lama," janji Dzakiyya.


Tapi Nafisa yang mendapat dukungan Diana semakin tak tahu diri. Entah kenapa mertua dan madu itu begitu kompak mempersulit Dzakiyya.


"Ma, Nafisa sudah nggak lapar. Tapi kaki Nafisa pegal!" keluh Nafisa.


"Orang hamil memang sering pegal-pegal. Bagian mana yang pegal?" tanya Diana.


"Semuanya, Ma!" jawab Nafisa.

__ADS_1


Diana melihat dua kaki Nafisa yang katanya pegal. Lalu tanpa berpikir langsung meneriaki Dzakiyya. "Kamu ngapain masih berdiri disitu. Sini cepat pijit kaki Nafisa!" bentak Diana


"Dzakiyya ma?" tanya Dzakiyya.


"Kamu tuli ya. Ya iyalah kamu. Siapa lagi kalau bukan kamu!" jawab Diana dengan sewot.


Dzakiyya mendekat. Ingin duduk di kursi yang ada di samping Nafisa. Tapi Nafisa menggeser kursi yang ingin diduduki Dzakiyya. Tentu saja apa yang dilakukan Nafisa membuat Dzakiyya heran.


"Kalau begini bagaimana caranya aku memijit?" protes Dzakiyya.


"Kamu kan bisa duduk atau berlutut di lantai!" ketus Nafisa.


"Nafisa, bisa nggak sopan sedikit. Aku ini istri pertama Mas Abid!" protes Dzakiyya.


"Apa gunanya istri pertama kalau hamil saja tidak becus!" sahut Nafisa.


"Nafisa!" kata Dzakiyya.


Nada suaranya sedikit lebih tinggi. Tidak masalah jika Nafisa ingin dipijit. Tapi bukan begini caranya. Kenapa juga mengungkit kembali soal dia yang tidak bisa hamil. Tentu saja pertikaian dua orang itu menarik perhatian Diana.


"Dzakiyya, kamu itu nggak tahu gimana rasanya kaki pegal saat hamil. Jadi bisa nggak ngalah. Lagipula apa sih susahnya duduk di lantai?" bentak Diana.


"Bukan seperti itu maksud Dza, Ma!" bela Dzakiyya.


Tapi pembelaannya tidak di dengar Diana. Dan Nafisa yang dibela habis-habisan semakin berada di atas awan.


"Cukup, Dzakiyya!" teriak Diana.


"Ayo cepat pijit!" imbuh Nafisa.


Lagi-lagi Dzakiyya mengalah. Tidak melawan meskipun diperlakukan seperti babu oleh mertua dan madunya sendiri. Baru saja Dzakiyya berlutut di lantai. Dzakiyya juga baru menyentuh kaki Nafisa. Tapi Nafisa sudah mengeluh dan menendang Dzakiyya.


"Bisa mijit ga sih?" teriak Nafisa.


Nafisa bangkit entah apa yang akan dia lakukan. Tapi dia sudah menyambar segelas air yang ada di meja. Tapi suara Abidzar menghentikannya.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Abidzar.


"Mas Abid?" gumam Nafisa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2