Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Tamparan Pertama


__ADS_3

"Talitha pergi kemana sepagi ini?" batin Abidzar yang tidak melihat mobil Talitha di garasi.


Kali ini tidak hanya keberadaan mobil Talitha yang mencuri perhatian Abidzar, tapi juga keberadaan seorang sopir yang tengah menyiapkan mobil yang biasanya dikendarai Dzakiyya.


"Apa Dzakiyya juga mau pergi?" gumam Abidzar.


Meskipun penasaran, Abidzar tidak bertanya pada sopir itu dan memilih turun dari mobil dengan menenteng jas yang dia kenakan kemarin. Masih tampan, tapi gurat kelelahan terpancar jelas di wajahnya. Belum juga masuk ke rumah, langkah Abidzar sudah terhenti karena seorang tukang kebun memanggilnya.


"Den Abid!" panggil pria itu.


Abidzar yang namanya disebut akhirnya menoleh. Melihat tukang kebun berlari tergopoh-gopoh dengan membawa sebuah kotak yang tidak asing untuknya.


"Ada apa?" tanya Abidzar.


Abidzar belum menaruh prasangka apapun. Sampai tukang kebun itu selesai mengatur nafas dan menyerahkan kotak kecil yang ternyata adalah hadiah yang dia belikan untuk Dzakiyya.


"Den, ini masih ada isinya. Kenapa dibuang. Untung belum kebakar," kata tukang kebun.


"Kebakar?" tanya Abidzar.


Abidzar meraih kotak yang salah satu sudutnya hangus dilahap api. Setelah memeriksanya, di dalamnya memang masih ada perhiasan lengkap dengan surat-suratnya.


"Dimana kamu menemukan ini, Mang. Kenapa bisa terbakar?" tanya Abidzar heran.


Abidzar yakin meletakkannya di rak yang ada di depan kamar Dzakiyya kemarin. Mungkinkah ada seseorang yang mengira kotak ini kosong lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Di tong sampah, Den!" jawab tukang kebun.


"Mamang tahu siapa yang membuang ini?" tanya Abidzar penasaran.


"Saya juga kurang tahu, Den. Waktu saya menyalakan api kotak ini sudah ada di tong sampah. Tertimbun bunga dan kertas," jawab tukang kebun.


"Kertas?" batin Abidzar.


Abidzar pun langsung melihat tong sampah yang di maksud tukang kebunnya. Salah satu alisnya terangkat, begitu pun dengan emosinya yang mulai naik begitu melihat seikat bunga beserta secarik kertas yang dia tinggalkan untuk Dzakiyya kemarin.


Abidzar terlalu sibuk akhir-akhir ini. Dia bahkan tidak memiliki waktu istirahat yang cukup. Paginya mendapatkan omelan mamanya dan saat pulang melihat barang itu di tong sampah, jelas saja Abidzar marah.


Baiklah, bukan masalah jika bunga dan kertas itu dibuang. Bunga itu hanyalah salah satu bentuk Abidzar menunjukkan cintanya. Sementara kertas itu hanyalah tulisan berisikan permohonan maaf dan juga penanda bahwa dia pulang semalam. Tapi kenapa perhiasan itu juga ikut dibuang. Sikap macam apa itu.

__ADS_1


Abidzar yang terlanjur emosi tidak bisa berpikir jernih. Hanya karena secarik kertas itu ikut terbuang, Abidzar sudah mengira bahwa Dzakiyya lah yang membuang semua barang ini.


"Dza, hari ini kamu benar-benar kelewatan!" batin Abidzar.


Abidzar menghela nafas panjang. Lalu mengambil secarik kertas yang terbakar separuhnya. Sementara untuk bunganya, Abidzar tidak peduli lagi.


"Dzakiyya!" panggil Abidzar.


Tempat pertama yang Abidzar kunjungi adalah kamar Dzakiyya. Kali ini Abidzar tidak lagi mengetuk pintu, melainkan langsung masuk ke dalam. Dzakiyya yang saat itu tengah berada di kamar mandi pun menyudahi gosok giginya.


"Apa Mas Abid sudah pulang?" batin Dzakiyya.


Wajah Dzakiyya memang pucat, tapi ada sedikit binar yang terpancar begitu mendengar panggilan suaminya. Dzakiyya mengira Abidzar menemuinya untuk minta maaf seperti hari sebelumnya. Tapi sepertinya Dzakiyya harus kecewa karena Abidzar datang bukan untuk itu.


"Dzakiyya, keluar!" kata Abidzar.


Pria itu membuka pintu kamar mandi. Begitu melihat istrinya, dia langsung menariknya dan membiarkannya duduk di ranjang. Sedikit kasar, dan itu cukup membuat Dzakiyya kaget.


"Ada apa, Mas?" tanya Dzakiyya sembari memegangi tangannya yang sakit.


Dzakiyya belum menyadari apa yang terjadi. Tapi melihat wajah suaminya dan perlakuannya barusan, Dzakiyya tahu suaminya sedang marah. Tapi marah karena apa?


Sementara Abidzar, pria berbadan atletis itu berdiri di hadapan Dzakiyya. Jika biasanya Abidzar menatap Dzakiyya dengan penuh cinta, kali ini Dzakiyya bisa merasakan tatapan Abidzar seolah ingin mengulitinya.


Dzakiyya menggeleng. Bukan dia yang marah. Tapi Abidzar itu sendiri.


"Enggak," jawab Dzakiyya.


Abidzar menanggapi jawaban Dzakiyya dengan senyum sinis dan membuang mukanya.


"Kalau tidak marah, lalu kenapa barang-barang ini kamu buang?" tanya Abidzar sembari melemparkan dua barang yang Abidzar pungut dari tong sampah.


Dzakiyya melihat dua barang itu dengan ekspresi kebingungan. Dia baru saja melihat barang itu sekali dan itu sekarang. Jadi kapan dia membuangnya sementara menyentuhnya saja belum pernah.


"Mas, bukan Dza yang membuang benda ini," jawab Dzakiyya.


Wanita itu mengatakan apa yang sebenarnya. Tapi Abidzar yang terlalu lelah terlanjur emosi. Tidak hanya tidak memberikan Dzakiyya kesempatan untuk menjelaskan. Abidzar juga mulai memarahi Dzakiyya.


"Dza, Mas tahu Mas Abid salah karena nggak datang kemarin. Makanya Mas Abid buru-buru pulang untuk nemenin kamu setelah mengurus Nafisa. Tapi apa yang kamu lakuin. Marah sampai membuang barang-barang!" omel Abidzar.

__ADS_1


"Mas Abid pulang semalam?" tanya Dzakiyya dengan mata membesar.


"Menurut kamu siapa yang menulis ini untuk kamu selain Mas Abid?" tanya Abidzar.


Dzakiyya meraih kertas yang tinggal separuh. Iya, itu adalah tulisan tangan suaminya. Tulisan yang tidak bisa lagi Dzakiyya baca karena nyaris terbakar seluruhnya. Tapi sungguh, Dzakiyya benar-benar tidak tahu soal Abidzar yang pulang. Dzakiyya juga tidak tahu menahu tentang dua barang yang sekarang dia pegang.


"Mas, tapi Dza nggak membuang barang-barang ini. Dza bahkan ngga tahu Mas Abid menulis ini," bela Dzakiyya.


"Nggak tahu kamu bilang. Dza, Mas Abid meletakkan catatan ini di meja kamu. Dan Mas Abid menemukannya di tong sampah. Kalau bukan kamu yang membuangnya lalu siapa. Siapa yang bisa sembarangan masuk kamar kamu, nggak ada kan?" tanya Abidzar dengan nada lebih tinggi.


"Tapi Dzakiyya nggak melakukannya, Mas!" kata Dzakiyya.


Dzakiyya berlutut di kaki suaminya. Memohon agar suaminya meredakan emosinya. Tapi Abidzar tidak memperdulikan permohonan istrinya.


"Dza, tolong ngertiin Mas Abid oke! Mas Abid capek!" kata Abidzar.


Suara itu sedikit luluh tapi bukan berarti Abidzar menyudahi marahnya. Karena sekarang ada hal yang harus Dzakiyya lakukan.


"Sudahlah, lupakan yang barusan. Sekarang kamu pergi dan minta maaf sama mama!" titah Abidzar.


Dzakiyya yang sebelumnya menunduk mengangkat wajahnya. Memangnya dia salah apa sampai harus meminta maaf kepada mertuanya. Apa hanya karena dia yang menolak membuatkan sarapan tadi.


"Nggak mau!" tolak Dzakiyya.


Wanita itu melepaskan kaki Abidzar yang sebelumnya dia peluk. Dia sudah meminta maaf tadi. Dia juga sudah mengatakan bahwa dia sedang sakit. Tapi kenapa Diana malah mengadu yang bukan-bukan pada Abidzar. Tentu saja hal ini membuat Dzakiyya sakit hati.


"Dzakiyya, kesabaran Mas Abid ada batasnya. Jadi tolong jangan membuat Mas Abid marah. Bangun, cepat minta maaf ke mama sekarang!" ulang Abidzar.


"Tapi Dzakiyya nggak salah, Mas! Kenapa selalu Dzakiyya yang harus minta maaf?" protes Dzakiyya.


"Jadi kamu nggak mau minta maaf?" tanya Abidzar.


"Enggak!" jawab Dzakiyya dengan nada sedikit meninggi.


Kali ini giliran Dzakiyya yang membuang muka dan ini adalah pertama kalinya Dzakiyya bicara kasar pada Abidzar. Sementara Abidzar, karena merasa gagal mendidik istrinya dengan kata-kata, dia pun menggunakan cara lain untuk mendidiknya.


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi Dzakiyya. Tamparan itu tidak terlalu keras. Tapi sukses membuat nyali Dzakiyya menciut bersamaan dengan hatinya yang hancur.

__ADS_1


"Oke, Dza minta maaf!"


...***...


__ADS_2