Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Only 21+


__ADS_3

"Fa Fa sayang, apa yang kalian lakukan disini?" tanya Abidzar.


Pria itu sudah berdiri di belakang Farah dan Fauza yang sembunyi di balik tembok. Membuat dua anak kecil itu terkejut dan mencari alasan agar papinya tidak marah.


"Papi, Fa Fa takut gelap!" kata Farah.


"Makanya Fa Fa keluar. Mau mencari papi!" lanjut Fauza.


Mata anak-anak itu begitu bening dan polos. Menunjukkan akting sempurna dengan memasang wajah seolah ketakutan sembari memegangi kaki-kaki Abidzar. Melihat tingkah lucu itu siapa yang tidak gemas.


"Jangan bohong. Papi tahu kok, kalian sedang mengintip mami kan?" goda Abidzar.


"Papi marah?" tanya Fauza.


"Fa Fa minta maaf!" timpal Farah.


Farah dan Fauza menundukkan kepalanya. Sedih karena merasa gagal membuat papi dan mami baikan. Juga takut karena sudah membuat papinya marah. Melihat wajah anaknya cemberut Abidzar pun kasihan. Lagipula siapa juga yang akan marah. Tujuannya kan hanya untuk menidurkan mereka.


"Papi nggak marak kok. Tapi lain kali jangan mengintip papi dan mami lagi, oke?" pinta Abdizar.


Farah dan Fauza mengangguk. Tidak berani melihat papinya dan masih menunjukkan wajah cemberut. Abidzar yang gemas pun mencium mereka dan menghiburnya.


"Sudah, jangan cemberut begitu. Bukannya kalian bilang ingin punya adik?" tanya Abidzar.


"Tapi papi pernah bilang Fa Fa nggak boleh minta adik," jawab Farah.


"Apalagi di depan mami!" timpal Fauza.


Abidzar tersenyum lebar. Lalu mengacak-acak rambut anak-anak itu sebelum mengangkat mereka sekaligus di masing-masing tangannya.


"Papi berubah pikiran. Papi mau kalian punya adik. Tapi syaratnya kalian tidak boleh cemberut lagi dan cepat tidur oke?" tanya Abidzar.


Farah dan Fauza langsung berbinar. Ekspresi cemberut yang mereka tunjukkan sebelumnya juga sudah berganti dengan senyum ceria.


"Papi, Fauza mau adik bayi laki-laki!" request Fauza.


"Papi, adik bayinya dua ya. Satu untuk Farah, satu untuk Fauza!" pinta Farah.


Dua anak itu begitu bersemangat. Sementara Abidzar hanya tertawa. Tentu saja dengan mengedipkan satu matanya dan meletakkan jari telunjuknya di bibir agar anak-anak itu tidak membocorkan rencananya.

__ADS_1


"Oke, papi akan berusaha nanti!" jawab Abidzar.


Yang penting berusaha saja dulu. Soal anaknya berapa dan jenis kelaminnya apa serahkan saja pada Yang Maha Kuasa. Setelah itu, Abidzar pun membawa anak-anak itu ke kamar. Membacakan dongeng sebelum tidur seperti yang selalu Dzakiyya lakukan.


Bedanya, Abdizar tidak membutuhkan waktu lama untuk mengantar anak-anak itu ke dunia mimpi. Sangat berbeda dengan Dzakiyya yang harus membaca tiga sampai lima dongeng sekaligus. Dzakiyya yang baru membuka pintu dan mendapati anak-anaknya sudah tidur pun merasa iri.


"Aku ini ibunya, tapi kenapa mereka tidak tidur secepat itu saat aku membacakan dongeng untuknya?" batin Dzakiyya sembari memijit kepalanya yang mulai pusing.


"Kamu sakit?" tanya Abidzar.


Pria itu sudah berdiri di depan Dzakiyya. Bahkan secara terang-terangan memandangi bagian-bagian Dzakiyya yang membuat jakunnya turun naik. Dzakiyya yang tahu Abdizar sedang memperhatikan bagian-bagian itu pun sedikit grogi.


"Tidak," jawab Dzakiyya.


Wanita itu berjalan melewati Abidzar. Sebelumnya dia sangat malu karena kedapatan memegangi baju Abidzar saat mati lampu. Tapi begitu melihat tatapan Abidzar barusan, Dzakiyya mulai ngeri.


"Kamu mau kemana?" tanya Abidzar.


"Tidur!" jawab Dzakiyya.


"Sayang, kamu salah kamar!" kata Abidzar.


"Sayang, malam ini kamu tidur denganku!" bisik Abidzar.


Dipeluk Abidzar nyatanya masih membuat Dzakiyya deg-degan parah. Wajah tampan itu, tubuh atletis itu dan aroma pria itu. Wanita mana yang bisa menolaknya. Tapi Dzakiyya terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Kalau aku tidak mau?" tanya Dzakiyya.


Dzakiyya mencoba melepaskan diri dari kungkungan Abidzar meskipun tahu akan gagal dan itu membuat Abidzar semakin tertantang. Pria itu pun menyeringai, memegangi Dzakiyya kuat-kuat sebelum mencium ceruk lehernya dan meninggalkan satu tandanya disana.


"Maka jangan salahkan aku memaksamu!" jawab Abidzar.


Sudah 7 tahun. Bahkan ponsel saja harus di charge setiap hari untuk mengisi daya. Bagaimanapun juga Abidzar hanyalah manusia dan dia adalah pria normal. Jadi sudah tahu kan sebanyak apa dia akan meminta jatahnya pada Dzakiyya nanti.


"Mas Abid, tolong jangan begini!" kata Dzakiyya.


Dzakiyya semakin deg-degan. Terlebih saat menyadari kakinya tidak lagi menyentuh tanah karena Abidzar sudah menggendongnya dan membawanya pergi kamar utama.


Di ranjang besar itu Dzakiyya diturunkan dan Abdizar tidak malu lagi untuk membuka atasan polos yang dia kenakan. Menunjukkan keindahan perut rata nan keras dan memiliki enam kotak yang sudah lama tidak Dzakiyya lihat.

__ADS_1


"Sayang, bukankah seharusnya kamu makan lolipop mu dulu?" tanya Abidzar.


Wajah Dzakiyya merah padam. Malu sudah pasti. Kata itu terlalu vulgar dan Abidzar begitu dekat. Hembusan nafasnya bahkan sudah mulai meracuni pikiran Dzakiyya. Terlebih ketika Abdizar naik ke ranjang dan memperlihatkan tonjolan besar yang masih terbungkus tepat di depan matanya.


"Mas Abid! Cukup!" kata Dzakiyya.


Sekali lagi Dzakiyya berontak tapi usahanya sia-sia. Rupanya Dzakiyya masih berpikir jernih diambang kewarasannya. Menolak tawaran Abidzar tentang permen loli yang seumur hidup hanya diberikan untuknya. Tapi penolakan dari wajah malu-malu itu malah membuat Abidzar semakin bergairah.


"Sungguh tidak mau?" tanya Abidzar.


Pria itu tersenyum sangat manis. Lalu mencium kening Dzakiyya dan semua bagian wajahnya sebelum bermuara di bibirnya yang seksi. Satu tangannya menahan tangan Dzakiyya keatas. Sementara tangannya yang lain mulai menyusup di balik pakaian yang Dzakiyya kenakan.


Bergerilya menjelajahi bongkahan-bongkahan lembut serta lipatan-lipatan misterius dan menari-nari diatasnya. Merusak tatanan pakaian Dzakiyya dan membuangnya ke lantai hingga berserakan.


"Mas?" pekik Dzakiyya.


Teriakan itu akhirnya keluar setelah ciumannya lepas. Sangat malu begitu tubuh polos miliknya terpampang jelas di hadapan suaminya sendiri. Dzakiyya menggelengkan kepalanya, meminta suaminya berhenti. Tapi lelucon macam itu. Dibawah hasrat Abidzar yang terpendam selama bertahun-tahun, apa Dzakiyya pikir dia masih bisa lolos?


"Berbaringlah dengan patuh. Aku akan mengantarmu naik duluan!" bisik Abidzar.


Pria itu akhirnya membebaskan tangan Dzakiyya. Melihat jalan lahir yang tidak sempat dilewati Farah dan Fauza karena mereka lebih memilih jalan yang lain.


"Jangan lakukan itu, Mas!" teriak Dzakiyya.


Dzakiyya kembali meronta. Sayangnya dia sudah terlambat karena Abdizar sudah memainkan bagian itu dengan tarian tangan dan sapuan lidahnya. Bertahun-tahun mereka menikah jadi mana mungkin Abidzar tidak tahu apa yang Dzakiyya suka.


"Ah!"


Suara-suara itu mulai terdengar. Entah itu gigitan atau hisapan semuanya membuat Dzakiyya terperangkap dalam hasrat. Dzakiyya bahkan mulai meremas rambut Abidzar yang masih bersemayam di bawah sana dan menekan kepalanya.


Abidzar yang nakal semakin liar. Masih sempat-sempatnya mengintip wajah Dzakiyya untuk melihat bagaimana ekspresinya. Sementara itu Dzakiyya semakin tak terkendali. Tangannya ganti meremas sprei dan kaki-kakinya menghimpit kepala suaminya sebelum mengejang karena telah sampai pada puncak pertamanya.


"Sayang, aku datang!" bisik Abidzar.


Nafas Dzakiyya masih memburu. Tapi sepertinya Abidzar tidak memberikan Dzakiyya waktu istirahat yang cukup. Karena setelah dia melepas celana terakhirnya dia langsung memberikan serangan kejutan sehingga membuat Dzakiyya kembali berteriak.


"Ah!"


Entah itu Abidzar atau Dzakiyya, dua-duanya sama-sama meringis. Menikmati sensasi erotis dan hangat yang sudah lama tidak mereka rasakan. Selanjutnya yang terjadi hanyalah serangkaian proses pengiriman benih-benih Abdizar ke rahim Dzakiyya yang sedang subur-suburnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2