Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua

Satu Atap Dengan Madu Pilihan Mertua
Anak Ketiga


__ADS_3

"Terima kasih, aku sangat mencintaimu!" bisik Abidzar.


Pria itu merapatkan wajahnya ke leher istrinya yang hangat. Masih berada di depannya untuk memastikan benih-benihnya masuk ke rahimnya. Menikmati sisa-sisa kenikmatan surga dunia yang baru saja mereka raih bersama. Di bawah cahaya lampu terang, tubuh mereka tampak berkilauan karena keringat. Terlihat semakin seksi karena pemandangan erotis itu diiringi suara nafas yang memburu setelah pertarungan panjang yang melelahkan.


Di bawah kungkungan Abidzar, Dzakiyya sempat melirik ke arah jam dinding. Dia cukup terkejut saat menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Dia tidak menyangka suaminya akan segarang itu dan menyirami rahimnya berkali-kali.


"Mas, lepaskan!" pinta Dzakiyya.


Dzakiyya mendorong Abidzar. Abidzar menurut, melepaskan istrinya dan memberikan ciuman hangat sebagai ucapan terima kasih. Namun, Dzakiyya tampak tidak peduli dan bahkan langsung membelakangi Abidzar serta membersihkan ****** ***** mereka sebelum menutup dirinya dengan selimut. Di belakang sana, Abidzar kembali memeluk Dzakiyya dan memberikan belaian mesra sampai Dzakiyya tertidur karena kelelahan.


"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Abidzar.


Namun, tidak ada jawaban dari Dzakiyya. Abidzar pun membalik tubuh istrinya dan tersenyum puas melihat bekas luka merah di leher dan dada Dzakiyya. Malam itu menjadi malam pertama Abidzar tidur nyenyak dengan merangkul istrinya lagi setelah bertahun-tahun tidur sendirian di ranjang yang dingin.


Keesokan harinya,


"Mami!"


"Mami!"


Panggilan Farah dan Fauza akhirnya membangunkan Dzakiyya. Sementara cahaya matahari sudah menerangi kamar melalui celah-celah gorden. Dzakiyya terkejut saat menyadari bahwa waktu sudah terlambat dan langsung duduk. Dia melihat dua anaknya yang sudah rapi berdiri di sampingnya.


"Ya Tuhan, jam berapa ini?" gumam Dzakiyya.


Ternyata Dzakiyya sudah lupa di mana ia tidur semalam dan merasa harus menyiapkan sarapan serta mengantar anak-anaknya ke sekolah. Padahal di rumah ini, ia tidak perlu melakukan itu karena semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh maid. Dan soal mengantar anak sekolah, itu adalah tugas Abdizar mulai sekarang.


"Sayang, kalian pasti lapar. Mami buatkan sarapan ya?" kata Dzakiyya.


"Loh, Fa Fa sudah sarapan ditemani papi!" jawab Farah.


Dua anak itu tersenyum manis. Namun, Dzakiyya langsung menarik selimutnya begitu menyadari dirinya tidak lagi sendirian di ranjang malam sebelumnya. Untung Abidzar telah mengenakan kimono untuknya saat ia bangun, sehingga Farah dan Fauza tidak melihat apa yang terjadi di malam itu.


"Sayang, mereka sudah sarapan. Aku akan mengantar mereka sekolah sekarang," kata Abidzar.


Pria itu akhirnya muncul dengan membawa segelas susu untuk Dzakiyya. Meskipun agak malu, Dzakiyya menyukai perhatian suaminya dan merasa bahwa pagi itu, Abidzar terlihat sangat tampan dan rapi.


"Minum susunya selagi hangat!" kata Abidzar.

__ADS_1


Abdizar meletakkan susu itu di atas nakas dan meminta anak-anak berpamitan pada ibunya. Namun, mata mereka cukup jeli untuk melihat sesuatu yang tidak biasa di tubuh Dzakiyya. Mereka pun berlomba-lomba untuk bertanya.


"Mami, kenapa mami merah-merah?" tanya Farah.


"Apa mami digigit nyamuk?" tanya Fauza.


"Papi, cepat ambilkan obat!" pinta Farah.


Dzakiyya segera menarik kimono yang sempat tersingkap dan menutupi leher serta dadanya sambil mencari alasan yang tepat.


"Sayang, mami tidak butuh obat. Ini hanya,-"


Karena terlalu mendadak, Dzakiyya sampai tidak tahu harus mengatakan apa. Namun Abidzar memberikan jawaban yang tepat dan meminta anak-anak pergi ke sekolah agar tidak mengganggu ibunya lagi.


"Semalam mami hanya masuk angin. Papi sudah mengobatinya jadi tidak perlu khawatir. Ayo, papi antar kalian sekolah. Biar mami istirahat," kata Abidzar.


Farah dan Fauza mengangguk tanda mengerti dan memeluk ibunya untuk berpamitan sebelum berlari dan menunggu papinya di luar kamar. Sementara itu, Abdizar mendekat dan membisikkan kata-kata romantis yang membuat wajah Dzakiyya kembali merah.


"Kamu pasti lelah. Aku akan membantumu mandi setelah mengantar anak-anak, oke!" bisik Abidzar.


"Tidak perlu, aku bisa mandi sendiri!" tolak Dzakiyya.


"Kamu memang selalu tidak sabar!" kata Abidzar.


Pria itu tersenyum tipis lalu mengangkat Dzakiyya untuk membawanya ke kamar mandi. Namun, Dzakiyya mengingatkan Abidzar bahwa ia harus mengantar Farah dan Fauza ke sekolah.


"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Abidzar.


"Aku sudah tidak ingin mandi lagi!" bohong Dzakiyya.


Wanita itu kembali menutup dirinya dengan selimut. Berharap suaminya segera pergi agar dia bisa merangkak ke kamar mandi setelah itu. Namun, harapannya sia-sia karena Abidzar sudah memanggil Farah dan Fauza. Meminta mereka menunggu sebentar karena dirinya harus mengurus ibunya.


.


.


6 minggu kemudian.

__ADS_1


"Bagaimana, anakku sangat tampan kan?" tanya Ral.


"Ya, Jourel sangat tampan. Dia bahkan jauh lebih tampan dari kamu!" jawab Abidzar.


Sontak, kelakuan Abidzar membuat Ral emosi. Karena sejak lahir sampai Jourel berusia dua hari, Abidzarlah yang paling banyak menggendongnya.


"Bid, kalau kamu memang suka bayi, maka silakan membuatnya sendiri. Jangan merampas bayi milik orang lain seperti ini. Ini namanya kejahatan, tahu?" protes Ral.


"Kamu sudah jadi ayah. Kenapa masih marah karena hal sepele seperti itu. Aku ini pamannya," kata Abidzar.


Dua pria itu saling adu pendapat, memperebutkan satu bayi yang awalnya anteng menjadi menangis. Dan itu membuat Talitha cemas. Untungnya, Dzakiyya datang pada saat yang tepat.


"Apa begini cara kalian merawat anak?" tanya Dzakiyya.


Tidak hanya membuat dua pria itu berhenti bertengkar, Dzakiyya juga mengambil Jourel dari tangan Abidzar. Kedatangannya bersama Farah dan Fauza kali ini benar-benar membuat Talitha kaget.


"Mbak Dza, akhirnya kamu datang?" tanya Talitha.


Dzakiyya tersenyum manis. Lalu mendekati Talitha dan mencium keningnya. Dan itu membuat Talitha terharu. Akhirnya, setelah tujuh tahun menunggu, ia mendapatkan kembali kasih sayang dari kakak ipar yang sempat hilang.


"Selamat ya, kamu sudah jadi ibu sekarang!" kata Dzakiyya.


Talitha langsung memeluk kakak iparnya, sementara Farah dan Fauza yang sejak tadi menjadi penonton tidak ingin ketinggalan. Mereka pun memberikan bunga dan mengucapkan selamat pada bibinya.


"Tante, selamat!" kata Farah dan Fauza.


"Terima kasih!" kata Talitha.


Talitha memeluk dua gadis kecil itu, lalu mencium dan memeluknya. Sementara di sisi lain, Ral tampak membisikkan sesuatu ke telinga Abidzar.


"Jadi, kalian sudah akur? Lalu kapan kalian berencana punya bayi lagi?" tanya Ral.


Abidzar menoleh, tersenyum tipis sembari mengedipkan satu matanya, dan menjawab, "Kami belum akur, tapi anak ketiga-ku seharusnya sudah ada di perut Dzakiyya sekarang!"


"Serius?" tanya Ral.


Kali ini Abidzar menjawab dengan tawa. Sudah lebih dari satu bulan sejak dia memboyong Dzakiyya pulang. Tak terhitung berapa banyak dia menanam benihnya. Abidzar yakin pasti sudah ada satu atau dua yang tumbuh, mengingat Dzakiyya tidak pernah datang bulan setelah hari itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2