
"Mbak Dza, buka pintunya!" panggil Talitha.
"Mbak?" panggil Talitha sekali lagi.
Tapi tidak ada jawaban. Talitha pun menempelkan telinganya di pintu, mulai curiga karena tidak mendengar suara kakak iparnya lagi. Kakak iparnya baru menangis sesenggukan tadi, jadi tidak mungkin dia tertidur dalam waktu sesingkat itu kan. Untungnya Talitha tak kehabisan akal. Dia segera mengambil ponselnya, lalu memotret isi kamar melalui celah pintu dengan susah payah.
Meskipun hasilnya samar, tapi Talitha bisa melihat bahwa kakak iparnya sudah tergeletak di lantai.
"I-ini, i-ni kenapa Mbak Dzakiyya rebahan di lantai begini?" kata Talitha.
Ponsel Talitha terjatuh, kaki-kakinya lemas seketika. Bukan masalah rebahannya. Tapi ada yang salah dengan posisinya.
"Mas Abid!"
Talitha berteriak cukup keras. Masa bodoh dengan syukuran atau apalah itu. Masa bodoh dengan volume yang nantinya membuat mereka heboh. Yang terpenting saat ini adalah memanggil kakaknya kemari. Beberapa detik kemudian Abidzar muncul. Memasang wajah panik melihat adiknya lemas di lantai.
"Kamu kenapa? Mbak Dza mana?" tanya Abidzar ketika melihat adiknya terduduk di lantai.
Abidzar sempat membantu Talitha berdiri. Tapi ditolak mentah-mentah karena ada hal yang lebih penting yang harus didahulukan Abidzar.
"Dobrak pintunya, Mas Abid! Mbak Dza dia ... dia,-"
"Dzakiyya kenapa?" tanya Abidzar dengan mengguncang bahu Talitha.
"Mbak Dza pingsan, Mas!" jawab Talitha.
"Pingsan?" kata Abidzar.
Abidzar belum tahu apa yang menyebabkan Dzakiyya pingsan. Tapi hal itu tidak dihiraukan Abidzar. Abidzar segera melakukan ancang-ancang untuk mendobrak pintu. Tendangan pertama gagal. Begitupun dengan tendangan kedua.
"Sial!" umpat Abidzar.
Tapi rasa takut kehilangan Dzakiyya seolah memberinya kekuatan. Karena di percobaan ketiga, tendangannya membuahkan hasil. Pintu akhirnya terbuka, Abidzar melihat Dzakiyya tergeletak tak berdaya di lantai dengan rambut terurai menutupi wajah.
"Dza?" seru Abidzar. Pria itu bergegas. Sementara Talitha yang tak kalah panik segera mengikuti dibelakang.
"Dza, bangun!" panggil Abidzar.
Abidzar memangku kepala Dzakiyya. Menyibak rambutnya dengan tangan gemetaran. Wajah pucat itu terlihat sangat jelas. Pucat, dingin dan mulut yang mengeluarkan busa. Dunia Abidzar runtuh seketika. Takut Dzakiyya benar-benar pergi. Takut Dzakiyya tidak akan pernah kembali meskipun dia membujuknya lagi.
"Dzakiyya!" teriak Abidzar.
Abidzar menangis, sementara Talitha menutup mulutnya rapat-rapat. "Astagfirullah, Mbak Dza!"
__ADS_1
Talitha kembali oleng. Sangat menyesal karena menuruti permintaan Dzakiyya untuk pergi. Jika tahu akan begini, meskipun Dzakiyya memukulnya seribu kalipun dia pasti memilih untuk tetap tinggal menemaninya.
Suasana semakin kacau. Dua orang satpam bergegas masuk begitu mendengar teriakan Abidzar. Pun dengan Diana dan Nafisa yang tertahan di depan pintu. Maklum, kamar yang ditempati Dzakiyya tidak sebesar dulu lagi.
"Siapapun, siapkan mobil. Cepat! Antar aku ke rumah sakit sekarang juga!" titah Abidzar.
"Baik, Pak!" sahut seorang satpam.
Satpam itu berlari. Segera menyiapkan mobil sesuai perintah tuannya. Sementara satu yang lainnya membantu apapun yang dirasa perlu. Dan Talitha, dengan refleks menemani kakaknya ke rumah sakit tanpa menghiraukan Diana dan Nafisa yang hanya melihat kegaduhan di depan pintu.
"Ma, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nafisa.
"Mana aku tahu," jawab Diana.
Diana melenggang masuk ke kamar. Matanya membesar begitu melihat pil yang tercecer di lantai. Setelah tahu apa yang terjadi Diana pergi. Tentu saja dengan seulas senyum yang tersungging di bibirnya. "Aku tidak kamu ingin cepat mati sampai segitunya," batin Diana.
.
.
.
Beberapa jam kemudian.
Dzakiyya sudah mendapatkan pertolongan dari dokter. Kondisinya sudah stabil meskipun belum sadarkan diri. Untungnya Talitha dan Abidzar bertindak cepat. Karena jika mereka terlambat sedikit saja hasilnya akan berbeda.
Abidzar tidak melepaskan pegangan tangannya untuk Dzakiyya sedikitpun. Terkadang membelai rambutnya, terkadang mencium punggung tangannya.
"Apa kamu marah, Dza?" batin Abidzar.
Berbeda dengan Abidzar yang masih siap siaga. Talitha terlihat lelah. Beberapa kali kepalanya terantuk menahan kantuk. Abidzar yang tahu adiknya kelelahan pun memintanya pulang.
"Dek, kamu pulang aja. Biar Mas Abid yang jagain Mbak Dza," kata Abidzar.
"Nggak mau!" tolak Talitha.
Gadis itu merasa bersalah. Untuk itulah dia ingin tinggal lebih lama. Jika dia pulang, setidaknya harus melihat kakak iparnya siuman lebih dulu. Lagipula dia juga sedang tidak ingin pulang. Pulang untuk apa. Rumah itu kan sudah tidak senyaman sebelumnya.
"Mas Abid tahu kamu merasa bersalah. Tapi ini bukan salah kamu. Ini salah Mas Abid. Jadi lebih baik sekarang kamu pulang. Toh Mbak Dza belum bangun."
Abidzar bangkit. Membujuk adiknya agar bersedia pulang. Talitha akhirnya mengangguk meskipun enggan. Dia mengambil tasnya sementara Abidzar melirik Dzakiyya sebelum mengantar Talitha.
"Ingat, sampai rumah langsung makan dan istirahat!" kata Abidzar.
__ADS_1
"Ya," jawab Talitha.
Talitha naik ke taksi yang sudah di cegat Abidzar. Abidzar maju ke depan memberikan tips dan menyampaikan pesannya untuk sopir taksi. "Pak, tolong antar adik saya pulang. Hati-hati!" kata Abidzar.
"Baik, Pak! Terimakasih!" kata sopir taksi.
Tidak lama kemudian taksi itu melaju. Abidzar pun segera kembali menemani Dzakiyya. Takut kalau-kalau dia sadar dan tidak ada siapa-siapa. Benar saja, Abidzar baru saja kembali untuk memegang tangan Dzakiyya lagi dan tiba-tiba jari-jari itu bergerak.
"Sayang, kamu bangun?" tanya Abidzar
"Mas Abid?" lirih Dzakiyya.
Dzakiyya memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Sementara Abidzar bergegas memanggil dokter. Dokter pun segera datang dan melakukan pemeriksaan dengan teliti.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Abidzar.
"Bu Dzakiyya baik-baik saja. Pada tahap ini dia hanya perlu minum obat dan memulihkan kondisinya," jawab Dokter.
"Alhamdulillah! Terimakasih, Dok!" kata Abidzar.
"Ini tugas kami, Pak Abidzar! Kalau begitu kami permisi," pamit Dokter.
"Silahkan!" kata Abidzar.
Setelah dokter itu pergi Abidzar segera menghampiri Dzakiyya lagi. Tapi Dzakiyya sedikit berbeda. Biasanya dia akan minta maaf setelah melakukan kesalahan. Tapi kali ini tidak. Dia tidak berbicara sepatah katapun. Dia juga sudah mengubah posisinya. Berbaring dengan posisi miring membelakangi Abidzar.
Melihat itu, Abidzar hanya bisa menghela nafas. Lalu berinisiatif untuk memberitahu Dzakiyya apa yang terjadi hari itu. "Sayang, aku minta maaf. Aku bisa menjelaskannya! Hari itu,-"
"Kenapa minta maaf. Apa ada yang salah dengan itu?" potong Dzakiyya dengan suara nyaris tak terdengar.
"Tapi kenapa kamu begini?" tanya Abidzar.
"Dza hanya iri. Iri dengan Nafisa juga iri dengan perlakuan mama. Kau tahu sendiri kan, Mas? Mama nggak pernah begitu sama Dza. Jadi Dza pikir,-"
"Apa kamu tahu betapa takutnya Mas Abid?" potong Abidzar.
"Dza hanya berpikir minum obat agar hamil. Siapa yang tahu Dza malah hampir mati?" kata Dzakiyya tak mau kalah.
Wanita itu masih setia pada posisinya. Masih membelakangi Abidzar yang duduk di belakangnya. Abidzar yang tahu istrinya sedang keras kepala akhirnya mengalah.
"Mulai sekarang jangan minum obat itu lagi!" kata Abidzar.
Mendengar itu Dzakiyya menarik selimutnya sampai menyisakan matanya saja. "Apa kamu sudah menyerah dengan vonis itu, Mas?" tanya Dzakiyya.
__ADS_1
Mata Dzakiyya memerah. Selama ini Abidzar selalu menghiburnya dengan mengatakan bahwa mereka akan tetap berusaha. Berharap ada keajaiban. Berharap mereka diberikan anugerah indah itu dari Tuhan. Tapi kenapa Abidzar tiba-tiba memintanya berhenti. Apa karena sudah ada wanita lain yang mengandung anaknya. Untuk itulah dia meminta Dzakiyya berhenti?
...***...