Satu Gadis Dua Duda

Satu Gadis Dua Duda
Bagai Ditelan Bumi


__ADS_3

Terhitung sudah 3 hari Azzura tidak melihat Arya, bahkan pria itu seperti hilang di telan bumi. Tidak pernah muncul di hadapan Azzura bahkan mengirim pesan juga tidak. Ntahlah, kenapa rasanya hampa sekarang, padahal biasanya dia juga sendiri.


Disisi lain, Arya yang sedang di landa cemburu, kini harus ekstra bekerja keras dan berusaha menyelesaikan masalah keuangan perusahaannya yang sedang morat marit karena Rena hanya bisa mengacaukan perusahaan. Banyak dana perusahaan yang di manipulasi dan di alirkan ke rekening pribadinya.


Namun meski begitu, Arya masih menyempatkan diri untuk melewati rumah Eyang putrinya Azzura, melihat ke rumah itu tapi tidak pernah melihat penghuninya.


Saat ini, Azzura baru saja sampai di rumah sakit Tri Medika Pusat karena akan menghadiri rapat bersama papa, mama, Aunty dan kakak kakaknya, sedangkan Om nya saat ini tidak bisa ikut rapat karena harus menjalankan tugasnya sebagai dokter . Meski rapat itu bisa saja mereka lakukan saat di rumah, tapi ini menyangkut Rumah sakit, jadi mereka juga melibatkan beberapa orang yang dapat di percaya.


Saat memasuki ruang rapat, Azzura sudah melihat banyak orang yang berkumpul disana, hanya saja papa dan mamanya belum berada di ruangan itu.


"Kamu kenapa La?" tanya Rangga pada Adiknya. Adiknya itu seperti orang yang tidak memiliki gairah hidup saja. Padahal aselinya anaknya ceria


"Gak papa kak, papa dan mama belum kesini?" tanya Azzura


"Sudah, tapi masih di ruangan papa" jawab Rangga


"Oohh,," jawab Azzura


"Kamu gak lagi sakit kan?" tanya Azzam lalu memeriksa kening adiknya


"Enggak, mungkin sedikit kelelahan, jadi agak lesu" jawab Azzura


"Pulang ke rumah, nanti biar di pijiti mbok yah" ucap Azzam


"Iya, malam ini aku pulang" jawab Azzura


"Jangan bilang lagi malarindu!" cetus Aunty Liora dengan bisik bisik pada Azzura


"Auntyyyy!!!" Azzura menatap tajam Auntynya sedang yang di tatap malah terkekeh

__ADS_1


"Akui sajaaaa" ucap Aunty sambil mencubit lengan keponakannya.


Kemudian papa Angga masuk ke dalam ruang rapat bersama Mama Zara. Lalu Keduanya menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan rapat itu.


Rapat langsung di mulai.


"Jadi Rencananya Rumah sakit Tri Medika akan membuka Apotek di daerah pinggiran kota, bukan hanya ada Apotek, tapi lebih tepatnya disana nanti juga ada dokter prakteknya. Lokasinya sudah ada, tinggal bangunannya saja yang belum tergambar. Maka dari itu kalian semua di kumpulkan di sini..." ucap papa Angga


Azzura terlihat kaget, karena gerakan papanya sangat cepat dan gesit. Padahal belum lama mereka membahas soal ini, papanya benar benar bisa meyakinkan menteri keuangan rumah sakit (Mama Zara) untuk menyetujui rencananya.


"Pak Wisnu, tolong carikan Arsitek dan juga kontraktornya untuk merancang rencana bangunannya nanti" ucap mama Zara


"Baik dokter" jawab pak Wisnu


"Nanti yang akan memimpin jalannya proyek ini adalah Dokter Rizal, untuk tanggung jawab mencari Arsitek dan Kontraktor pak Wisnu, Yang mengatur dana Dokter Zara dan Ibu Sindy, penanggung jawab lapangan Dokter Rangga bersama Dokter Azzam. Kalau bisa secepatnya pembangunan Klinik dan Apotek itu segera terlaksana" ucap papa Angga


"Baik Dokter" jawab Semua orang.


Selesai putusan di ambil, rapat pun juga selesai. Semua orang kembali pada tugas masing masing.


Dokter Rangga dan Azzam kembali ke ruang kerjanya, begitu juga dengan Aunty Liora yang saat itu juga memiliki jam praktek .


"Makasih paaa, karena papa berhasil bujukin mama hhehe" ucap Azzura kepada papanya


"Jelas papa berhasil! Papaaaa!" ucap papa Angga dengan membanggakan diri


"Semua terselesaikan dengan cepat, iya kan maaa" ucap Angga sambil merangkul istrinya yang sejak tadi hanya menatapnya tanpa henti


"Papa mu penuh kemodusan!" ucap mama Zara

__ADS_1


"Hahaha,, kalau gak modus, bukan papa namanya!" sahut Azzura


"Sebenernya tanpa papamu modus, pasti mama akan setuju saja..." ucap mama Zara


"Pokoknya terima kasih untuk papa dan mama. Semoga tempat itu nanti bisa memberi manfaat bagi banyak orang yang membutuhkan. Mengingat di tempat itu sangat jauh dari rumah sakit, jangankan rumah sakit, puskesmas saja tidak ada. Kasihan, mereka yang ingin berobat" ucap Azzura


"Semoga semuanya berjalan dengan lancar,," ucap mama Zara


"Aamiin,,,"


Setelah sedikit berbincang bersama orang tuanya, Azzura pamit karena harus kembali ke Apotek untuk bekerja.


Berjalan sendirian sangat lesu, sesekali tersenyum saat dia di sapa oleh para suster ataupun pegawai yang lewat karena mengenalnya sebagai anak pemilik rumah sakit. Andai tidak ada pekerjaan di Apotek hari itu, Azzura ingin langsung pulang ke rumah dan merebahkan dirinya. Terlihat sekali wajahnya kusut.


Deg!


Azzura mematung saat tatapannya menangkap jelas sosok pria yang belakangan ini selalu mengganggu pikirannya.


Arya saat itu sedang berjalan bersama Om Rizal menyusuri lorong rumah sakit. Keduanya seperti sedang asyik berbincang tanpa melihat ke arah depan.


"Arya?!"


Perhatian Arya teralihkan sesaat, ketika indera penglihatannya menangkap sosok gadis yang sangat dia rindukan beberapa hari belakangan ini.


.


.


.

__ADS_1


.


Duh duh yang lagi rindu🤣


__ADS_2