Satu Gadis Dua Duda

Satu Gadis Dua Duda
Aku Sadar...


__ADS_3

Tidak ada angin tidak ada hujan, kata kata Axel membuat Azzura kebingungan. Mereka tidak dekat lagi sudah lama, tiba tiba Axel mengatakan ingin melamarnya.


"Ra,, aku serius sama ucapan ku,," ucap Axel lagi


"Apa maksud kakak akan melamar ku? Kita tidak sedekat dulu, dan juga kan kak Axel sendiri yang bilang padaku , kita masih saudara karena Kak Rangga menikah dengan kakak Jasmine. Lalu apa ini? Apa maksud kakak?!" ucap Azzura, kembali mengingatkan alasan dulu dia di tolak oleh Axel


"Aku sadar, aku dulu salah Ra. Kita masih saudara jauh, bukan tidak masalah kita menikah?" ucap Axel meyakinkan Azzura


Kemudian Axel memberhentikan


"Aku mencintaimu Ra,,,"


"Oh iya?! Sejak kapan kak?! Bukannya kakak sendiri yang bilang padaku kakak gak ada rasa?!"


"Maaf aku gak bisa terima niatan kakak buat lamar aku! Aku cukup tau diri, dan aku sudah memiliki Calon suami" ucap Azzura


"Siapa?! Papanya Arka?!" tanya Axel merasa tidak terima


"Ya!"


"Kamu belum kenal betul siapa papanya Arka! Bagaimana bisa kamu memutuskan begitu cepat memilih dia?! Kamu tau masa lalu Arya?! Tidak kan?! Sebab dia pasti tidak pernah menceritakannya kepadamu!" ucap Axel


"Apa maksud kakak?!" tanya Azzura


Axel tersenyum getir, benar kan dugaannya, Azzura pasti belum mengenal betul Arya.


"Aku tidak ingin menjelekan dia, tapi aku hanya ingin kamu tau. Dia adalah seorang anak dari wanita malam..."

__ADS_1


Deg!


Azzura terdiam saat mendengar ucapan Axel, Sampai Azzura tidak sadar jika mereka sudah sampai di depan rumah keluarga Dermawan.


"Aku bisa membuktikan kebenaran ucapanku. Atau kamu bisa tanyakan sendiri padanya" ucap Axel


Terlalu kaget, sampai Azzura tidak berkata apa saat keluar dari mobil Axel.


...


Malam hari, Azzura tidak ikut berkumpul bersama keluarga, dia bimbang lagi dengan perasaannya. Apa begini salah satu cobaan akan menikah? Mantan gebetan datang lagi? Masa lalu kelam pasangan mulai muncul di permukaan. Azzura jadi pusing sendiri sampai tidak sadar jika mama Zara masuk kedalam kamarnya.


"Kamu lagi ada masalah?" tanya Mama Zara


"Mama! Ngagetin aja!" ucap Azzura sedikit terlonjak saat mamanya tiba tiba berdiri di samping meja riasnya


"Kamu yang kenapa ngelamun aja dari tadi? Sampai,, mama masuk kamu gak tau. Bukannya harusnya seneng, besok malam Arya akan datang melamarmu, hem?" ucap mama Zara sambil memegang kedua bahu putrinya


"Galau? Galau kenapa?" tanya mama


"Em,, tadi kak Axel bilang padaku, jika dia akan melamar ku besok...." ucap Azzura


"Apa?!" Mama Zara terlihat kaget


"Iya,,"


"Terus kamu jawab apa?" tanya mama

__ADS_1


"Aku menolaknya ma. Kak Axel terlihat sangat kecewa ma. Mungkin sama seperti dulu yang aku rasakan, ntahlah,,, tapi bukan itu yang ganggu pikiran ku ma" ucap Azzura sambil menatap mama Zara


"Lalu apa?" tanya Mama Zara makin di buat penasaran


"Kak Axel bilang,,, ibunya Arya itu wanita malam ma,," ucap Azzura


Deg!


Mama Zara sampai terperangah


"Dia tau dari mana?!" tanya Mama Zara


"Dari Oma nya Vannia ma. Mereka dulu berteman baik. Ulla harus bagaimana ya ma?" ucap Azzura


Mama Zara juga bingung, harus bagaimana menanggapinya.


"Emm,, menurut mama, lebih baik kamu bicarakan ini dengan Arya besok La,, kamu tanya kebenarannya. Dan,,, jika memang itu benar,, seharusnya Arya di bawa ke rumah sakit dulu untuk di periksa kesehatannya. Bagaimanapun itu sangat penting laa,, itu juga demi masa depan mu,," ucap mama


Azzura mengangguk, mungkin benar kata mama. Dia harus bicarakan hal itu bersama Arya, dan juga mengajak pria itu untuk memeriksakan kondisinya. Semoga saja pria itu sehat tanpa masalah.


Sementara itu, Axel merasa patah hati karena Azzura menolaknya. Dia menyesali, harusnya dia memilih Azzura yang dulu jelas jelas mencintainya. Sebenarnya dia juga mencintai Azzura dulu, tapi rasa cintanya pada mama Vannia jauh lebih besar dibandingkan pada Azzura. Sekarang dia merasakan bagaimana rasanya di tolak oleh orang yang kita suka.


.


.


.

__ADS_1


.


Maaf lagi ikut lomba makan kerupuk wkwkwkwkw


__ADS_2