Satu Gadis Dua Duda

Satu Gadis Dua Duda
Menyerah...


__ADS_3

"Apa kamu bisa menerima statusku yang seorang duda ini la?"


Azzura menatap Arya, tapi tatapan itu sulit diartikan Arya, tidak seperti biasanya.


"Kamu ingin aku jawab apa?" tanya Azzura


"Aku ingin kamu jawab sejujurnya, jika kamu keberatan dengan statusku,," Arya diam, berat hati ingin mengatakan, tapi Ntahlah,, setelah di pikir pikir, Arya juga harus memikirkan kebahagiaan Arka, bagaimana pun dia sudah berjanji, siapapun nanti yang akan menjadi istrinya, maka wanita itu harus juga menerima Arka sebagai putra mereka.


Ada kepasrahan Arya kali ini, tidak terlihat memaksa seperti sebelumnya.


"Yakin kamu ingin mendengar jawaban ku sekarang?!" tanya Azzura


"Ya, aku yakin. Apapun keputusan mu, aku akan coba untuk terima. Meski pun itu pahit, aku akan berusaha menerima" jawab Arya


Langkah Arya mundur, saat Azzura berjalan mendekat pada pria itu. Sungguh Arya tidak bisa mengartikan tatapan Azzura kali ini


"Jika aku tidak bisa menerima statusmu, bagaimana?" tanya Azzura


"Aku,, aku tidak akan berjuang lagi, aku akan berhenti mengejar mu, toh tidak bisa di paksa dan status ku juga sudah melekat sebagai seorang duda beranak 1 , tidak bisa di hindarkan apalagi di hapuskan" Jawab Arya lalu terduduk di sofa lagi tanpa melepas tatapannya


"Oh begitu,, ya sudah,, asal kamu tau aku ingin memiliki suami perjaka!" ucap Azzura di depan wajah Arya


Deg!


Arya terdiam, terdengar sakit, apa kenyataan tidak akan sesuai harapannya?, Azzura tidak bisa menerima statusnya yang seorang duda, Apa aku harus benar benar menyerah? Tapi aku sudah melangkah sejauh ini?. Arya membatin


"Jadi kamu tidak bisa menerima statusku?" tanya Arya sekali lagi


"Sudah jelas jawaban ku" ucap Azzura lalu menjauh

__ADS_1


"Tapi la, aku masih perjaka" Ucap Arya kemudian menahan tangan Azzura


"Siapa yang bisa jamin itu? Kamu sudah menikah dengan Rena bertahun tahun kan?"


"Tapi aku tidak pernah menyentuhnya!" jawab Arya lalu berdiri, dan berhadapan dengan Azzura


"Benarkah? Tapi aku tidak akan percaya begitu saja! Kamu pria Dewasa dan dia juga wanita Dewasa, bisa saja kalian,,,,"


"Sudah aku katakan, aku tidak pernah menyentuhnya!" ucap Arya penuh penekanan dan Azzura langsung terdiam.


Lama lama Arya terpancing kesal, dia sudah berjuang sejauh ini, tapi ternyata tidak mudah untuk melakukan hati gadis itu. Arya harus mengambil langkah lain, yang mungkin bisa menyadarkan gadis itu akan perasaanya sendiri.


"Kalau kamu mau pulang sekarang, aku antarkan!" ucap Arya memutus obrolan mereka.


Azzura terdiam, dia melihat sepertinya Arya terlihat kesal, Azzura di buat kaget saat pria itu tiba tiba beranjak dan keluar dari ruangan kerja nya


"Ish, begitu saja ngambek! Baru seperti itu sudah marah! Aku hanya mengetes mu! Tapi,,, hah sudahlah,,," Azzura mengambil tasnya, lalu berjalan keluar dari ruangannya. Padahal Azzura hanya mengetes Arya saja, dia percaya jika pria itu tidak akan menyentuh Rena, apalagi dia sangat membenci wanita itu. Tapi mungkin Arya yang sedang sensitif atau memang Azzura sedikit keterlaluan. Yah namanya sebuah hubungan, jika tidak ada percekcokan ya tidak seru, manissss aja terus, diabetes!


Sampai di rumah keluarga Dermawan, Arya turun dan masih membukakan pintu mobil untuk Azzura, tapi lagi lagi dia hanya diam tidak menyapa gadis itu.


Mama Zara keluar, dan Arya hanya menyapa mama Zara tapi tidak pada putrinya. Kemudian Arya pamit pada mama Zara, hanya sekilas melihat ke arah Azzura, lalu Arya memilih masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah itu.


"Arya kenapa? Kalian berantem?" tanya mama


"Iya,, sedikit,," jawab Azzura lalu berjalan masuk kedalam rumah, diikuti mama Zara


"Masalah apa?" tanya mama kepo


"Aku meragukan keperjakaannya dan dia marah!" jawab Azzura terlalu jujur

__ADS_1


Azzura kaget saat mendapat cubitan pada lengan dari mamanya


"Duh,, sakit ma!" adu Azzura


"Kamu juga keterlaluan sih, pantas saja dia marah, kamu meragukan dia. Pasti dia mengatakan yang sebenarnya tapi kamu tetap tidak percaya" ucap mama


"Hehe,, aku hanya mengetesnya saja ma,,, ah sudahlah,, nanti dia pasti balik lagi,, marahnya paling sebentar" jawab Azzura kemudian pamit pada mama untuk ke kamarnya.


Sementara itu, Arya tidak akan main main untuk memberikan pelajaran kepada Azzura. Dia harus tau, sebuah kepercayaan itu sangat mahal harganya, tidak bisa dibuat main main!.


....


Semenjak saat itu, Arya mulai mendiami Azzura. Menghubungi hanya seperlunya saja tidak intens seperti biasanya. Bicaranya pun sekarang lebih irit, hanya yang penting penting saja.


Dan sudah beberapa minggu ini Arya sama sekali tidak menyambangi Apotek Azzura, hanya sesekali mampir ke rumah Dermawan, itu pun hanya sebentar dan tanpa sepengetahuan Azzura.


"Arya kemana yah,,, sudah 2 minggu ini tidak pernah datang lagi menemui ku,,? Padahal waktu pengerjaan proyek sudah tinggal seminggu lagi,, Apa,, sebaiknya aku temui saja dia di kantornya?" Azzura sedang termenung, menopang dagu ,memikirkan Arya yang tak junjung datang menemuinya,, sepertinya dia rindu,,,


"Mungkin benar, aku keterlaluan, lihat saja dia sampai mendiami ku begini,,, mungkin lebih baik aku jujur saja, jika aku sudah mencintainya,,,"


...


Sementara itu, di tempat pembangunan Proyek, Arya sedang mempersiapkan tahap finishing pembangunan, ternyata ada sedikit kendala saat finishing, bisa bisa dari target waktu yang dia percepat kemungkinan akan sedikit meleset dari perkiraan.


.


.


.

__ADS_1


Dah mulai masuk konflik ya, heheheheheeeheheeeheh,,,,,


__ADS_2