
Derapan sepatu begitu nyaring kedengaran dari luar kamar patien.Rokey sudah sadar daripada pingsan kerana terlibat dalam kecelakaan jalan raya.
Tiba-tiba dia tersadar akan sosok seorang wanita paruh baya yang dia tidak lihat setelah dia sadar.
Klekk!!
Pintu kamar di buka.Terlihat sosok yang amat dikenalinya sewaktu dia liburan ke Jepang satu masa lalu.Matanya membuyar.
"Yu..Yuri?"
Suaranya mengendur.Dia menarik napas rupa-rupanya pria itu menunaikan janjinya.
Suatu tika dahulu,sosok pria pria ini masih punya hutang pada dirinya.Melihat sosok pria ini berdiri kokoh di hujung ranjang,jelas mengatakan hutangnya sudah pun lunas.Dan mereka tidak punya hutang apa-apapun lagi.
"Nona Rokey!Kamu gimana?Udah baikkan?"Sapa Yuri.
Rokey hanya menganggukkan kepalanya sahaja.Tanpa mengulur waktu Yuri memperjelaskan perkara yang terjadi.Rokwy diam tidak bergeming.
Setelah mendengar kata-kata Yuri,dia mengambil keputusan untuk menyiasat kecelakaan itu sendiri.Ponsel diatas meja diraih dan mengirimkan pesanan kepada Gerald.
"Yuri,thanks for your help."Ucap Rokey lalu memperbetulkan duduknya.
"It's ok,Miss Rokey.I owe you one,and I already payback."Ucapnya sembari tersenyum nipis.
"Oh ya,di mana wanita yang bersama-sama denganku.Apakah dia baik-baik aja?"Tanya Rokey setelah menyedari dia tidak melihat sosok wanita paruh baya itu.
"Dia baik-baik aja.Cuma belum sadarkan diri setelah kecelakaan itu.Hanya kakinya saja yang terkilir."Ujar Yuri lagi.
"Luka kepalamu gimana?Apakah ianya masih lagi sakit?"Kini soalan beralih kearah Rokey.Rokey memijat kepalanya yang telah dibalut dengan kain kasa.
"Sedikit sakit.Mungkin dengan rehat sebentar, sakitnya akan baikkan juga."Kata Rokey lagi.
Tidak lama kemudian,ponselnya berdering.Tanpa melihat siapa pemanggil dan menyangka di talian adalah Gerald,dia dengan terburu-buru menyahut panggilan tersebut.
"Ya Ger.Gimana?Apakah kamu sudah tahu siapa dalang disebalik kecelakaan itu?"
__ADS_1
"Kecelakaan?Sayang kamu lagi ada dimana?Siapa yang kecelakaan?Siapa!"Teriak suara yang amat dikenali diseberang sana.Kedengaran deru nafas pria di talian itu memburu dengan kasar.
"What?"
Panggilan itu bukan dari Gerald.Tetapi dari Asfra.Dia merutuk dirinya sendiri kerana ceroboh. Tanpa memeriksa terlebih dahulu siapa pemanggil,dia menjawab panggilan tersebut dengan pantesnya.
Akhirnya perkara yang dia ingin rahasiaka terbongkar begitu saja.Rokey merasa udara di paru-paru menipis sehingga mencengkat dadanya.Apakah dia harus berbohong ataupun sebaliknya.
"Rowena!Jawab aku.Siapa yang kecelakaan?Kamu ada dimana?"Bentak Asfra disebalik sana.Napasnya teregah-egah menahan rasa cemas.Marah?Ya!dia memang berasa sedikit marah.Sudah pasti Rokey menyembunyikan sesuatu daripadanya.
Dia kenal dengan sikap Rokey yang suka berahasia.Tidak mungkin jika tidak kenapa apa.Jika tidak,Rokey tidak akan menjawab panggilan dengan ketus dan ada nada keras pada suaranya.
"Key, sekali lagi.Tolong jawab aku.Kamu ada dimana?"Kini nada suaranya sedikit mengendur.Tiada paksaan melainkan memujuk agar Rokey memberitahu keberadaannya.
"Aku lagi ada di rumah sakit?"Jawab Rokey tergagap-gagap.Disaat dia memberitahu keberadaannya,sudah pasti tanpa ragu Asfra terbang terus ke Jepang dengan pesawat peribadinya.
"What?"
Disaat itu,jantung Asfra benar-benar tercopot dari dalam tubuhnya.Malang apakah yang menimpa bundanya dan juga istrinya sehingga mereka terlihat dalam kecelakaan yang sama.Ini benar-benar ujian buatnya.Ujian yang harus dia pilih untuk mengorbankan salah satu daripada mereka.
Tidak mungkin dia berpatah balik ke Italia untuk mendapatkan istrinya.Sedangkan dia hampir sampai di Jepang.Mungkin takdir telah menyuruhnya memilih bunda tercinta,dan berharap agar Rokey memahami kesukarannya.
"Kamu gak usah kesini ya.Kecederaan aku gak parah.Cuma terluka sedikit saja.Kamu gak usah terlalu khuatir.Ada ramai yang menjagaku disini.'Ucap Rokey dengan suara yang lembut.
"Ya,udah.Jika begitu aku bisa tenang mendengarkannya.Aku juga punya urusan lain yang penting untuk diuruskan.Kamu sabar aja ya?Nanti aku khabarkan kepadamu setelah urusan ini selesai."Ucap Asfra lalu mematikan penggilan telefon setelah mengetahui keberadaan Rokey.
Asfra menarik nafas lega.Kini dia bisa bertenang.Kini destinasinya hanya satu, melawat bundanya yang telah ditempatkan di rumah sakit di Jepang.Hanya tersisa satu jam lagi, pesawat peribadinya akan tiba di bandara Tokyo.Sementara itu,dia mahu merehatkan mindanya buat seketika setelah lelah menerima khabar mengejut dari kedua-dua benua berbeda tentang kecelakaan bunda tersayang dan istri tercinta.
******
Di rumah sakit di Jepang....
"Yuri,tolong bantu aku ke ruangan Bunda Aku."Pinta Rokey setelah dia semakin membaik.
"Baik Miss Rokey."Jawab Yuri singkat,tanpa bantahan.Yuri menolak kerusi roda menuju arah kamar Andani dirawat.
__ADS_1
Klekk!!
Di ruangan Andani,dia sudah sadar sejak sejam yang lalu.Sudah dua hari dia tidak sadarkan diri.Mungkin terlalu lelah dia butuh rehat yang cukup.Mujur aja kecelakaan itu tidak parah.
"Oh..Wena.Ternyata Kamu masih lagi disini?"Ucap Andani sebaik saja Rokey datang mendekat dan menyalami tangannya sembari mencium punggung tanggannya.
Ada ketenangan di raut wajah gadis itu membuatkannya senang dengan kehadiran Rokey.Seakan-akan sudah mengenal lama gadis di hadapannya ini.
"Bunda,apa khabar hari ini?Apa sudah baikkan?"Tanya Rokey setelah melihat wanita paruh baya itu baru selesai minum obatnya.
"Udah baikkan kok Wen.Makasih ya udah tolongin bunda.Kamu benar-benar seorang yang berani."Ucap Andani lalu mengelus lembut pipi kanan Rokey.Rokey tersenyum bahagia.Entah kenapa dia begitu senang dengan kehadiran Andani.Seolah-olah merasakan lagi kasih sayang dari seorang ibu yang telah lama hilang.
"Oh,ya.Bunda Udah makan belum?"Tanya Rokey lembut.Andani menggeleng-ngelengkan kepalanya.
"Bunda gak ada selera."Jawab Andani ringkas.Yuri yang sadari dari tadi membisu kemudian mencelah perbualan mereka.
"Miss Rokey,Apa aku perlu menyediakan makanan berkhasiat serta beberapa jenis buah untuk kalian berdua?Kayaknya nyonya ini perlu sesuatu yang bergizi."Ujar Yuri memberi cadangan.
"Kedengaran solusi itu amat bagus.Ya,jika begitu suruhlah orang-orang kamu sediakan apa yang perlu."Kata Rokey kepada Yuri.
"Bunda,mahu makan apa-apa?Nanti Wen suruh mereka sediakan."
"Gak usah repot-repot nak Wen.Bunda bisa makan makanan dari rumah sakit."Kata Andani menolak tawaran Rokey.
"Loh,Bun.Kok gitu.Wen pengen makan bareng sama bunda.Apa bunda juga nolak tawaran Wen.Ya,gapapa juga lapar sama kayak Bunda."Ucap Rokey separuh merajuk dan dalam erti lain mengancam mogok makan dengan wanita paruh baya yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.
Melihat wajah Rokey yang cemberut dan seakan-akan merajuk,hati Andani menjadi lembut kembali.Gadis disisinya itu benar-benar mencuri perhatiannya.
"Ya,Ya.Terserah kamu aja.Bunda menyerah deh dengan kelakuan kamu.Kamu ini bener-bener anak pintar lagi imut."Ucap Andani sembari mencubit kedua-dua pipi Rokey.
"Yuri,please!"Ucap Rokey ringkas memberi arahan.
Dengan patuh Yuri keluar dari ruangan Andani dan memberikan arahan ringkas kepada anak buahnya.
Di dalam kamar itu,Andani dan Rokey masing-masing ngobrol dengan penuh antusias.
__ADS_1
***Gimana gais.Jangan lupa ketik'like'dan tinggalkan komentar anda ya!
****Semoga semangat terus membaca.