
"Ada apa ini ,Rafa kenapa?"
Pertanyaan itu terlontar dengan Aksa muncul keluar dari kokpit melihat Rafa yang sedang menangis di gendongan Nuha.
"Om Sa' ,Rafa mau om Sa' bunda Rafa mau Om Sa' ...huaaaaaaa.." tangisan Rafa pecah kembali saat melihat sosok Aksa tak jauh dari mereka.
Rafa merentangkan tangan kearah Aksa terlihat Nuha yang terlihat menenangkan putrnya.
Keadaan pesawat sudah sepi karena rombongan Nuha turun paling terakhir dari para penumpang, karena membujuk Rafa yang tak mau turun.
"Ini sama Om Sa' ."ucap Aksa merentangkan kedua tangannya dan menggendong anak kecil menggemaskan itu.
"Raf...
"Nggak perlu berdebat,Rafa nggak akan aku bawa pergi.Kamu sama yang lain turun,tunggu aku di pengambilan barang."ucap Aksa menatap Nuha dengan tatapan mata yang terlihat mengintimidasi.
"Sudahlah Nuha,percaya sama aku Aksa nggak bakal macem-macem."ucap Mario.
Walaupun ada rasa sakit di hati Mario,perjuangannya meraih cinta Nuha tak akan mungkin terwujud selama empat tahun memperjuangkannya namun,cinta Nuha hanya untuk masa lalunya.
Dengan terpaksa Nuha menuruti kemauan Mario dan yang lain.
"Kenapa bisa lengket gitu sih,nyebelin banget." batin Nuha melihat sosok anaknya yang sudah terlihat tertawa lepas dengan ayahnya.
"Biar koper Kapten kita urus,tenang saja..kayaknya si bocil nggak mau lepas sama sekali sama kapten."ucap Hans melirik sang kapten.
"Okelah,aku turun dulu.Aku mau beliin mainan dulu buat Rafa sebelum saya serahkan ke bundanya."ujar Aksa.
"Iya capt,saya ngerti ...slow saja ."ucap Hans begitu memahami situasi saat ini.
Aksa menggendong Rafa dan berjalan kearah toko mainan yang ada di area bandara. Aksa sengaja mengajak Rafa membeli mainan agar anak itu bisa lebih cepat dekat dengannya.
"Kalau benar kamu anak ku,sungguh berdosa nya ayah sama kamu nak, kalaupun kamu bukan anak ku,aku menyayangi kamu dengan tulus."gumam Aksa dengan memperhatikan Rafa yang sedang sibuk memilih mainan.
"Rafa mau ini bole"tanya Rafa pada Aksa dengan ekspresi wajah yang terlihat lucu.
__ADS_1
"Boleh boy,ada lagi ?"tanya Aksa dengan wajah antusias.
"Sudah itu saja Om, terimakasih.."ucap Rafa dengan langsung merentangkan kedua tangannya minta untuk di gendong.
Aksa dengan seneng hati menyambut tangan mungil itu.Rafa mencium pipi Aksa dengan sayang membuat orang yang melihatnya terkekeh.Bocah menggemaskan dan juga terlihat jenius.Setelah membayar mainan itu dengan cepat Aksa membawa Rafa ke tempat dimana dia janjian dengan Nuha.
"Rafa,nanti sama bunda dulu yah..Om harus kerja.Nanti kapan-kapan kita ketemu lagi kita beli mainan banyak,mau," tawar Aksa pada Rafa dengan tujuan membujuknya untuk bisa dia tinggal.
"Yaaahh...pasti lama om kerjanya."ucap Rafa dengan wajah sedihnya.
"Doakan semoga Om cepat selesai kerjaannya,kita nanti bisa main-main bareng."bujuk Aksa.
"Oke tapi, janji yah Om,"ucap Rafa dengan menyodorkan kelingking nya
Aksa pun menautkan kelingking nya dengan tersenyum ke arah Rafa." Janji,janji lelaki sejati.. yeeeeaahh..?!!" seru Aksa dengan menciumi wajah anak gembul itu
Hahahhaahahaha...
Keduanya tertawa terbahak-bahak dan terlihat banyak orang yang memperhatikan mereka.
"Rafa,jalan ke bunda yah..."ucap Aksa dan Rafa pun mengangguk
"Bundaaaa..!!"seru Rafa berlari menuju sang bunda sementara Aksa berjalan cepat di belakangnya.
"Rafaa.., akhirnya..kamu kemana saja dari tadi ditungguin."ucap Nuha dengan menciumi wajah putranya.
"Rafa sama om Sa' bunda,cuma beli mainan saja.Om Sa nya baik kok.."ucap Rafa dengan memperlihatkan mainan yang baru dia beli.
"Sudah bilang terima kasih belum?"
"Sudah kok,Om Rio...Rafa punya mainan baru..!!"
Rafa pun berlari menuju dimana Mario berada
__ADS_1
"Aku tahu kamu bohong sama saya, nggak masalah kalau kamu belum mau jujur,tapi..jangan sampai egois dan tak punya hati demi anak kamu sendiri sampai tega menyembunyikan dia dari saya."ucap Aksa dengan cara berbisik di samping Nuha.
Nuha mendengar ucapan Aksa mematung dan menelan silvanya dengan kasar.Rasanya dia belum sanggup jujur dengan semua fakta tentang Rafa.
"Apa maksudnya kamu,aku nggak ngerti.Soal Rafa..dia anak...
"Ssstttt,nggak perlu kamu katakan sesuatu tentang apa yang kamu yakini benar,tapi..tentu kamu tahu aku bukan manusia bod*h ,kamu ngerti maksud aku Have fun..saya kerja dulu,kalau ada apa-apa dengan Rafa hubungi saya,kartu nama saya ada di dalam tas Rafa,"ucap Aksa dan meninggalkan Nuha yang masih tertegun di sana.
Aksa pamit pada Rafa , memberikan pengertian dan terlihat Co pilot dan para pramugari yang satu penerbangan dengannya sedang menunggu nya.Rafa pun akhirnya melepas kepergian Aksa dengan lambaian tangan.
Tubuh Aksa semakin lama semakin menjauh dari Nuha dan rombongan.
"Sudah semua kan,yuk kita langsung ke hotel buat istirahat dulu..besok baru kita have fun."ucap Mario dengan mendorong troley barang untuk meletakkan koper-koper mereka.
Meraka tak hanya berlima ada beberapa orang karyawan dari resort,hotel dan restoran yang diajak untuk holiday oleh bisa mereka.
Rafa pun terlihat antusias untuk liburan kali ini.
"Kamu kenapa Tik?" tanya Mario yang sedari tadi memperhatikan tingkah Nuha.
"Aku takut Aksa tahu tentang kebenaran soal Rafa." ucap Nuha dengan jujur .
"Aku rasa nggak ada salahnya dia tahu soal Rafa dan juga kamu bisa belajar berdamai dengan semuanya.Walaupun kamu nggak akan pernah bersama nya lagi itu hak kamu.Yang jelas Aksa dan Rafa juga berhak tahu tentang kenyataan jika mereka ayah dan anak.
"Nggak semudah itu Yo.."
"Kalau kamu persulit pasti akan sulit,kalau kamu permudah dengan tidak bersifat egois tentu semau akan mudah .Kamu bisa buat perjanjian dengan Aksa pola asuh Rafa,dia butuh bersosialisasi dan juga tidak mungkin hanya diam diri di resort dengan Nisa saja,kasihan dia.Jangan kekang dia.Aku tahu sifat Rafa selama ini tidak mudah dekat dengan orang lain tapi, beda sama Rafa ke Aksa,semua nya nggak ada yang di buat-buat itu hasil karangan si Othor.Semua yang sudah alurnya dan juga ikatan batin itu nggak ada duanya.Mereja berdua terikat dalam ikatan batin yang kuat,ingat itu.."ucap Mario dengan panjang lebar.
"Sudahlah Yo, kalau dia sudah nggak mau terima masukan dari kita,itu terserah dia.Kira bisa bang gini juga buat dirinya sendiri.Jangan berkubang dengan rasa benci,kasihan sama Rafa ."ucap Mira dengan langsung mengapit lengan Mario.
Nuha hanya bisa menjalankan alur hidupnya,itu yang dia inginkan Namun,terkadang dia masih merasa takut berhadapan dengan segala orang di masa lalunya.
Bersambung
__ADS_1