
Aksa dan Nuha saat ini mereka sudah dalam perjalanan ke arah rumah sewa Nuha.
Aksa memenuhi undangan kakek Nuha untuk liwetan di rumah Nuha malam ini.
"Mas kenapa kok diem aja,apa ada masalah sama meeting tadi,pasti karena ulah Rafa tadi."ucap Nuha dengan penuh hati-hati.
Aksa menghembuskan nafasnya dengan kasar.Dia menoleh ke arah Nuha sekilas.
"Aku lagi mikir neng, Rafa sekecil ini..dia masih TK mana mungkin tahu apa itu cerai dan anak haram,aku cuma ingin tahu dari mana dia mendengar ucapan itu.Keterlaluan saja orang yang ngomong demikian sama anak sekecil Rafa.Nggak mungkin anak seumuran Rafa bisa tahu soal ranah orang dewasa kalau nggak ada yang ngomong ."ucap Aksa dengan berusaha fokus mengemudikan mobilnya.
"Aku juga nggak tahu mas,yang ada tadi dia cuma nangis dan nangis.Nuha tanya pun Rafa nggak mau jawab."ujar Nuha pada Aksa.
"Besok pagi biar mas yang anter Rafa sekolah."ujar Aksa serius.
Mendengar ucapan Aksa kening Nuha mengkerut dan menatap kearah Aksa.
"Mas yakin,disana banyak orang mas ..kalau seandainya kamu nanti ada yang gosipin kamu yang enggak-enggak gimana.Ini akan berdampak buat perusahaan papa."ujar Nuha.
"Keputusan aku multlak neng,sudahlah jangan banyak pikiran soal gitu.Aku ingin anak ku nggak ada lagi yang menghina." ujar Aksa membuang nafasnya dengan kasar.
Nuha pun pasrah dengan keputusan Aksa.Bagaimana pun memang Rafa butuh pengakuan.Apalagi ada yang berani mengatakan yang tidak-tidak dengan Rafa.
.
.
.
Aksa dan Nuha serta Rafa yang masih lekat tertidur di pangkuan Nuha pun akhirnya Aksa gendong masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum ."ucap Nuha dan Aksa saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam,kalian sudah pulang."ucap Tante Agni saat melihat ponakannya dengan Aksa masuk ke rumah.
__ADS_1
"Iya tan,"jawab Nuha.
"Kamar Rafa di mana neng?" tanya Aksa pada Nuha.
Aksa mengekori Nuha dari belakang masuk ke kamar yang bernuansa putih.
" Taro disini saja mas,kasihan dia dari tadi nangis terus."ucap Nuha membelai lembut rambut putranya.
"Yah,aku juga akan cari tahu soal itu,kamu tenang saja.Aku anak lakukan apapun demi anakku ."ucap Aksa.
"Iya.."ucap Nuha singkat.Rasanya ada rasa menghangat di hati Nuha mendengar Aksa ingin melindungi Rafa.
Mereka berdua keluar dari kamar dan melihat kakek dan nenek Nuha yang baru sampai dari luar.
"Kalian sudah dateng."ucap Nenek Nuha saat melihat cucunya dengan Aksa.
"Iya nek,apa kabar..kek."ucap Aksa menyalami kedua pasangan tua itu.
"Hemmm.."jawab sang kakek. hanya dengan deheman saja.
"Belum nek,baru saja Aksa bawa Rafa ke kamar karena tidur."ucap Aksa.
"Nuha kita liwet sekarang saja yaa,ini sudah sore.."ujar sang nenek.
"Tenang mak,Ani udah masak nasinya tinggal kita bikin lauknya saja."ujar tante Agni yang tiba-tiba datang bawa dua cangkir teh dan meletakkan di depan Aksa dan kakek Nuha.
Nuha tahu kakeknya ingin bicara pada Aksa jadi Nuha harus pergi dari sana.
"Kamu masih berani dekati cucu sama cicit saya ?"tanya Kakek Nuha.
"Maaf kek,Aksa sadar kalau kesalahan Aksa sangat besar dan membuat kakek marah dan kecewa sama Aksa tapi,Aksa sadar kek..Rafa butuh Aksa dengan kekurangan Aksa saat ini.Aksa janji nggak akan pernah berlaku seperti dulu pada Nuha.Aksa ingin Rafa hidup dengan sempurna ada ayah dan bundanya."ungkap Aksa dengan lancar.
"Kamu gitu mudahnya membuat janji.Jangan sampai kamu ingkari...cicitku sedari dia dalam kandungan dia sudah menderita,im saat dia lahir pun ibunya nggak bisa langsung megang dia berbulan-bulan dia tak bisa dirawat oleh Nuha karena Nuha kena baby blues dan juga mental depresi.Dia akan merasa panik jika Rafa kecil menangis.Nuha akan nangis kecerdasan dan mukul dirinya kalau sampai Rafa nangis dia merasa sangat salah pada dirinya sendiri.Itu terjadi berbulan-bulan.Untung masih ada Mira dan Mario yang membawa Nisa untuk ikut merawat Rafa kecil ,kalau mereka tak ada entah gimana nasib Rafa sekarang,gimana nasib Nuha sekarang."ungkap Kakek Nuha dengan menerawang jauh di beberapa bulan lalu saat pertama kali bertemu cicitnya dan terkejut dengan kenyataan yang di ceritakan Mira dan Nuha.
__ADS_1
"Aksa tahu betul Aksa salah kek, maka dari itu Aksa ingin menebus kesalahan Aksa di waktu dulu sama Nuha dan Rafa.Aksa nggak mau kalau sampai adalagi yang menyebut anak Aksa anak haram,Aksa rela jika Aksa yang di hina tapi buat Rafa dia nyawa saya Kek.."ungkap Aksa dan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Apa cuma karena tanggung jawab saja kamu melakukan semuanya ini?"tanya Kakek Nuha
"Aksa yakin bukan hanya karena tanggung jawab Aksa pada Rafa saja kek tapi ,Aksa sudah sejatuh-jatuhnya merasakan cinta dan sayang Aksa sama Nuha dan Rafa."ungkap Aksa.
"Hemm ..,magrib nanti jadilah imam sholat."ucap kakek Nuha dan beranjak dari tempat duduknya dan melenggang pergi.
Mendengar permintaan kakek Nuha tentu membuat Aksa kaget namun,dia tak mungkin mundur dengan semua yang kakek minta padanya sebagai imam sholat.
.
.
"Mas,mas Aksa yakin mau jadi imam?"tanya Nuha lirih.
"Kenapa,nggak percaya aku bisa melakukan hal itu?" tanya Aksa memicingkan matanya saat mendapat pertanyaan dari Nuha.
"Nggak ,nggak gitu maksudnya..aku cuma ingin mas nggak terpaksa harus melakukan kemauan kakek."ungkap Nuha.
"Aksa ayok,Mario Komat .." ucap Kakek Nuha langsung menodongkan Mario yang baru saja bergabung.
Akhirnya Mario pun melakukan apa yang di intruksikan oleh kakek Nuha.
.
.
Setelah selesai melakukan sholat magrib berjamaah mereka pun langsung bergabung di ruang tengah dan mulai membentang daun pisang yang sudah di atas lantai dan menata nasi liwet dengan banyak macam lauk pauk.
Mereka terlihat sangat antusias untuk makan malam bersama apalagi Aksa dan Mario yang merasakan baru pertama kali mereka makan seperti itu.
Aksa yang tadinya sempat deg degan saat akan menjadi imam dan Alhamdulillah berhasil membuat hati Nuha menghangat dan mendengar kata-kata pujian dari putranya.Bagaimana tidak Nuha sangka jika Aksa mempunyai suara yang terdengar merdu saat membaca surah Al-quran dengan lafal yang baik dan juga mampu menggetarkan hati nya.Sampai- sampai Nuha tanpa sadar meneteskan air matanya mendengar suara Aksa.
__ADS_1
Kini Aksa dan Mario saling pandang melihat makanan yang ada di depan matanya dan menelan silvanya dengan sangat sulit karena mengingat mereka tak pernah makan dengan cara yang saat ini ada di depan matanya.
Bersambung