
Reina sedang duduk di lobi kantor sembari mengobrol dengan seorang karyawan, saat gadis itu melihat Angga yang baru saja tiba entah darimana bersama Diftha dan juga Uncle Robert. Angga yang seolah mengetahui keberadaan Reina, juga langsung mengarahkan pandangannya ke arah Reina,hingga tatapan keduanya bertemu.
Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, karena Reina memilih untuk segeralah mengalihkan tatapan matanya, dan lanjut mengobrol bersama karyawan yang tadi duduk bersamanya.
"Selamat siang, Pak Angga!" Sapa karyawan di depan Reina yang sintak langsung membuat Reina menoleh ke belakang. Rupanya Angga sudah berdiri di balik punggung Reina sekarang.
"Siang!" Angga menjawab sapaan karyawannya.
"Reina, nanti ke ruangan saya, ya!" Titah Angga selanjutnya pada Reina yang sama sekali tak menyapanya.
"Ya!" Jawab Reina singkat.
Angga tak berbasa-basi lagi dan pria itu sudah langsung berlalu pergi ke arah lift. Reina hanya menghela nafas, setelah Angga masuk ke dalam lift, dan pintu tertutup.
"Jadi batas waktu penyerahan laporannya kapan, Bu Reina?" Pertanyaan dari karyawan yang masih duduk di samping Reina, membuat Reina tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya!"
"Kau kerjakan dulu semuanya, aku tunggu laporannya sampai besok sore sebelum jam pulang kantor, ya!" Jawab Reina seraya memberikan map di tangannya pada karyawan wanita tersebut.
"Baik, Bu Reina! Akan segera saya kerjakan!"
"Saya permisi, selamat siang!"
"Siang!" Jawab Reina sambil kembali menghela nafas. Reina bangkit berdiri lalu segera menuju ke lift untuk selanjutnya menuju ke lantai delapan belas, dimana ruangan Angga berada.
Apa lagi yang akan dibicarakan Angga sekarang?
****
Ting!
Pintu lift akhirnya terbuka dan Reina sudah tiba di lantai delapan belas. Tatapan mata gadis itu langsung tertuju kemeja kerja Diftha di depan ruangan Angga yang tumben kosong.
Diftha kemana?
Tadi perasaan dia datang bersama Angga dan Uncle Robert. Tapi kenapa sekarang pria itu malah tak ada di mejanya?
Reina kemudian menggeleng-gelengkan kepala karena dirinya yang malah memikirkan Diftha yang mungkin memang sedang ada urusan. Gadis itu akhirnya langsung melanjutkan langkahnya ke ruangan Angga, dan Reina langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk.
"Hai!" Sapa Angga yang sepertinya sedikit terkejut dengan kedatangan Reina.
Oh, mungkin karena Reina yang tadi tidak mengetuk pintu.
"Maaf, aku tak mengetuk pintu dan membuatmu kaget." Reina sedikit berbasa-basi pada Angga.
"Tidak apa!"
"Duduklah!" Angga sudah bangkit dari kursi kerjanya, lalu pria itu mempetsilahkan Reina agar duduk di sofa saja. Angga juga ikut duduk di sofa bersama Reina sekarang.
"Mau bicara apa?" Tanya Reina to the point.
__ADS_1
"Aku minta maaf soal semalam," jawab Angga penuh penyesalan.
"Tidak perlu!"
"Tidak perlu minta maaf," ujar Reina seraya tersenyum tipis.
"Mungkin kau benar, kita sebaiknya memang menjaga jarak atau mengakhiri sekalian hubungan tak jelas ini!" Lanjut Reina lagi dengan nada sinis.
"Kita akan bertunangan, Rei! Jadi mustahil-"
"Kita tinggal membatalkan saja acara pertunangan itu!"
"Aku yang akan bicara pada orang tuamu dan juga orang tuaku! Tapi setidaknya berikan satu alasan kenapa kau berubah, Angga?" Reina menatap tak mengerti pada Angga.
"Kenapa?" Tanya Reina lagi nyaris tanpa suara.
"Aku tak pantas untukmu!" Jawab Angga lugas yang langsung membuat Reina menatap tak percaya pada pria di depannya tersebut.
"Lalu kenapa baru sekarang?" Tanya Reina masih tak mengerti.
"Setelah bertahun-tahun kita menjalin hubungan. Setelah bertahun-tahun kau memberikan aku harapan!"
"Alasanmu itu konyol, Angga!" Ucap Reina dengan raut penuh kekecewaan pada Angga.
"Apa ini perkara Abang Iel yang tak kunjung memberikan restu pada hubungan kita?"
"Apa masalah itu?" Cecar Reina lagi menuntut penjelasan Angga yang entah mengapa jawabannya selalu tidak konsisten dan hanya membuat bingung.
"Tentang Iel yang belum memberikan restu untuk hubungan kita, tadinya aku pikir masalahnya mungkin memang hanya karena Iel tidak mau dilangkahi."
"Tapi setelah aku memikirkannya lebih detail lagi, ternyata masalahnya tudak sesimpel itu-"
"Tidak usah berputar-putar, Angga!"
"Jelaskan saja secara gamblang!" Reina menyela dengan marah.
"Aku rasa Iel sudah tahu tentang siapa aku sebenarnya. Jadi mungkin sekarang dia keberatan jika adiknya menikah dengan seorang pria yang asal-usulnya mengkhawatirkan." Tutur Angga yang benar-benar membuat Reina merasa bingung.
"Maaf aku tak mengerti!"
"Memangnya ada apa dengan asal-usulmu?" Tanya Reina semakin bingung.
"Kau tahu, kalau aku bukan anak kandung Papa Robert-"
"Iya, aku tahu!" Reina menjawab dengan cepat sebelum Angga menyelesaikan pertanyaannya.
"Papa kandungku...." angga menghela nafas berulang kali sebelum melanjutkan kalimatnya. Dan Reina berusaha untuk bersabar mendengarkan penjelasan Angga yang berbelit ini.
"Papa kandungku bukan pria baik-baik! Papa kandungku pria baj*ngan yang pernah melakukan KDRT pada Mama di depanku."
"Lalu ia juga berselingkuh dengan banyak wanita, jadi-" Angga menatap ke dalam wajah Reina seolah tak bisa lagi melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Jadi apa? Kau mau meniru jejak brengsek papa kandungmu itu, hingga kau bisa mengatakan kalau kau tak pantas untukku?" Reina yang akhirnya melanjutkan kalimat Angga.
"Tak pernah terbersit sedikitpun di pikiranku untuk melakukannya, Rei!" Kilah Angga cepat.
"Bagus!" Reina mengangguk-angguk sekarang.
"Tapi bisa saja Iel yang berpikir demikian!" Sergah Angga lagi yang langsung membuat Reina berhenti mengangguk.
"Maksudmu Abang Iel berpikir kau akan mengikuti jejak brengsek papa kandungmu begitu?" Tanya Reina yang kembali menatap tak mengerti pada Angga.
"Bisa saja, kan?" Jawab Angga lirih.
"Abang Iel tidak akan berpikir sepicik itu, Angga!"
"Bisakah kau berhenti berpikir serta berprasangka yang tidak-tidak?" Sergah Reina mulai kesal.
Angga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak bisa! Mimpi itu belakangan ini selalu datang-"
"Itu karena kau terus memikirkannya!" Sergah Reina memotong.
"Apa aku perlu mengantarmu ke psikiater, agar kau bisa tenang? Agar kau bisa melupakan semua masalalu konyol itu, lalu melanjutkan hidupmu dengan normal sekarang!" Cecar Reina lagi dengan berapi-api.
"Tidak!" Angga menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu pria itu menunduk dalam-dalam.
"Tidak!" Ulang Angga sekali lagi.
Reina tak berucap sepatah katapun dan gadis itu segera merengkuh Angga ke dalam pelukannya.
"Berhentilah berpikir buruk tentang dirimu sendiri!"
"Kau sekarang sudah hidup di keluarga yang sempurna dan berlimpah kasih sayang! Kau punya orang tua yang luar biasa!" Nasehat Reina masih sambil memeluk Angga yang hanya mengangguk-angguk di pelukan Reina.
Sejenak suasana menjadi hening
"Kau tetap akan membatalkan pertunangan kita?" Tanya Angga selanjutnya memecah kebisuan.
Reina refleks melepaskan pelukannya pada Angga dan menatap tajam ke arah pria di depannya tersebut.
"Tergantung!" Jawab Reina seraya bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan Angga begitu saja.
"Tergantung apa, Rei?" Tanya Angga tak mengerti, dan Reina juga sama sekali tak mau menjelaskan. Gadis itu sudah berlalu keluar dari ruangan Angga, menyisakan sejuta pertanyaannya di kepala Angga.
Tergantung apa?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.