Segitiga Cinta Reina

Segitiga Cinta Reina
LEBIH PERHATIAN


__ADS_3

"Ada?" Tanya Diftha pada Reina yang langsung membuka laci di meja kerjanya, begitu mereka kembali ke kantor. Reina ingin langsung membuktikan apa ponselnya benar masih tertinggal di laci atau jatuh entah dimana.


"Iya ada!" Jawab Reina seraya memamerkan ponselnya pada Diftha yang langsung tertawa kecil.


"Berarti aku yang lupa tadi," ujar Reina lagi sembari meringis. Gadis itu lalu bangkit berdiri dan menghampiri Diftha yang sejak tadi hanya berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.


"Ngomong-ngomong, perawat untuk Gizta sudah ada?" Tanya Reina selanjutnya pada Diftha yang langsung mengangguk.


"Sudah ada dan baru kemarin perawatnya datang ke rumah. Mulai berkenalan dan adaptasi dengan Gizta," jawab Diftha sedikit bercerita.


"Perawatnya masih muda juga seperti Sava?" Tanya Reina kepo.


"Tidak! Sudah menikah dan punya anak satu sudah SD," jawab Diftha seraya terkekeh.


"Oh, aku kira masih muda dan single," gumam Reina ikut-ikutan terkekeh.


"Tapi perawatnya menginap, kan?" Tanya Reina lagi.


"Tidak!" Jawab Diftha cepat.


"Tetap pulang pergi. Hanya saja yang ini bisa dipanggil sewaktu-waktu. Jadi misalnya aku ada acara malam-malam, mbaknya tidak keberatan menjaga Gizta," lanjut Diftha menjelaskan yang langsung membuat Reina mengangguk.


"Berarti nanti kamu bisa datang ke acara reuni?" Tanya Reina memastikan.


"Kamu sendiri, mau datang?" Diftha balik bertanya pada Reina.


"Malah balik tanya!" Reina tergelak dan memukul pundak Diftha.


"Kali aja bisa bareng," kekeh Diftha mencari alasan.


"Nanti aku kabari lagi. Aku juga masih bingung sebenarnya," ujar Reina akhirnya bersamaan dengan ponsel Diftha yang berdering.


"Jam makan siang sudah selesai!" Ucap Diftha sembari menunjukkan layar ponselnya, dimana ada nama Pak Angga yang tertera di layar.


"Aku ke atas dulu." Tangan Diftha tiba-tiba sudah terulur untuk mengusap wajah Reina, namun hanya sedetik karena Diftha langsung buru-buru menariknya dan pria itu terlihat salah tingkah.


"Sorry!" Ucap Diftha yang hanya membuat Reina terdiam. Diftha langsung berlalu dari ruang kerja Reina, saat tiba-tiba Reina memanggilnya.


"Diftha!"


"Ya!" Diftha menghentikan langkahnya dan menoleh dengan cepat ke arah Reina.


"Nanti pulang, aku jadi ke rumahmu, ya!" Ucap Reina yang langsung membuat Diftha mengangguk.


"Ya! Nanti aku jemput ke ruanganmu!" Janji Diftha yang langsung membuat Reina mengangguk sekaligus mengulas senyum.


"Bye!" Diftha melambaikan tangan dengan canggung, sebelum lanjut meninggalkan divisi keuangan dan naik ke lantai atas.


Sementara Reina kembali masuk ke ruang kerjanya, sembari membuka ponselnya yang ternyata masih dalam mode silent. Ada beberapa pesan serta panggilan tak terjawab dari Angga yang masuk ke ponselnya.


"Tumben," gumam Reina sembari mendaratkan bokongnya di kursi sebelum lanjut membuka pesan dari Angga.


[Mau makan siang di luar?] -Angga-


Reina memeriksa kapan pesan Angga masuk. Waktunya lima belas menit setelah Diftha dan Reina meninggalkan kantor tadi.


"Terlambat mengirim pesan," gumam Reina seraya jarinya bergerak untuk mengetikkan pesan balasan pada Angga.


[Kau sudah makan siang? Maaf, tadi ponselku tertinggal di laci. Jadi aku tak membaca pesanmu] -Reina-


Pesan terkirim!


Namun belum dibaca dan tak kunjung dibalas tentu saja.


Sudah biasa!

__ADS_1


Reina hanya menghela nafas dan memilih untuk lanjut bekerja saja.


****


"Diftha!" Panggil Angga yang tak mendapati sekretarisnya itu di mejanya.


"Iya, Pak!" Jawab Diftha yang langsung tergopoh-gopoh keluar dari pantry sembarj membawa cangkir kopi di tangannya.


"Berkas yang tadi aku minta kau kerjakan-"


"Sudah siap semua, Pak!" Jawab Diftha sigap seraya meletakkan kopinya dengan hati-hati ke atas meja, lalu pria itu mengambil map warna hitam dan memberikannya pada Angga.


Angga memeriksa sejenak isi dari map tadi, lalu pria itu mengangguk samar.


"Bagus!"


"Aku akan membawanya dan mungkin nanti aku tidak akan kembali lagi ke kantor. Jadi kau langsung pulang saja seperti biasa!" Pesan Angga yang langsung membuat Diftha mengangguk.


"Baik, Pak!"


Angga melanjutkan langkahnya, lalu pria itu masuk ke dalam lift. Sembari menunggu lift turun ke lantai bawah, Angga membuka ponselnya dan membaca pesan yang tadi masuk dari Reina.


[Kau sudah makan siang? Maaf, tadi ponselku tertinggal di laci. Jadi aku tak membaca pesanmu] -Reina-


Angga tak membalas pesan Reina dan memilih untuk menelepon gadis itu saja. Tak butuh waktu lama dan telepon Angga sudah langsung diangkat oleh Reina.


"Hai! Kau sudah makan siang tadi?"


"Sudah!" Jawab Angga singkat.


"Kau masih bekerja?" Tanya Angga lagi pada Reina.


"Ya! Pekerjaanku masih lumayan banyak. Ada apa? Mau menyuruhku melapor ke ruanganmu?"


"Aku sebenarnya mau pergi," jawab Angga bersamaan dengan pintu lift yang sudah terbuka. Angga sudah tiba di basement dan pria itu bergegas menuju ke mobilnya.


"Oh."


"Pergi lama?" Suara Reina terdengar kecewa.


"Aku akan langsung ke rumah Mama nanti karena sejak kemarin aku belum pulang. Nanti aku akan mengirim supir untuk-".


"Tidak usah!"


"Aku akan pulang sendiri nanti. Lagipula, aku ada janji pulang bersama seseorang."


"Baiklah kalau begitu," ujar Angga santai sembari masuk ke dalam mobil.


"Kau tidak bertanya aku pergi bersama siapa pulang dari kantor nanti?"


"Bersama temanmu, kan?" Jawab Angga tanpa rasa cemburu sedikitpun.


Lagipula, kenapa Angga harus cemburu?


Reina gadis yang supel dan mudah akrab dengan karyawan serta teman-temannya. Dan Angga tidak mau menjadi pria yang mengekang pergaulan Reina hanya karena Angga berstatus sebagai kekasih Reina.


Angga percaya pada Reina!


"Iya, bersama temanku!"


"Have fun dan jangan pulang terlalu larut!" Pesan Angga sembari menyalakan mesin mobil.


"Kau tidak ke rumah malam ini?"


"Sepertinya tidak," jawab Angga yakin. Toh Mama Sita mungkin juga akan melarang Angga ke rumah Reina lagi karena semalam Angga sudah menginap di rumah Reina.

__ADS_1


"Baiklah!"


"Aku jalan dulu, ya! Bye!" Pamit Angga mengakhiri teleponnya pada Reina.


"Bye!"


Telepon terputus dan Angga segera melajukan mobilnya keluar dari basement.


****


"Bye!" Jawab Reina setengah hati bersamaan dengan telepon Angga yang terputus. Reina menghela nafas lalu beberapa kali mendes*h kecewa karena obrolannya bersama Angga tadi.


Ya, Reina sedikit kecewa dengan sikap santai Angga setiap kali Reina pamit pergi bersama teman-temannya. Angga tak pernah sekalipun bertanya Reina pergi bersama temannya siapa. Lalu temannya laki-laki atau perempuan.


Tak pernah Angga bertanya sedetail itu!


Apa Angga tak punya rasa cemburu?


Atau Angga memang tak pernah cemburu karena dia memang tak sungguh-sungguh mencintai Reina?


Kenapa Reina mendadak merasa ragu dengan perasaan Angga kepadanya?


Drrrt! Drrrtt!


Reina sedikit terlonjak saat ada getaran dari ponselnya yang masih ia genggam. Ada sebuah pesan masuk dari......


Diftha!


Kenapa bukan Angga?


[Hai, mau kopi?] -Diftha-


Ada foto secangkir kopi yang ikut dikirimkan oleh Diftha.


Reina tersenyum simpul, lalu jarinya bergerak untuk mengetikkan pesan balasan.


[Kau yang membuatnya?] -Reina-


[Ya! Rasanya tak kalah dengan yang di kafe-kafe itu] -Diftha-


Reina lagi-lagi harus dibuat tersenyum oleh pesan penuh percaya diri dari Diftha.


[Benarkah? Aku jadi penasaran] -Reina-


[Aku bawakan satu cangkir ke ruanganmu. Mumpung bos sedang pergi keluar] -Diftha-


[Dih, yang lagi bebas tugas!] -Reina-


[Tugasnya tetap banyak ini! Tapi bisa santai sedikit] -Diftha-


[Aku buatkan kopinya dulu sebentar, ya! Sampai jumpa di ruanganmu] -Diftha-


Reina kembali tersenyum tipis, membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh Diftha. Tidak tahu kenapa, Diftha malah lebih perhatian pada Reina ketimbang Angga yang jelas-jelas adalah kekasih Reina.


Entahlah!


Ini membingungkan!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2